Gairah Tuan Muda Impoten

Gairah Tuan Muda Impoten
BAB24. Kedatangan Mama.


__ADS_3

Bram kembali mengulang aksinya beberapa jam lalu, mengi sap dan mengabsen rongga mulut Rania. Bram menuntun Rania ke  kamar tanpa melepas ciuman mereka, Bram menarik handle pintu lalu menguncinya dari dalam. Akhirnya keinginan Bram untuk mengulang semuanya diatas kasur terwujudkan tanpa harus berdrama panjang


.


.


Saat sedang asik memadu kasih diatas ranjang, samar-samar Bram dan Rania mendengar suara seseorang menggedor-gedor pintu sambil meneriaki nama Bram.


"Ada yang nyari kamu diluar," ucap Rania.


"Biarkan saja," sahut Bram yang sedang asik menikmati permainannya.


Rania merasa tidak puas sehingga ia berusaha menajamkan pendengaran.


"Itu suara mama, Bram" ucap Rania lagi setelah mengenali suara tersebut.


Bram menghentikan aktivitasnya sebentar lalu ikut memasang telinga.


"Bram buka pintunya, sama siapa kamu di dalam sana." Suara Anggita terdengar jelas di telinga Bram membuat Bram jatuh lemas diatas tubuh Rania.


"Benar itu suara mama" ucap Bram terdengar lemas. 


Kalau sampai Bram tidak keluar sekarang bisa-bisa satu kantor heboh karena ulah mamanya itu.


"Aku temui mama sebentar ya, bisa-bisa ini kantor rubuh dengan suara teriak mama,"


"Aku ikut,"


"Kamu yakin mau menemui mama dengan keadaan begini?"


Rania menggeleng sambil tersenyum kikuk, ia baru menyadari tidak punya salinan baju. "Gimana kalau mama nanyain aku?"


"Biar aku yang urus,"


Rania mengangguk.


"Maaf ya," ucap Bram lalu mengecup kening Rania. Ia merasa tidak enak karena belum membawa mereka berdua mencapai puncak.


Rania kembali mengangguk.


"Mukanya jangan ditekuk gitu dong, nanti kita lanjut lagi ya," ucap Bram membuat Rania melototkan matanya.


Perkataan Bram seolah Rania lah yang menginginkan semua itu, padahalkan dia sendiri yang memulai.

__ADS_1


Ketika Rania hendak menjawab ucapan Bram, pria itu langsung mengecup bibirnya berkali-kali. "Mandi lagi sana," Bram tersenyum lalu turun dari tubuh Rania.


.


.


"Kenapa sih Mah teriak-teriak kaya orang kampung aja," ucap Bram saat membukakan pintu.


"Apa katamu?"


"Ampun Mah, ampun" teriak Bram sambil tertawa kecil. Ia sengaja mengatakan semua itu agar sang mama semakin kesal.


"Ngapain kamu disini? Pintunya dikunci, minta semua rapat ditunda, ada ajudan pula yang berjaga di depan," cerca Mama Anggita.


"Buat cucu untuk mama," bisik Bram pada telinga sang mama. Seketika ekspresi Mama Anggita langsung berubah.


"Kamu bilang apa barusan, mama nggak salah dengarkan? Jadi kamu berdua sama Rania disini?" tanya Mama Anggita dengan raut berbinar.


Bram mengangguk pasti.


"Jadi kamu benar-benar sembuh sekarang?" Mama Anggita merasa tidak percaya. Rasa haru dan bahagia menyelimuti hatinya, terlihat jelas dari matanya berkaca-kaca.


"Selamat ya sayang," Mama Anggita memeluk dan mengecup kening anaknya.


"Jangan Mah," Bram menarik tangan sang mama yang hendak berjalan menuju kamar. "Nanti dia malu Mah,"


Anggita terdiam sejenak memikir perkata Bram. Benar juga, jika melihat Rania sekarang pasti anak itu akan malu.


"Ya udah kamu balik lagi ke kamar, mama pulang sekarang, bila perlu mama jaga didepan pintu,"


"Telat, bentar lagi ada meeting,"


"Tapi udah ginikan?" Mama Anggita menyatukan kedua tangan menggoda Bram.


"Apaansih Mah, kepo bangat," ucap Bram sambil berjalan menuju meja kerjanya. "Mama kesini ada perlu apa?" tanya Bram setelah mendudukan pantatnya di kursi kebesarannya.


"Mama tuh sebenarnya mau ketemu teman mama, karena kebetulan searah dengan kantor kamu jadi mama sekalian bawakan bekal untuk kalian berdua. Rencananya cuman sebentar tau-tau mala bablas disini," jelas Mama Anggita. 


"Oh, terus sekarang mama jadi nggak ketemu teman mama?"


"Nggak jadi, teman mama udah pulang, ngambek gara-gara kelamaan nunggu mama," Mama Aggrita berbicara sedikit nyolot membuat Bram tertawa kecil.


"Terus sekarang apa rencana mama?"

__ADS_1


"Apa ya?" Anggita tampak berpikir harus kemana setelah ini, pulang rumah tapi suaminya sedang tidak ada di rumah. "A ha mama tau apa yang harus mama lakukan," Mama Anggita terlihat bersemangat dengan apa yang akan ia lakukan. 


"Mama pulang sekarang ya, ingat pulang nanti langsung bawa mantu mama pulang, awas aja kalo dibawa kelayapan dulu," Selesai berbicara Mama Anggita langsung melangkah keluar.


"Suruh mantu mama makan yang banyak," teriak Mama Anggita sebelum akhir benar-benar meninggalkan ruang kerja Bram.


"Mama, mama," Bram tersenyum melihat tingkah sang mama. 


Ya seperti itulah tingkah mamanya, cerewet, suka mengomel untuk hal-hal yang tidak jelas tapi mudah memaafkan dan sangat penyayang, terlebih pada anak-anak dan suaminya. 


Selepas kepergian Anggita, Intan masuk sambil membawa sebuah paper bag.


"Tuan, ini pesanan Anda dari Elisa" Intan meletakan paper bag tersebut diatas meja lalu berpamitan keluar.


"Ran, sudah selesai mandi belum? Ini bajumu sudah ada" panggil Bram dari depan pintu.


"Udah," sahut Rania lalu membukakan pintu.


"Kamu cari siapa?" tanya Bram karena Rania celingak celinguk seperti mencari sesuatu di belakangnya.


"Mama mana?" tanya Rania.


"Udah pulang, kenapa?" sahut Bram.


Rania menggeleng lalu bertanya. "Mama nyariin aku nggak?" 


"Nggak sih, cuman mama titip pesan aja buat kamu," 


"Pesan Apa?" Rania tampak antusias ingin mendengar pesan dari mertuanya.


"Bikinkan cucu yang banyak untuk mama,"


"Apaan sih," wajah Rania memerah.


"Beneran, mau aku telepon mama buat pastikan?" 


"Iiihhh," Rania mencubit pelan perut Bram membuat pria itu tertawa geli.


... ....


... ....


Guys cerita ini ganre romance moderen jadi nggak ada konflik berat ya, hanya ada percintaan dan romantsi-romantisan aja. Adapun konflik nanti tapi yang ringan-ringan aja.🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2