
Bram tidak menolak, tetapi tidak juga mengiyakan ucapan Erina. Bram langsung pergi begitu saja.
.
.
Rania tersenyum menyambut Bram dan Felix, Rania senang Bram melakukan apa yang ia sarankan.
"Selamat datang kembali Felix," ucap Rania.
"Terima kasih, Nona Rania." sahut Felix. "Sepertinya aku sudah melewatkan banyak hal menarik," Felix terlihat penasaran ketika melihat Bram merangkul bahu Rania, bahkan Bram mengecup kapala Rania.
Bram dan Rania saling menatap dan saling tersenyum satu sama lain membuat Felix semakin penasaran.
"Makasih ya udah ngelakuin apa aku sarankan," Rania melingkarkan tangannya pada perut Bram. "Benar'kan kataku, masalah bisa cepat selesai kalau kamu mau meminta maaf,"
"Minta Maaf?" sela Felix. Dahinya terlihat mengkerut.
"Iya minta maaf, Bram tadi sudah minta maaf'kan sama kamu?" tanya Rania.
"Iya, tadi aku sudah minta maaf sesuai saran kamu, Honey," Bram mengedip-ngedipkan sebelah matanya pada Felix agar asistennya itu mau bekerja sama. "Iyakan Felix, tadi aku sudah minta maaf sama kamu," Bram merasa greget karena Felix tidak peka dengan kode yang ia beri.
"Honey!" ucap Rania sambil menaruh kedua tangan dipinggang. "Kamu bohong ya sama aku?"
Bram terlihat salah tingkah menghadapi Rania yang sedang marah. "Ti-tidak Honey, aku tidak berbohong,"
"Minta maaf nggak sekarang?" Rania melotokan kedua matanya.
"Iya, iya. Aku minta maaf sekarang, tapi jangan marah lagi ya,"
Felix menahan tawa melihat Bram begitu tunduk pada Rania. Bagus Nona Rania, kedepannya aku akan berlindung dibalik namamu.
"Cepatan," ucap Rania lagi karena Bram belum bergerak.
__ADS_1
"Felix! Gua minta maaf," ucap Bram. Pria itu mengulurkan tangannya seperti bocah yang dipaksa minta maaf.
"Nggak apa-apa Bro, gua udah maafin Lu sebelum Lu minta maaf,"
"Basi Lu," Rasanya Bram ingin sekali menonjok wajah sok polos Felix.
"Bersungut aja terus, heran deh sama sodara sendiri aja gengsi bangat," omel Rania lalu pergi melanjutkan pekerjaan beres-beresnya yang belum kelar.
"Tuhkan gara-gara Lu bini gua marah," ucap Bram sambil melotot pada Felix.
Ferix tidak peduli, ia berpura-pura tidak mendengar omelan Bram.
.
.
Saat mereka semua sedang asik marah-marahan, seseorang datang dan mengetuk pintu dari luar. Mereka bertiga pun bersamaan menoleh ke arah pintu.
"Haiii, aku mengganggu ya?" ucap seseorang tersebut yang tak lain adalah Erina. wanita itu melambaikan tangan sambil tersenyum manis. Namun, tak ada satupun yang membalasnya.
Suasana menjadi hening, Bram dan Felix terdiam mematung. Sementara Rania enggan menjawab Erina. Bukan apa-apa, Rania malas jika Erina kembali membanding-banding masa pacaran dengan Bram dulu.
"Tidak ko Erina," ucap Rania berusaha mencairkan suasana.
Erina tersenyum mengangguk, ia memperhatikan Rania yang sementara memegang kemoceng dan sebuah kain lap.
Lu tuh emang cocoknya jadi pembokat, Bram lebih cocok bersanding sama wanita berkelas kaya gua. Erina mencibir dalam hati.
"Rania, boleh aku temani kamu disni? Sekalian bantu kamu beres-beres. Bram'kan mau meeting sebentar lagi." ucap Erina sambil berjalan menghampiri Rania. Erina sadar, untuk tetap berada dekat Bram, ia harus bersikap baik pada Rania.
"Wah kamu serius mau membantuku?" tanya Rania. Erina pun mengangguk, tak lupa menyuguhkan senyuman cantiknya.
"Terima kasih Erina, kamu sungguh baik hati. Kebetulan aku sudah capek, tolong ya kamu pel lantai sekalian gosok toilet juga," Rania memberikan alat pel pada Erina. "Yang bersih ya, kamukan tau bangat siapa Bram, nggak suka yang kotor-kotor" Rania berbisik tepat pada telinga Erina. Dalam hatinya, Rania ingin sekali tertawa melihat wajah protes Erina tetapi tidak berani bersuara karena menjaga image didepan Bram.
__ADS_1
Erina yang sudah terlanjur menawarkan diri untuk membantu Rania pun terpaksa membawa alat pel ke toilet untuk mengisi air.
"Good job, Honey," ucap Bram tanpa mengeluarkan suara. Bram memberi jempol pada Rania. "Ayoo," ajak Bram mereka bertiga pun keluar meninggalkan Erina sendirian disana.
.
.
Erina keluar dari toilet, wajahnya terlihat kesal ketika tidak menemukan seorangpun dalam uang itu.
"Sialan Lu Rania, tunggu aja pembalasan gua," Erina membanting pel-an di tangannya. Bahkan menendang ember pel membuat semua air tumpah ke lantai. "Dasar wanita kampungan" Erina berteriak frustasi. Kebencian pada Rania semakin meningkat.
Seakan belum cukup rasa kesal Erina, ia mala terjatuh saat hendak melangkah. Heels yang ia pakai licin, Erina pun jatuh terduduk di lantai yang basah. Erina hampir gila, ia membuka heels lalu mengambil tasnya dan berjalan keluar ruangan Bram.
"Erina, apa yang terjadi, Kenapa kamu jadi begini?" tanya Rania dari meja kerjanya. Kebetulan ia tidak ikut meeting bersama Bram, Felix dan Intan.
"Nggak usah sok peduli Lu, dasar wanita munafik," umpat Erina lalu pergi begitu saja.
Rania tertawa kecil menanggapi umpatan Erina, ia merasa lucu melihat penampilan Erina. Bahagaiman tidak, Erina terlihat seperti orang yang habis kebanjiran. Bajunya setengah basah, sepatunya ditenteng, plus lagi rambutnya terlihat berantakan.
Rania berpikir, setelah ini Erina pasti akan berpikir panjang untuk datang lagi ke kantor Bram.
.......
.......
.......
Aku ngeri-ngeri sadap baca komen kalian Gyus, ada yang sampe lupa alur karena kelamaan up.🙈🙈 Maafkan Othor remahan ini Guys🙏🤗 Love You Guys😘😘😘🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
__ADS_1