Garin Moor

Garin Moor
Kediaman Garin


__ADS_3

Sisil dan Fei menoleh ke arah Renty yang baru saja selesai mandi, dia hanya menggunakan handuk yang melilit tubuh polosnya.


Mereka berdua langsung menghampiri Renty "lihatlah ini Ren!" Sisil melihatkan foto Garin.


Renty mengerutkan keningnya "kamu punya foto bocah itu?"


"Bukan itu, baca artikelnya!" Sisil menegur Renty yang tidak membaca Artikel yang ada di bawah foto tersebut.


Renty memutar bola mata malas "Iya, iya sebentar, aku duduk dulu."


Renty duduk di ranjangnya, bersama dengan Sisil dan Fei yang ikut duduk di sana juga. Mereka berdua ingin melihat reaksi Renty seperti apa.


Benar saja ketika Renty membaca artikel tersebut, perlahan sorot matanya menjadi sangat serius dan ada sedikit rasa keterkejutan di matanya.


"I-ini gak bohong kan?!" tanya Renty pada kedua temannya tersebut.


"Kami juga terkey Rem, siapa yang menyangka kalau anak tersebut pewaris Taipan legendaris dari Chinate!" jawab Fei dengan bersemangat.


"Gawat! Ini gawat!" Renty teringat kalau nomornya di berikan pada Moli, asisten Garin.


"Kenapa Ren?" tanya Sisil menyelidik.


"Fei, Sisil, nomorku! Nomorku, aku berikan pada Asisten-nya!" Renty terlihat sangat kalut.


Fei dan Sisil baru teringat kalau Renty memberikan nomornya pada asisten Garin. Mereka semua langsung ketakutan, karena bisa saja di hubungi untuk pertanggung jawaban.


"Aku harus gimana?" Renty terlihat sangat ketakutan.


"Aku tidak tahu Ren." jawab Fei tidak berdaya.


Sisil terlihat berpikir, dia kemudian menemukan sebuah ide "Ren, kamu beritahu ayahmu saja, dia pasti mengenal tuan Alvin Moor!"


Renty menatap sahabatnya tersebut "gila kamu! Bisa-bisa aku di kulit hidup-hidup oleh Ayah!"


Renty sudah terlalu banyak membuat masalah untuk ayahnya, dia yakin jika masalah tersebut sampai ketelinga Ayahnya, yang ada malah dia akan di marahi habis-habisan, apa lagi masalah yang dia dapat dengan Taipan tersukses sepanjang masa.


"Terus harus gimana Ren?"Aku juga bingung." ucap Sisil tidak berdaya.


Tentu mereka semua tidak bisa berpikir dengan jernih, di dalam otak mereka penuh dengan bagaimana caranya bisa lolos dari masalah tersebut.


Saat mereka bertiga sedang berpikir untuk terbebas dalam masalah tersebut, tiba-tiba Ponsel Renty berbunyi.


Sontak saja hal tersebut membuat ketiga orang itu terkejut, Renty menatap sahabatnya ketika melihat layar ponsel yang menunjukkan nomor baru.

__ADS_1


"Jangan-jangan ini dia, aku harus bagaimana?" tanya Renty khawatir.


Fei menggelengkan kepalanya, sementara Sisil menghela napas "coba angkat saja dulu."


Renty mengumpulkan keberaniannya, dia mau tidak mau harus mengangkat telepon tersebut, dia menghela napas dan mengangkat panggilan itu.


"Ha-halo." ucapnya dengan gugup.


Benar saja, ternyata yang menghubungi Renty Garin, terdengar suara anak kecil menyaut "Apa benar ini nomor wanita yang membuatku akan terjatuh dari gedung?"


Suara Garin bagaikan petir yang menyambar telinga Renty, dia menelan ludah sebelum akhirnya menjawab "Be-benar." ucapnya terbata.


"Baguslah, kamu datang ke tempatku sekarang, nanti aku kasih alamatnya!" setelah mengatakan itu Garin langsung menutup panggilannya.


Wajah Renty memucat, dia yakin ada sesuatu yang ingin di bicarakan anak tersebut, yang di takutkan Renty kalau sampai dia menuntut kejadian tersebut.


Melihat Renty yang terdiam membisu dengan wajah yang memucat, kedua sahabatnya bisa menebak kalau Renty akan mendapatkan masalah.


"Ren, kamu baik-baik saja?" tanya Fei sambil memeluk sahabatnya itu.


"Kami akan menemani kamu Ren." Sisil menimpali.


Mata Renty berkaca-kaca, sebelum akhirnya air matanya meluncur deras "Aku harus gimana? Di menyuruhku datang ke tempatnya?" Renty menangis terisak, dia kali ini benar-benar ketakutan.


Sebuah pesan masuk di ponsel Renty, dia menatap tidak berdaya alamat yang menunjukan kediaman Alvin Moor, yang sangat di kenali seluruh masyarakat Nerika.


Tangan Renty bergetar, meskipun dia dari keluarga yang mampu. Namun, jika di bandingkan dengan keluarga Moor, keluarganya tidak ada apa-apanya sama sekali.


"Kita temui saja dulu Ren, daripada kamu di buru anak buahnya, mending kamu bicara baik-baik." Sisil memberikan nasehat, meskipun nasehat tersebut semakin membuat Renty tertekan.


"Aku takut!" Renty semakin menangis menjadi-jadi.


Fei dan Sisil hanya bisa tersenyum getir, mereka berdua juga tidak bisa berbuat apa-apa, selain memberikan Renty sebuah dukungan saja.


Mereka berdua mencoba menenangkan sahabatnya tersebut, hingga Renty akhirnya memberanikan diri untuk menemui Garin di kediamannya.


...***...


Renty, Fei dan Sisil sampai di depan gerbang kediaman Garin, terlihat banyak pengawal yang menjaga tempat tersebut.


Mereka bertiga begidik ngeri, karena para pengawal Garin terlihat sangat tegas dan menyeramkan.


Tok... Tok... Tok....

__ADS_1


Kaca Mobil Renty di ketuk seorang pengawal, sontak saja mereka bertiga langsung kaget. Dengan takut-takut Renty membuka kaca Mobil.


"Maaf Nona, anda mencari siapa? Kalau tidak ada urusan lebih baik kalian pergi dari sini." pengawal menegur Renty yang memang menyetir mobilnya sendiri.


"Sa-saya ada janji dengan tuan Garin." Renty menjawab dengan terbata.


Pengawal mengangguk mengerti, dia menggunakan walkie talkienya menghubungi orang di dalam.


Setelah dia selesai menghubungi seseorang, dia berteriak "buka gerbangnya! Tamu tuan muda sudah datang!"


Seketika gerbang di buka, pengawal buka suara "Nona, silahkan masuk, tuan muda sudah menunggu anda di dalam." ucap pengawal sopan.


Renty mengangguk "terima kasih tuan." ucapnya yang langsung menginjak pedal gas dan masuk ke kediaman Alvin.


Renty sengaja tidak memberitahu pengawalnya, karena dia pikir kalau pengawalnya tahu, maka akan melaporkan pada Ayahnya. Dia tidak ingin membuat Ayahnya marah lagi.


Mobil Renty masuk ke halaman rumah Alvin, mereka bertiga takjub dengan rumah megah tersebut, halamannya juga sangat luas, di tambah ada taman bunga juga di sana.


Bisa di katakan itu bukanlah rumah, melainkan sebuah istana yang berkedok perumahan elit.


Ketiga sahabat tersebut terus memandangi Susana rumah Alvin yang sangat nyaman dan sejuk, mereka sampai lupa dengan ketakutannya yang menggerogoti mereka saat berangkat ke sana.


Mobil Renty berhenti di depan rumah Alvin, mereka bertiga langsung turun dari Mobil. Moli yang sudah menunggu kedatangan mereka langsung mengantar mereka ke tempat Garin berada


Garin sedang berada di halaman belakang, dia sedang bersama dengan Jeni, ngobrol biasa masalah keluarga.


"Tuan muda, tamu anda sudah datang." Moli memberitahu Garin dengan sopan.


Seketika Jeni dan Garin menoleh ke arah mereka semua. Jeni menatap gadis SMA yang sangat cantik di antara dua gadis lainnya.


Jeni tersenyum "kamu masih anak-anak tapi selera kamu bagus juga." celetuk Jeni dengan kata-kata Ambigu.


Garin yang sudah tahu maksud perkataan Ibunya, dia menghela napas "apaan sih Bu! Sana mending Ibu masuk ke dalam, instruktur senam Ibu sudah nunggu!"


"Kamu mengusir Ibu? Jahat sekali." Jeni pura-pura cemberut di depan anaknya itu.


"Hadeh... jangan mulai deh Bu, Garin sudah gede, jangan perlakukan Garin kaya anak kecil terus!" ucap Garin kesal dengan Ibunya yang terus menggoda dirinya.


"Iya, iya, Ibu pergi ini." Jeni beranjak dari tempat duduknya, dia berhenti ketika di depan Renty, kemudian memegang dagu Renty untuk menatapnya "gadis cantik, siapa nama kamu?" tanyanya ramah.


"Re-Renty Crusher Nyonya." ucapnya dengan gugup.


Jeni tersenyum "jangan gugup seperti itu, anggap saja rumah sendiri. Ibu titip anak ibu yah, bye...."

__ADS_1


Jeni meninggalkan Renty yang tertegun dengan perkataan ambigu Jeni, dia masih belum bisa mencerna apa maksud dari ucapan Jeni.


__ADS_2