Garin Moor

Garin Moor
Garin dan Renty


__ADS_3

Renty merasa Garin semakin menyebalkan, Bocah sembilan tahun di depannya itu benar-benar sedang menguji kesabarannya. Tapi dia tetap berusaha untuk tersenyum.


Renty mengambil piring makanan Garin, dia dengan berat hati menyuapi Garin, tentu saja Garin menolak suapan Renty yang terlihat terpaksa seperti itu.


"Kenapa lagi? Ini aku sudah mau menyuapi kamu!" keluh Renty pada Garin.


"Pelayan itu harus tersenyum saat melayani tuannya, apa pantas kamu seperti itu sama tuanmu?" tanya Garin menggoda Renty.


Renty menggertakkan giginya, dia sebenarnya sudah sangat marah dengan Garin, dia ya g biasanya yang selalu memberikan perintah pada pelayan-nya, tapi sekarang dia harus merasakan apa yang di rasakan seorang Pelayan.


Renty menghela napas, dia mencoba untuk tetap tersenyum "Tuan Muda, Ayo buka mulutnya."


Renty berusaha untuk menjadi pelayan yang baik buat Garin, dia tidak mau hidupnya selesai di penjara, begitulah pikirnya. Renty tidak tahu saja kalau dia penjara kelompok Mafia Ghoul pasti akan menyelamatkan-nya.


"Nah gitu dong, itu baru pelayan yang baik." Garin menerima suapan demi suapan yang di berikan Renty padanya.


Renty juga dengan sabar terus menyuapi Garin, dia tidak banyak protes sekarang, karena dia takut Garin mengungkit masalah saat dia akan jatuh.


...***...


Garin mengajak Renty untuk keluar rumah, tentu saja Moli juga ikut, karena mau bagaimana pun, Moli yang selalu menyiapkan segala sesuatu untuk Garin.


Renty tidak banyak bicara di dalam Mobil, dia seolah sudah pasrah ikut Garin kemanapun dia mau pergi.


Garin meminta sopir untuk berhenti di taman kota, dia ingin bersantai di sana menikmati cerahnya hari itu.


"Apa kamu marah denganku?" tanya Garin lembut pada Renty.


"Tidak tuan muda, mana berani saya marah dengan anda." jawab Renty seolah sudah menjadi pelayan Garin lama.


Garin menghela napas "begitu banyak hal yang tidak kamu ketahui tentang dunia ini Renty, kamu terus bersenang-senang tanpa memikirkan sebuah resiko yang akan kamu terima."

__ADS_1


Tiba-tiba saja Garin mengajak Renty berbicara serius, sehingga gadis tersebut menatap Garin yang sedang melihat ke arah lain dengan aneh.


Renty menatap punggung Garin lekat-lekat, meskipun tubuhnya masih belia, tapi pemikiran bocah di depannya itu layaknya orang dewasa.


"Moli, biarkan Renty berganti pakaian, aku ingin jalan berdua dengannya." ucap Garin lagi mengagetkan lamunan Renty.


"Baik tuan Muda." Jawab Moli sigap. Dia kemudian mengajak Renty "Ayo Nona Renty."


Renty tidak tahu maksud Garin, tapi dia mencoba untuk tidak bertanya dan mengikuti Moli yang membawanya ke dalam Mobil untuk berganti pakaian.


Selepas berganti pakaian santai, Renty langsung di bawa kembali ke tempat Garin yang masih menunggunya di tempat yang sama.


"Tuan Muda, Nona Renty sudah siap." Moli memberitahu Garin.


Garin menoleh, dia melihat Renty yang sudah memakai pakaian santai, meski tanpa riasan tebal, dia masih terlihat sangat cantik.


"Ikutlah denganku" ajak Garin pada Renty yang langsung berjalan di depan.


"Apa yang ingin kamu bicarakan denganku?" Renty buka suara setelah berjalan sejajar dengan Garin.


"Apa kamu percaya kalau di dunia ini ada manusia super?" pertanyaan Garin membuat Renty mengernyitkan dahi.


"Apakah semua anak kecil terinspirasi dengan manusia super?" pertanyaan Renty seolah mengejek Garin.


Garin berhenti melangkah, dia menatap Renty dengan tajam, sontak saja Renty langsung terkejut dan terdiam terpaku di tempatnya.


Renty meremas tas kecil yang selalu dia bawa, karena tatapan Garin terasa sangat mengintimidasi dirinya.


"Kenapa? Apa kamu takut denganku?" suara Garin begitu dingin, sehingga Renty semakin di buat merinding ketakutan.


Renty tidak berani menatap Garin, dia menundukkan kepalanya karena benar-benar merasa ada yang salah dengan tatap bocah di depannya tersebut.

__ADS_1


"Inilah kenapa aku bilang kamu tidak tahu apa-apa tentang dunia ini Renty Rox!"


Mendengar nama belakangnya di ganti Garin, Renty langsung mendongak menatap Garin yang sedang tersenyum tipis ke arahnya.


"Tunggu dulu, tadi kamu memanggilku apa?" tanya Renty penasaran.


Garin menggelengkan kepalanya sambil tersenyum "kamu bukan dari keluarga Crusher Renty Rox!"


"Garin! Apa maksudmu?!" Renty mulai penasaran dengan perkataan Garin.


"Seperti yang aku bilang, kamu bukan dari Keluarga Crusher, melainkan dari keluarga Rox!" jawab Garin dengan yakin.


Renty masih mencerna ucapan Garin, dia mengira kalau Garin hanya menggodanya dan sedang bercanda dengannya.


"Hahahaha... Bercandamu tidak lucu Garin!" ucap Renty ketus.


Garin mendekati gadis itu, dia mendongak ke atas saat sudah berhadapan dengan Renty, tatapan mereka bertemu satu sama lain.


"Apa aku terlihat bercanda?" Garin terlihat sangat serius saat mengatakan hal tersebut, tidak ada sedikitpun raut wajah bercanda sama sekali.


Renty terkejut dengan tatapan Garin, dia yakin bocah di depannya itu memiliki kelainan, hanya tubuhnya saja yang kecil, tapi sifatnya benar-benar tidak seperti anak kecil.


"Garin, kalau kamu memang ingin memberitahu aku sesuatu jangan seperti ini, aku tidak atau apa maksudmu." suara Renty perlahan melembut.


"Ikuti aku terus." Garin kembali berjalan membawa Renty ke bukit dekat taman kota.


Sesampainya di bukit tersebut, terlihat sebuah rumah tua yang sudah di tinggalkan penghuninya sangat lama. Rumah tersebut juga sudah di jadikan tempat bersantai di sekitarnya, yang membuat aneh rumah yang hampir roboh itu tidak di hancurkan pengelola di sana.


"Lihatlah itu." Garin menunjuk sebuah ukiran nama di depan Rumah tersebut.


"Rox Family!"

__ADS_1


__ADS_2