
Selepas kepergian Ibunya, Garin menghela napas berat, dia selalu di buat tidak berdaya kalau berdebat dengan Jeni.
"Duduklah!" tegur Garin pada ketiga wanita yang datang ke rumahnya itu.
Renty, Fei dan Sisil langsung duduk di sebrang tempat Garin duduk. Tempat tersebut memang di desain untuk bersantai.
Kursi yang terbuat dari potongan pohon, begitu juga meja yang terbuat dari akar dan pokol pohon Jati, di tambah ada pohon rindang yang mengayomi, sehingga membuat suasana di tempat itu adem dan sejuk.
"Moli, ambilkan mereka semua minuman." Garin memberikan perintah pada asisten pribadinya tersebut.
"Baik tuan." Moli langsung pergi menjalankan perintah Garin.
Selepas kepergian Moli, Garin menatap ketiga wanita SMA yang ada di depannya tersebut. Dia menatap mereka semua lekat-lekat, terutama Renty yang paling menonjol di antara mereka bertiga.
Ketiga wanita itu tidak berani menatap Garin sama sekali, mereka hanya sesekali melirik Garin dan menundukkan kepala kembali.
"Apa aku terlihat menakutkan b uat kalian?" tanya Garin tiba-tiba.
Sontak saja, ketiga gadis SMA tersebut langsung menggeleng bersamaan, tapi tidak buka suara sama sekali.
Garin menghela napas "Aku sama seperti kalian, tidak perlu ada yang harus di takuti sama sekali."
Renty mencoba menatap Garin, netranya menatap bocah sembilan tahun di depannya yang bicara layaknya pria dewasa tersebut. Semua kata-kata Garin seharusnya tidak keluar dari mulut bocah seumurannya tersebut.
"Renty Crusher, keluargamu cukup berada. Namun, karena kenakalan kamu, Ayah kamu Hanz Crusher sering mendapatkan masalah. Begitu juga saat kamu hampir saja membunuhku, apa kamu tahu resikonya?" Garin sengaja menakut-nakuti mereka, agar mereka mau berbicara.
"Tu-tuan Moor, saya tidak sengaja melakukan itu, tolong jangan buat Ayahku tahu masalah ini." benar saja, Renty langsung buka suara ketika Garin membawa nama keluarganya.
"Loh, kenapa? Bukankah setiap tindakan kamu, seharusnya sudah siap di pertanggung jawabkan?" Garin masih senang menggoda Renty yang terlihat sangat ketakutan.
"Tuan, tolong maafkan aku." ucap Renty meminta belas kasihan dari Garin.
"Minta maaf? Apa dengan begitu kamu bisa merubah sikapmu?" tanya Garin yang masih mencecar Renty.
__ADS_1
Fei dan Sisil di buat merinding, mereka berdua tidak menyangka kalau Bocah sembilan tahu di depannya, yang akan langsung berbicara pada mereka.
Mereka bertiga mengira kalau Alvin atau anak buah Garin yang akan mengurus masalah ini, tapi siapa yang menyangka kalau Garin sendiri yang akan bicara pada mereka bertiga.
Mereka juga terkejut, karena gaya berbicara Garin bukanlah seperti bocah pada umumnya, dia sudah seperti pria dewasa yang matang dalam berbicara.
"Tuan, saya harus melakukan apa, agar Anda bisa memaafkan saya?" Renty akhirnya pasrah, jika harus mendapatkan sebuah hukuman.
Garin tersenyum, dia menurunkan laptop yang ada di pangkuannya dari tadi ke atas meja, dia kemudian menyilangkan kaki, sambil menyeruput kopi yang ada di depannya.
Renty dan kedua sahabatnya yang melihat gerakan Garin sungguh tidak melihat Garin seperti bocah berumur sembilan tahun, dia benar-benar sudah sangat dewasa dalam tindakan maupun cara bicaranya.
"Kamu akan menjadi asistenku selama tiga bulan, dengan begitu aku akan memaafkan kamu." ucap Garin dengan santai.
Sontak saja Renty tidak terima "mana bisa! Jangan mengambil kesempatan dalam kesempitan Bocah!"
Akhirnya Renty yang dari tadi menahan kebiasaan buruknya saat tidak mau kalah ketika berdebat muncul di depan Garin.
Fei dan Sisil ketakutan, mereka berdua masih waras meski tahu permintaan Garin keterlaluan, tapi mereka tahu dimana mereka sedang berada.
Sontak saja, Renty yang tadi marah-marah, dia langsung terdiam seketika saat melihat Video tersebut. Dia menatap tidak percaya bocah sembilan tahun di depannya yang mempunyai sebuah bukti solid.
"Sekarang terserah kamu, kalau kamu ingin melanjutkan masalah ini Oke." Garin mendekatkan wajahnya pada Renty "Asal kamu tahu saja wanita! Aku tidak pernah kekurangan pelayan, seharusnya kamu berterima kasih padaku karena memberikan kesempatan minta maaf padamu dengan cara yang mudah!"
Suara Garin sangat dingin, ekspresinya berubah menjadi sangat serius, sehingga Renty merasa sangat tertekan oleh Garin.
Renty menatap kedua sahabatnya tidak berdaya, dia ingin meminta saran pada kedua sahabatnya tersebut. Namun mereka malah menganggukan kepala bersama, seolah menyetujui syarat yang di berikan Garin pada Renty.
Renty menghela napas, dia menatap Garin dengan sendu "hanya tiga bulan saja kan?" suaranya sekarang melembut, karena takut dengan Garin yang ternyata bisa melakukan Apapun untuk dirinya sendiri.
Garin mengangguk "Ya, tiga bulan, selama tiga bulan kamu harus menuruti perintahku, mudah bukan?" ucapnya sambil menyeringai tipis.
"Baiklah aku setuju, tapi aku harus mengambil barang-barangku terlebih dahulu." Renty berharap bisa mendapatkan barang-barangnya.
__ADS_1
"Tidak perlu, Ayahmu sudah membawa barang-barang kamu kemari." jawab Garin dengan santai.
"A-Ayah!?" sontak saja Renty terkejut dengan perkataan Garin.
Garin mengangguk "Ya, dia sudah mengirim barang-barang kamu kemari barusan, dia juga menitipkan pesan ini untukmu."
Garin memberikan ponselnya yang berisi pesan dari Hanz Crusher Ayah Renty. Sontak saja Renty menggembungkan pipinya karena kesal, ternyata Ayahnya sudah bekerja sama dengan Garin.
"Sebenarnya apa yang kamu inginkan dariku!" ucap Ketus Renty.
Garin berdiri, dia mendekati Renty dan membisikkan sesuatu dari belakang, ketika Garin membisikkan hal tersebut. Renty langsung tertegun, dia mencoba mencerna maksud dari perkataan Garin.
Garin tersenyum, dia duduk kembali di tempatnya sambil menatap Renty yang seolah tidak percaya menerima sebuah kenyataan.
"Ren! Kamu kenapa?" tegur Sisil pada Renty yang terdiam mematung.
Fei buka suara pada Garin "tuan, tolong jangan permainkan teman kami."
"Aku tidak mempermainkan-nya sama sekali, aku hanya memberitahu sebuah kenyataan untuk dirinya." jawab Garin santai.
Renty tersadar, dia menatap Garin dengan sekama "Apa yang kamu ucapkan semuanya benar?" tanyanya dengan suara lembut.
"
Garin mengangguk "bisa di katakan 90% dataku Valid, cepat atau lambat kamu akan melihatnya sendiri nanti."
Renty sekarang terlihat lebih tenang, dia mengangguk seolah mengerti perkataan Garin "baiklah, aku percaya padamu, aku ingin lihat bagaimana kamu menunjukkan-nya padaku."
"Tidak masalah, karena aku memang tidak berniat menutupi semua itu pada kamu." jawab Garin santai, sambil menyeruput kembali kopinya.
Fei dan Sisil saling menatap, mereka berdua bingung dengan obrolan Garin dan Renty yang tidak mereka ketahui tersebut.
Mereka berdua hanya bisa menebak-nebak dengan penasaran, apa yang sedang keduanya bicarakan.
__ADS_1
Garin memang mempunyai data lengkap Renty, dia membobol semua tentang masalalu Renty, dia akan memperlihatkan pada Renty, siapa dia sebenarnya.