
Sebenarnya Ayah Bram juga menawarkan hal sama pada Radit. Namun, Fatma dan suaminya menolak. Mereka ingin Radit berada jauh di atas sehingga mereka menyekolahkan Radit di luar negri.
.
.
Rania baru saja sampai kantor, gadis itu berjalan sambil menenteng sebuah rantang susun di tangannya. Rania sengaja membawa bekal untuk meminta maaf pada Bram, ia ingin memperbaiki hubungannya mereka. Rania sadar sikapnya kemarin terlalu berlebihan.
"Pagi, Intan," sapa Rania ramah.
"Pagi juga, Ran. Tumben bawa bekal," sahut Intan sekaligus bertanya.
"Hehehe, lagi pengen aja. Oh ya, Tuan Bram sudah datang?" tanya Rania.
"Sepertinya sudah, barusan ada Dokter Haris kesini," jelas Intan.
"Dokter Haris? Apa Tuan Bram sedang sakit?"
"Entah, Dokter Haris adalah dokter pribadi keluar Nugroho, mungkin saja ada urusan lain,"
"Oh," Rania berpikir keras apa yang sebenarnya terjadi pada Bram.
"Udah nggak usah pikirin masala bos, mending kita ngopi aja yuk," ajak Intan.
Rania tersenyum mendengar ucapan Intan. "Kamu aja deh, aku udah ngopi tadi sebelum berangkat,"
__ADS_1
"Oh, ya udah aku ke pantry ya," Rania mengangguk menanggapi ucapan Intan.
Setelah memastikan Intan pergi, Rania mengambil kesempatan untuk masuk ke ruangan Bram. Tak lupa membawa bekal yang ia bawa tadi.
Tok, tok, tok.
Karena tidak ada sahutan dari dalam, Rania pun membuka pintu perlahan dan melangkah masuk. Hal pertama yang ia lihat saat menginjakan kakinya dalam ruang itu adalah, banyak sekali butiran obat yang berserakan dimana-mana.
"Obat siapa ini?" ucap Rania pelan. Gadis itu mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Bram. Namun, bukan Bram yang ia dapati tetapi keadaan ruangan yang sangat berantakan.
Banyak berkas berserakan dimana-dimana, posisi kursi kerja Bram juga telah berbalik arah. "Kemana Bram?" ucap Rania lagi. Gadis itu meletakkan rantang di atas meja, lalu mulai membersihkan ruang itu.
Ketika sedang memunguti berkas-berkas itu, Rania tidak sengaja melihat sepasang kaki di balik kursi. "Bram!" panggil Rania. Ia bergegas ke kursi tersebut untuk memastikan apakah betul itu Bram.
Benar saja tebakannya, Bramlah yang sedang duduk bersandar di kursi kebesarannya dalam keadaan mata terpejam. Rania terlihat ragu-ragu untuk membangunkan Bram, namun ia juga takut terjadi sesuatu pada Bram.
Rania mulai panik, ia berpikir telah terjadi sesuatu pada Bram. Saat ia hendak menyentuh kening Bram untuk memastikan suhu tubuhnya, Bram tiba-tiba saja membuka matanya membuat Rania mengusap-usap dadanya karena kaget.
Karena Bram hanya terdiam, Rania pun memberanikan diri untuk bertanya.
"Apa yang terjadi, kenapa semuanya berantakan begini?" Di posisi ini, Rania merasa sungguh tak nyaman karena Bram terus menatapnya, tetapi Rania berusaha tenang.
Bram tidak merespon, pria masih dengan posisi yang sama. Duduk bersandar sambil menatap intens wajah cantik Rania.
"Maafkan aku atas kejadian kemarin, aku tidak bermaksud menolakmu," Rania berpikir Bram masih marah padanya sehingga ia berinisiatif meminta maaf terlebih dahulu. "Aku, hanya…" Belum sempat menyelesaikan kata-katanya, Bram telah menarik tangannya hingga ia jatuh terduduk di atas pangkuan Bram.
__ADS_1
Mummmm Pppp, Lagi-lagi Bram menyerang Rania secara tiba-tina membuat gadis itu sedikit kaget. Namun, kali ini Rania tidak menolak, ia membiarkan Bram melakukan apa yang Bram inginkan.
Mendapati Rania tidak menolaknya, Bram terus memainkan bibirnya. Kedua matanya terpejam menikmati irama gerakan bibir yang ia ciptakan. Awalnya Bram hanya ingin membuktikan ucapan Rania yang mengatakan tidak bermaksud menolaknya kemarin, tetapi siapa sangkah, Bram benar-benar terbuai dan jatuh dalam permainannya sendiri.
Bram merasakan gejolak seksual yang sangat luar biasa, Bram tidak tahan ingin melakukan sesuatu yang lebih.
"Buka mulutmu sayang," ucap Bram. Nada suara terdengar parau.
Rania menurut membuka mulutnya, meski dalam hatinya dag dig dug menebak apa yang akan terjadi setelah ini.
Bram semakin panas ketika lidahnya bertemu dengan lidah Rania, tangannya mulai menggerayangi tak karuan, mera mas dan memijat pelan bagian tubuh Rania yang ia sentuh.
"Tidak apa-apa sayang, kita suami istri sudah seharus kita melakukan ini," ucap Bram ketika Rania menahan tangannya yang hendak masuk ke dalam rok.
"Tapi ini di kantor," ucap Rania. Seketika membuat Bram jatuh lemas ke dalam pelukannya. Rania tersenyum senang, merasa telah lolos dari cengkraman Bram.
Namun, Bram tiba-tiba saja memutar kursi lalu menekan tombol telepon kabel di atas meja kerjanya.
"Intan! Batalkan semua rapat, jangan biarkan siapapun menggangguku sampai jam makan siang nanti," ucap Bram langsung membuat wajah senang Rania seketika menghilang.
Bukan hanya membatalkam rapat, Bram juga menelpon dua orang ajudannya untuk berjaga di depan pintu ruangannya.
.......
.......
__ADS_1
Kira-kira apa yang mau Bram lakukan ya Guys? Ah aku jdi menghalu yang tidak-tidak.🤣🤣🤣