Garin Moor

Garin Moor
Cemburu


__ADS_3

Renty tersenyum getir, karena terlalu cemburu dengan Syla, dia selalu lupa kalau dirinya tidak sepandai Garin yang bisa mengerjakan seluruh tugasnya dengan cepat.


Tok... Tok...


Suara pintu ruangan Garin di ketuk seseorang, Garin menoleh ke arah pintu dan buka suara "masuk....!"


Pintu pun di buka, seorang wanita cantik dengan tubuh proposional, di tambah gunung kembar yang cukup besar masuk ke dalam ruangan Garin.


"Permisi tuan, saya mau menyerahkan laporan bulanan." Syla menyerahkan berkas-berkas yang ada di tangannya pada Garin setelah dia masuk ke dalam ruangan tersebut.


Wajah Renty berubah menjadi jelek saat wanita yang dia benci muncul di hadapannya, di mata Renty, Syla selalu menggoda Garin, padahal dia tidak melakukan apapun.


"Terima kasih, kamu boleh pergi!" Garin melihat berkas tersebut dan menyuruh Syla untuk meninggalkan ruangannya.


Namun, Syla masih bergeming di sana, dia tidak berniat pergi sama sekali, karena ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan Garin.


Renty mengerutkan keningnya saat melihat Syla masih berdiri di tempatnya "kamu sudah tuli? Tuan Garin menyuruhmu pergi!" hardik Renty pada Syla.


"Anu Nona, saya ingin berbicara dengan Tuan Garin, sebentar saja." jawab Syla sopan pada Renty.


"Tidak perlu, sana pergi!" Renty mengusir Syla.


Tapi Garin menegur Renty "kamu bisa tidak sih, jangan kasar dengan karyawan kita!" tegur Garin pada Renty.

__ADS_1


Renty langsung menggembungkan pipinya, dia kesal karena Garin lebih membela Syla dari pada dirinya.


Garin menatap Syla yang menundukkan kepalanya karena takut Garin marah padanya.


"Ada apa?" tanya Garin langsung pada Syla.


"Begini Tuan, saya ingin kasbon tapi tidak sedikit jumlahnya." Syla berkata dengan nada Khawatir.


Garin mengernyitkan dahi, karena tidak biasanya Syla minta kasbon, apa lagi baru kemarin karyawan Garin gajian.


Tapi Garin tahu pasti ada keperluan mendesak, karena itulah Syla memberanikan diri untuk Kasbon.


"Berapa?" tanya Garin langsung.


Syla menggigit bibir bawahnya, dia tahu untuk mengatakannya, tapi karena urusannya sangat mendesak, jadi dia memberanikan diri untuk buka suara.


"Li-Lima juta dolar tuan!" ucap Syla terbata.


"Apa! Kamu gila Syla, lima juta dolar itu gajimu dalam satu tahun!" Renty berdiri dan marah pada Syla.


Brakkk


"Diamlah Renty!" Garin menggebrak mejanya, tatapannya sangat dingin ke arah Renty, sehingga Renty langsung duduk kembali dan menundukkan kepalanya.

__ADS_1


Garin menghela napas "kamu yakin bisa membayarnya nanti?"


Garin tidak bertanya untuk apa Syla membutuhkan uang besar tersebut, karena dia tahu kalau keperluan orang yang terdesak tidak ada yang tahu.


"Saya rela gaji saya di potong tiap bulan, hingga hutang saya lunas Tuan!" jawab Syla mantap.


Garin menganggukan kepalanya "mana nomor rekening kamu?"


Garin sengaja menggunakan uang pribadinya, bukan uang perusahaan, untuk berjaga-jaga, agar Syla tidak terkena masalah dengan karyawan lainnya.


Wajah Syla langsung berubah menjadi sumringah, dia langsung bergegas mengeluarkan Ponselnya dan memberikan nomor rekeningnya yang dia catat dalam Ponsel pada Garin.


Garin dengan cepat mentransfer uangnya pada Syla "sudah masuk, kalau kurang bilang saja." ucap Garin enteng.


Syla langsung mengecek ponselnya, benar saja uang lima juta dolar sudah masuk dalam rekeningnya.


"Terima kasih banyak tuan, saya berjanji akan bekerja lebih giat lagi!" ucap Syla dengan penuh tekad.


"Ya, aku harap juga seperti itu, apa ada yang lain?" Garin bertanya pada Syla lagi.


Syla menggeleng, dia langsung berpamitan pada Garin dan meninggalkan ruangan Garin dengan wajah yang berbunga-bunga.


Sementara itu Renty terlihat tidak suka dengan perlakuan Garin pada Syla, karena menurutnya Garin terlalu baik terhadap wanita yang di anggapnya sebagai saingan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2