Gairah Tuan Muda Impoten

Gairah Tuan Muda Impoten
BAB29. Tamu Yang Tak DiUndang.


__ADS_3

Awalnya Rania memang marah dan sakit hati melihat Bram pergi begitu saja dengan Erina. Namun, Rania bukanlah wanita lebih yang langsung meledak menghadapi suatu masalah. Rania yakin Bram pasti punya penjelasan atas perbuatannya, apalagi Bram bukan tipe pria yang suka mempermainkan perasaan wanita. 


.


.


 Bram dan Rania telah selesai mandi, bahkan telah duduk di meja makan. Saat keluar dari kamar tadi, Mama Anggita langsung menyuruh anak dan menantunya duduk manis menunggu kejutan.


"Kejutan datang," ucap Mama Anggita sambil membawa nampan besar di tangannya.


Bram dan Rania sambil berpandangan saat melihat yang dimaksud kejutan oleh Mama Anggita adalah nasi tumpeng.


"Ada selamatan apa Mah? Ko ada nasi tumpeng?"  tanya Rania.


"Selamatan untuk kalian berdua, sayang," sahut Mama Anggita bersemangat.


"Kita?" Rania menunjuk dirinya dan Bram bergantian dengan ekspresi bingung.


"Ya Nak Rania. Papa sangat bersyukur karena tidak salah memilih kamu menjadi menantu papa, akhirnya Bram bisa sembuh dari penyakitnya," ucap Tuan Pras yang telah hadir di sana juga. Tuan Pras datang saat Rania dan Bram sedang mandi tadi.


Rania yang mengerti apa maksud ucapan papa mertuanya langsung menunduk malu. Kedua pipinya memerah menahan malu, rasanya ingin sekali Rania mencubit Bram yang duduk disampingnya. Kenapa mulut Bram kemas sekali menceritakan hal itu pada orang tuanya.


Bram yang melihat Rania malu-malu pun tersenyum kecilnya, dalam hatinya ia berkata.


Potong tumpeng untuk pecah perawan ini belum seberapa sayang, lihat saja nanti kalau kamu hamil, entah kehebohan apalagi yang bakal mertuamu lakukan.

__ADS_1


"Nih potongan tumpeng pertama buat kamu, sayang. Cepat suapkan ke suami kamu," ucap Mama Anggita sambil memberi nasi tumpeng yang telah ia porong pada Rania.


"Iya, Mah" sahut Rania lalu melakukan seperti apa yang diperintah oleh mertuanya.


Saat Bram dan Rania sedang asik suap-suapan nasi tumpeng, bel pintu depan berbunyi. Tak lama kemudian datanglah seorang wanita cantik.


"Tante Anggi," panggil wanita cantik itu membuat semua yang berada di meja makan menoleh ke arahnya.


Wajah Bram sedikit kaget melihat Erina muncul tiba-tiba di rumahnya, untunglah tadi siang Bram telah meminta para ajudan menurukan foto-foto Erina yang ada di rumah. Kalau sampai wanita itu melihat masih ada fotonya di rumah Bram, bisa besar kepala dan merasa Bram masih menyimpan perasaan padanya.


"Hei Erina cantik, sejak kapan kamu kembali?" Mama Anggita berdiri dan menyambut Erina. Tak lupa mencium pipi kiri dan kanan.


"Baru seminggu ini, Tante. Maaf ya Erina baru sempat mengunjungi, Tante." ucap Erina setelah melepas pelukan mereka.


"Tidak apa-apa cantik, ayo sini gabung ikut makan bersama kita," ajak Mama Anggita.


"Oh ya Erina kenalin ini Istrinya Bram, Rania namanya. Rania sayang ini teman lamanya Bram,"


"Hallo, Rania. Erina," ucap Rania dan Erina bersamaan.


"Ayo makan," ucap Mama Anggita. "Rania sayang, kamu harus makan yang banyak ya," Mama Anggita mengambil beberapa lauk untuk Rania.


"Tante, Erina juga mau dong diambilkan lauknya," ucap Erina.


"Oh kamu mau juga, kemarin kan piringmu," Mama Anggita melakukan hal sama pada Erina. "Kamu juga makan yang banyak ya," pesannya.

__ADS_1


"Iya Tante, makasih ya masih perhatian sama Erina," Mama Anggita pun mengangguk.


Bram yang berpikir Rania akan marah atau merasa sedih menggenggam erat tangan Rania dibawa meja. Rania tersenyum melihat ke arah Bram memberi isyarat bahwa dirinya tidak apa-apa.


keadaan meja makan menjadi hening, hanya bunyi suara  piring dan sendok yang saling bersahut-sahutan. perbincangan antara keluar menghilang begitu saja karena datangnya orang luar.


"Tante, besok ada acara nggak? Erina temani ke salon ya?" tawar Erina memecah keheningan.


"Besok nggak bisa Erina, tante udah ada janji sama teman-teman tante,"


"Oh," Ekspresi Erina terlihat sedikit kecewa.


"Bram, boleh nggak besok aku main ke kantor kamu, plisssss aku bosan di rumah terus," Erina sedikit memohon.


"Nggak bisa, aku besok sibuk kerja, nggak ada waktu buat ngobrol," tolak Bram.


"Ayolah Bram, aku datangnya pas jam makan siang, aku janji tidak akan menunggumu kerja," Erina sedikit merengek.


Bram hendak menjawab namun Rania menahannya.


"Rania boleh ya aku main kantor Bram, atau kamu  juga ikut kesana aja deh jadi kita bisa ngobrol bersama disana,"


"Oke, Erina," sahut Rania santai membuat Bram melotot tidak terima.


Wajah Erina terlihat bahagia, akhirnya besok bisa ada kesempatan ketemu Bram lagi. Erina akan berusaha datang lebih awal dari Rania agar bisa punya banyak waktu berduaan dengan Bram. Erina tidak tahu saja Rania bekerja di tempat yang sama dengan Bram, bahkan jadi sekertaris Bram.

__ADS_1


Mama Anggita dan Papa Pras hanya terdiam melihat tingkah Erina. Sebenarnya kedua orang tua itu sedikit geram melihat tingkah Erina yang mendominasi, terlebih lagi, dulu Erina memilih menikah dengan pria lain hanya karena Bram impoten. Akan tetapi mereka memilih diam, mereka ingin melihat sejauh mana Rania bertindak menghadapi kelakuan Erina.


__ADS_2