
Garin terus melancarkan serangan pada mereka, untuk menguasai penuh satelit, agar dia bisa mengendalikan sesukanya.
Orang-orang yang mengincar Garin mereka terus mencoba menerobos masuk ke dalam data milik Garin.
"Hahahaha... Ternyata pertahanannya sangat lemah! Apa dia bodoh!" salah satu dari mereka tertawa senang, karena mereka pikir orang yang menyerangnya sangatlah bodoh.
Tapi baru saja mereka tertawa bahagia, tiba-tiba wajah mereka menjadi panik, karena sebuah virus merangsek masuk ke dalam data Base mereka semua.
"Apa yang terjadi?" salah satu di antara mereka terkejut.
"Cepat hentikan Virus ini! Lindungi data base kita!" pemimpin orang-orang tersebut panik, karena Virus menjalar sangat cepat. Anak buahnya juga terkejut, mereka semua berusaha sebisa mungkin menahan Virus tersebut, sayangnya semua itu hanya sia-sia belaka, semalam mereka mempertahankan data base mereka. Virus semakin kuat menyerang.
Mereka semua tidak bisa berbuat apa-apa, semua data mereka telah habis di lahap Virus, sekarang satelit milik mereka sudah menjadi milik Garin.
"Ini tidak mungkin! Bagaimana bisa seperti ini?!" pemimpin mereka meraung seperti orang gila.
__ADS_1
Sementara para bawahannya, hanya bisa menatap sendu Pemimpin mereka yang seolah seperti di tinggal mati kekasihnya.
Sementara di tempat Garin berada, dia tersenyum tipis, dia sudah tahu kalau lawannya sangat bodoh karena mau saja masuk ke dalam perangkapnya.
Setelah masuk ke dalam data Satelit dan memastikan kalau Satelit tersebut bisa di gunakan dengan baik. Garin menghentikan jari-jemarinya, dia menyenderkan tubuhnya di kursi.
"Ah... Akhirnya selesai juga, lumayan bisa mencoba kemampuanku." gumamnya lirih.
"Apa yang kamu telah lakukan Garin? Anak Ibu tidak sedang ngerjain seseorang kan?" Jeni tiba-tiba masuk menegur Garin.
Garin selalu pura-pura polos kalau di dekat Jeni, meski Ibunya tahu kemampuan dia di atas rata-rata, tapi Garin tidak pernah memperlihatkan pada mereka secara berlebihan. Garin hanya bertindak seperlunya saja, dia tidak ingin orang tuanya terbebani kalau tahu dirinya seperti manusia super.
"Apa yang kamu kerjakan Nak? Kenapa banyak sekali layar Monitor di sini?" tanya Jeni yang bingung karena melihat ada tujuh layar Monitor di depan Garin.
"Buat liatin data-data perusahaan Ayah Bu, dengan adanya tujuh layar, aku tidak perlu keluar masuk data, jadi bisa sekali klik dan masuk." jawab Garin membual.
__ADS_1
"Oh gitu... " sayangnya Jeni menelan bulat-bulat kebohongan Garin, dia tidak tahu kalau Anaknya sedang membohongi dirinya.
Garin tersenyum kecut, dia mengangguk "Iya Bu seperti itu."
"Baiklah, kalau begitu kita makan siang dulu yuk! Ayah juga sudah pulang, kita makan bersama." Ajak Jeni pada Anak semata wayangnya tersebut.
Garin mengangguk, dia beranjak dari duduknya dan keluar kamar bersama dengan Jeni yang menggandeng manja layaknya anak kecil.
Garin sebenarnya merasa risih karena kedua orang tuanya selalu memperlakukan dirinya seperti anak kecil, tapi dia sadar kalau dirinya memang masih anak kecil, hanya saja pikirannya yang melebihi anak seusianya.
"Kalian lama banget? Ayah kelaparan ini." gerutu Alvin dengan wajah cemberut.
"Anakmu itu, kalau sudah di depan komputer susah untuk di ajak pergi." jawab Jeni sambil menyendok kan makanan untuk Alvin.
Garin tidak peduli dengan obrolan mereka, dia duduk menunggu Jeni menyendokkan makanan untuk dirinya.
__ADS_1
Jeni pun menyendokkan makanan untuk Garin. Sera yang masih tinggal bersama mereka dan makan bersama, dia merasa senang karena rumah tangga anaknya sangatlah harmonis.