Garin Moor

Garin Moor
Garin Yang Berkuasa


__ADS_3

"Nak, benar kata Moli. Kamu harus istirahat terlebih dahulu" tegur Jeni pada anaknya dengan suara lembut.


Garin terdengar menghela napas, dia menghentikan jari-jarinya yang sedang bergerak di atas keyboard laptop. Garin mendongak, menatap wanita yang telah melahirkan-nya itu.


"Sebentar lagi Bu!" jawabnya dengan suara lembut.


Jeni duduk di samping Garin, dia mengusap puncak kepala anaknya itu "jangan begitu sayang, kamu masih kecil, biar Ayah yang bekerja, kamu perlu waktu untuk bermain layaknya anak pada umumnya"


Jeni sudah menyadari kalau Garin berbeda dengan anak-anak lain-nya. Namun, Jeni tidak ingin anaknya kehilangan masa kecilnya, dia ingin Garin bermain layaknya anak seusia dirinya.


"Apa tidak ada kata-kata lain selain itu Bu?" ucap Garin malas, dia setiap hari memang di nasehati seperti itu oleh Jeni dan Alvin.


Jeni tersenyum masam, Anaknya memang selalu seperti orang Dewasa, dia tidak mau di kasihani seperti anak kecil pada umumnya.


Di usianya yang masih sembilan tahun. Garin bekerja di balik layar, dia yang mengelola perusahaan yang ada di Grivia dan Lotara. Tentu saja awalnya Alvin tidak memperbolehkan-nya. Namun, Garin memaksa dan menyanggupi kalau dirinya bisa memegang perusahaan di dua negara tersebut.


Alvin yang baru mau berangkat kerja, dia menghampiri Istri dan Anaknya "Siang sayang, Aku mau ke kantor, ada urusan mendesak di sana." Dia mengecup kening istrinya, kemudian mau mengecup kening Garin, tapi Garin menolaknya "Hais... Kamu ini."


"Jangan perlakukan aku seperti Anak kecil terus Ayah, Ibu. Garin sudah bisa mengurus kehidupan Garin sendiri." celetuk nya sedikit kesal dengan kedua orang tuanya itu.


Alvin tersenyum masam, dia mengacak-acak rambut Garin dengan gemas "iya, iya, Anak Ayah yang pintar"


"Ayah! Apaan sih!" guru Garin sambil menggembungkan pipinya.


Alvin tersenyum "ya sudah, Ayah berangkat dulu, dah...."


Alvin meninggalkan Jeni dan Garin di ruang keluarga. Dia sekarang lebih aktif ke kantor, walaupun kadang berangkatnya siang. Seperti hari ini saja, sudah siang dia baru berangkat ke kantor.


Selepas kepergian Alvin. Garin meminta ijin pada Ibunya untuk pergi juga "Bu, Garin mau keluar membeli PC terbaru."


Jeni mengerutkan keningnya "Pergi dengan siapa? Kenapa tidak menyuruh Gard saja untuk Pergi."

__ADS_1


Garin menghela napas "Aku mau memilih sendiri, kalau paman Gard sendirian takutnya dia salah beli. Kau juga mau membeli beberapa barang juga."


Garin menjelaskan pada Ibunya dengan detail, dia tidak mau rencananya di halangi oleh Ibunya. Meskipun dia sadar kalau Jeni melakukan itu semua untuk kebaikan dirinya.


"Ya sudah terserah kamu saja, kamu ajak Moli juga bersama denganmu!" Jeni tidak ingin anaknya berbuat aneh-aneh, lebih baik dia menyuruhnya membawa Moli yang merupakan orang paling mengerti Garin..


"Terima kasih Bu." jawabnya sambil tersenyum.


Setelah berbincang-bincang sebentar dengan Ibunya, Garin berpamitan untuk pergi keluar membeli barang-barang yang dia butuhkan.


...***...


Garin sudah sampai di distrik tempat pusat perbelanjaan Nerika. Dia dan Moli turun dari Mobil. Gard langsung menyuruh para Eksekutor untuk menyebar ke segala penjuru, dia ingin menjaga Garin seketat mungkin, walaupun sudah sembilan tahun ini tidak ada musuh yang menyerang keluarga Moor.


"Tuan Muda, Apakah anda akan menemui orang itu?" tanya Moli yang berjalan beriringan dengan Garin sambil membawa Laptop Garin yang ada di dalam tas.


"Ya, Aku akan menemuinya, nanti kamu ajak Gard untuk membelikan barang-barang ku!" perintahnya tegas pada Moli.


"Baik tuan Muda." jawabnya sopan.


Ketika sampai di sebuah kafe kecil di tempat tersebut, Garin menyerahkan secarik kertas pada Gard.


Tentu saja Gard kebingungan "Apa ini tuan Muda?"


"Kamu beli itu semua di toko Mars Electro! Serahkan saja kertas itu pada pelayan, dia akan langsung mengambilnya untukmu!" perintah Garin langsung. "Moli kamu ikut dengan Gard!"


"Baik tuan Muda!" Moli menyerahkan tas Laptop pada Garin, dia mengajak Gard untuk pergi dari sana.


Sebenarnya Gard merasa enggan untuk pergi. Namun, dia tidak bisa menolak perintang dari tuan-nya. Lagi pula banyak Eksekutor yang berada di sana, jadi dia tidak khawatir dengan keberadaan Garin.


Selepas kepergian mereka, seorang yang memakai jas panjang dengan kerah dan topi yang menutupi wajahnya, dia langsung duduk berhadapan dengan Garin yang sudah ada di sana.

__ADS_1


"Salam Tuan!" ucap orang tersebut sopan.


"Apa kalian sudah menemukan siapa orang yang diam-diam mengawasi keluargaku?" tanya Garin langsung tanpa basa-basi.


Orang tersebut terlihat mengangguk lirih "Ronal Croos tuan, dia yang selama sembilan tahun ini mengawasi keluarga anda. Namun, masih belum jelas apa yang dia inginkan, mengingat selama sembilan tahun ini dia hanya diam saja"


Garin memegang dagunya, dia terlihat berpikir "Keluarga Croos yah, bukan-nya mereka sudah di lenyapkan oleh Ayahku?" tanya Garin penasaran.


"Sebenarnya dulu Ayah anda Hanya menghabisi mereka yang terlibat dengan pembantaian keluarga Moor. Sementara keluarga tersisa mereka yang ada di luar negeri di biarkan untuk hidup." pria tersebut menjawab dengan yakin.


Garin mengangguk mengerti. Ayahnya memang terlampau baik dengan musuhnya, kalau saja dia bisa menghabisi mereka semua tanpa pandang bulu, mungkin musuh mereka tidak akan tersisa sampai sekarang.


Baru saja Garin mau buka suara lagi, sebuah timah emang melesat ke arahnya. Garin dengan sigap menangkap menggunakan kedua jari-nya.


"Bawa dia kemari!" perintah Garin pada pria yang menggunakan jaket tersebut.


Baik tuan!" pria tersebut langsung menghilang dari tempat dia duduk.


Garin melihat jenis peluru yang ada di sela jarinya, dia mengerutkan kening, ternyata ada penembak jitu yang cukup baik, karena di keramaian seperti itu, dia mampu melesatkan tembakan akurat. Jika saja Garin tidak di karuniai kecerdasan dan kekuatan yang di luar nalar manusia, mungkin dia sudah tewas di sana.


Para Eksekutor saja tidak menyadari kalau ada yang menembakkan peluru ke arah Garin. karena memang tidak ada suara tembakan sama sekali.


Di tempat penembak jitu, dia bergegas merapikan pergi dari tempatnya "Manusia apa dia bisa seperti itu! Brengsek aku kira ini misi yang mudah!" gerutunya kesal merasa di bohongi dengan Misi tersebut.


Penembak jitu baru aku turun ke tangga, karena dia berada di lantai atas sebuah bangunan yang jaraknya seratus meter dari tempat Garin berada.


Klap


Bruak


Arghh

__ADS_1


Tiba-tiba kerah belakangnya ada yang menarik, dia di banting ke belakang oleh orang yang yang menarik kerahnya.


"


__ADS_2