Garin Moor

Garin Moor
Royan Mulai Bergerak


__ADS_3

Royan memutuskan mengabdikan diri pada seorang Mafia. Dia berharap dengan bergabung dengan Kelompok Mafia tersebut bisa mengalahkan keluarga Moor.


Namun, nyatanya Royan belum juga mendapatkan kepastian dari Bos kelompok mafia itu.


Royan hanya bisa pasrah, karena hanya dengan cara itu dia yakin bisa mengimbangi keluarga Moor.


"Baiklah Bos, saya juga mau melaporkan kalau anak keluarga Rox ada bersama dengan anak Alvin Moor." ucap Royan tidak semangat.


"Apa kamu bilang?!" Bos mafia langsung terkejut saat mendengar ucapan Royan.


Royan juga ikut terkejut akibat perkataan Bos Mafia yang begitu lantang, hingga dia mengelus dadanya.


"Kamu serius Royan?!" tanya Bos mafia pada Royan.


"Iya Bos, saya serius." jawab Royan sambil mengacungkan dua jarinya hingga membentuk huruf 'V'


Bos Mafia sedikit terkejut dengan penemuan Royan, padahal Royan sudah tahu itu sejak lama, tapi berhubung Royan tidak tahu masalah kelompok Mafia Rox dan Bosnya, dia bodo amat dengan hal tersebut.


Royan tadi hanya iseng-iseng saja bilang seperti itu, tapi siapa yang menyangka kalau tanggapan Bosnya seolah sangat terkejut.


"Royan! Kita bergerak sekarang, kasih tahu dimana lokasi keluarga Moor!" Bosnya itu bertanya dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


Tentu saja Royan langsung bersemangat "serahkan pada saya Bos!"


Royan yang tadinya lesu, dia berbunga-bunga, akhirnya setelah sekian lama menunggu, Bosnya akan bergerak juga.


Bos Royan langsung mengumpulkan anak buahnya, dia ingin melihat seperti apa keturunan terakhir keluarga Rox itu.


...***...


Sementara itu, Garin dan Renty yang sudah saling mengungkapkan perasaan, mereka berdua pergi jalan-jalan dan menyerahkan pekerjaan mereka pada Asistennya masing-masing.


Renty begitu senang, usianya yang lebih tua dari Garin, tidak membuatnya risih sama sekali berjalan dengan pujaan hatinya.


"Garin, habis ini main yang itu yah?" Renty terlihat sangat manja dengan Garin.


Mereka berdua, menikmati masa awal kebersamaannya dengan penuh kebahagian, Renty tidak peduli semua orang menatapnya dengan iri, apa lagi para wanita yang ada di sana, menurut mereka Renty sangat beruntung karena mendapatkan pria yang tampan seperti Garin.


"Ah, aku lelah Garin." mereka berdua duduk di sebuah kursi di tempat tersebut. Renty menyenderkan kepalanya di bahu Garin.


"Kirain kamu tidak merasa lelah sama sekali." goda Garin pada Renty.


"Apaan sih kamu ini, memangnya aku Robot!" dengus Renty sambil menggembungkan pipinya.

__ADS_1


Garin memencet hidung Renty "sudah tua tapi manjanya kayak anak kecil."


"Biarin, lagian juga sama pacarku ini." ucap Renty manja.


Garin menghela napas "sejak kapan kamu menyukaiku?"


Garin bertanya sambil mengusap puncak kepala wanita yang kini telah menjadi kekasihnya itu.


Renty mendongak menatap wajah tampan Garin "entahlah, tapi sepertinya dari dulu aku memang sudah menyukaimu."


"Gila! Kamu pedofil ternyata!" celetuk Garin tiba-tiba, sehingga membuat wajah Renty berubah menjadi jelek.


"Ih... kamu apaan sih Garin! Suruh siapa kamu selalu dekat aku dan perhatian sama aku, akhirnya aku oleng-oleng karena perbuatan kamu!" Renty memukul-mukul kecil dada Garin.


Renty kemudian menatap Garin dengan seksama "kalau kamu? Sejak kapan kamu menyukai aku? Atau kamu cuma...."


"Ssstt...." Garin menutup mulut Renty dengan jari telunjuknya, sehingga Renty berhenti bicara.


"Tidak penting, kapan aku menyukai kamu, yang pasti aku sudah menjadi milik kamu sekarang." ucapnya sambil menyunggingkan sebuah senyum manis.


Renty balas tersenyum, dia menganggukan kepala dan memeluk Garin dengan erat seolah tidak ingin kehilangannya.

__ADS_1


Kemesraan keduanya membuat mereka lupa, kalau hubungan asmara mereka yang terpaut sepuluh tahun tidak kentara sama sekali, mereka seperti pasangan pada umumnya yang tidak di bedakan usia.


__ADS_2