Gairah Tuan Muda Impoten

Gairah Tuan Muda Impoten
BAB38. Hasutan.


__ADS_3

Mereka pun mulai sarapan bersama sambil mengobrol ringan. Selesai sarapan, Bram dan Rania langsung berangkat ke kantro.


Dalam perjalanan, Bram masih saja terlihat uring-uringan. Felix yang melihat semua itu dari kaca spion merasa heran, ada apa dengan Tuannya pagi ini.


Apa mereka sedang bertengkar?


.


.


.


Fatma bersama Radit dan Niko telah sampai di rumah Kakek Nugroho.


Sepenajang perjalanan tadi wajah Niko terus saja ditekuk karena di paksa ke rumah kakek. Anak bungsu Fatma itu sangat malas bekerja tetapi juara dalam menghabiskan uang, apalagi memamerkan harta kekayaan.


"Pokoknya kalian berdua harus tunjukan pada Kakek kalo kalian bisa di andalan kan, terutama kamu Radit." ucap Fatma sebelum melangkah masuk rumah kakek.


"Iyah Mah," sahut Radit.


"Niko kamu dengan mama gak?"

__ADS_1


"Iyahhh dengar," sahut Niko ketus.


Mereka bertiga pun berjalan masuk.


"Bik, dimana papahku?" tanya Fatma pada salah satu pelayanan rumah kakek.


"Lagi berjemur di taman belangkang, Nyonya," sahut Bibik. Fatma dan kedua anaknya pun langsung pergi ke taman belakang.


"Pagi Kakek," sapa Radit lalu menciun tangan sang kakek.


"Pagi Nak, Kalian disini?" Kakek Nugroho senang anak dan cucunya berkunjung pagi-pagi sekali.


"iya Kek, gimana kabar kakek?" Niko yang menjawab ucapan sang kakek sambil kecium punggung tangan.


"Kalian boleh pergi," Fatma meminta dua perawat yang menjaga papahnya pergi dari sana.


"Fatma mau bicara serius sama Papah," ucap Fatma setelah memastikan dua perawat itu benar-benar jauh.


"Sebelum kamu bicara dengan kata-kata Papah. Mau siapapun yang jadi pewaris perusahaan nanti, perusahaan itu akan tetap menjadi bisnis keluar dan kalian semua akan tetap mendapat bagian kalian masing-masing," jelas Kakek seperti tahu apa yang ingin dibicarakan anak sulungnya itu.


"Itukan kata Papah, tapi bagaimana dengan Anggita Pah? Apa dia akan memikirkan aku dan anak-anakku?"

__ADS_1


"Fatma! kenapa kau selalu berpikiran negatif tentang iparmu, padahal Anggita tidak seperti yang kamu pikirkan,"


"Terserah Papah mau percaya atau tidak, yang pasti aku kesini untuk menujukan sesuatu ke Papah. semoga ini bisa membuka mata Papah," Fatma merasa kesal, sejak dulu papahnya selalu saja membela Anggita. "Radit tunjukan bukti-bukti itu ke kakekmu," timpannya.


Radit pun mulai membuka amplop coklat yang mereka bawa dan mengeluarkan satu persatu isinya.


"Mungkin selama ini yang Kakek lihat tentang Bram hanya kebaikkannya saja, tetapi Kakek tidak lihat keburukannya." ucap Radit. pria itu mulai menjelaskan keburukan Bram satu persatu.


"Wanita di foto ini namanya Erina, Kek. Dan Erina ini adalah tunangan Bram, ini bukti saat Bram melamar Erina. Waktu itu Bram berjanji akan akan menikahi Erina tetapi setelah dapatkan apa dia mau, Bram mencampakan Erina begitu saja." Radit menunjukan foto saat Bram memberi cicin pada Erina. "Kalo Kakek tidak percaya semua ini, Radit minta ijin untuk mengundang Erina ikut makan malam bersama,"


Kakek Nugroho terdiam mendengar semua itu, kakek tidak menyangka Bram yang sangat ia percaya bisa melakukan hal serendah itu.


Fatma tersenyum melihat papahnya mulai termakan omongan Radit. Fatma memberi kode pada Radit, agar anaknya itu lanjut menunjukan bukti-bukti.


Radit mengangguk pasti dan mengeluarkan bukti selanjutnya dalam amplop.


Radit menunjukan beberapa dokumen kerja, dalam dokumen itu terdapat beberapa kelalaian Bram yang membuat perusahaan rugi hingga ratusan juta bahkan miliaran.


Tidak hanya itu, Radit juga menceritakan tentang pernikahan paksa Bram dan Rania.


Radit mengatakan Bram dan Rania hanya menikah kontrak untuk mengelabui kakek agar kakek mau memberi hak sebagai pewaris CN Group padanya. Dan Radit juga mengatakan semua itu adalah rencana Pras dan Anggita.

__ADS_1


"Apa semua sudah jelas Pah?" tanya Fatma setelah Radit selesai menjelaskan. "Semoga Papah sadar siapa yang lebih pantas menjadi pewaris utama CN Group,"


Fatma terus mengoceh tanpa menyadari papahnya yang mulai kesusahan bernapas. bahkan Fatma mengajak anak-anaknya pergi begitu saja tanpa mempeduli kondisi kakek tua itu. untunglah para perawat cepat datang dan langsung menolong kakek.


__ADS_2