
Setelah kepergian Tuan Gerson, Rania bernapas lega, semua berjalan lancar, setidaknya sebelum berpisah dengan Bram ada hal baik yang ia lakukan untuk Bram.
Intan yang sejak tadi menyaksikan semua itu merasa tidak percaya, siapa sebenarnya Rania ini? Darimana dia punya kemampuan berbicara seperti tadi?
.
.
"Ikut aku," Bram menarik tangan Erina membawa wanita ke keluar dari restoran. Kebetulan di seberang jalan restoran itu ada sebuah taman yang cukup indah untuk berteduh di siang hari.
Erina yang diperlakukan seperti itu oleh Bram tersenyum senang, ia merasa bahagia sikap Bram masih tetap sama seperti dulu, mengajaknya tanpa memberitahu kemana tujuan mereka akan pergi.
"Kenapa kamu bisa ada disini?" tanya Bram saat mereka telah sampai di taman.
"Ceritanya panjang Bram, yang pasti aku sudah bercerai, skrng aku kembali untukmu," jelas Erina. Wajah wanita itu terlihat bersemangat saat mengatakan aku kembali untukmu.
Bram mengerut dahinya mendengar cerita Erina.
"Bram," Erina mengambil kedua tangan Bram dan menggenggamnya erat. "Tidak peduli kondisi kamu seperti apa, aku siap menerima semua itu. Aku tidak masalah jika kita tidak memiliki keturunan denganmu, aku janji akan menemanimu selamanya," ucap Erina tulus.
"Erina, aku...."
__ADS_1
"Suuuutt, aku tahu apa yang ingin kamu katakan. Mungkin dulu aku terlalu egois memilih menikah dengan orang lain tanpa memikirkan perasaanmu, tapi itu dulu Bram. Sekarang aku sadar hanya kamu satu pria terbaik dalam hidupku, sekarang aku siap menerima semua kekuranganmu,"
"Erina! pertama-tama terima kasih karena kamu kembali untukku. Yang kedua, waktu sudah berlalu begitu lama tentu semua tidak akan sama seperti dulu lagi. Dan yang terakhir, aku sudah menikah, aku sudah punya istri dan aku mencintai istriku,"
Erina mengepal kedua tangannya mendengar penjelasan Bram, hatinya terasa hancur bagaimana mungkin Bram bisa menikah, bukankah Bram hanya mencintai dirinya?
"Kamu serius dengan kata-katamu Bram?" tanya Erina. Meski hatinya hancur berkeping-keping, Erina berusaha kuat didepan Bram.
"Ya aku serius, kapan-kapan aku akan mengenalkannya padamu,"
"Baiklah," ucap Erina. Dadanya terasa sesak, semua kata-kata yang ingin ia ucapakan terasa tertahan di tenggorokannya. "Tapi kita masih bisa berteman kan?" timpanya.
"Tentu saja, bukankah kita memang berteman sejak SMA dulu?"
"Baiklah, untuk kali ini saja." Bram menyetujui permintaan, ya anggap saja ini sebagai tanda penghargaannya pada Erina.
Erina mengajak Bram ke restoran favorit mereka saat masih pacaran dulu. Awalnya Bram menolak tetapi Erina menggunakan kata teman sebagai permohonannya, Bram pun menyetujuinya. Pikir Bram ini untuk pertama dan terakhir kalinya, karena Erina sudah berjanji tidak akan menunggunya lagi.
.
.
__ADS_1
"Eh mantu mama udah pulang?" sapa Mama Anggita saat Rania pulang kerja. Mama Anggita memang sengaja duduk menunggu Bram dan Rania di ruang tamu.
"Udah, Mah," Rania mencium punggung tangan mertuanya. "Dari jam berapa mama disini?" Rania merasa tidak enak hati karena pulang tidak membawa apa-apa untuk mertuanya.
"Dari tadi siang," sahut Mama Anggita.
"Mama udah makan belum? Biar Rania masakin sesuatu buat mama ya,"
"Tidak usah sayang, mama udah makan.Oh ya, mana Bram?" tanya Mama Anggita karena Bram tak kunjung masuk.
"Bram, Bram lagi ada kerjaan di luar Mah. Rania mandi sebentar ya. Nanti Rania temani mama ngobrol," pamit Rania.
"Iya sayang," Mama Anggita mengangguk.
Masa mereka berantem sih? Mama Anggita merasa Rania seperti menghindar saat membahas Bram.
Selang beberapa menit setelah Rania masuk kamar, Bram datang berlari tergesah-gesah. Pria itu hampir saja terjatuh saat melihat Mama Anggita berdiri menunggu di ruang tamu.
"Ini dia tersangkanya," ucap Mama Anggita. "Kau apakan mantuku, hah?" tanya wanita paruh baya itu sambil menaruh kedua tangan dipinggang.
"Mah, introgasinya nanti saja ya, Bram harus ketemu Rania sekarang juga, ini masalah hidup dan mati Bram?" Selesai bicara Bram langsung pergi menuju kamar Rania.
__ADS_1
"Bram, Bram," Mama Anggita hanya menggeleng melihat kelakuan anak laki-lakinya.