Gairah Tuan Muda Impoten

Gairah Tuan Muda Impoten
BAB26. Bertemu Masalalu.


__ADS_3

"Cukup? Aku tidak ada waktu untuk dengar basa basi kamu. Sadar diri Rania kamu itu siapa tau diri dikit, pakai otakmu sebelum melakukan sesuatu," ucap Intan lalu pergi meninggalkan Rania begitu saja.


"Inten tunggu, aku belum selesai bicara," panggil Rania. Namun Intan tidak mempedulikannya.


.


.


"Doain ya semoga kerjasama kali ini berhasil," ucap Bram sambil menggenggam tangan Rania lalu mengecupnya beberapa kali.


Saat ini Bram dan Rania telah berada dalam mobil dan hendak menuju restoran tempat meeting.


"Aminnnn, semoga semuanya berjalan lancar, semangat." Rania memberi semangat.


Cahaya Nugroho group bergerak dibidang tekstil dan properti, meeting kali ini sangatlah penting untuk mempromosi hasil produksi perusahaan ke  manca negara, karena investor kali ini berasal dari perusahaan asing.


Dalam perjalanan, wajah Rania terlihat belum tenang. Ia memikirkan Intan yang tampak sangat marah padanya.


Bram yang semantara fokus menyetir sesekali melirik Rania, ia yakin telah terjadi perbincangan yang tidak baik antar Rania dan Intan. Saat kontak mata mereka bertemu, Bram mengusap pelan kepala Rania sambil tersenyum. 


Dalam hatinya Bram berkata, akan mengurus Intan setelah selesai meeting nanti, berani perempuan itu membuat wanitanya bersedih.


Tepat pukul 02:00 siang Bram dan Rania telah sampai ke tempat tujuan. Intan yang berangkat menggunakan mobil lain pun telah sampai di sana juga. Kadar ketidak sukaan Intan pada Rania semakin meningkat ketika melihat Rania ikut dalam meeting kali ini.


Kenapa ada dia disini juga? Apa dia sengaja ingin merebut proyek ini dari tanganku? batin Intan.


Saat Intan menghampiri Rania Bram, Rania berusaha tersenyum padanya. Nanum Intan tampak cuek dan memutar bola matanya malas. Intan sangat muak melihat dram sok baik Rania, padahal Rania tidak lebih dari seorang wanita penggoda.


Intan berjalan melewati Rania begitu saja, bahkan sengaja menyenggol bahu Rania membuat Rania menjauh dari Bram.


"Silakan Taun Bram," Intan mempersilakan Bram lewat. Saat Rania hendak mengikuti langkah Bram, Intan mencegat tangan Rania memintanya berjalan paling belakang.


Rania mengalah membiarkan Intan berjalan dibelakang Bram lalu ia mengikuti Intan.

__ADS_1


Ketika mereka semua sedang berjalan menuju ruangan VVIP, mereka tidak sengaja berpapasan dengan seseorang yang sangat dikenal oleh Bram.


Deggg, Jantung Bram seketika berdetak sangat kecandang, Bram terdiam mematung menatap tidak berkedip. "Erina," batinnya.


"Bram," Wanita yang bernama Erita itu menyapa memberi senyuman manis. "Apa kabar? Aku sangat merindukanmu," ucap Erina yang telah memeluk erat tubuh Bram.


Tidak ada penolakan dari Bram, namun Bram juga tidak membalas pelukan Erina. Tampaknya Bram masih syok dengan kehadiran sosok yang memenuhi hatinya selama ini secara tiba-tiba.


Suasana menjadi hening, Erina melepas pelukannya dengan ekspresi kikuk karena Bram tidak meresponnya.


"Intan! Bawa Rania temuai klien kita, aku akan menyusul sebentar lagi." perinta Bram.


"Baik Tuan," sahut Intan lalu mengajak Rania pergi.


Sementara Rania yang mengenal jelas sosok wanita itu tidak mampu berbuat apa-apa. Rania tahu jelas siapa wanita itu dan seperti apa posisinya di hati Bram. 


.


.


Wajah Tuan Gerson tidak bersahabat,  pria berwajah bule itu terlihat tidak suka dengan situasi sekarang.


"Kalian sangat tidak profesional, sudah membiarkan klien menunggu lama atasan kalian pun tidak terlihat," 


"Maaf Tuan, kami mengalami sedikit masalah saat dalam perjalanan menuju kesini," jelas Intan.


"Dimana Tuan Bram?" tanya Tuan Gerson. Sesuai perjanjian mereka sebelumnya, Bram sendirilah yang akan hadir dalam pertemuan mereka.


"Tuan Bram sedang ada keperluan mendadak, Tuan Bram akan menyusul kesini sebentar lagi," Intan kembali menjelaskan. 


Suasana menjadi tegang, Tuan Gerson tampak tidak puasa dengan penjelasan Intan.


Sedangkan Rania, tenggelam sendiri lamunannya sendiri, Rania memikirkan apa yang akan Bram lakukan dengan Erina, apa Bram akan kembali dengan Erina? Lalu bagaimana nasibnya setelah ini?

__ADS_1


"Sudah cukup!" Tuan Gerson berdiri sambil menggebrak meja. Sontak membuat Rania kaget dari lamunannya. "Perusahaan kalian sangat tidak profesional, tidak pantas untuk diajak kerja sama," 


"Tuan Gerson tunggu," cegat Rania. "Beri kami satu kesempatan lagi, kami akan melakukan yang terbaik," ucap Rania sambil mengatupkan kedua tangan di dada. 


Tuan Gerson menghentikan langkahnya lalu melirik sebentar pada Rania, melihat permohonan Rania yang tulus Pria bule itu sedikit melulu dan mau berbalik menatap Rania.


"Setidaknya Tuan lihat dulu isi proposal kami baru Tuan ambil keputusan," Rania berbicara masih posisi yang sama, mengatup kedua tangan di dada.


Rania tahu proyek ini sangat penting untuk Bram sehingga ia tidak ingin mengecewakan Bram, apalagi mengingat harapan Bram saat mereka di dalam mobil tadi.


"Baiklah, Tuan Bram harus bersyukur punya karyawan tulus sepertimu,"


Mendengar ucapan Tuan Gerson, Rania kembali bersemangat. Rania bergegas menarik kursi untuk Tuan Gerson lalu mempersilahkannya duduk.


"Terima kasih atas kemurahan hati Anda, Tuan Gerson," Rania memberi hormat menunjukan rasa terima kasihnya.


Setelah memastikan Tuan Gerson duduk Rania memberi kode pada Intan untuk menyerahkan proposal pada Tuan Gerson beserta dua orang sekertasinya.


Sembari orang-orang itu membaca isi rencana kerja mereka, Rania pun ikut menjelaskan keuntung-untungan menarik apa saja yang bisa mereka dapat bila bekerja sama dengan Cahaya Nugroho.


Tuan Gerson terlihat mengangguk-angguk mendengar penjelasan Rania.


Selesai penjelasan panjang, akhirnya mereka menemukan kesepakatan akhir. Tuan Gerson bersedia bekerja sama dengan Cahaya Nugroho Grup bahkan langsung menanda tangani kontrak kerja disitu juga.


"Terima kasih atas kerja samanya Tuan Gerson, saya pastikan perusahaan Anda tidak akan mengalami kerugian," ucap Rania pasti sambil menjabat tangan Tuan Gerson.


"Sama-sama, saya senang ada anak muda yang lugas dan tegas seperti Anda. Sebelum balik ke negara asal saya bolehkah saya mengundang Anda untuk makan malam bersama?" ucap Tuan Gerson.


"Dengan senang hati saya menerima undangan Tuan," sahut Rania tersenyum rama. 


Setelah kepergian Tuan Gerson, Rania bernapas lega, semua berjalan lancar, setidaknya sebelum berpisah dengan Bram ada hal baik yang ia lakukan untuk Bram.


Intan yang sejak tadi menyaksikan semua itu merasa tidak percaya, siapa sebenarnya Rania ini? Darimana dia punya kemampuan berbicara seperti tadi? 

__ADS_1


__ADS_2