![Grisella Story [Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/grisella-story--revisi--.webp)
Yasmin meninggalkan area perumahan elite itu dan menunggu taksi yang telah ia pesan.
Sebuah mobil Van hitam yang mengintai Yasmin sejak ia keluar dari rumah mewah itu. Seseorang di dalam van hitam itu tampak menghubungi seseorang.
"Helo Nyonya," ucap bos diantara mereka.
[Iya, bagaimana?]
"Dia sudah keluar dan menunggu taksi, apa kita bereaksi sekarang?" tanyanya.
[Tahan dulu, tunggu suasana yang pas.]
"Baik, Nyonya."
Pip! pria yang sedang menelepon itu mematikan sambungan telepon dan memberi tahu teman-temannya yang memakai baju serba hitam untuk mengikuti ke mana gadis itu pergi dan jika sudah sangat sepi mereka akan menangkap gadis itu.
Di sini gadis itu sekarang, dia memasuki area pemakaman dan mencari makan bundahnya yang tidak susah untuk ia temukan.
Gadis itu Yasmin membersihkan dedaunan kerin yang terdapat di makam tersebut. Setelah membersihkan makam bundahnya, Yasmin menaruh bunga melati putih--bunga kesukaan sang bunda.
Bundanya begitu menyukai bunga yang berlambang kesucian itu. Itulah mungkin alasannya kenapa memberikan nama Yasmin kepada putri kecilnya.
Yasmin mendoakan sang bunda agar selalu di tempatkan di sisi-Nya. Setelah mendoakan Yasmin terlihat mulai membuka suara.
"Bunda pasti bangga sama Yasmin karena sebentar lagi Yasmin akan lulus," tutur Yasmin mulai bercerita seraya menatap sendu nisan ibundanya.
"Bunda, apa Bunda tahu Yasmin ketemu sama pria ganteng banget dan Yasmin suka sama pria itu, tapi Yasmin enggak tahu apa dia suka sama Yasmin atau ggak Bunda?" tanya Yasmin walaupun tidak ada sahutan yang terdengar Yasmin tetap melanjutkan aksi curhatannya.
"Bunda, pasti juga sedih ya, karena Ayah enggak Sayang sama Yasmin, tapi Bunda jangan benci Ayah ya, mungkin Ayah punya alasan membenci Yasmin," lanjut gadis itu lirih, air matanya sudah tumpah membasahi pipinya yang mulus. Namun, bibirnya masih menyunggingkan senyum tulus.
"Huft, pasti Bunda baik di sana, Allah pasti sangat Sayang sama Bunda 'kan? Jadi, Yasmin enggak mau buat Bunda sedih lagi," tutur Yasmin seraya mengusap matanya. Setelah puas menumpahkan semua keluh kesahnya Yasmin beranjak dari makam tersebut.
Belum dia berapa meter pergi dari makan tersebut Angin sejuk menerpa wajah cantiknya. Yasmin hanya tersenyum dia berpikir bunda ada di dekatnya saat ini. Ketika Yasmin ingin melanjutkan langkahnya seseorang menepuk bahu kirinya.
"Hei," sapa seorang pria tampan seraya tersenyum.
"Hei, Kak Edward kamu kah itu?" tanya Yasmin ragu. Karena sudah lama dia tidak bertemu dengan teman masa kecilnya dan juga merangkak menjadi kakak angkatnya dan mereka di pertemukan lagi saat Yasmin study kedokteran di Singapura waktu itu ia bisa ke sana karena pamannya mengambilnya untuk tinggal di sana dan baru kembali saat dia telah selesai. Mereka baru bertemu sekarang karena terpisah saat Edward melanjutkan study kedokterannya di Amerika.
"Iya, kamu pikir siapa? Apa aku banyak berubah ya? Aku makin tampan 'kan?" tanya pria itu--Edward--zeraya tersenyum lembut.
"Awh, kenapa tingkat kepedeanmu masih saja tinggi?" tanya Yasmin meringis. Ternyata semua sahabat prianya memiliki tingkat kenarsiran yang tinggi. Apakah Aditya juga seperti itu?
"Haha, kamu tuh yang belum berubah, masih sama ... masih enggak suka liat aku bahagia," ujar Edward tertawa renyah.
"Ish, kapan? Aku enggak ingat tuh," cetus Yasmin sambil berusaha berpikir keras.
Pletak! Satu jitakan mendarat di kepala hitam legam Yasmin. Yasmin meringis dapat jitakan dari pria yang ada di hadapannya.
"Awh, sakit tahu," adu Yasmin seraya mengelus kepalanya yang habis dijitak.
"Udah ah, kamu habis kunjungi Bunda?" tanya Edward. Edward memanggil bunda Yasmin, sama seperti Yasmin karena sedari kecil waktu bunda Yasmin hidup mereka memanggilnya dengan sebutan sama, karena mama Edward meninggal setelah melahirkannya.
"Iya, aku lagi kangen sama Bunda, kamu juga kangen sama Bunda April?" tanya Yasmin kembali.
"Iya," jawab Edward singkat.
"Kamu udah pulang dari Amerika?" tanya Yasmin karena dia berpikir seharusnya Edward masih di Amerika.
"Iya, aku udah lulus. Cepet 'kan, kalau kamu udah?" tanya Edward tak tertutupi nada bangga di ucapkannya.
"Belum, tapi mau, wah cepet banget ya," jawab Yasmin dan kagum karena Edward selesai lebih cepat.
"Ya dong, Edward gitu lho," pungkas Edward. Karena Edward sedari dulu sangat pintar jadi wajar, beda denganya yang hanya memiliki kecerdasan sedikit.
"Nyesel aku puji kamu, kalau aku sih enggak ngelanjutin gelar dokterku ke tahap S2, tapi aku lanjutin kuliah bisnis. Aku mau jadi pengusaha sukses sapa tahu nanti bisa pegang perusahaan Ayah," imbuh Yasmin bangga diam-diam mengaminkan dalam hati jika nanti ia bisa memegang perusahaan sang ayah.
"Wah, hebat kamu bisa melakukan pekerjaan ganda nantinya," ucap Edward tak percaya. Edward belum tahu jika Yasmin memiliki restoran sendiri, butik dan rumah sakit sendiri jika dia tahu, dia pasti akan pingsan apa itu belum bisa disebut hebat.
"Biasa aja kali, eh dari tadi kita ngobrol di makam nih, aku jadi merinding," celetuk Yasmin yang menyadari posisi mereka.
"Oh, iya, kamu sudah ini mau ke mana?" tanya Edward sembari berjalan menyejajarkan langkahnya.
"Pulang," jawab Yasmin singkat.
"Ke Resto dulu yuk, sambil ngobrol," saran Edward.
Yasmin tampak berpikir beberapa saat setelah itu mengiyakan ajakan Edward.
Mereka memilih restoran khas jepan yang tak bukan adalah milik Yasmin sendiri. Mereka mengobrol seputar kegiatan Edward selama di Amarika. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata tajam yang menatap mereka.
"Eh, di sana kamu enggak nemu cewek bule?" tanya Yasmin bercanda.
"Nemulah, tapi lebih cantik cewek local, lagipula aku belum nemuin yang kayak kamu," jawab Edward bercanda.
"Oh, cie jadi patokannya kayak aku ya, wah berarti aku cantik dong, karena yang jadi acuannyaaku," balas Yasmin dengan candaan pula.
"Hahaha, udah narsis juga, nih," ejek Edward tertawa renyah.
"Upsh, ish gara-gara kamu nih aku jadi ketularan," tutur Yasmin ketus dengan bibir dikerucutkan lucu.
"Hahaha, ngambek nih ceritanya?" tanya Edward masih saja tertawa.
"Enggak, siapa yang ngambek penting amat," jawab Yasmin seraya meminum orange juicenya.
"Oh," ucap Edward dan berhenti tertawa mengikuti Yasmin meminum-minumanya.
Tiba-tiba handphone Edward berbunyi. Edward tampak melihat sekilas.
"Yas, Aku balik deluan ya, soalnya ada urusan mendadak," cetus Edward dengan nada menyesal.
"Oh, enggak pa-pa Ed," jawab Yasmin santai.
"Kalau gitu aku deluan ya, biar aku yang bayar," putus Edward sembari berlalu ke meja kasir.
Yasmin masih menikmati minumannya. Dia belum mau beranjak dari tempatnya duduk. Sampai seorang pria menghampiri mejanya. Yasmin langsung mengangkat kepalanya untuk menatap siapa yang berdiri di hadapannya.
"Eh, Mas Aditya? Silahkan duduk Mas," pinta Yasmin mempersilahkan walaupun dia masih bertanya-tanya kenapa Aditya tiba-tiba ada di depannya.
Aditya menarik kursi tepat di hadapan Yasmin.
"Mas Aditya ada urusan bisnis ya di sini?" tebak Yasmin seratus persen benar. Aditya hanya mengangguk sebagai jawaban dia masih memasang wajah super datarnya.
Dia menatap Yasmin tajam seperti Yasmin punya salah.
"Mbak," panggil Yasmin pada waiters yang tiba-tiba lewat.
"Mas Adit, mau pesan apa?" tanya Yasmin.
"Ice coffee," jawab Aditya singkat dan waiters itu langsung mencatat pesanan Aditya dan berlalu.
Sepeninggal waiters itu kebersamaan mereka hanya diisi oleh keheningan. Tatapan orang-orang kepada Aditya seakan ingin menerkamnya. Namun, tidak dihiraukan. Aditya hanya menatap Yasmin dengan tatapan tajam. Sampai-sampai Yasmin salah tingkah dibuatnya.
'Duh, nih orang mau buat aku mati cepat ya, udah dong natapnya nih jantung udah maraton,' mohon Yasmin yang hanya dia ucapkan dalam hati.
Sampai kedatangan waiters menghancurkan dinding kaca yang bernama keheningan itu di antara mereka.
"Selamat dinikmati," ucap pramusaji itu meletakkan pesanan Aditya dan berlalu.
"Siapa tadi?" tanya Aditya tiba-tiba.
"Siapa? Oh, tadi itu pelayan," jawab Yasmin santai sembari kembali meminum orange juicenya.
Aditya tampak mengeram. "Pria yang sama kamu, Yasmin Putri Prayoga," tekan Aditya dan menyebut nama lengkap Yasmin diakhir katanya.
__ADS_1
"Oh, itu, dia Kak Edward sahabat Yasmin sedari kecil. Dia baru balik dari Amerika, tapi kenapa dengan dia Mas? Terus kenapa malah nyebut nama Yasmin lengkap banget udah kayak Pak Rektor aja," tanya Yasmin diiringi kekehan kecil yang keluar dari bibir tipisnya.
"Tidak, saya hanya takut dia orang jahat," jawab Aditya enteng.
'Untung nih anak kadar kepekaannya nol.' Aditya tersenyum kecil.
"Oh, enggak, Kak Edward tuh baik dia yang selalu jaga Yasmin sedari kecil dan waktu kuliah dulu," jelas Yasmin tanpa melihat perubahan raut wajah Aditya yang menghitam.
"Jangan puji pria lain di hadapan saya, jika kita sedang bersama," tuntut Aditya datar. Yasmin bingung padahal itukan hanya Edward, apa dia memuji Edward itu salah, ya? Yasmin hanya mengangguk sebagai jawaban dan menikmati orange juicenya lagi.
"Kita pulang, aku akan mengantarmu," ajak Aditya tiba-tiba.
"Enggak usah Mas, nanti merepotkan. Lagi pun Mas pasti masih punya banyak pekerjaan di kantor, 'kan," ucap Yasmin menolak secara halus.
"Ti ...." Belum selesai Aditya berbicara ponselnya berbunyi dan itu dari Erza. Aditya tampak menjauh dan menerima telepon itu. Tak berapa lama dia kembali lagi dan menghampiri Yasmin yang masih duduk di tempatnya.
"Maaf, kamu benar, saya ada pertemuan mendadak di kantor, kamu bisa pulang sendiri 'kan?" tanya Aditya penuh sesal entah kenapa dia enggan meninggalkan gadis ini. Akan tetapi, ada pertemuan yang sangat mendesak.
"Santai aja Mas, Yasmin bisa pulang sendiri," jawab Yasmin tersenyum lembut menyakinkan Aditya.
Aditya yang melihat senyumannya makin enggan meninggalkan gadis itu. Perasaannya mengatakan dia harus berada di sini bersama gadis ini. Namun, pekerjaannya mendesak.
Aditya mencium singkat kening Yasmin dan berlalu. Aditya masih sempat mendengar ucapan Yasmin yang mengatakan, 'Hati-hati.'
Beberapa menit kepergian Aditya Yasmin juga meninggalkan restorannya. Saat di luar restoran menunggu taksi online yang ia pesan sebuah Van hitam berhenti di hadapannya Yasmin tampak bingung. Namun, mengabaikannya dia kembali fokus pada ponsel di genggamnya.
Beberapa orang berpakaian serba hitam langsung keluar dan membekab hidung Yasmin yang telah dilumuri obat bius.
Yasmin tidak sempat berteriak karena kesadarannya terlebih dahulu terenggut. Para pria itu langsung membawa Yasmin ke dalam Van hitam tidak ada yang menyaksikan kejadian itu selain seorang pramusaji yang langsung berteriak melihat pemilik restoran tempatnya bekerja diculik.
Gadis itu langsung berlari keluar restoran mengabaikan pengunjung yang menatapnya aneh. Namun, sayang dia tidak sempat. Gadis itu hanya menemukan ponsel Yasmin yang terjatuh.
"Aku harus hubungi siapa ya?" tanya gadis itu panik.
Untung karena ponsel Yasmin tidak dipasangi pengaman jadi dia tidak kesusahan untuk membukanya. Gadis itu tampak mencari kontak di ponsel Yasmin sampai matanya menemukan nama Mas Aditya pada riwayat panggilan terakhir.
"Mungkin ini kekasih Mbak Yasmin," guman gadis itu. Dia langsung menghubungi nomor tersebut.
Di tempat berbeda di waktu yang sama Aditya baru sampai di kantornya dan bergegas ke ruang rapat. Belum dia memegang gagang pintu, ponselnya berdering. Di layar ponsel Aditya terpampang wajah Yasmin dan namanya. Aditya mengernyit kenapa tiba-tiba, tapi ia tetap mengangkatnya. Baru tersambung suara asing berkaur di telinga Aditya, dia menjauhkan ponselnya dari telinga menatap nama si penelepon dan benar itu nomor Yasmin.
"Ini siapa? Di mana istri saya?" tanya Aditya datar.
[Pak saya pramusaji dari restoran yang istri bapak kujungi, istri Bapak tadi di culik oleh orang berpakaian serba hitam, saya menemukan ponsel istri bapak tergeletak di jalan. Saya tidak sempat menyelamatkan istri bapak karena istri bapak lebih dulu di bawa.]
"Apa?! Saya akan segera ke sana," balas Aditya kaget. Ia membulatkan matanya. Jelas kepanikan terpancar di wajahnya yang tampan.
Dia langsung menghubungi Erza untuk mengambil alih rapat tersebut.
Saat telepon tersambung gadis itu tampak ragu untuk berbicara, tapi dia memaksakan karena ini menyangkut nyawa pemilik tempatnya bekerja.
"Halo Pak, ini dengan kekasihnya Mbak Yasmin?" tanya pramusaji itu gemetar.
[Ini siapa? Di mana istri saya?]
Pramusaji itu sempat kaget ternyata bosnya telah memiliki suami. gadis itu buru-buru memberitau Aditya.
"Pak saya pramusaji dari restoran yang istri papak kujungi, istri Bapak tadi diculik oleh orang berpakaian serba hitam, saya menemukan ponsel istri Bapak tergeletak di jalan. Saya tidak sempat menyelamatkan istri Bapak karena istri bapak lebih dulu di bawa," jawab pramusaji itu gemetar.
[Apa?! Saya akan segera ke sana.]
Aditya memutuskan sambungan telepon.
"Mudah-mudahan, Mbak Yasmin, bisa diselamatkan," guman pramusaji itu khawatir dan berlalu masuk kembali ke restoran takut dia akan dimarahi.
* * *
"Hello Nyonya," ujar seorang berbaju serbah hitam ketika telepon tersambung.
[Bagaimana, kau berhasil menculik jalan sialan itu?]
[Hahaha!] Suara Laras pecah seperti orang kesetanan.
[Hubungi aku bila dia telah sadar, aku ingin aku yang ia liat pertama kali saat dia sadar!]
"Baik, Nyonya." Setelah mengatakan hal demikian sambungan terputus.
"Bawa dia, Nyonya sendiri yang ingin memberinya hukuman," pinta pria yang bertubuh tambun.
"Baik Bos," jawab pria yang lainya.
Saat ini Aditya tengah pusing memikirkan di mana dia harus menemukan gadisnya. Dia tidak berhasil menemukan si penculik yang berhasil lolos, Aditya telah mengerahkan semua anak buahnya untuk melacak keberadaan Yasmin. Dia juga telah memeriksa CCTV cafe itu jadi dia tahu mobil seperti apa yang menculik Yasmin.
Dia tidak bisa langsung melaporkannya ke kantor polisi karena ini belum 24 berlalu sejak Yasmin menghilang.
Sejam sebelumnya ....
Brak! Pintu cafe digebrak dengan paksa. Di sana di pintu cafe Aditya nampak kacau dengan peluh di keningnya, dasi acak-acakan, kancing kemeja atasnya terbuka dua. Penampilan Aditya kali mampu menghipnotis para pengunjung bukannya marah, mereka malah mematung dengan muka cengo. Penampilan Aditya terkesan sangat ... err seksy.
Aditya pergi ke meja resepsionis dan bertanya pada salah satu pelayan cafe yang menatapnya aneh. Tiba-tiba seorang pramusaji datang menghampiri Aditya dan memberikan ponsel Yasmin.
"Pak, ini ponsel istri Bapak," ucap gadis pramusaji itu menyerahkan ponsel Yasmin.
"Ke mana, mereka pergi?" tanya Aditya serius.
"Arah jam sepuluh Pak, tapi saya tidak tahu mereka membawa istri Bapak ke mana," jawab Pramusaji itu menunduk.
"Baiklah, terima kasih atas kerjasamanya," imbuh Aditya datar dan berlalu dari hadapan mereka.
"Semoga Bos kita bisa ketemu ya," tutur pramusaji itu penuh harap yang diangguki temannya yang lain mereka hanya dapat berdoa yang terbaik.
"Za, kamu udah nemuin keberadaan Yasmin?" tanya Aditya pada Erza di telepon.
"Belum Dit, mereka sangat cerdas. Akan tetapi, jika pemikiranku benar pasti mereka membawanya ke suatu tempat yang tidak di jangkau oleh publik," ujar Erza menjelaskan.
"Kamu harus cari tahu, siapa dalang dari penculikan calon istriku," pinta Aditya dingin.
Pip! Aditya mematikan sambungan telepon dan duduk sofa ruang tamu. Dia mengotak-atik labtob yang ada di hadapannya. Tiba-tiba pintu rumah mewah itu terbuka, di sana Wisnu dan Lalita berdiri dengan wajah paniknya. Mereka baru dapat kabar jika calon menantunya diculik. Langsung saja mereka kembali dari urusan mereka.
"Dit, gimana? Udah ada kabar dari Erza?" tanya Lalita ketika sampai di hadapan Aditya.
"Belum, Mah," jawab Aditya masih fokus menatap labtob yang menampilkan kejadian pasca penculikan Yasmin.
"Kok bisa di culik, perasaan Yasmin enggak punya musuh, kecuali ...." Ucapan Lalita menggantung di udara.
"Mama berfikiran sama sepertiku," ujar Aditya mengalihkan pandangannya pada kedua orang yang berbeda gender itu.
"Dit, jangan biarkan media tahu jika Yasmin diculik," terang Wisnu tenang.
"Iya Pa, Aditya bakal tutup rapat-rapat masalah ini sampai Yasmin ditemuin, tapi Aditya enggak akan nutupin siapa dalang dari penculikan ini," putus Aditya dingin dengan tatapan tajamnya. Mereka hanya mengangguk sebagai tanda setuju.
Tiba-tiba ponsel Wisnu bergetar, menandakan ada panggilan masuk. Wisnu mengangkat telepon tersebut tak lupa ia lauspeker.
"Hello Wis, kamu udah tahu anakku diculik, apa dia udah ditemuin?" tanya suara diseberang sana panik.
"Iya, kamu tahu dari mana?" tanya balik Wisnu.
"Itu feeling, karena Laras enggak mau ikut pas perjalanan bisnisku ke London dan dia mengatakan ingin melakukan sesuatu," jawab pria itu khawatir yang tak bukan adalah Aryi. Dia tidak menutup - nutupi kebenaran tentang Laras karena dia yakin keluarga Wisnu mampu melindungi putri kecilnya.
"Sekarang aku dalam perjalanan kembali ke Indonesia," lanjut kembali Aryo masih dengan nada khawatirnya.
"Apa kamu tahu di mana dia menyembunyikan Yasmin?" tanya Wisnu serius.
"Aku kurang tahu, maaf aku mohon selamatkan putri kecilku," mohon Ramah sebagai seorang Ayah kepada Wisnu.
__ADS_1
"Om, Om tenang aja, Aditya bakal nemuin Yasmin secepatnya dan bakal buat perhitungan sama mereka," pungkqs Aditya penuh keyakinan.
Aryo yang mendengar ucapan Aditya yang kelewat datar kaget, tapi langsung menjawab, "Baiklah, Om percaya sama kamu, Nak," balas Aryo. Setelah itu dia memutuskan telepon karena pesawat yang akan ia naiki akan berangkat karena terdengar peringatan dari pengeras suara.
* * *
"Ehs!" Terrdengar desiran dari seorang gadis yang baru terbangun dari tidur panjangnya. Gadis itu--Yasmin--mengedarkan pandangannya ke seluruh arah meneliti di mana dia sekarang. Rumah kumuh yang sudah ditumbuhi banyak tumbuhan menjalar di sekitarnya.
Gadis itu ketika ingin bangkit sebuah borgol merantai kedua tangan dan kakinya yang mulus. Yasmin mencoba melepaskan diri, tapi tidak bisa. Di pergelangan tangannya hanya meninggalkan bekas merah karena mencoba melepaskan diri.
Prok! Prok! Prok!
Sebuah tepukan tangan mengalihkan perhatian Yasmin. "Wah, ternyata putri tidur kita sudah bangun," celetuk wanita itu licik.
Yasmin membulatkan kedua bola matanya, tidak menyangka jika yang menculiknya adalah ibu tirinya.
"Tente Laras?" tanya Yasmin dengan nada kaget.
"Iya, kenapa? Kaget?" tanya Laras dengan senyum licik.
"Hei, kalian, pindahkan dia ke kursi itu supaya aku puas untuk menyiksanya, hahaha," ucap Laras memerintahkan orang yang berjaga di luar.
Dua orang berbadan besar tiba-tiba masuk dan membuka borgol di kedua tangan dan kaki Yasmin.
Yasmin sempat menghela napas legah karena borgol itu terbuka. Namun, kelegaan itu tidak berlangsung lama karena para pria itu langsung menyeret Yasmin ke sebuah kursi untuk di borgol kembali.
Yasmin sempat meronta, tapi sayang tenaganya tidak sekuat itu.
"Tante Laras kenapa jahat sama Yasmin? Padahal Tante Laras udah renggut semua dari Yasmin?" tanya Yasmin berurai air mata karena tidak sanggup lagi menahan sesak di dadanya. Kedua tangan dan kaki Yasmin telah diborgol kembali dan kedua pria itu kembali berjaga di luar.
"Kenapa? Karena saya sangat membenci kamu," jawab Laras penuh kebencian dengan gigi beradu menahan emosi, dia sampai melayangkan satu tamparan di pipi Yasmin hingga meninggalkan bekas merah. Yasmin berusaha menahan tangisannya dengan mengigit bibir bawahnya.
"Kenapa kanu tidak menagis, jalang? Apa air matamu sudah habis?!" tanya Laras seraya menjambak rambut Yasmin hingga membuatnya mendongak ke atas.
"Tante, Yasmin salah apa?" tanyanya dengan isakan yang lolos dari bibirnya yang bergetar.
"Hahaha, salah kamu? Karena saya benci kamu dan Mama kamu, Mama kamu dari dulu sejak jaman SMA sampai kuliah dia selalu dapat segalanya," jawab Laras seraya mencengkeram rahang Yasmin dengan kuat. Tidak ada rasa iba yang Laras rasakan saat melakukannya.
"Jadi, karena itu Tante Laras bunuh Bunda? Dan Tante Laras ngambil posisi Bunda? Tega Tante sama kami dan sekarang Tante Laras lampiasin dendam Tante sama aku karena enggak puas sama Bunda?!" teriak Yasmin dengan penuh emosi.
"Iya, kenapa? Gan kamu tidak punya hak berteriak di depanku brensek," balas Laras balik menampar Yasmin untuk kedua kalinya, pipinya yang sudah merah makin memerah.
"Hahaha, dan asal kamu tahu, Ayah kamu kenapa benci kamu sampai mati, karena aku yang menyuruhnya jika tidak ingin kamu mati, hahaha," beber Laras memberitau fakta tentang kekejaman ayah Yasmin padanya.
'Ternyata Ayah kepaksa, jadi Ayah sayang dong sama Yasmin,' sepucuk kebahagiaan Yasmin rasakan mengetahui fakta jika sang ayah sebenarnya menyayanginya melupakan rasa sakit yang tubuhnya rasakan.
"Dan kamu tahu aku juga akan membunuhmu seperti aku membunuh Ibumu waktu itu, hahaha! Enak saja kamu dapat suami yang sangat kaya raya dan sempurna, memang Ayahmu sangat brengsek," papar Laras di hadapan Yasmin.
"Sadar, Tante, istighfar ingat sama Allah, udah cukup Bunda yang Tante bunuh dengan sadis," tutur Yasmin mengingatkan.
"Persetan dengan dosa yang penting saya ingin kamu mati Hahaha, agar semua harta Ayah kamu jatuh pada putriku, Elis," balas Laras tersenyum devil.
"Tapi, nikmati dulu sisa hidupmu di sini, kumpulkan tenagamu untuk melayani mereka sebentar," tutur Laras dengan smirknya kemudian berlalu. Yasmin hanya mampu berdoa semoga Allah mendatangkan pertolongannya. Dia tidak mau makhkotanya direnggut oleh orang - orang seperti mereka.
* * *
[Halo Pak Adit, kami telah menemukan keberadaan mereka,] tutur seseorang di seberang sana saat sambungan telepon tersambung.
"Terimakasih Pak, tetap awasi mereka sampai saya datang," pinta Aditya dingin.
"Yasmin udah ketemu Ma, Pa, Aditya pergi dulu," beber Aditya pada kedua orangtuanya yang baru saja bergabung di ruang tamu dengan raut wajah khawatir. Namun, setelah mendengar informasi itu ada setitik kelegaan yang menjalar di dada mereka.
Setelah pamit Aditya langsung menelpon Erza. "Za, kamu udah telepon polisi 'kan?" tanya Aditya tanpa babibu saat sambungan telepon tersambung.
[Iya, mereka udah berjaga di lokasi itu. Masih belum ada pergerakan dari rumah tersebut, kami masih menunggu perintah darimu,] jawab Erza di sebrang telepon. Tanpa menjawab Aditya mematikan sambungan telepon dan memasuki mobil mewahnya dan melaju ke jalan raya.
Setelah melapor polisi. Polisi dengan segera mengambil tindakan karena ternyata yang berbuat ulah adalah putri dari seorang mafia yang jadi boronan polisi karena terlibat prostitusi online dan penjualan anak di bawah umur. Polisi menemukan sebuah rumah yang mencurigakan jauh dari hiruk-pikuk masyarakat dan mereka melihat setidaknya ada dua orang berbadan besar yang menjaga di luar rumah itu semakin menguatkan asumsi mereka bahwa 'Yasmin' disembunyikan di tempat itu.
Sedangkan di dalam rumah itu. Saat ini Yasmin selalu waspada mewanti-wanti jika mereka ingin bertindak kurang ajar kepadanya.
Derit pintu terdengar karena adanya gesekan yang terjadi. Masuklah Laras dengan seringai devilnya menatap Yasmin dengan tatapan membunuh. Di tangan Laras membawa sebuah pisau dapur yang sangat tajam.
Gluk! Yasmin meneguk ludahnya susah payah.
'Ya Allah lindungilah Yasmin, Mas Adit, Mas Adit di mana, Yasmin takut,' mohon Yasmin kepada Allah dan berharap Aditya mendegar jeritan hatinya.
"Kenapa, takut? Hahaha, ini tidak akan sakit jika hanya merajam dan menguliti tubuh menjijikkanmu itu," tangkas Laras dengan seringai yang sama. Suara Laras bagai melody kematian yang menari-nari di telinga Yasmin.
'Astagfirullah, di rajam? Di kuliti? Ya Allah lindungilah Yasmin dari setan yang merasuki Tante Laras,' mohon Yasmin dalam hati mengulang dua kata yang sangat sadis itu untuk didengar.
"Astagfirullah, Tante sadar, jangan karena dendam sesaat ini, Tante jadi buta oleh hawa nafsu yang setan ciptakan dan membelenggu diri Tante, Istighfar Tante," peringat Yasmin menasehati.
"Simpan nasehatmu itu, dan berdoalah kepada Tuhanmu untuk menghilangkan rasa sakit itu saat aku mulai mengiriskan benda tumpul ini pada kulitmu yang mulus," pungkas Laras bak orang kesetanan seraya mengesekkan benda tajam itu di permukaan kulit leher Yasmin seraya menekannya. Hingga goresan memanjang tercipta di leher Yasmin, darah segar langsung merembes keluar. Kaus putih yang Yasmin kenakan merah terkena noda darah. Yasmin tidak mengeluarkan kata-kata takut Laras makin kesetanan menyiksanya.
"Kenapa kaum tidak menjerit sialan! Aku ingin mendengar suara tangisanmu itu, hahaha," tutur Laras seraya menjauh beberapa meter dari Yasmin. Karena, ingin menyaksikan wajah kesakitan Yasmin.
"Sialan, kalian kemari! Buat dia merintih kesakitan," panggil Laras pada kedua pria berbadan tambun yang sedang berjaga di luar.
"Haha, aku ingin melihat sampai mana kamu bertahan," cetus Laras seraya duduk dan memperhatikan Yasmin yang akan dilecehkan oleh orang suruhannya. Tidak ada rasa iba sedikit pun yang Laras rasakan seakan menyiksa gadis malang itu adalah hal yang menyenangkan.
"Om, jangan Om, istighfar ingat sama Allah," mohon Yasmin dengan suara bergetar menahan tangis, berharap kedua orang di hadapannya ingin melepaskannya.
"Maaf, Nona manis, kamu sangat mengiurkan untuk di lewatkan," jawab pria berbadan gemuk dengan seringai dan hawa nafsu yang mendominasi.
"Jangan, Om plis, ingat sama Allah," mohon Yasmin dia berusaha menunduk dalam.
Sementara itu, Laras hanya tersenyum devil menatap ketidak berdayaan Yasmin.
Srek! Pria yang satunya langsung merobek kous bagian bahu Yasmin sehingga memaparkan kulit mulus tanpa celah milik Yasmin. Mereka makin bergairah untuk melancarkan aksinya, tapi baru ingin berbuat lebih sebuah dobrakan pada pintu menghentikan aksi mereka.
"Jangan bergerak!" pinta seorang polisi seraya menodongkan senjata api ke arah Laras dan juga kepada kedua pria tambun itu.
Aditya yang berada di sana langsung mengahampiri Yasmin yang terlihat sangat kacau. Hati Aditya ngilu melihat penampilan calon istrinya itu. Bagaimana tidak mata sembab dan jejak air mata masih membekas, pipih memerah akibat tamparan serta baju bagian bahunya yang sobek akibat ulah tangan - tangan nakal.
Aditya melepas borgol Yasmin dengan tatapan sendu kaki dan tangan mulus tersebut telah merah akibat gesekan benda tajam.
Emosi Aditya tiba-tiba muncul melihat robekan itu dan jejak darah dan luka memanjang pada leher Yasmin.
"Brengsek kalian," celetuk Aditya lalu berbalik dan meninju para pria tambun itu tanpa perlawanan.
"Ini karena kamu sudah berani menyentuh ujung rambut istriku," tutur Aditya seraya memukul para pria itu bergantian.
Bugh! Bugh! Bugh!
Seandainya tidak ada tangan mungil dan polisi yang menghentikannya. Mungkin para penjahat itu sudah tinggal nama.
"Udah Mas," mohon Yasmin lirih seraya menarik Aditya. Reflek Aditya berhenti dan langsung menarik Yasmin ke dalam pelukannya. Dunia serasa milik mereka berdua saat itu.
"BRENGSEK KAMU ADITYA! BERANINYA MENGANGGU KESENANGANKU!" teriak Laras tidak terima.
"Jobloskan dia kepenjara, untung Anda wanita dan saya masih menghormati Anda sebagai Ibu tiri dari calon istri saya," ucap Aditya kepada Laras tanpa mau melihat wajah menjijikkannya.
"Pak, silahkan di bawa," pinta Erza. Mereka pun membawa wanita itu keluar dan hendak membawanya masuk ke mobil polisi.
Di luar sana para wartawan telah berkumpul karena ingin mengetahui ternyata Laras adalah Ibu tiri yang sangat kejam sampai ingin melenyapkan putrinya sendiri.
"JANGAN AMBIL FOTO SAYA, DASAR KALIAN BAJINGAN KEPARAT," teriak Laras tidak terima di foto oleh awak media.
"AWAS Kamm ADITYA AKU AKAN MEMBALAS INI, KAU TERUTAMA YASMIN, DASAR JALAN SIALAN, BRENGSEK KALIAN SEMUA, KALIAN TELAH MENGAGALKAN AKU MEMBUNUH JALAN SIALAN ITU!" raung Laras menggila dia langsung dimasukkan ke dalam mobil polisi agar tidak berontak.
Yasmin hanya menatap sendu sang ibu tiri yang di bawa oleh polisi dia tidak menyangka ternyata dendam Laras masih berkobar sejak 10 tahun lalu telah membunuh undanya dengan tidak berperasaan.
Yasmin langsung ditarik menaiki mobil mewah Aditya untuk menghindari para pencari berita tersebut.
__ADS_1
bersambung......