
"Ayo mandi, aku akan meminta Elisa mengantarkan bajumu kesini."
Rania mengangguk setuju.
"Ayo bangun," ucap Bram lagi karena Rania masih belum bergerak, padahal ia sudah melepas pelukannya.
"Kamu dulu yang bangun,"
"Susah Ran, tanganku kamu tindi,"
Kuping Rania sedikit berdiri mendengar Bram menyebut namanya, ia tersenyum malu-malu dalam pelukan Bram.
"Udah cepetan bangun," Rania mengangkat kepalanya memberi ruang agar Bram bangun.
"Astaga nih anak," Bram mulai kesal. Ia menarik jas yang masih menutupi tubuh mereka lalu membuangnya sembarangan arah. "Cepetan bangun, kalau kau masih belum mau bangun juga aku ulang lagi satu ronde disini," ancam Bram. Ia sengaja mengatakan itu karena ia tahu Rania malu.
"Iya, iya aku bangun," Dengan wajah cemberut, Rania bangun lalu duduk. Ia sedikit membungkuk sambil menyilang kedua tangan didada. "Ambilin jasnya," ucap Rania penuh permohonan. Ia benar-benar malu terlihat telanjang seperti itu didepan Bram.
"Tidak perlu," ucap Bram lalu mengangkat tubuh Rania.
__ADS_1
"Bram turunin," teriak Rania.
"Diamlah atau aku akan memakanmu lagi dikamar mandi." Kata-kata Bram membuat
Rania terdiam dan menurut dengan majah memerah.
"Mandilah, aku akan menunggumu di luar. Handuknya ada didalam," ucap Bram setelah menurunkan Rania di depan pintu kamar mandi.
Rania mengangguk lalu cepat-cepat masuk dan mengunci pintu rapat-rapat.
Saat hendak kembali, Bram menoleh ke arah tempat tidur yang terlihat rapi dan empuk.
Karena napsu sudah di ubun-ubun, Bram sampai lupa di ruang kerjanya ada sebuah kamar minimalis, tempat yang biasa ia gunakan untuk beristirahat ketika sedang lelah bekerja.
Sebelum membereskan kekacauan di ruang kerjanya, Bram mengambil sebuah handuk dari dalam lemari lalu melilitkan di pinggang.
Bram keluar dari kamar lalu mulai memunguti baju-baju mereka yang berserakan di lantai. Ketika melewati sofa yang mereka pakai tadi, sorot mata Bram tidak sengaja melihat ada bercak darah disana. Bram tersenyum, ia yakin itu adalah darah perawan Rania.
Bram bergegas membereskan ruangannya lalu menghubungi salah satu ajudannya untuk masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1
Entah apa yang Bram sampaikan pada ajudannya, terlihat sang ajudan mengangguk patuh lalu kembali keluar. Beberapa menit setelah ajudan itu pergi, empat orang ajudan lainnya masuk dan menunduk hormat pada Bram.
Setelah memberi hormat pada Bram, empat orang pria itu membentuk barisan lalu membuka sebuah kain panjang. Sambil berbaris menuju arah sofa, pandangan mereka semua terfokus kerah kedepan tanpa menoleh kekiri, kanan dan atas, bawa.
Bram tersenyum puas melihat hasil kerja para ajudannya, padahal ia hanya memerintah untuk tidak boleh melihat apapun yang ada pada sofa itu, tetapi para ajudannya justru mengerjakan semuanya jauh lebih profesional dari yang ia minta.
"Kenapa dibawa sofanya?" tanya Rania yang sejak tadi mengintip dari balik pintu. Setelah melihat para ajudan itu pergi Rania pun keluar dari kamar.
"Kamu sudah selesai man...." ucap Bram tertahan ketika berbalik dan melihat penampilan Rania.
Fokusnya tidak lagi pada pertanyaan Rania melainkan pada paha mulus dan bagian dada Rania yang menonjol dengan jelas.
"Ma-maaf ya aku pake kamejamu tanpa ijin," jelas Rania. Ia takut Bram akan memarahinya. "Tadi aku bingung mau ngeringin rambut gimana, jadi aku ambil baju di lemarimu. Terus handuknya aku pakai," Rania menyentuh rambutnya yang terbungkus handuk.
Ya, memang rambut Rania panjang dan sangat tebal, waktu selesai mandi tadi, Rania bingung bagaimana caranya mengeringkan rambut sehingga ia mengambil salah satu kemeja Bram yang berwarna putih laku mengenakkan.
Saat Rania sedang menjelaskan semuanya, Bram telah berjalan perlahan kearahnya. Tanpa meminta izin lagi, Bram langsung ******* bibir Rania.
__ADS_1
Bram kembali mengulang aksinya beberapa jam lalu, mengi sap dan mengabsen rongga mulut Rania. Bram menuntun Rania ke kamar tanpa melepas ciuman mereka, Bram menarik handle pintu lalu menguncinya dari dalam. Akhirnya keinginan Bram untuk mengulang semuanya diatas kasur terwujudkan tanpa harus berdrama panjang.