Gairah Tuan Muda Impoten

Gairah Tuan Muda Impoten
BAB22. Perjaka vs Tingting


__ADS_3

"Intan! Batalkan semua rapat, jangan biarkan siapapun menggangguku sampai jam makan siang nanti," ucap Bram langsung membuat wajah senang Rania seketika menghilang.


Bukan hanya membatalkan rapat, Bram juga menelpon dua orang ajudannya untuk berjaga di depan pintu ruangannya.


.


.


"Mau kemana?" tanya Bram sambil menahan pinggul Rania.


"Ma-mau bersihkan ini sebentar," ucap Rania sambil menunjuk pada lantai yang berantakan. Ia sengaja mencari alasan untuk menghindar dari Bram.


"Biarkan saja, kita lanjut dulu yang tadi,"


"Tapi, mmmmmpp," Ucapan Rania terhenti karena Bram mengeratkan pelukan di pinggangnya.


"Tapi apa sayang? Jangan bilang kamu mau menghindar lagi dariku,"


Rania menggeleng cepat.


"Lalu?"

__ADS_1


"Kunci dulu pintunya," Rania berkata dengan wajah malu-malu.


Bram tersenyum menanggapi perkataan Rania lalu ia meraih sebuah remot kecil diatas meja, dengan menekan tombol merah yang ada pada remot tersebut, pintu ruangan pun terkunci secara otomatis.


Setelah pintu terkunci rapat, Bram yang sudah tidak tahan lagi langsung kembali menyerang Rania. Bram melakukan semuanya penuh kelembutan, mengabsen setiap rongga mulut Rania. Pelan namun pasti, Bram mulai membuka kancing baju Rania satu persatu.


Ciuman yang awalnya penuh kelembutan semakin lama semakin memanas. Napas keduanya terdengar memburu dikala napsu telah menyelimuti.


Merasa tidak puas dengan posisi seperti itu, Bram mengangkat tubuh Rania lalu mendudukannya diatas meja. Bram menatap sayu pada bagian dada Rania yang terlihat begitu kencang dan montok. Tanpa menunggu lama lagi Bram menyingkap sebelah bra lalu langsung memainkan lidah disana.


"Aaahhh," Rania mend esah sambil mencekram kuat  rambut Bram ketika Bram mulai mengi sap salah satu gunung kembarnya. Rania merasakan sensasi kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelum.


Bram semakin menggila mendengar suara des ahan Rania. Bram menjilat, mengi sap dan menggigit pelan area dada Rania meninggalkan banyak sekali jejak merah disana. Merasa sudah tidak tahan lagi, Bram mengangkat tubuh Rania lalu membawa gadis itu ke sofa.


"Mulai sekarang kamu harus membiasakan diri melihatnya, sayang," ucap Bram lalu menarik salah satu tangan Rania untuk menyentuh si Joni yang telah berdiri tegak, kuat, kokoh dan terpercaya.


Rania menarik tangannya namun Bram menahannya.


"Pegang dia sayang," ucap Bram lagi sambil menuntun tangan Rania memainkan si joni. "Aaaahhh," Bram mend esah merasakan sentuhan tangan Rania. "Enak sayang," Bram tidak segan mengungkapkan kenikmatan yang ia rasakan pada Rania.


Sungguh perasaan yang sangat menyenangkan, setelah sekian lama akhirnya si joni bisa melepas perjaka.

__ADS_1


Bram kembali menyerang Rania, memberi rangsangan sebelum menyebur joni. Mulutnya bekerja aktif  di bagian atas, sementara tangannya menerobos masuk satu-satunya kain yang masih menutupi area sensitif Rania. 


Merasa sudah tidak tahan, Bram mulai menindih tubuh Rania. Saat pertama kali mengoleskan si joni pada si  jeni, Bram tersenyum penuh kepuasan.


Menyadari Rania masih ting ting, Bram berusaha mengatur napsunya agar tidak menyakiti Rania. Pelan namun pasti, Bram mulai mendorong pelan dan berusaha menembus gawang Rania.


Semua kenikmatan yang Rania rasakan saat pemanas tadi tergantikan dengan rasa sakit yang sangat luar biasa.


"Tahan sayang, setelah ini tidak akan sakit lagi," ucap Bram. Ia mengusap kening Rania yang dipenuhi keringat lalu kembali mencium bibir Rania.


Hampir dua jam lebih mereka bertempur, akhirnya permainan panas mereka pun selesai. Sofa empuk yang berukuran 4 seater itu seakan menjadi saksi bisu permainan panas pasangan suami istri itu.


.


.


Kini Bram dan Rania masih berbaring diatas sofa dengan posisi saling berpelukan, tubuh mereka berdua masih polos belum mengenakan sehelai pakaian pun. Hanya ada jas Bram yang dijadikan selimut untuk menutupi area sensitif mereka.


Tidak ada perbincangan di antara mereka berdua, Bram memeluk erat tubuh Rania sambil sesekali mengecup pucuk kepala Rania.


Sementara Rania sendiri, pikiran melayang jauh. Hal yang paling berharga dari dirinya telah ia serahkan pada Bram, bagaimana hubungan mereka kedepannya? Apakah setelah ini Bram akan bersikap baik padanya? Lalu bagaimana dengan perasaan Bram yang telah cinta mati pada mantan kekasihnya? 

__ADS_1


Banyaknya pertanyaan yang muncul dalam pikiran Rania membuat gadis itu merasa takut. Ramia merasa seperti telah melakukan kesalahan besar. 


__ADS_2