
Setelah pemakaman Pak tua Moor, Alvin dan keluarganya pulang ke kediaman yang berada di Chinate.
Sepanjang perjalanan Alvin menatap keluar Jendela, dia masih belum bisa menerima kematian kakeknya yang sekarang sudah dekat dengannya.
Jeni menatap nanar suaminya itu, setelah kebahagiaan yang mereka jalani setahun belakangan, sekarang malah terjadi hal yang tidak di duga seperti ini.
"Sayang" Jeni memanggil Alvin dengan lemah lembut.
Alvin menoleh, terlihat matanya sangat merah dan sembab. Jeni yakin kalau Alvin sangatlah terpukul dengan kejadian yang menimpanya sekarang.
"Iya sayang" jawab Alvin memaksa tersenyum dengan suara parau.
Jeni memeluk suaminya, dia tahu kalau Suaminya sekarang butuh tempat bersandar "jangan berpura-pura kuat di depanku, aku menerima kamu dengan keadaan apapun"
"Terima kasih Sayang " Alvin langsung terisak di pelukan istrinya, dia juga berteriak-teriak seperti orang gila saja.
Gard yang menyetir juga merasakan emosi yang sama, dia ikut menitihkan air mata saat Alvin menangis kencang di dalam Mobil.
Swan dan Ken yang berada dalam Mobil yang ada di belakang Alvin, mereka juga mendengar tangisan Alvin. Keduanya juga langsung merasakan kesedihan yang sedang di alami Alvin.
...***...
Beberapa hari kemudian, Alvin sudah bisa sedikit menerima kenyataan kalo Pak tua Moor sudah tidak ada lagi di dunia ini.
Dia sedang bermain dengan Garin di kamarnya bersama dengan Jeni yang memperhatikan sambil senyum-senyum sendiri.
Garin sekarang sudah terlihat lebih aktif, di usianya yang belum genap satu bulan tapi sudah bisa memegang tangan Alvin.
Alvin dan Jeni tidak menyadari kejanggalan tersebut, karena ini baru untuk mereka berdua.
Sementara Sera dan Baby sister yang merawat Garin sebenarnya sudah merasa aneh dengan Garin. Pertumbuhannya terlalu cepat menurut mereka.
Apa lagi Perawat pernah menyaksikan Garin mau tengkurap di usianya yang seperti itu, tapi setelah Garin melihat kedatangannya, dia seolah tau dan langsung diam.
" Sayang, lihatlah anak kita, dia mau menggigit jariku!" ucap Alvin dengan bangga.
"Wah iya " Jeni juga ikut mengulurkan jarinya. Garin seolah mengerti dan memegang jari Jeni juga.
" Ayah, ibuku kenapa sih? Apa mereka bodoh kalau bayi satu bulan belum bisa kaya gini seharusnya?" Garin membatin dalam hati. Karena dia sebenarnya sudah bisa bicara, hanya saja karena kecerdasannya, dia tidak ingin membuat semua orang ketakutan.
__ADS_1
Garin sekarang penyatuan dari System Cek in Pikiran yang ada dalam tubuh Alvin. Karena ketika Jeni sedang di operasi, Alvin sempat membatin ingin memberikan segalanya buat Jeni dan Anaknya asalkan mereka berdua selamat. System langsung menerima Cek in Pikiran Alvin secara tidak langsung dan berpindah ke tubuh Garin tanpa sepengetahuan dari Alvin.
Alasan Klon System menghilang juga karena System sudah tidak ada di tubuh Alvin dan menjadi bagian dari tubuh Garin.
Siang harinya, Garin seperti biasa di rawat oleh Baby Sisternya, dia sedang memperhatikan Baby Sisternya yang sedang bermain Ponsel karena Garin sangatlah terang dan penurut.
Garin yang merasa perutnya lapar dia menatap jengkel Baby Sisternya yang cuek terhadap dirinya.
"Aku kerjain juga nih orang" gumam Garin lirih.
"Hei! Aku lapar!" bentak Garin tiba-tiba pada Baby Sisternya yang membuat dia langsung terkejut.
Baby Sister Garin tentu tidak menebak kalau Garin yang bicara, dia mencari-cari dari mana arah suara tersebut.
"Siapa yang menegurku barusan?" gumamnya celingukan mencari sumber suara itu.
"Hei! Di sini, aku lapar!" ucap Garin lagi.
Baby Sister menoleh ke arah Garin dengan perlahan, dia sedikit ketakutan dan berharap bukan Garin yang bicara padanya.
Benar saja, Garin sedang menatapnya tajam dengan ekspresi wajah kesal layaknya orang dewasa.
"Aku memang bicara padamu! Cepat buatkan aku susu! Aku lapar!" perintah Garin langsung.
Wajah Baby sister Garin langsung pucat pasi, dia benar-benar sangat ketakutan, karena melihat Garin di usianya yang belum genap sebulan sudah bisa bicara layaknya orang dewasa.
Arhhhh!
Bukannya menuruti permintaan Garin, dia berteriak histeris dan lari keluar dari kamar karena saking takutnya, melihat sendiri kalau Garin bisa bicara.
Garin terlihat menyeringai melihat Baby Sisternya lari terbirit-birit seperti melihat hantu saja.
Dia berlari sambil sesekali menoleh ke belakang, tanpa menghiraukan apa yang ada di depan-nya.
Gubrak
"Aduh!" Pekik Baby sister yang menabrak seseorang dan terjatuh di lantai.
"Apa-apaan kamu berlari-lari di dalam Rumah!" bentak Alvin pada Moli Baby Sister anaknya.
__ADS_1
"Tu-tuan muda! tuan Besar!" Moli tergagap ketika berbicara sambil menunjuk ke arah kamar Garin.
"Ada apa dengan Anakku!" Alvin khawatir dan langsung berlari ke kamar Anaknya.
Moli juga bergegas bangun dan mengejar majikannya yang berlari ke arah kamar Garin dengan tergesa-gesa tanpa menunggu penjelasan-nya.
Ketika Alvin melihat Garin, anak ajaib tersebut sedang memasukkan ibu jarinya ke dalam mulut. Dia menghela napas karena anaknya tidak apa-apa.
Alvin menghampiri Garin, dia tersenyum kemudian menggendongnya "Anak Ayah memang pinter"
Alvin menoleh ke arah Moli yang sudah masuk ke dalam kamar "Moli! Lain kali jangan bikin orang khawatir lagi!" tegur Alvin tegas.
"Tu-tuan, bukan begitu. Saya melihat dengan kepala mata sendiri tuan muda bisa berbicara." jawabnya dengan nada tidak berdaya.
Alvin mengernyitkan dahi "Apa maksudmu? Jangan bicara aneh-aneh kamu Moli! Mana ada bayi bisa bicara!"
Alvin jelas saja tidak percaya dengan Moli, karena mana mungkin ada bayi yang bisa bicara seperti orang dewasa.
"Tapi tuan saya tidak bohong!" jawabnya yakin.
"Kamu ini kebanyakan nonton film bayi ajaib kali? Anakku manusia biasa mana mungkin bisa bicara di usianya yang masih segini!" Alvin tidak percaya sama sekali dengan perkataan Moli.
Moli menghela napas, dia menatap Garin tidak berdaya, tapi betapa terkejutnya dia ketika Garin menyeringai ke arahnya.
"Tu-tuan lihatlah!" suara Moli meninggi sambil menunjuk Garin.
Alvin yang sedang menatap Moli dia mengangkat sebelah alisnya pada, kemudian melihat Garin. Bersamaan dengan itu Garin menangis sangat kencang.
"Cup, cup, cup! Anak pintar! Diam yah sayang ada Ayah di sini" Alvin mencoba menenangkan-nya tapi Garin tetap saja masih menangis.
"Lihat karena ulahmu Garin menangis, tenangkan dia!" Alvin memberikan Garin pada Moli.
Moli hanya bisa pasrah saja, dia mengambil alih menggendong Garin dengan perasaan yang masih di penuhi rasa takut.
"Aku mau ke kamar, kamu tenangkan dia, nanti Nyonya kesini!" Alvin meninggalkan kamar tersebut.
"Baik tuan Besar" ucap Moli sopan sambil melihat Garin dengan tidak berdaya.
Garin mengedipkan matanya pada Moli, sontak saja tangan Moli bergetar hebat, dia langsung meletakkan Garin di tempat dia tidur dan menatapnya tidak percaya ada bayi yang bisa seperti itu.
__ADS_1