
Rania. menggem erat tangan Bram dan meminta suaminya itu tetap tenang.
Rania berdiri dan menatap serius pada Fatma.
"Aku akan membuktikan semua itu Tante, tapi setelah itu aku mohon Tante berhenti ganggu keluargaku," ucap Rania membuat semua orang melihat ke arahnya. Termasuk Anggita yang sementara menangis.
Bram menarik-narik tangan Rania seolah bertanya apa yang kamu lakukan Honey? Tetapi Rania hanya tersenyum seolah mengatakan percayakan semunya padaku Honey.
.
.
.
"Kakek, ijinkan untuk. membukti pada Tante Fatma bahwa semua tuduhanya itu tidak benar." ucap Rania. Kakek Nugroho pun mengangguk meneyetujuinnya.
"Perkenalkan Aku Rania, istri sah Bramantyo Nugroho. Saat ini aku sedang mengandung Bram, buah dari cinta berdua," ucap Rani membuat semua yang hadir disitu merasa tidak percaya.
"Honey apa itu benar?" Bram berdiri dan menatap serius istrinya. Ekspresinya terlihat percaya tidak percaya.
Rania mengangguk dengan mata berkaca.
"Sayang, apa mama tidak salah dengar?" tanya Anggita. Wanita itu berjalan mendekat pada menantunya.
"Mamah tidak salah dengar," sahut Rania membuat Anggita langsung memeluk dan mengecup keningnya berkali-kali.
Tidak hanya Rania, Anggita juga memeluk dan mencium Bram. Dalam hatinya tidak berhenti mengucap syukur. Anak laki-lakinya telah sembuh dari penyakit impoten dan dikasih bonus calon cucu.
"Omong kosong," ucap Fatma tiba-tba. "Bram mengidap penyakit impoten bagaimana bisa kamu hamil? Jangan mencoba membohongi keluarga kami," Fatma tidak menerima kenyataan bahwa Rania telah hamil.
"Cukup Fatma" Kakek Nugroho menggerbak meja melihat keras kelapa putri sulungnya itu. "Apa lagi yang kamu inginkan? Apa semuanya belum jelas?" tanya Kakek tua.
"Belum Pah, Aku ingin bukti otentik, mana bukti kalo kamu benar-benar hamil,"
Rania menghela napas lalu mengeluarkan beberapa lembar hasil USG.
Anggita yang melihat semua itu langsung mengambil dan memperhatikan hasil USG itu.
"Pah," Anggita menunjukan pada Pras dengan mata berkaca-kaca. "Kita bakal punya cucu Pah," timpanya.
__ADS_1
"Kamu benar Mah, Papa sudah tidak sabar menunggu mereka lahir," Pras tidak kalah bahagia dari sang istri.
Sementara Bram, pria itu masih belum percaya istrinya bisa mahil.
"Bisa saja ini rekayads kamu kan?" Fatman masih terus mengotot.
"Cukup Fatma, kau benar-benar tidak punya hati." bentak Anggita.
Fatma ingin protes lagi tetapi langsung di hentikan oleh Kakek. "Semua sudah jelas, sebagai cucu tertua Bram sudah memenuhi syarat untuk menerima hak sebagai pelarisan utama. Karena itu, dengan ini saya putuskan Bram sah menjadi penerus CN Group." Selesai berbicara, pengara datang dan membawa beberapa dokumen pada kakek.
pengacara meminta Kakek tanda tangan di beberapa bagian yang harus dibubuhi ditanda tangan.
Begitu pun dengan Bram, pengacara juga meminta hal yang sama. Tidak lupa tanda tangan dari semua anggota keluarga bahwa mereka semua telah menyetujui keputusan itu.
Kakek sengaja melakukan semua itu agar kedepannya tidak terjadi lagi perebutan perusahaan. Tentu saja dalam surat warisan itu sudah tertulis hak setiap anggota keluar.
Fatma dan keluarnya yang tidak menerima semua itu terpaksa menandatanganinya, tidak mungkin mereka menentang keputusan yang telah diputuskan oleh sang kakek.
Radit dan Niko semakin membenci Bram. Sementara Erina, wanita itu tidak berani berata-kata apapun
****
Acara makan bersama telah selesai, semua telah masuk ke kamar masing-masih. Termasuk Bram dan Rania.
Di rumah besar dan mewah itu, Kakek Nugroho telah mempersiapkan kamar untuk semua anak-anak dan cucu-cucunya masing-masing.
"Sayang, gimna bisa kamu hamil, bukannya tadi pagi kamu....?" tanya Bram penuh selidik. Ia masih ingat jelas pagi tadi saat hendak melakukan hubungan intim, Rania mala berhalangan.
"Ya, tadi pagi memang aku kedatangan tamu bulanan, tapi sebenarnya itu bukan dara haid," sahut Rania.
"Lalu?"
Rania pun mulai menjelaskan kejadian sebenarnya.
Pagi tadi setelah Bram berangkat kerja, Rania merasakan sakit yang tidak biasa di bagian bawa perutnya. Rania yang sebum pernah merasakan sakit seperti itu saat datang bulan, merasa khawatir. di tamba lagi tidak ada sedikit pun darah yang keluar setelah memakai pembalut, Rania semakin khawatir.
Rania sempat meminta obat sakit perut pada Elisa sang pelayanan rumah, tetapi Elisa mengatakan tidak menyetok obat seprti itu karena memang di rumah itu tidak ada wanita sebelum Rania datang.
Karen tidak menemukan obat di rumah, Rania memutuskan untuk pergi ke rumah sakit sekalian memeriksakan diri.
__ADS_1
Siapa yang sangka Rania mala mendapatakan kabar gembira itu dari dokter. Tadinya Rania ingin memberitahukan semuanya pada Bram, tetapi ia tahu malam ini adalah malam penentuan penerus CN Group sehingga ia memutuskan untuk menjadikan kehamilannya sebagai kado untuk sang suami tetapi semuanha melenceng dari rencananya.
"Honey jadi kamu bener-benar hamil?" Bram memastikan untuk yang terakhir kalinya.
"Ya benar, disni ada anak kita Honey,"
Bram merasa haru tidak dapat membendung air matanya. Pria itu memeluk dan mencium istrinya berkali-kali, tidak lupa mengecup juga perut yang saat ini ada janinnya di dalam.
"Lalu apa kata dokter tetang pendarahan itu, Honey? apakah itu berbahaya?" Bram terlihat khawatir.
"Tidak, kata dokter itu normal di kehamilan pertama. Dokter memberiku obat penguat kandungan, dan memintaku untuk bedrest sebelum melakukan periksaaan minggu depan,"
"Baiklah, berarti mulai detik ini kamu tidak boleh turun dari tempat tidur Honey. Cepat berbaring," Bram hendak membaringkan Rania.
"Tidak begitu juga Honny,"
"Tidak ada bantahan sebelum dokter memastikan kondisi kamu dan bayi kita baik-baik saja Honey,"
"Hmmmm," Rania menurut karena tidak ingin berdebat. "Oh ya aku lupa bilang Honey, ada satu lagi pesan penting dari dokter," ucap Rania setelah berbaring.
"Apa itu?"
"Kata dokter kita tidak boleh berhubungan selama stimester pertama,"
Bram terdiam mematung, tenggorokan terasa kering, cobaan apalagi ini.
"Trimester pertama itu berapa lama Honey?" tanya Bram dengan wajah cemas.
"Tiga bulan,"
"Apahh?" Bram kaget bukan main. Harus berpuasa selama tidak bulan, bagaimana nasib si joni nanti? Bram terjatuh lemas di atas perut Rania.
"Baiklah, Papah akan bersabar demi kamu," Bram terlihat pasrah menerima kenyataan dari istrinya.
Sementara Rania tersenyum sambil mengusap kepala Bram. Ia merasa senang berhasil mengerjai suaminya. Dokter memang melarang mereka berhubungan, tetapi hanya untuk semingu kedepan setelah dokter memastikan kondisi jaminannya baik-baik saja.
...💐** T~A~M~A~T**💐...
Kisah Bram dan Rania selesai sampai disini ya, Guys. Maksih untuk teman-teman semua yang telah bersabar menunggu sampai akhir BAB. 🙏🙏🙏
__ADS_1
...Love You All, kita ketemu disebelah ya🥰🥰😍😍...