![Grisella Story [Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/grisella-story--revisi--.webp)
Tok! tok! tok!
"Assalamualaikum," salam seorang gadis cantik.
"Wa'alaikumsalam, hay anak Bunda udah datang rupanya. Ayo, masuk, Sayang," ajak Lalita pada gadis yang baru datang itu-- Yasmin.
Saat Lalita merengkuh pundak Yasmin. Yasmin langsung meringis. "Ehs" ringis Yasmin tertahan.
"Kamu kenapa, Sayang? Ada yang sakit?" tanya Lalita khawatir.
"E-enggak pa-pa Bun, Yasmin baik kok," jawab Yasmin memaksa tersenyum.
Namun, bukan Lalita namanya jika tidak curiga. Lalita langsung mengiring Yasmin menuju ruang keluarga. Di sana Wisnu dan Aditya sedang berbincang. Wisnu yang melihat kedatangan Yasmin langsung tersenyum.
"Eh, kamu udah datang, Sayang?" tanya Wisnu seraya tersenyum.
Yasmin hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Wisnu. Wisnu tampak memicingkan matanya.
"Tunggu dulu, pipi kamu kenapa merah? Mata kamu juga bengkak? Tadi siang baik-baik saja, apa yang terjadi padamu, Sayang?" tanya Wisnu curiga, sama seperti Wisnu. Aditya juga menatap Yasmin penuh selidik.
"Ah, itu cuman pemerah pipih, Pa," jawab Yasmin bohong, tapi memang dasar Yasmin tidak pandai bohong jadi mereka curiga.
"Enggak Pah, Yasmin pasti bohong, kenapa bekas merah itu seperti bekas tangan. Saat Mama rangkul pundak Yasmin dia meringis seperti menahan sakit," papar Lalita khawatir.
Seketika hati Yasmin menghangat. Ternyata masih ada orang baik yang menghawatirkan keadaannya.
"Enggak kok Bun, Yasmin enggak papa," jawab Yasmin memaksakan senyum.
"Bohong, kamu pasti bohong, tuh pergelangan tangan merah, pasti habis di seret," ucap Lalita melihat pergelangan tangan Yasmin.
"Ehs!" Yasmin meringis karena dia tidak bisa membohongi mereka.
"Anu, itu Bunda, tadi Yasmin kepeleset di kamar mandi," ucap Yasmin masih ngeles dengan tatapan memohon berharap mereka tidak membahas itu lagi.
Lalita yang mengerti hanya menghela napas, mereka tahu perbuatan itu pasti dari mereka.
"Baiklah, Sayang, tapi kamu enggak pa-pa 'kan?" tanya Lalita memastikan sekali lagi.
"Iya, Bun, lagi pun Yasmin Dokter jadi Yasmin tahu bagaimana keadaan Yasmin," jawab Yasmin seraya tersenyum.
"Oh, iya kami lupa, hehe," tutur mereka serempak minus Aditya yang hanya menatap Yasmin dengan sorot mata sulit di artikan.
* * *
Setelah melaksanakan kewajiban mereka masing-masing. Saat ini mereka berada di ruang tamu untuk bersantai sambil menunggu waktu yang pas untuk melakukan pengobatan itu.
Lama mereka berbincang hingga jam menunjukkan pukul sembilan malam. Aditya sedari tadi hanya berada pada kamarnya enggan untuk bergabung dengan obrolan yang menurutnya sangat membosankan itu.
"Sayang, kami percaya sama kamu, kalau kamu belum siap malam ini, bilang sama Bunda dan Papa," ujar Lalita penuh harap dan rasa khawatir.
"Iya, Bunda, Pa, Yasmin akan lakuin yang terbaik, boleh Yasmin pergi?" tanya Yasmin.
Mereka hanya mengangguk sebagai jawaban. Yasmin melangkah menuju ke kamar Aditya suasana rumah sudah sepih karena sudah malam. Para pelayan sudah tidak ada lagi yang berlalu lalang.
Sesampainya di pintu bercat putih itu, Yasmin langsung mengetuk pintu tersebut.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum, Mas Adit, boleh saya masuk?" tanya Yasmin. Setelah mendapatkan sahutan dari empunya kamar Yasmin membuka perlahan pintu itu terdengar bunyi decitan karena suasana sangat tenang. Sebenarnya Yasmin sangat gugup. Karena ini pertama kalinya ia memasuki kamar seorang pria di malam hari, tapi mau bagamana lagi kalau siang dia tidak bisa berkonsentrasi.
Di sana di atas tempat tidur king size terbaring seorang pria tampan yang hanya memakai dalaman tipis.
Blush! Seketika pipi Yasmin merona ini adalah pertama kalianya ia melihat Aditya memakai baju tipis.
"Tenang Yas, bukan saatnya kamu terpesona, tujuanmu ke sini untuk mengobatinya," cicitnya pelan.
"Apa kamu hanya ingin berdiri di sana dan tidak akan melaksanakan tujuanmu ke sini?" tanya Aditya dingin membuyarkan lamunan Yasmin.
"Eh, iya," jawab Yasmin setelah tersadar dari lamunan.
"Baiklah mari kita mulai, ini agak sedikit sakit, karena saya tidak menggunakan obat bius, apa kamu sanggup?" tanya Yasmin memastikan dengan raut wajah serius.
Aditya hanya mengangguk sebagai jawaban. Yasmin memberikan sapu tangannya kepada Aditya untuk digigit jika sewaktu-waktu dia ingin berteriak.
"Sebenarnya yang membuat Mas Adit lumpuh bukan hanya karena kecelakaan yang menimpa Mas Adit, tapi ada faktor lain dan pasti Mas Adit telah mengetahuinya tanpa saya ungkapkan," beber Yasmin tenang tanpa menatap lawan bicaranya.
Aditya sedikit terkejut dia tidak mengira bahwa Yasmin mengetahuinya. Namun, jika mengingat kecerdasan gadis ini. Itu bukan hal yang mengejutkan lagi.
Yasmin menyibak selimut yang menutupi kaki Aditya sampai pinggang. Blush! Lagi-lagi Yasmin merona, untung saja penerangan di kamar Aditya tidak menyala. Jadi, dapat menyembunyikan rona merah pada kedua pipinya. Kaki Aditya begitu mulus tanpa bulu, putih bersih seperti kaki wanita.
"Ehem!" Yasmin berdehem dan mulai mengeluarkan kotak berwarna silver yang di dalamnya terdapat jarum akupuntur berwarna perak, dengan berbagai ukuran jarum terdapat pada tempat silver itu. Warnanya berkilauan saat tertimpah cahaya remang-remang lampu kamar yang redup. Yasmin sengaja hanya menyalahkan lampu kamar saja, karena jika penerangan di ruangan itu terlalu terang, maka Aditya akan menyaksikan dengan jelas wajahnya ketika sedang mengobati.
Dengan sangat ahli Yasmin menusukkan jarum itu di berbagai titik. Setelah jarum tersebut tertusuk di berbagai titik akupuntur. Yasmin meminumkan Aditya sebuah pil pereda rasa sakit. Itu yang Yasmin ucapkan pada Aditya, tapi pil itu sebenarnya adalah obat untuk mengeluarkan racun dari tubuh Aditya.
satu jam lamanya Yasmin tidak meloloskan tatapannya dari tubuh Aditya. Tubuh Aditya sudah bersimbah dengan peluh yang hampir memenuhi seluruh tubuhnya. Tiba-tiba jarum itu bergetar hebat. Tampak rasa sakit di wajah Aditya. Namun, dia tidak mengeluarkan suara sedikit pun hanya memasang wajah datar andalannya. Tidak jauh berbeda dengan Aditya-- Yasmin juga sudah mandi akan keringan. Dilihat dari cara penyembuhannya yang tidak biasa. Sudah jelas itu sangat menguras energi.
Beberapa helaian rambut melengket di pelipis dan tengkuk Yasmin yang menyebatakan dia terlihat sangat seksi di pandang. Wajah lelahnya tidak terdapat sentuhan kegugupan sedikut pun.
'Boleh juga dalam hal pengendalian diri,' batin Yasmin saat melihat penguasaan diri Aditya yang sangat menajubkan.
Cairan pekat berwana hitam keluar dari tubu Aditya. Cairan pekat itu baunya sangat tidak enak. Itu membuktikan bahwa racun yang terkontaminasi dalam tubuh Aditya mulai terdetoksifikasi.
Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam yang artinya sudah dua jam lamanya Yasmin mendetoksifikasi racun yang ada di tubuh Aditya. Tubuh Aditya mulai rileks tidak ada lagi rasa sakit yang ia tahan yang ada hanya rona kehidupan yang terlihat.
Yasmin telah melepaskan semua jarum akupuntur dari tubuh Aditya dan meletakkan kembali pada tempatnya.
'Allhamdulillah berhasil, Yasmin berhasil, terimakasih Ya Allah, Alhamdulillah,' ucap Yasmin penuh syukur dalam hati dan sentuhan kebahagiaan tak terlepas dari wajah cantiknya.
Perlahan Aditya membuka matanya. Mata sekelam malam itu langsung menyorot ke arah Yasmin.
"Mas, sekarang bisa bangun, coba gerakoan kaki, Mas!" pinta Yasmim seraya tersenyum lembut.
Aditya langsung bangkit dari tempatnya berbaring. Dia langsung menapakkan kakinya di lantai yang dingin. Pelan-pelan Aditya berdiri, seakan tidak percaya bahwa dia sembuh dan bisa berjalan. Aditya mencoba jalan berapa langkah untuk memastikan bahwa dia tidak salah liat. Aditya langsung berbalik dan menatap Yasmin penuh rasa terima kasih.
Yasmin hanya tersenyum setelah itu, ia kehilangan kesadarannya.
Bruk! Tubuh Yasmin ambruk di hadapan Aditya untung saja Aditya masih sempat menahan tubuh Yasmin dan langsung membaringkannya di sisi tempat tidur.
Aditya lamat-lamat menatap wajah lelah calon istrinya. Aditya tampak membelai wajah Yasmin yang merah karena bekas tamparan. Seketika Aditya langsung emosi.
"Ck, brengsek." Aditya tidak terima jika calon istrinya dikasari walaupun dia belum terlalu dekat dengan Yasmin. Akan tetapi, Aditya berjanji akan melindunginya. Aditya bangkit dari hadapan Yasmin dan langsung pergi ke kamar mandi karena tubuhnya bau dan lengket akibat keringat dan cairan hitam pekat itu.
Liat saja, MISTERIUS BOS akan menggemparkan dunia, putra dari Wisnu dan Lalita akan tampil di hadapan publik dan membungkam semua mulut kotor mereka.
Azan Subuh telah berkumandang mengisyaratkan umat muslim untuk bangun dan melaksanakan kewajiban mereka.
Seorang gadis yang terbaring di ranjang king size langsung membuka mata indahnya. Cahaya bulan yang temaran menyorot wajah cantiknya. Gadis itu-- Yasmin mengedarkan pandangannya kepenjuru arah kamar. Sampai netranya menangkap sosok tampan yang tertidur di sofa dengan posisi yang tidak menguntungkannya.
Pria itu yang tak bukan adalah Aditya tampak memeluk sebuah boneka besar berwarna coklat. Dia tampak memeluk erat boneka itu, mungkin dia kedinginan. Karena jendela yang terhubung dengan balkon itu terbuka sehingga angin malam tanpa malu masuk dan mengusik tidurnya.
Yasmin bangkit dari tempat tidur Aditya, dia membawa selimut tebal dan memakaikannya ke tubuh Aditya. Saat Yasmin hendak berlalu Karena ingin pergi berwudu. Sebuah tangan nan lembut menghentikan langkahnya.
"Eh, maaf Mas, apakah saya membangunkan, Anda?" tanya Yasmin sambil menatap Aditya. Wajah Aditya tampak sayup karena efek bangun tidur.
"Tidak, kamu mau ke mana?" tanya Aditya masih menahan pergelangan tangan Yasmin.
"Saya ingin pergi salat," cicit Yasmin karena dia agak risih di pegang oleh lawan jenis. "Eum, Mas Adit bisa lepas tangan saya!" pinta Yasmin agak tidak enak. Tanpa berucap Aditya langsung melepaskan cekalannya.
"Huft!" Yasmin menghela napas legah.
"Tunggu, kita salat berjamaah. Tidak ada bantahan," ucap Aditya tidak ingin dibantah karena melihat Yasmin ingin protes.
Setelah mengucapkan itu Aditya langsung masuk ke kamar mandi tanpa memperdulikan Yasmin yang sedang menyumpah serapahinya.
'Ck, dasar Tuan pemaksa.' Yasmin mencibir dalam hati.
Setelah mengucapkan itu Yasmin pergi ke kamarnya untuk mengambil air wudu dan mukena.
Karena di rumah Aditya lengkap dengan mushollah untuk beribadah. Jadi, mereka memutuskan salat berjamaah di rumah saja mengingat Aditya baru saja pulih.
Kalian tahu yang menjadi imam adalah Aditya. Ini adalah kali pertama Yasmin melihat Aditya sholat berjamaah biasanya hanya dirinya dengan Lalita dan Wisnu. Karena para pelayan mereka lebih memilih sholat berjamaah di masjid dekat rumah Aditya.
Yasmin tidak menyangka ternyata suara Aditya dalam melafalkan ayat suci Al-Quran begitu indah dan merdu. Jika, mereka sadar Yasmin sudah di mejadi makmum Aditya secara tidak langsung dan Aditya sebagai imamnya.
Lalita dan Wisnu sangat kaget sekaligus bahagia saat melihat putra mereka mengambil posisi sebagai imam. Rasa syukur dan Terima kasih selalu mereka lanjutkan untuk Rob Yang Maha Kuasa.
* * *
Hari ini adalah untuk pertama kalinya Aditya memasuki kembali kantornya. Perusahaan yang limah tahun lalu ia tinggalkan.
sebenarnya Aditya masih dilarang pergi ke kantor, tapi dasar dia keras kepala jadi Lalita hanya bisa pasrah. Selama ini perusahaan Aditya diurus oleh Erza sahabat sekaligus tangan kanannya. Walaupun Erza yang menjalankan, tapi tidak lupuk dari pantauan Aditya sedikit pun, bisa dikatankan jika Aditya bekerja di balik layar.
Sedangkan Yasmin hari ini dia pergi ke kampus karena tiba-tiba Hera menghubunginya jika mereka ada jadwal mata kuliah terakhir sebelum libur selama 2 hari kedepan.
"Hai, Yas, apa kabar?" sapa Hera sahabat Yasmin.
"Baik Ra, kalian?" jawabnya dan juga melontarkan pertanyaan yang sama.
"Baik, kecuali si curut satu ini, kayaknya dia galau deh karena ditinggalkan sama ceweknya, habisnya diam terus dari tadi," ungkap Hera seraya menunjuk Frans.
"Dasar bantek, diem kamu, aku tuh enggak pernah galau, cewek di luar sana tuh ngejar - ngejar aku. So, buat apa aku galau," ujar Frans narsis. Memang Frans adalah seorang playboy kelas kakab, semua siswi di kampus sangat memuja Frans tidak hanya parasnya yang tampan, tapi dia juga dari keluarga berada.
Seketika mereka swetdrob karena perkataan Frans yang kelewat narsis.
"Masih saja playboy dan narsis," guman Yasmin seraya menggeleng pasrah ternyata selama mereka jarang berkumpul tingkat kenarsiran Frans telah sampai ketingkat overdosis.
"Tapi, sayang, cuman kamu Yas, yang enggak tertarik sama aku," cicit Frans lirih seraya menatap Yasmin penuh arti.
"Kamu bilang apa tadi?" tanya Hera ingin memastikan ucapan Frans.
Namun, Frans tidak mengindahkan ucapan Hera.
"Yas, jika aku udah enggak playboy lagi, kamu mau sama aku 'kan?" tanya Frans. Yasmin menatap Frans penuh tanda tanya begitu juga dengan Hera. Mereka langsung menempelkan punggung tangan mereka di kening Frans.
"Enggak panas, tapi kok aneh ya, Ra?" tanya Yasmin bingung.
Plak! Frans menepis tangan mereka dari keningnya. "Kalian pikir aku kesambet, hu dasar." Frans mencebikkan bibirnya karena kesal.
Seketika tawa mereka pecah.
"Haha, apa yang terjadi selama kita jarang kumpul?" tanya Yasmin masih tertawa sampai-sampai air matanya keluar.
__ADS_1
"Tau tuh, hahahaha." Hera menimpali.
"Tawa aja terus, entar aku ngambek, lho," ancam Frans kesal.
"Emang kita pikirin," ucap mereka kompak. Frans hanya mendengus sebal.
"Udah deh Ra, liat tuh mukanya udah kayak daging giling aja, haha," papar Yasmin mencoba mengendalikan tawanya.
"Iya, perut aku sakit nih," balas Hera.
Setelah tawa mereka reda Yasmin langsung bertanya kepada mereka. "Eh, kalian jadi 'kan datang ke pesta Kak Elis?" tanya Yasmin memastikan.
"Hmm, jika bukan karena kamu Yas yang undang kita, mana mau kita pergi," jawab Hera mutar mata jengah, karena mereka sangat tahu bagaimana perlakuan Elis terhadap Yasmin.
"Thanks Ra, kalau kamu Frans jadi?" tanya Yasmin.
"Jadi, dong, tapi kamu bareng kita 'kan?" tanya balik Frans.
"Eum, enggak deh kita ketemu dipesta aja, soalnya aku bareng Bunda," jawab Yasmin tersenyum lembut.
"Eh, Bunda bukanya ...?" mereka tidak melanjutkannya, karena takut melukai perasaan Yasmin.
"Bunda angkat, dia udah aku anggap Bundaku sendiri," jawab Yasmin masih dengan senyum merekah.
"Oh." Mereka hanya berohriah.
"Eh, jadi 'kan kita libur selama dua hari?" tanya Yasmin lagi.
"Iya, jadi, apa mungkin dosen mau datang ke pesta pernikahan Kakak kamu Yas? Apalagi acaranya besok dan yang mau nikah bukan orang sembarangan sampai beritanya disampaikan di TV," jawab Hera tak suka.
"Sudah, enggak usah dibahas, intinya kita dapat cuti 'kan," ujar Yasmin senang.
"Eum," timpal mereka ikut tersenyum.
* * *
"Ingat nyawa putrimu ada ditanganku, jadi jangan coba-coba untuk mulai memperhatikannya," peringat sebuah suara wanita.
"Mau kamu apa sebenarnya, dasar wanita iblis, dia itu putriku apa kamu tidak punya hati? 10 tahun aku menelantarkan putriku, menyiksanya sesuai keinginanmu. Apa itu tidak cukup, Ha?!" balas suara pria itu emosi.
"Hahaha, apa ka?u ingin putrimu bernasib sama seperti dengan istri jalang mu itu, ha? Ingat, Ayahku seorang kepala mafia dia tidak segan-segan akan menghabisi putrimu jika kamu macam-macam dan tidak menuruti semua kehendakku,' jawab wanita iblis itu.
"Dasar brengsek kamu, wanita iblis," ujar pria itu kesal karena tak mampu berbuat apa
"Iya, aku wanita iblis, hidup putrimu ada ditanganku. Jika, besok kamu memperhatikannya awas saja malam itu juga aku akan melenyapkannya. Camkan itu!" bebernya mengancam.
Setelah mengatakan hal demikian wanita itu pergi meninggalkan pria yang menatapnya dengan penuh kebencian.
Sementara itu, di perusahaan Aditya mereka sibuk membicarakan tentang kembalinya pemimpin mereka.
"Eh, aku enggak nyangka ya, Pak Adit udah sembuh. Dan selama lima tahun kita enggak pernah liat sosoknya dia tambah cakep guys, aku sampe meleleh, nih," ucap salah satu karyawan wanita seraya mengibaskan tangannya di depan wajah. Seperti ada ilusi bunga-bunga di kepala wanita itu.
"Iya, aku relah jadi kacung Pak Aditya supaya bisa liat mukanya tiap hari," timpal karyawan satunya dengan wajah merona.
"Ehkem." Deheman seorang pria yang tak kalah tampan dari Aditya membuat mereka bungkam dan berhenti bergosip.
"Sebaiknya kerjakan tugas kalian, jika kalian masih ingin betah kerja di sini," ujar pria itu yang bernama lengkap Avireza Diwangga yang kerap di sapa Erza.
Mereka hanya mengangguk dan kembali mengerjakan pekerjaan mereka.
"Hello, Bro apa kabar," sapa Erza ketika masuk di ruang CEO.
"Begitulah," jawab Aditya masih fokus pada layar laptop di depannya.
"Eh, para karyawan cewek membicarakanmu mereka bilang kamu makin cakep," beber Erza sembari tersenyum menggoda.
"Oh, jelas 'kan aku enggak pernah gak ganteng," timpal Aditya bangga dan bangkit dari tempatnya duduk seraya menghampiri Erza. Erza sangat menyesal karena telah menceritakan hal yang ia dengar. Karena ternyata Aditya sangatlah narsis. Dia melupakan satu fakta itu.
"Lupain yang aku omongin, bye the way calon istri kamu gimana, cantik gak?" tanya Erza penasaran.
"Iya, cantik, baik, dan sangat tangguh," jawab Aditya seraya menerawang.
"Wah, beruntung ya kamu dapet cewek kayak dia, siapa namanya?" tanya Erza walaupun dia yang mencari informasi tentang calon istri sahabatnya itu dia lupa siapa namanya.
"Yasmin," jawab Aditya singkat.
Erza hanya mengangguk. Setelah itu perbincangan mereka diisi tentang bisnis dan perkembangan perusahaan.
"Dit, apa aku harus suap stasiun TV yang bakal nyorot berita tentangmu?" tanya Erza.
"Enggak perlu, malah bagus kalau dunia udah tahu kalau aku sudah kembali," jawab Aditya.
Ya, seperti yang Erza bilang stasiun TV ramai membicarakan kembalinya sang pengusaha sukses Indonesia. Pengusaha muda Indonesia telah kembali setelah insiden kecelakaan lima tahun lalu yang hampir merenggut nyawa presdir itu.
Begitulah hot news yang tersebar ke pelosok negeri. Banyak yang memperbincangkan wajah tampan sang CEO muda itu.
Seperti halnya Hera sahabat Yasmin yang membicarakan tentang seberapa tampan CEO itu sekarang.
"Ya, Tuhan aku meleleh lho, liat Pak Aditya. Enggak nyangka kalau dia bakal sembuh dari cacatnya," papar Hera dengan fantasi bunga-bunga di kepalanya.
"Gantengan juga aku kemana-mana," cetus Frans membuyarkan fantasi Hera.
Mereka saat ini berada di restoran milik Yasmin-- Sushi Me
"Udah ah, masa bicarain orang terus, sih," sela Yasmin melerai perdebatan mereka.
"Hera tuh, lagi pun kalau kamu muji Pak Aditya, dia mau sama kamu? Enggak 'kan," cibir Frans sangat pedas.
"Kamu kenapa sih Frans, rese banget," ucap Hera ketus.
Tiba-tiba bunyi pada telepon Yasmin menghentikan perdebatan mereka.
Nama Bunda Lalita terpampang di layar ponsel Yasmin. Yasmin ijin untuk menerima telepon yang diangguki oleh kedua sahabatnya.
"Helo, assalamualaikum Bun," salam Yasmin.
'[Wa'alaikumsalam sayang, kamu pulang gih ke rumah Bunda, soalnya entar malam acara Kakak kamu, kamu harus Bunda dandangi supaya cantik,] ucap Lalita di seberang sana.
"Eum, ya Bun, Yasmin pamit sama temen-temen Yasmin dulu, assalamu'alaikum Bunda," balas Yasmin setelah mendengar jawaban salam dari bunda Lalita-- Yasmin pun kembali pada meja mereka.
"Kenapa Yas?" tanya Hera saat melihat Yasmin sudah duduk di tempatnya tadi.
"Bundaku nyuruh balik, soalnya entar malam acara Kak Elis, aku deluan ya, biar makanan ini aku yang bayar. Enggak ada penolakan, assalamualaikum," tutur Yasmin kemudian berlalu menuju kasir setelah mendapat jawaban dari sahabatnya itu.
"Eh, kamu enggak ngerasa heran sama Yasmin akhir-akhir ini?" tanya Frans seraya berbalik menatap Hera yang asik dengan minumannya.
"Enggak tuh, dia biasa aja, emang kenapa?" tanya Hera seraya menyeruput jus alpukatnya.
"Enggak, heran aja gitu, dia udah suka senyum dan dia tuh agak beda gitu auranya," ucap Frans menyuarakan apa yang ia pikirkan.
"Kamu ngomong apa sih, bangus dong, kalau sahabat kita udah enggak murung lagi, kamu gimana, sih?" tanya Hera bingung dengan sikap Frans.
Frans hanya mengedikkan bahu tanda tidak mengerti dan memperhatikan Yasmin yang sedang membayar pesanan mereka. Sebenarnya hanya alibi Yasmin ingin membayar. Karena restoran itu adalah miliknya jadi dia hanya pura-pura membayar.
* * *
Di sebuah gedung nan mewah tempat acara berlangsung dengan ekslusif para pengejar berita telah stand by dari pagi hanya untuk menantikan acara tersebut. Gedung itu telah didekor sedemikian rupa. Makanan tertata rapi, pelaminan dengan nuansa putih abu-abu itu sangat elegan. Tamu mulai berdatangan walaupun acara belum di mulai. Terbilang dari kalangan menengah ke atas yang menghadiri acara itu. Dari kolega-kolega Aryo dan Marcel memenuhi gedung itu.
Di lain sisi, di sebuah rumah megah terlihat seorang gadis cantik yang baru selesai didandangi. Gadis itu-- Yasmin-- memakai gaun berwarna biru laut dengan akses taburan pertama di dadanya. Yasmin malam ini bak seorang pengantin walaupun bukan ia pengantinnya.
"Selesai, wah Nona Yasmin sangat cantik ya, mirip seperti Barbie," ucap seorang pria setengah wanita dengan logat yang dibuat- buat dia adalah tata rias langganan Bunda Lalita karena hasil riasannya sangatlah cantik.
Yasmin perlahan membuka mata indahnya. Tak perlu bulu mata palsu untuk memperindah matanya, karena Yasmin mempunyai bulu mata yang lebat membingkai bola matanya yang bulat. Benar apa yang perias itu katakan Yasmin seperti seorang barbie dengan make-up yang natural tidak berlebihan sangat mempercantik wajahnya. Rambut Yasmin ditata sedemikian rupa hingga memperlihatkan leher jenjangnya di tambah seset perhiasan yang makin mempercantik dandanan Yasmin malam ini, dia benar-benar menjadi putri raja dalam semalam.
Yasmin sampai tidak bisa berkata-kata. 'Apa ini tidak berlebihan? Dan benar dia seperti putri raja, bukan dia yang mau menikah tapi dandanannya sangat, Wow,' pikir Yasmin dalam hati.
"Udah selesai Mar?" tanya seorang wanita yang tiba-tiba masuk dia adalah bunda Lalita.
"Udah Bun, nih Nona Yasmin sangat cantik mirip seperti Putri Cinderella," jawab Maria si perias dengan berlebihan.
"Enggak kok, Bun, Yasmim biasa aja," jawab Yasmin seraya bangkit dan menghampiri Lalita.
Lalita juga sampai tertegun melihat kecantikan Yasmin yang malam ini terlihat seperti barbie hidup. Matanya yang bulat dan berair serta bibir yang mungil berwarna pink.
"Enggak, Sayang, Maria bener, kamu seperti Barbie malam ini, ah Bunda makin bangga punya anak cantik kayak kamu, Sayang," ujar bunda Lalita membenarkan seraya menarik Yasmin ke dalam pelukannya. Setelah mengurai pelukan singkat itu, Lalita berterima kasih kepada Maria dan berlalu turun ke ruang keluarga. Di sana di ruang keluarga Aditya dan Wisnu tampak berbincang ada satu pria yang tidak Yasmin kenali siapa namanya. Mereka tampak berbincang ria tentang perkembangan perusahaan.
Saat mendengar dentuman hieels dari arah lantai dua. Mereka langsung mengarahkan pandangannya ke arah tangga.
Aditya sampai terpesona menatap kecantikan Yasmin yang alami.
Aditya juga sangat tampan dengan setelah tuxedo senada dengan gaun yang Yasmin kenakan. Pria di sebelah Aditya yang tak bukan adalah Erza membuka mulut sangking kagumnya.
"Wah, anak Papa cantiknya, udah siap, Sayang?" tanya Wisnu seraya tersenyum lembut.
"Iya Pa," jawab Yasmin gugup karena kedua pria itu menatapnya dengan pandangan yang berbeda.
"Ehem," Aditya berdehem dan menyadarkan Erza dari keterkagumannya.
"Wah, ini siapa Tante?" tanya Erza seraya tersenyum ke arah Yasmin.
"Calon istri Aditya, Sayang," jawab Bunda Lalita sambil terkekeh.
'Oh, jadi ini gadis yang Aditya suruh cari tahu, aku enggak nyangka dia cantik banget aslinya. Aditya sangat beruntung.' Erza berucap dalam hati penuh kagum.
"Ayo kita pergi," ajak Aditya menyadarkan mereka.
"Eh, Iya, udah mau larut nih, nanti kita ketinggalan pestanya," ucap Bunda Lalita seraya menarik tangan Yasmin keluar rumah.
Saat ini Yasmin satu mobil dengan Aditya sedangkan Wisnu, Lalita dan Erza satu mobil. Lalita yang menyuruh Aditya satu mobil dengan Yasmin, Yasmin sempat menolak. Akan tetapi, Lalita dengan berbagai cara meyakinkan Yasmin.
Kebersamaan mereka hanya diisi oleh keheningan-- hanya alunan musik yang mewarnai keheningan itu.
"Mas Adit udah baikan?" tanya Yasmin memecah keheningan. Karena sesungguhnya Yasmin sangat benci dengan situasi seperti ini.
"Hm," jawab Aditya yang fokus menyetir.
__ADS_1
"Baguslah," timpal Yasmin sekenanya.
Setelah perbincangan singkat tadi mereka jatuh kembali dalam keheningan.
Sampai bunyi telepon Yasmin menghancurkan keheningan tersebut.
Nama Frans terpampang lebar di layar ponsel Yasmin.
"Hello, assalamualaikum," salam Yasmin.
[Waalaikumsalam, kamu di mana, Yas? Kita udah ada di pesta Kak Elis,]
"Bentar lagi aku sampe, Frans," balas Yasmin menyebutkan nama Frans yang sukses menyita perhatian Aditya.
[Oh, ok. Kamu hati-hati, ya. Assalamu'alaikum.]
"Wa'alaikumsalam," jawab Yasmin setelah itu memutuskan sambungan telepon.
Ingin rasanya Aditya bertanya siapa Frans itu. Namun, egonya terlalu mendominasi jadi dia urunkan.
Di lain sisi di waktu yang sama.
"Gimana? Yasmin di mana?" tanya seorang wanita cantik-- Hera.
"Dia lagi di perjalanan," jawab Frans singkat.
"O," balas Hera seadanya.
* * *
Di luar gedung tempat acara itu berlangsung sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang masuk. Acara itu di kawal oleh pria berbaju hitam lengkap untuk mengamankan lokasi dari para pengejar berita.
Wisnu dan Lalita keluar dari mobil mewah itu di susul oleh Erza. Kamera langsung saja menyorot mereka dan mengambil gambar dari pasangan bahagia itu. Tak berselang lama, mobil berwarna hitam mengkilap berhenti di depan karpet merah. Tempat para tamu untuk menuju ke tempat acara.
Aditya keluar dari mobil itu disambut dengan senyuman Lalita dan Wisnu serta kilatan blis camera yang mengambil gambar mereka. Seakan tak percaya jika pria itu adalah pengusaha sukses nomer satu di Indonesia telah kembali dari masa break selama lima tahun untuk memulihkan kelumpuhannya.
Semua orang di buat terkagum-kagum karena ketampanan Aditya sampai ada seorang gadis mimisan karena melihat ketampanan Aditya.
Aditya memutari mobilnya dan membuka pintu samping kemudi. Ketika Aditya membuka pintu itu sorot camera langsung mengarah ke pintu tersebut, blish camera seakan menghujami seseorang yang akan keluar dari mobil tersebut.
Aditya tampak mengulurkan tangannya untuk diraih oleh orang itu. Seketika tempat itu jatuh dalam kehiningan. Di sana di gandengan Aditya seorang gadis cantik bak seorang barbie hidup tersenyum ke arah Aditya, gaun yang mengembang yang ia kenakan membuatnya makin mirip dengan seorang barbie hidup.
Wisnu dan Lalita menunggu mereka untuk berjalan masuk bersama-sama. Saat mereka telah berjalan suasana kembali ramai mereka dibuat heboh. Karena gadis yang dikira sangat jelek dan tidak berbakat itu tampil cantik di depan publik membungkam semua mulut kotor yang pernah menghinanya.
"Pasti besok akan heboh," gumam Yasmin pelan nyaris tidak terdengar. Namun, Aditya mendengarnya.
"Ayo, Sayang kita masuk." Mereka masuk ke gedung tempat acara utama berlangsung.
Di atas pelaminan Elis nampak cantik dengan gaun putih gadingya lengkap dengan aksen mahkota di kepalanya. Marcel mengenakan tuxedo yang senada dengan Elis dengan perpaduan celana bahan yang senada pula.
Gedung yang begitu megah yang diisi oleh para pebisnis dan orang yang berstatus sosial tinggi.
Ketika Wisnu sekeluarga masuk ke gedung tempat acara itu berlangsung, semua mata menatap ke arah mereka. Lebih tepatnya ke arah Aditya dan Yasmin.
Semua menutup mulut terkejut tidak menyangka jika berita tentang kesembuhan CEO muda itu benar. Dan mereka bertanya siapa gadis cantik yang bersama mereka. Berbagai bisik-bisik mulai terdengar. Mereka berfikir bahwa wanita itu adalah kekasih dari Aditya.
"Huft." Yasmin menghela napas gugup. Tangannya masih digenggam erat oleh Aditya, dia sudah mencoba untuk melepas. akan tetapi, Aditya tidak mau melepaskannya.
"Tenang saja, cukup tersenyum," ujar Aditya yang hanya didengar oleh Yasmin.
Sedangkan Wisnu, Lalita dan Erza telah berbaur dengan tamu undangan lainnya.
"Ck, kenapa jalang itu begitu cantik," ujar seorang tidak suka dengan kehadiran Yasmin
'Siapa yang bersama dengan Yasmin itu apa dia kekasihnya? Argh, kenapa pelacur itu begitu beruntung dan pria itu begitu tampan seharusnya aku yang di sana,' guman Elis dalam hati menatap benci pada Yasmin.
Marcel juga tidak percaya jika gadis buruk rupa itu telah berubah menjadi gadis cantik. Marcel menatap mereka dengan intens tanpa berkedip. Sampai tepukan pada punggungnya meyadarkan lamunan Marcel.
"Kenapa, Sayang?" tanya Marcel pada istrinya.
"Aku minta tissue, hidungku berdarah," pinta Elis menutup sersya hidungnya.
Marcel dengan sigap memberikan selembar tissue untuk menghambat dara yang keluar dari hidung Elis.
'Sial, kenapa dia begitu tampan, aku sampai mimisan karenanya,' ucap Elis dalam hati seraya menyumbat hidungnya dengan tissue.
"Kita ke sana, kamu pasti ingin duduk," ajak Aditya seraya menarik tangan Yasmin lembut.
Yasmin hanya mengangguk sebagai jawaban. Saat Aditya meninggalkan Yasmin karena ingin menemui rekan bisnisnya, tiba-tiba Laras menghampiri Yasmin.
"Dasar jalang kecil, kamu jangan coba-coba untuk merayu Marcel dengan berdandan bak putri raja, karena kamu hanya putri sampah," desis Laras tajam setelah itu berlalu dari hadapan Yasmin.
"Kenapa kamu tidak mengatakan jika putrimu akan menikah dengan putra dari Wisnu dan Lalita," bisik Laras tajam kepada Aryo.
"Sudahlah, ini acara putri kita, ka?u tidak akan merusaknya 'kan,’ tutur Aryo dan berlalu dari hadapan Laras yang menatapnya tajam.
"Baiklah hadirin sekalian, malam ini adalah acara yang sangat spektakuler karena pesta pernikahan dari CEO muda Marcel dan putri dari salah satu pengusaha kaya di negara kita yaitu Tuan Prayoga," ujar seorang MC bersemangat diringi tepuk tangan meriah para tamu.
Semua tamu undangan mulai memberikan selamat kepada pengantin baru tersebut. Dan ada juga yang langsung menyantap hidangkan yang disiapkan
Seraya berbincang-bincang dengan colega bisnis mereka.
Seperti halnya Yasmin yang menikmati hidangan tersebut tiba-tiba sahabatnya datang menghampiri. "OMG! Yas, aku enggak percaya kalau ini kamu" Hera berdecak kagum. Kemudian Hera duduk di depan Yasmin yang asik memakan kudapan.
"Biasa aja kali, enggak usah lebay," jawab Yasmin seraya memutar bola matanya jengah atas tingkah Hera yang agak berlebihan.
"Gila, kamu jalan sama Pak Aditya, emang kalian ada hubungan apa?" tanya Hera merasa takjub akan sahabatnya. Dia tidak menggubris ucapan Sahabatnya itu.
"Iya, kayaknya kalian dekat banget?" Frans ikut menambahkan.
"Dia anak Bunda Lalita, kebetulan dia mau pergi pesta Kak Elis, ya sekalian aja deh," jawab Yasmin sekenanya, karena begitulah kenyataannya mereka tidak ada hubungan yang spesial.
"Oh," jawab mereka serempak.
"Tapi, serius Yas, kamu cantik banget malam ini seperti Barbie hidup tambah gaun kamu warnanya biru laut seperti gaun Cinderella," puji Hera masih mengangumi gaun yang Yasmin kenakan.
"Kamu juga cantik kali Ra, enggak usah berlebihan," sanggah Yasmin seraya menatap kedua sahabatnya itu.
"Bener yang Hera bilang kamu cantik banget Yas, aku sampai jatuh cinta sama kamu, kalau kamu mau aku siap jadi pacar kamu," cetus Frans tanpa sadar.
Uhuk! uhuk!
Yasmin langsung tersedak kue yang ia makan dia tidak menyangka Frans akan mengatakan hal demikian. Hera dengan sigap mengambilkan air putih untuk Yasmin.
"Kamu apa-apaan, sih, Frans. Ngeri tahu denger ucapan kamu," decak Hera bergidik ngeri.
"Hahaha, kamu percaya sama aku?" tanya Frans tiba-tiba tertawa. Frans memang tertawa, tapi matanya memancarkan sedikit guratan kesedihan.
"Huft, aku pikir kamu serius, hampir aja aku bawa kamu ke Pak Ustadz, buat dirukiah," tutur Yasmin menghela napas legah, karena dugaannya tidaklah benar.
"Ngacok, kamu Yas, kamu pikir aku kerasukan apa," ujar Frans ketus yang ditanggapi kekehan dari mereka.
'Dasar tidak peka.' Frans merutuki dirinya dalam hati. Karena punya sahabat yang tidak peka-peka.
Saat mereka asik berbincang Aditya datang dan menghampiri Yasmin. Mereka mengernyit akan kehadiran Aditya.
"Ada apa Mas, butuh sesuatu?" tanya Yasmin heran. Karena Aditya tiba-tiba menghampirinya.
"Tidak, aku hanya ingin memperkenalkanmu dengan rekan Bisnisku," jawab Aditya datar tanpa menatap Hera dan Frans.
Hera dan Frans saling pandang heran kenapa Yasmin memanggil Aditya dengan sebutan Mas? Dan kenapa Aditya ingin memperkenalkan Yasmin ke rekan bisnisnya?
"Maksudnya apa ya Pak, Yasmin sahabat kami, kami belum selesai mengobrol dengan dia." Kali ini Frans yang membuka suara.
"Maaf, tapi dia calon istri saya. Jadi hak saya jika ingin membawanya," balas Aditya yang membuat Yasmin, Hera dan Frans kaget setengah mati.
Tamu yang mendengar hal tersebut juga sangat terkejut. Mereka sudah menduga bahwa gadis itu-- Yasmin adalah calon istrinya.
"Tunggu dulu, Mas Aditya salah orang mungkin," sanggah Yasmin membantah ucapan Aditya.
"Kamu pernah diberitahu, kalau kamu akan di jodohkan, bukan?" tanya Aditya datar.
Seketika mata bulat Yasmin melotot tidak percaya. Jadi, dia yang akan jadi suaminya.
Yasmin hanya bungkam sedari tadi dan Aditya langsung menariknya pergi.
Di lain sisi di waktu yang sama.
"Yasmin sudah diberi tahu tentang perihal perjodohan itu?" tanya Aryo.
"Belum, dia belum mengetahuinya," jawab Wisnu singkat. Aryo hanya menatap penuh arti pada pria yang akan menjadi besannya itu. Mereka harus bermain cantik agar tidak membuat wanita itu curiga. Wisnu sudah mengetahui semuanya, Aryo menceritakan semua yang terjadi karena menurutnya Wisnu dapat dipercaya dan akan melindungi putri semata wayangnya itu.
Aditya mengajak Yasmin untuk bertemu rekan bisnisnya dan memperkenalkan Yasmin sebagai calon istrinya. Walaupun Yasmin masih bingung dia tetap mencoba tersenyum.
Aditya juga membawa Yasmin menemui Lalita dan teman sosialitanya.
"Ma, sebaiknya kita memberi selamat kepada pengantin," usul Aditya datar.
"Eh, iya, tunggu sebentar, Jeng. Ini anak saya Yasmin dia calon istri putra semata wayang saya," ujar Lalita memperkenalkan Yasmin kepada teman sosialitanya.
"Wah, cantik ya Jeng, saya enggak nyangka putri kandung dari Pak Prayoga sangat cantik, ya Jeng," timpal salah satu teman sosialitanya.
"Iya dong, siapa yang bilang jelek, cantik gini udah kayak Barbie hidup 'kan," balas Lalita bangga.
"Tapi, kudengar dia dulu mantan pacar dari Marcel ya, dia sempat dipermalukan karena hampir merusak hubungan Kakaknya," celetuk salah satu dari mereka yang tidak menyukai Yasmin dan lebih menyukai Laras dan juga Elis.
"Itu dulu, karena waktu itu saya sangat bodoh, karena tidak bisa membedakan mana barang unlimited edition dan barang murah," cetus Yasmin santai. Dia tidak suka jika orang mengungkit tentang dirinya dan Marcel.
Seketika wanita itu bungkam karena ucapan Yasmin yang kelewat santai. Lalita yang menyadari kecanggungan itu. Ijin pamit untuk memberi selamat pada sang pengantin baru.
Di atas pelaminan, Elis menatap Yasmin penuh kebencian karena Marcel mulai melirik kearahnya lagi di tambah pria tampan yang bersamanya membuat Elis makin benci pada Yasmin.
"Selamat buat kamu ya, Sayang," ujar Lalita memberi selamat.
"Makasih Tante," jawab Elis tersenyum hangat. Seraya cipika-cipiki dengan Elis. Wisnu hanya menjabat tangan Marcel ramah alah seorang pengusaha. Begitupulah Aditya dia tidak terlalu beramah-tamah dengan Marcel maupun Elis.
"Selamat Kak," ucap Yasmin tulus.
"Makasih," jawab Elis dengan senyuman yang dipaksakan menjaga image di depan publik dan juga di depan Aditya.
Saat Yasmin hendak menjabat tangan Marcel sebagai ucapan selamat Aditya langsung menariknya turun.
__ADS_1
Wisnu dan Lalita hanya tersenyum melihat tingkah putra mereka. Sedangkan Marcel dan Elis terbakar api cemburu. Seharusnya mereka bahagia di hari bahagia mereka bukan cemburu atas pasangan lainnya.
bersambung.... duh capek banget nulis 5k kata lebih. Rate bintang 5 ya and don't forget to coment and like. Thanks. 😌🙏