Gairah Tuan Muda Impoten

Gairah Tuan Muda Impoten
BAB30. Permintaan Bram.


__ADS_3

Mama Anggita dan Papa Pras hanya terdiam melihat tingkah Erina. Sebenarnya kedua orang tua itu sedikit geram melihat tingkah Erina yang mendominasi, terlebih lagi, dulu Erina memilih menikah dengan pria lain hanya karena Bram impoten. Akan tetapi mereka memilih diam, mereka ingin melihat sejauh mana Rania bertindak menghadapi kelakuan Erina.


.


.


Selesai makan malam, Erina langsung berpamitan pulang. Erina akan mempersiapkan diri untuk bertemu Bram besok di kantor.


Mama Anggita dan Papa Pras pun telah masuk ke kamar, malam ini mereka menginap di rumah Bram.


"Sayang, tunggu!" panggil Bram saat Rania berjalan masuk ke kamarnya.


"Ada apa?"


"Kenapa kamu mengijikan Erina ke kantor besok?"


"Dia meminta dengan baik, gimana cara aku menolaknya?"


"Harusnya kamu tolak, bilang saja aku sibuk besok."


"Kenapa? Apa kehadirannya cukup menggagu kamu?"


"Bukan aku, tapi kamu!"


"Aku? Memangnya ada denganku?"


"Hmmmm, sudahlahh" Bram membuang napas. Bagaimana cara menjelaskan pada Rania bahwa ia takut Erina akan melakukan sesuatu yang bisa menyakitinya.


"Tidak perlu bahas dia lagi, ayo ikut aku," ajak Bram.


"Kemana?" tanya Rania.


"Rahasia, tapi sebelumnya kamu tutup mata dulu," Bram mengeluarkan sebuah kain kecil dari saku celananya lalu mengikat mata Rania.


"Kamu mau bawa aku kemana?" tanya Rania.


"Ikut aja, nanti juga kamu tau," Bram menuntun Rania.


"Pelan-pelan ya, aku takut jatuh," Rania melangkah hati-hati karena takut jatuh.


"Tenang sayang, percayakan padaku," ucap Bram. Saat hendak menaiki anak tangga, Bram mengangkat tubuh Rania membuat wanita itu berteriak karena kaget.


"Kita mau kemana? Kenapa pake naik tangga segala?" Meski matanya tertutup Rania bisa merasakan Bram melangkah naik tangga.


Bram tidak menjawab, ia hanya tersenyum menatap wajah penasaran Rania.  Sesampainya ditempat tujuan, Bram langsung menurunkan Rania. Bram memberi kode pada Elisa dan dua orang pengawal yang berjaga di pintu untuk segera pergi.

__ADS_1


"Pelan-pelan, angkat tinggi kakimu, di depan ada anak tangga," ucap Bram sambil menahan tawa. Rania menurut mengangkat kakinya setinggi mungkin. Namun tidak menemukan tangga yang maksud oleh Bram.


"Kamu kerjain aku ya?" tanya Rania setelah meraba-raba tangga menggunakan kakinya. Wajah Rania terlihat cemberut.


"Eeh jangan dibuka dulu," Bram menahan tangan Rania yang hampir membuka penutup matanya. "Ini serius skrng, ayo jalan," 


"Benar ya! Awas kalo ngerjain lagi," ancam Rania.


"Iya," Bram menuntun Rania masuk ke dalam kamar. "Kejutan," ucap Bram saat membuka penutup mata Rania.


Rania terdiam memperhatikan tempat tidur yang telah dihias dengan kelopak mawar merah yang berbentuk love. 


"Gimana sayang, apa kamu menyukainya?" tanya Bram sambil memeluk Rania dari belakang. Tak lupa mengecup pipi Rania.


Rania masih tetap terdiam memperhatikan sekitaran kamar yang begitu indah dihias, bahkan lantainya pun ditaburi banyak kelopak mawar merah.


"Mulai sekarang kamu tidur disini, ini kamar kita. Kamu boleh melakukan apapun disini," Bram kembali mengecup pipi Rania, turun ke leher hingga ke pundak.


"Dengarkan aku," Bram membalikkan tubuh Rania menghadap ke arahnya. "Mulai sekarang hanya ada Bram dan Rania. Bram milik Rania dan Rania milik Bram, tidak ada yang lain lagi," Bram meraih kedua tangan Rania lalu mengecupnya. "


Rania masih terdiam, menatap intens wajah Bram berusaha mencari sebuah kebenaran.


"Boleh aku meminta sesuatu dari kamu?" tanya Bram.


Rania mengangguk setuju.


Rania tersenyum mengangguk, ia tahu betul maksud dari ucapan Bram.


"Erina hanya masa laluku, kamu adalah masa depanku. Aku tidak ingin kamu menengok kebelakang dan membuat kamu sakit hati," Bram berbicara dari hatinya yang paling dalam, Bram tidak ingin Erina mengucap sesuatu yang bisa membuat Rania sakit hati.


Rania tersenyum senang, ia bisa merasakan ketulusan hati Bram.


"Oh ya satu lagi, mulai sekarang panggil aku sayang. Kupingku sakit mendengar kamu memanggilku dengan sebutan Bram,"


"Tidak mau," Rania membantah cepat.


"Kenapa?" tanya Bram.


"Mama selalu memanggilku sayang, aku tidak mau pake sayang, ganti yang lain." Rania berpikir, apa bedanya Bram dengan mama mertuanya jika Bram memanggilnya sayang.


"Baby?"


Rania menggeleng. "Baby terlalu kekanak-kanakan.


"Lalu?" 

__ADS_1


"Honey! Aku mau dipanggil Honey," 


"Baiklah, Honey. Katakan, apa kamu menyukai semua ini?" tanya Bram sambil membawa kedua tangan Rania melingkar pada lehernya.


"Suka,"


"Apa kamu tahu aku sudah bekerja keras untuk menyiapkan semua ini?" Tangan Bram membelai dan membesarkan anak rambut Rania yang terlihat berantakan.


"Terima kasih sudah menyiapkan semuanya untuk ku," ucap Rania terpaksa. Ia tahu jelas siapa orang-orang yang telah menyiap semua itu. Yang pasti Bram hanya memerintah saja.


"Baiklah, Apa kamu tidak berniat membalas kebaikanku?"


"Membalas kebaikanmu?" 


"Ya," 


Rania tampak bingung membalas kebaikkan apa yang dimaksud oleh Bram.


"Apa kamu sudah menemukan cara membalas kebaikanku?" tanya Bram lagi karena Rania tidak menjawab ucapannya.


Rania menggeleng, otaknya benar-benar tidak sampai dengan apa yang dimaksud Bram.


"Baiklah, karena kamu tidak tahu cara membalas kebaikanku, maka aku akan mengajarkannya padamu, honey " ucap Bram. Jari pria itu mulai menelusi wajah mulus Rania, meyentuh pipi, hindung hingga turun ke bibir. Bram mengucap sebentar menggunakan jempolnya, lalu mulai memiringkan lehernya.


Bram kembali mengulang kejadian pagi tadi saat di kantor. 


Si joni yang terkurung selama puluhan tahan, sedikit bringas dalam bermain. Joni telah menemukan teman wisata yang pas untuk dirinya, sehingga joni ingin terus keluar bermain tanpa mengenal waktu.


.......


.......


Aku kasih visual ya Guys, biar kalian lebih semngat lagi bacanya. Semoga kalian suka ya, Guys.🤗🤗


Bramantyo Nugroho.



Rania Nur Aisyah




Erina Zhafira Kinandita

__ADS_1



__ADS_2