
"Honey! Kamu kenapa?" tanya Bram. Saat ini mereka telah sampai di rumah dan telah berada di dalam kamar. "Oke, kalo aku ada salah aku minta maaf. Tapi tolong kamu jangan diam gitu, aku bingung harus berbuat apa,"
"Aku nggak kenapa-napa," Nada bicara Rania terdengar masih ketus.
"Nggak kenapa-kenapa gimana? pas makan siang tadi kamu pergi gitu aja, tadi juga kamu ninggalin aku lift, trus itu muka kamu asem bangat gitu,"
Rania mencibirkan bibirnya mendengar pertanyaan Bram. "Nggak usah urusin aku, kamu urus aja mantan tercinta kamu itu. Kan kamu cinta mati sama dia sampe punya kalung kapel gitu,"
"Astaga," Bram menepuk jidatnya mendengar perkataan Rania. Mengapa dari tadi ia tidak menyadari istrinya sedang cemburu. Bram membuang napas kasar sebelum berjalan mendekat pada Rania.
"Kamu cemburu?" tanya Bram. Nada bicaranya terdengar lembut.
"Ihhh, siapa juga yang cemburu," Rania terlihat salah tingkah. Ia berjalan menuju ruangan ganti lalu sengaja membuka lemari untuk mengalihkan perhatian.
"Yakin nggak cemburu?" tanya Bram. Pria itu bersenda pada pintu ruang ganti sambil tersenyum membuat Rania semakin kesal karena merasa diejek.
Rania menatap tajam sambil berjalan menghampiri Bram. "NGGAK!" ucapnya tepat dihadapan Bram.
Ketika Rania hendak melangkah pergi, Bram langsung memeluknya dari belakang. Bram mengecup pipi Rania berulang kali tanpa mempedulikan Rania yang bermerontak meminta dilepaskan.
"Kamu kalo lagi cemburu gini menggemaskan, honey," ucap Bram lalu menggendong Rania.
"Mau dibawa kemana?" tanya Rania.
__ADS_1
"Ketemu pawangmu honey, biar kamu nggak marah-marah terus," Bram membawa Rania masuk ke kamar mandi lalu mengunci pintu rapat-rapat.
Hampir dua jam berendam dalam bathtub, Bram dan Rania pun sama-sama membilas badan.
"Kemarilah, aku keringkan rambutmu," ucap Bram saat mereka telah memakai handuk masing-masing.
Bram menyalakan hair dry lalu mulia mengering rambut panjang Rania. Wajah Rania yang sejak tadi asam, kini telah berubah cerah dan penuh semangat. Entah apa yang Bram kata padanya saat mereka mandi tadi.
"Udah, segini aja cukup," ucap Rania setelah merasa rambutnya setengah kering.
"Baiklah," sahut Bram lalu meletakan kembali hair dry pada tempatnya.
Bram membalik badan Rani mengapa kerahnya. "Lain kali tidak usah dengar omongan Erina, kamu harus percaya aku hanya mencintaimu," jelas Bram.
"Iyaah, aku cuman kesal aja dengar kata-katanya tadi siang"
"Apaan sih,"Rania mencubit pelan perut Bram membuat Bram tertawa geli.
"Gimana perasaanmu sekarang?" tanya Bram.
"Sudah lebih baik," sahut Rania.
"Lain kali kalo cemburu itu bilang,"
__ADS_1
"Siapa yang cemburu? Aku cuman kesal aja, beda ya cemburu sama kesal itu," Rania tetap mempertahankan harga dirinya.
"Yaudah, kamu cuman kesal. Ayo ganti baju, makan malam sudah siap," Bram memilih mengala. Rania pun tersenyum menang.
.
.
.
Sementara di tempat lain, Erina sedang makan malam berdua bersama Radit di sebuah restoran berbintang. Kedua terlihat serius dalam berbincang.
"Cheers untuk kerja sama kita," Radit mengangkat gelas berisi minuman, begitu pun Erina.
"Cheers," ucap Erina. Sambil meneguk minuman masing-masih, tatapan keduanya tidak terlepas dari satu sama lain.
Entah perbincangan apa yang terjadi diantara mereka, Erina dan Radi melakukan check in di sebuah hotel mewah yang tak jauh dari restoran tempat mereka makan tadi.
... ...
... ....
... ....
__ADS_1
Inilah gambar Om Bram yang lagi bucin, pengennya nempel terus sama istri yang telah ambil perjakanya. 🤣🤣🤣