
Selesai mandi dan berpakaian rapi, Bram dan Rania makan bersama bekal yang dibawa oleh Mama Anggita tadi. Karena sofa baru dalam ruangan itu belum diantar, mereka makan di meja kerja Bram.
"Kata mama kamu harus makan yang banyak biar kuat," ucap Bram.
Rania tidak menjawab, karena perutnya sudah sangat lapar ia langsung menyantap makanan nya. Setelah memasukan beberapa sendok nasi ke dalam mulutnya, Rania baru menyadari sedang makan satu meja dengan siapa.
Rania mengambil tisu membersihkan sudut bibirnya lalu menatap Bram.
"Maaf ya aku kelaparan bangat sampe lupa ada kamu disini," Rania tersenyum kikuk.
"Tidak masalah, lanjut makan. Aaa," Bram mengambil sepotong daging lalu menyuapkan pada Rania.
"Kamu tidak apa-apa cara makan aku gini?" tanya Rania memastikan. Mengingat sikap Bram sebelumnya, Rania takut Bram akan ilfil dan memarahinya.
"Tidak, ayo makan lagi," Bram mengusap sebentar rambut Rania lalu mulai ikut makan.
Selesai makan Bram menghubungi Felix melalui telepon kabel namun tidak ada jawaban.
"Kemana Felix," ucap Bram pelan sambil mengambil ponselnya. Saat sedang mencari nomor kontak Felix, Bram baru mengingat kejadian pagi tadi saat dirinya dan Felix berdebat.
"Ada apa?" tanya Rania.
"Tidak ada apa-apa," sahut Bram. "Kemarilah," panggilnya. Pria itu mengulurkan tangannya menyambut wanita yang telah mampu menaklukkannya.
Bram menarik Rania duduk di pangkuannya lalu memeluk Rania enak.
"Nyaman bangat," ucap Bram dengan kedua mata terpejam. Ia menggosok-gosokan pipi pada dada Rania sambil menghirup wangi tubuh Rania. "Kamu pake sabun apa sayang? Wangi tubuh kamu enak bangat dicium," timpa Bram.
"Sabun kembang tujuh rupa," sahut Rania membuat Bram langsung mengangkat kepalanya.
"Emang ada merek sabun seperti itu?"
__ADS_1
"Ada dong," sahut Rania sambil menahan tawa.
Bram yang menyadari dikerjain pun langsung menggelitik Rania. Disaat keduanya sedang asik tertawa, Intan membuka pintu dan masuk begitu saja. Kedua bola mata Intan seakan ingin melompat keluar saat melihat Rania duduk di pakuan Bram.
Rania ingin berdiri saat melihat Intan masuk secara tiba-tiba namun ditahan oleh Bram.
"Tidak bisakah kau mengetuk pintu terlebih dahulu!" ucap Bram. Ia terlihat tidak suka dengan sikap ceroboh Intan.
"Maaf atas kelancangan saya Tuan, tadi saya mengetuk pintu tapi tidak ada sahutan jadi saya langsung masuk saja," jelas Intan apa adanya.
"Hemmm, ada perlu apa?" tanya Bram.
"Sepuluh menit lagi kita akan berangkat meeting," sahut Intan.
"Ya, kau boleh pergi," perintah Bram. Intan pun langsung melangkah keluar. Sebelum menutup pintu Intan menatap tidak suka pada Rania.
"Dasar perempuan penggoda, ternyata dia menghilang seharian ini dia merayu Taun Bram," Raut wajah Intan terlihat marah.
.
.
"Intan lihat semuanya, bagaimana kalo dia menyebarkan gosip yang tidak-tidak," Rania terlihat cemas takut Intan menyebar gosip yang tidak-tidak tentang dirinya.
"Memangnya siapa dia berani menggosip istriku, hmmm?" Bram mengusap punggung Rania berusaha menenangkan perasaan sang istri.
"Bukan begitu, mereka kan nggak tau hubungan kita,"
"Iya juga sih," Bram ikut memikirkan perkataan Rania. "Sudah jangan dipikirkan lagi, kalo sampe ada yang bergosip aneh-anh tinggal cepat aja, bereskan?"
"Jangan! Main pecat-pecat" wajah Rania tampak cemberut.
__ADS_1
"Bercanda sayang," ucap Bram lalu mengecup pipi Rania.
"Aku bicara sebentar ya sma Intan, sekalian aku bilang soal status kita boleh ya?"
"Boleh, mau bilang ke seisi kantor juga boleh,"
Rania tersenyum menanggapi ucapan Bram.
"Sekalian bersiap ikut meeting ya," Bram sedikit berteriak karena Rania telah sampai ambang pintu.
"Ha, aku juga ikut? Bukannya kamu sama Felix dan Intan?
"Ikut saja ini perintah bukan tawaran, hitung-hitung kamu beramal temani suami kamu kerja,"
"Siap Tuan Bram," ucap Rania sambil menunduk memberi hormat. Dalam hatinya ia senang bisa selalu bersama-sama Bram.
.
.
"Intan, boleh kita bisa cara sebentar," ucap Rania. Saat ini ia berdiri didepan meja kerja Intan.
Intan tidak menjawab, wanita itu berpura-pura sibuk mempersiapkan berkas meeting.
"Intan, aku lagi ajak kamu bicara bisa tidak kamu mendengarkan aku sebentar."
Intan hanya melirik sebentar pada Rania lalu melanjutkan aktivitasnya.
"Terserah kamu mau dengar atau tidak, intinya aku hanya mau bilang apa yang kamu lihat tadi seperti yang kamu pikirkan. Aku dan Tuan Bram sebenar…."
"Cukup? Aku tidak ada waktu untuk dengar basa basi kamu. Sadar diri Rania kamu itu siapa tau diri dikit, pakai otakmu sebelum melakukan sesuatu," ucap Intan lalu pergi meninggalkan Rania begitu saja.
__ADS_1
"Inten tunggu, aku belum selesai bicara," panggil Rania. Namun Intan tidak mempedulikannya.