Garin Moor

Garin Moor
Identitas Garin


__ADS_3

Tentu saja Garin terkejut dengan perkataan Moli, karena asistennya itu seolah mengerti apa yang dia pikirkan.


Garin bukan tertarik dengan gadis SMA tersebut, hanya saja dia merasakan ada sesuatu yang janggal dengan gadis itu.


"Simpan nomornya, suatu saat aku akan membutuhkan-nya." ucap Garin ketus.


Moli mengulas sebuah senyum, dia tahu kalau tuannya pasti menginginkan nomor tersebut, meski dia masih kecil, tapi menurut Moli, Garin sudahlah dewasa, jadi wajar saja kalau Garin menginginkan seorang wanita di sisinya. Pikiran Moli yang notabenya manusia normal memang ada benarnya, tapi sebenarnya itu semua tidak benar sama sekali.


Garin mengajak Moli untuk kembali melanjutkan jalan-jalan lagi, untuk memuaskan keinginannya selama ini.


Moli hanya mengangguk patuh, kemanapun Garin pergi, dia akan selalu menemaninya setiap waktu.


...***...


...Sementara itu di tempat gadis SMA yang menabrak Garin, dia merasa bersalah karena hampir saja membunuh seorang anak kecil....


"Gara-gara kalian, hampir saja aku membunuh anak kecil!" ucapnya ketus pada teman-temannya.


"Dih, kok malah sewotnya sama kita, orang kamu yang nenggor dia." jawab salah satu temannya tanpa merasa bersalah sama sekali.


"Sisil benar Ren, kenapa kamu malah nyalahin kami, kan kamu yang mulai maen dorong-dorong kami." timpal salah satu temannya lagi.


"Susah, ngomong sama kalian, dahlah kita pulang sekarang, aku bad mood!" Renty yang notabenya anak manja langsung hilang mood saat di goda teman-temannya.

__ADS_1


Sisil dan Fei menggendikkan bahu, mereka berdua hanya bisa menuruti kemauan temannya itu, dan lebih memilih untuk diam saja.


Mereka bertiga pulang ke rumah Renty, karena hanya di sanalah tempat mereka nongkrong dengan nyaman, semuanya serba ada di rumah Renty yang nobetanya memang anak konglomerat.


Sesampainya di rumah, Renty langsung bergegas ke kamarnya, tentu dia sahabatnya ikut mengekori di belakang Renty.


"Ren, jangan ngambek lagi dong." rayu Sisil yang tidak mau di musuhi ATM berjalan mereka.


"Iya Den, kami minta maaf deh." Fei menimpali ucapan Sisil.


Renty memutar bola mata malas dan membalik badannya sambil menyilangkan tangan di depan dada.


Sontak saja karena Renty tiba-tiba berhenti, mereka berdua langsung bertubrukan dan jatuh ke lantai.


"Hehehe... ya maaf Sil, aku gak liat kamu berhenti." jawabnya sambil nyengir kuda.


Renty yang awalnya mau marah, tapi melihat ke konyolan kedua temannya itu, dia tertawa terbahak-bahak dan tidak jadi marah.


"Hahahaha... Kalian ini benar-benar yah, tidak bisa buat aku marah." ucapnya masih sambil tertawa.


Sisil dan Fei saling menatap, mereka berdua mengulas sebuah senyum dan bergegas berdiri secara bersamaan.


"Iya dong, kami kan memang selalu ingin membuat kamu bahagia." celetuk Sisil.

__ADS_1


"Yoi, tanpa kami, kamu tidak akan bisa tertawa seperti ini." Fei menaik turunkan alisnya.


Renty menggelengkan kepalanya, dia benar-benar di buat tidak berdaya oleh tingkah kedua sahabatnya tersebut.


"Sudahlah, aku mau mandi dulu!" Renty bergegas masuk ke dalam kamarnya.


Sisil dan Fei yang sudah terbiasa keluar masuk kamar Renty seperti kamarnya sendiri, mereka dua juga ikut masuk kesana.


Di dalam kamar, sambil menunggu Renty selesai mandi, kedua sahabat tersebut melihat-lihat berita terkini yang ada di ponsel masing-masing.


Ketika mereka berdua sedang memainkan Ponselnya, Fei di kejutkan saat melihat foto Garin yang notabenya anak Alvin Moor.


Garin memang baru di publis oleh Alvin ketika dia mengetahui jika anaknya di lindungi Klon System. Alvin memutuskan untuk memberitahu dunia kalau pewarisnya sudah ada.


"Sil! Coba lihat ini! Bukankah ini anak yang hampir jatuh saat disenggol Renty?" Fei memanggil temannya.


Sisil langsung mendekat dan melihat foto Garin "Astaga! ternyata dia anak Alvin Moor!"


Sisil menutup mulutnya tidak percaya, pasalnya mereka berdua tahu siapa Alvin Moor itu. Tentu keduanya sangat terkejut.


"Gila saja kalau sampai dia tadi jatuh, Astaga, aku tidak bisa membayangkan nasib kita nantinya." Fei terlihat sangat ketakutan karena sosok Garin memang sangatlah berpengaruh.


Sisil dan Fei wajahnya terlihat pucat, mereka benar-benar terkejut saat mengetahui identitas Garin.

__ADS_1


"Kalian sedang membicarakan apa?" tanya Renty yang baru keluar dari kamar mandi.


__ADS_2