Gairah Tuan Muda Impoten

Gairah Tuan Muda Impoten
BAB37. Tamu bulanan.


__ADS_3

Fatma membuka isi amplop coklat itu dengan wajah serius. Wanita itu tersenyum penuh arti ketika melihat semua bukti-bukti itu.


"Kerja bagus, kau memang anak mama." puji Fatma. "Ayo siap-siap kita ke rumah kakek sekarang, Mama gak sabar pengen lihat reaksi kakek kamu ketika tahu kebusukan Bram,"


"Mama sama Kakak aja yang ke sana, aku mau lanjut tidur," ucap Niko.


"Tidak, kamu juga harus ikut Niko. Kalian berdua harus tunjukan pada Kakek kalau kalian itu layak dan lebih pantas menjadi pewaris perusahaan," Fatma terlihat ambisi.


"Cihhhh, menjengkelkan," omel Niko lalu kembali ke kamarnya.


.


.


.


Di rumah Bram, pria itu terlihat tidak bersemangat. pasalnya, si Joni gagal dapat jatah karena sang istri yang tiba-tiba saja kedatangan tamu bulanan.


Sejak semalam Bram belum mendapat jatah karena Rania tidur lebih awal. Bram yang tidak tega mengganggu tidur istrinya berencana akan meminta jatah di pagi hari, tetapi siapa sangka.


Setelah beradu lidah dengan Rania dan melewati pemanasan yang begitu panjang, Bram dikejutkan dengan pemandangan yang membuatnya langsung lemas.

__ADS_1


Saat membuka celana da lam Rania dan bersiap mesukan Si Joni ke sarang, Bram menemukan banyak sekali darah di celana da lam Rania. Seketika pria itu terjatuh lemas diatas tubuh istrinya. Kenapa tamu bulanan itu datang disaat yang tidak tepat.


Rania menahan tawa melihat suaminya uring-uringan, bahkan tidak bersemangat untuk berangkat ke kantor. Sebenarnya Rania juga merasa bersalah karena harus mengecewakan suami di ranjang, tetapi mau bagaimana lagi, tamu bulanan adalah kodrat yang tidak bisa ia tolak dan tiba ia atur waktu datangnya.


Bram terus memperhatikan Rania yang sementara memakaikan dasi untuknya tanpa mengucapkan apapun. Padahal biasanya Bram akan terus menggoda Rania, entah itu hanya sekedar menicum-cium ataupun menyentuh area terlarang Rania.


"Kapan sih tamu itu pergi?" tanya Bram.


Rania yang menahan diri sejak tadi akhir tertawa juga. Apa semenderita itu suaminya tidak berhubungan sehari?


"Malah ketawa, aku serius Honey,"


"Iya maaf. Paling cepat seminggu paling lama ya dua minggu,"


"Gak bercanda Honey, emang punyaku biasa gitu,"


"Honey apa kau sedang menghukumku? Gimana nasibnya si Jona nanti," keluh Bram dengan wajah memelas.


"Diikat dulu si Joni untuk sementara,"


"Gak bisa Honey, yang ada jamuran nanti."

__ADS_1


Rania tertawa mendengar perkataan suaminya.


"Naaaaah udah ganteng," ucap Rania setelah selesai mengikat dasi. "Ayo brangkat,"


"Hmmm," sahut Bram. Padahal biasanya suaminya itu akan memeluk dan mengecupnya berkali-kali sebelum keluar kamar.


Mereka berdua pun turun ke lantai bawa untuk sarapan sebelum berangkat ke kantor.


"Pagi Mah, Pah," Sapa Rania pada Anggita yang telah duduk menunggu mereka di meja makan.


"Pagi juga sayang," sahut Anggita. sementara Tuan Pras hanya memberi senyuman.


"Kenapa tuh muka, pagi-pagi udah ditekuk aja," timpa Anggita.


"Mimpi buruk semalam," sahut Bram ketus membuat Rania tersenyum sendiri.


"Ada-ada aja anakmu, Pah. Ayo makan," ucap Anggita. "Oh ya nanti malam kalian jangan sampai telat ya ke rumah Kakek," timpa Anggita.


"Iyah, Mah," sahut Rania.


Mereka pun mulai sarapan bersama sambil mengobrol ringan. Selesai sarapan, Bram dan Rania langsung berangkat ke kantro.

__ADS_1


Dalam perjalanan, Bram masih saja terlihat uring-uringan. Felix yang melihat semua itu dari kaca spion merasa heran, ada apa dengan Tuannya pagi ini.


Apa mereka sedang bertengkar?


__ADS_2