Garin Moor

Garin Moor
Sia-Sia


__ADS_3

Garin masih memikirkan apa yang akan terjadi nantinya, dia kemudian beranjak dari kursi dan berjalan ke arah jendela.


Garin memerhatikan gelapnya malam yang sunyi, dia melihat para bawahan Ayahnya yang berlalu menjaga kediaman tersebut.


"Jika seperti ini terus, bisa-bisa Renty juga ikut terseret ke dalam masalah keluargaku." gumam Garin lirih.


Garin tidak mau Renty terlibat dengan masalah keluarganya yang sudah berjalan puluhan tahun, meskipun selama ini terasa tidak apa-apa, tapi perlahan, orang-orang tersebut menunjukkan niatnya.


"Spesial satu keluarlah!" Garin memanggil Klon Spesial satu yang selalu dekat dengannya.


"Ya Tuan, saya di sini." Klon Sistem Spesial satu bertekuk lutut di belakang Garin.


"Kerahkan semua saudaramu, aku ingin secepat mungkin menyelesaikan masalah ini!" ucap Garin memberikan perintah.


"Baik Tuan!" Spesial satu langsung menghilang dari tempat tersebut.


Spesial satu yang selalu bersama Garin, tentu saja dia tahu maksud dari perintah tuannya, dia langsung bergegas menjalankan perintah tanpa ragu.

__ADS_1


Sementara Garin sedang memikirkan banyak orang yang mengincarnya. Renty di kamarnya sedang tersenyum-senyum sendiri sambil memeluk guling di kasurnya.


"Ternyata Garin bisa bersikap manis juga, walaupun tadi ada sedikit gangguan, tapi setidaknya Garin sudah mulai luluh denganku." ucap Renty yang terlihat sangat senang.


Selama hidup satu atap dengan Garin, memang hanya hari ini Garin bersikap manis dengannya, biasanya dia seperti kulkas, seperti tidak memiliki perasaan.


"Aku harap Garin akan selalu seperti ini." Renty membayangkan dia sedang memeluk Garin.


Tidak di pungkiri, mereka yang sedang jatuh cinta pasti akan selalu terbayang dengan pasangannya, masa lalu jelek mereka berdua malah di anggap sebuah kisah yang lucu, padahal dulu selalu saling mengejek dan menghina.


Peribahasa Cinta itu buta mungkin benar, tapi terkadang ada juga yang merasakan Cinta tapi tidak seperti itu, karena semua orang memiliki pemikiran masing-masing, walau kebanyakan semuanya seperti Renty.


Sementara itu jarak seratus meter dari kediaman Moor, terlihat beberapa orang sedang memerhatikan Rumah tersebut.


Mereka adalah Royan dan kelompok Mafia Rox, terlihat mereka semua sedang mengawasi pergerakan di Rumah Garin.


"Gila! Penjagaannya ketat banget!" ucap Huge, tangan kanan Bos Mafia Rox.

__ADS_1


"Iya ketat, kaya dalaman Lucinta Luna." celetuk salah satu bawahan Huge.


Sontak saja Royan dan Huge menoleh ke arah bawahan tersebut, mereka berdua mengerutkan keningnya berbarengan.


"Kamu tertarik dengan yang begituan?" tanya Huge menyelidik.


"Kalau dia mau, kenapa engga Bos, yang penting ada lubangnya." jawabnya pongah.


Royan dan Huge melebarkan rahangnya, mereka benar-benar di buat terkejut oleh pernyataan bawahan Huge yang berkata konyol itu.


"Bodoh! Wanita tulen saja banyak, kamu mau nyari sekebon juga banyak, malah tertarik sama yang begituan!" Huge menjitak anak buahnya karena kesal.


"Ampun Bos, habisnya dia montok, aku suka yang montok-montok."


"Sialan!" Huge benar-benar di buat jengkel oleh anak buahnya itu.


"Sudah, sudah, apa sih kalian ini, malah membicarakan yang tidak penting, kita fokus dengan misi kita untuk menculik keturunan terakhir Rox!" Royan menegur keduanya.

__ADS_1


Huge menghela napas berat "oke bos."


Mereka melanjutkan mengawasi kediaman keluarga Moor untuk mencari tahu kelengahan bawahan Alvin walau hanya sedetik saja. Namun, mereka sudah lama menunggu tapi tidak membuahkan hasil Apapun, semakin malam malah bawahan Alvin semakin banyak yang menjaga Area Rumah tersebut, sehingga penantian Royan dan Huge hanya sia-sia belaka.


__ADS_2