Gairah Tuan Muda Impoten

Gairah Tuan Muda Impoten
BAB31. Mantan Yang Beruntung.


__ADS_3

Si joni yang terkurung selama puluhan tahan, sedikit bringas dalam bermain. Joni telah menemukan teman wisata yang pas untuk dirinya, sehingga joni ingin terus keluar bermain tanpa mengenal waktu.


.


.


Keesokan paginya, Bram mengantar Rania ke kantor. Setelah itu Bram pergi menemulai Felix.


"Masuklah, aku tidak akan lama," ucap Bram sambil membuka seat belt Rania.


"Hmmm hati-hati dijalan, jangan lupa bilang maaf pada Felix,"


"Iya," Sahut Bram. Rania pun berjalan masuk kantor.


Semalam setelah melakukan hubungan suami istri, Bram menceritakan masalahnya dengan Felix pada Rania. Rania pun menyarankan Bram untuk mencari Felix dan meminta maaf.


"Pagi Intan," sapa Rania setelah sampai di meja kerjanya. Namun, Intan tidak menjawab, bahkan tidak meliriknya sedikit pun.


Rania membuang napas pasrah, mungkin Intan masih marah padanya. Tidak ingin memikirkan Intan, Rania pun bergegas masuk ke ruangan Bram. Sebelum berangkat kerja tadi, Bram berpesan agar Rania membersihkan ruang kerjanya.


Rania membuka pintu ruang Bram, ia melotot tak percaya ketika melihat ada Erina disana. Bahkan Erina dengan percaya dirinya duduk di kursi kebesaran Bram.


Erina? Untuk apa dia kesini pagi-pagi? batin Rania. Dahinya terlihat mengkerut.


"Rania ko kamu kesini?" tanya Erina. Erina berdiri menghampiri Rania dengan wajah sedikit panik, tetapi ia berusaha untuk tenang.

__ADS_1


"Harusnya aku yang tanya, untuk apa kamu kesini pagi-pagi, Erina? Bukanya kita sudah janjian akan kesini saat jam makan siang nanti?"


"Hmmm Aku," Erina terlihat bingung. "Aku bosan di rumah, jadi aku berpikir untuk kesini lebih pagi," jelas Erina.


"Oh," 


"Kamu sendiri ngapain disini? Harusnya Kan kamu di rumah menunggu Bram pulang kerja,"


"Bram memintaku kesini untuk membersihkan ruang kerjanya,"


"Loh, bukannya bersih-bersih itu tugasnya OB ya? kenapa Bram mala menyuruhmu?"


"Suami aku tidak suka orang luar menyentuh barang-barangnya," ucap Rania lalu bergegas ke meja kerja Bram untuk bersih-bersih.


Erina menatap sinis Rania sambil berucap dalam hati. "Aku ingin lihat gimana reaksimu saat kau tahu suamimu masih mencintaiku, bahkan masih menyimpan foto kita dulu," Dalam hatinya, Erina tersenyum puas sambil mengingat kejadian saat ia menemukan selembar foto masa lalunya bersama Bram di laci meja kerja Bram. Hati Erita berbunga-bunga, memikirkan Bram masih mencintainya.


"Masih ada urusan sebentar diluar,"


"Urusan apa?"


"Nggak tau, Erina!" 


"Ko gitu sih? Harusnya Kan kamu sebagai istrinya tau dong kemana suami pergi. Setauku Bram orangnya nggak gitu loh kalo benaran cinta, waktu sama aku aja, Bram selalu mengajak aku kemanapun dia pergi,"


"Oh ya?"

__ADS_1


"iyah loh, Bram itu romantis bangat waktu sma aku, pas lamar aku aja dia bela-belain loh nggak kerja beberapa hari demi mempersiapkan acara lamaran,"


"Wah beruntungnya kamu jadi mantan suamiku," ucap Rania sambil tersenyum paksa. "Tapi sayang ya kamu nggak jadi nikah sama Bram," Nada bicara Rania terdengar sedikit sewot karena kesal dengan kata-kata Erina.


Wajah Erina yang sejak tadi tersenyum penuh bangga berubah dalam sekejap, Erina mengepal kedua tangannya dan menatap tidak suka pada Rania.


"Erina, sebaiknya kamu tunggu di luar deh. Tidak baiklah kamu masuk ruangan orang tanpa permisi, apalagi pemiliknya tidak ada," Selesai berbicara Rania langsung pergi meninggalkan Erina untuk merapikan rak buku.


Mendengar ucap Rania, Erina meraih tasnya lalu keluar dengan wajah kesal, Erina turun ke lantai bawa untuk menunggu Bram disana.


Rania cekikikan sendiri melihat Erina keluar dengan wajah marah. Awal Rania kesal mendengar ucapan Erina, tetap saat melihat  Erina emosi, Rania merasa puas karena pembalasannya tepat sasaran.


.


.


Beberapa menit menunggu di sofa tamu, Erina tersenyum senang melihat Bram berjalan masuk kantor diikuti Felix dari belakang. 


"Bram!" ucap Erina. Wanita itu tersenyum manis sambil berdiri menghadang Bram. "Bisa kita bicara sebentar?" tanya Erina.


"Katakan, aku tidak punya banyak waktu," sahut Bram sambil melihat jam rolex yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Aku ingin bicara berdua, bisa kita cari tempat sepi?"  Erina tidak ingin Felix mendengar pembicaraan mereka.


"Tidak bisa Erina, sepuluh menit lagi aku ada meeting" 

__ADS_1


"Baiklah, aku akan menunggumu saat makan siang nanti," Erina memilih bersabar demi mendapat hasil yang baik.


Bram tidak menolak, tetapi tidak mengiyakan juga ucapan Erina. Bram langsung pergi begitu saja.


__ADS_2