Garin Moor

Garin Moor
Garin Yang Bebas


__ADS_3

"Siapa mereka sebenarnya? Brengsek!" Mr. Mask meraung marah.


"Tuan, informan saya sudah mendapatkan identitas mereka. Mereka semua adalah Kelompok eksekutor keluarga Moor!" tangan kanan Mr. Mask memberikan laporannya.


"Alvin Moor?!" gumam Mr. Mask sambil mengepalkan tangannya.


"Benar tuan, Alvin Moor yang menggagalkan rencana kita." tangan kanan Mr. Mask sengaja memanas-manasi tuannya itu.


"Bedebah! Ternyata dia semakin kuat seiring berjalannya waktu." Mr. Mask mengatupkan rahangnya karena saking marah terhadap Alvin.


Mr. Mask tidak tahu saja kalau yang menyerang pasukannya bukanlah eksekutor, melainkan para Klon System yang di kendalikan Garin, anak dari Alvin, Bocah Jenius yang muncul beberapa abad sekali.


...***...


Di tempat Garin berada, dia sekarang sudah di bebaskan kemanapun berkat Alvin yang sudah tahu jika Klon System melindunginya. Padahal tanpa Klon System sekalipun Garin sudah bisa mempertahankan diri dengan kekuatannya.


Sebenarnya Jeni sempat melarang Garin keluar rumah, tapi Alvin terus merayunya, dia mengatakan kalau Garin bisa melindungi dirinya sendiri. Karena Jeni sangat percaya dengan Alvin, akhirnya dia menurut saja pada suaminya tersebut.


"Ah... Akhirnya aku terbebas dari sangkar burung!" ucap Garin yang sedang berdiri di sebuah gedung pencakar langit bersama dengan Moli yang selalu ada di dekatnya.

__ADS_1


"Tuan Muda, anda beneran tidak apa-apa berkeliaran seperti ini? Anda anak taipan nomor satu di dunia loh." ucap Moli yang mengkhawatirkan Garin.


"Kamu tenang saja, aku tidak apa-apa, banyak orang yang menjagaku. Lagian di sini kan ada kamu, setidaknya kamu korbankan nyawamu dulu untuk aku." goda Garin pada asisten pribadinya itu.


Wajah Moli berubah menjadi cemberut, dia merasa kesal karena Garin mau menjadikannya tameng hidup. Namun, Moli tahu kalau Garin hanya bercanda saja, dia tidak mungkin melakukan hal tersebut. Pasalnya dia sudah tahu betul bagaimana sifat Garin sebenarnya.


Garin menikmati pemandangan dari atas gedung tersebut, dengan angin yang sedikit kencang berhembus ke arahnya.


Garin begitu senang, baginya kehidupan seperti itulah yang dia inginkan sekarang, tidak seperti dulu selalu di kurung dalam rumah.


Tiba-tiba seorang gadis SMA dengan rambut hitam terurai, dengan tidak sengaja menyenggol Garin, sehingga Garin hampir saja terjatuh akibat dorongan tersebut.


"Tuan Muda!" Moli ketakutan saat Garin terjatuh.


Moli tidak menggubris perkataan gadis tersebut, dia melihat Garin yang tadi seperti terjatuh, tapi ternyata tangannya berpegangan pada pagar pembatas.


"Tuan Muda!" Moli langsung memegang tangan Garin, dia yang merasa kesulitan mengangkat Garin, menegur Gari itu "Kenapa kalian hanya diam! Bantu aku!" benatak Moli pada mereka.


"Ba-baik Nyonya!" Gadis itu langsung menarik Garin dengan di bantu kedua temannya yang memegangi badan mereka yang mengangkat Garin.

__ADS_1


Sebenarnya Garin bisa naik sendiri dengan mudah, tapi karena dia tidak ingin Kekuatan-nya di publis, jadi dia lebih memilih untuk bergelantungan di sana. Jika ada yang meneliti cengkraman tangan Garin pada beton pembatas, terlihat bekas sebuah Jari yang mencengkram kuat sehingga terlihat bekas itu.


Semua orang yang melihat kejadian itu merasa lega saat Garin berhasil di selamatkan, Gadis tersebut juga bernapas lega.


"Maafkan saya Nyonya." gadis itu membungkuk hormat pada Moli yang di kiranya ibu dari Garin.


Moli mau marah, tapi Garin menahannya, dia menyuruh Moli untuk memaafkan wanita tersebut.


Moli menghela napas " Lain kali lihat-lihat kalau bercanda!" tegur Moli tegas.


"Tentu saja Nyonya, saya sangat menyesal dan tidak akan melakukannya lagi." Gadis itu terlihat tulus.


Garin memerhatikan Gadis itu, Entah kenapa dia merasa tertarik dengan Gadis yang membuatnya hampir jatuh dari ketinggian lima belas meter tersebut.


Garin memandangi Gadis itu dengan seksama, Moli yang melihat itu dia tersenyum, kemudian buka suara lagi "Mana Nomor Ponsel kamu, siapa tahu anak saya trauma!" Moli berperan seolah menjadi Ibu yang perhatian pada anaknya.


Garin menyipitkan matanya, dia menatap Moli yang sedang mencatat Nomor ponsel gadis tersebut dengan tatapan aneh.


Setelah mendapatkan nomor Ponsel Gadis itu, Moli mempersilahkan mereka pergi dari hadapannya. Garin masih menatap aneh asistennya tersebut.

__ADS_1


"Untuk apa kamu meminta nomornya?" tanya Garin langsung pada Moli.


Moli tersenyum "untuk tuan muda yang pasti."


__ADS_2