Grisella Story [Revisi ]

Grisella Story [Revisi ]
part 15


__ADS_3

Suara riuh memenuhi sebuah ruangan luas di mana banyak masiswa yang bertepuk tangan. Di sana di atas podium seorang gadis cantik telah selesai melakukan pidato singkatnya. Siapa lagi jika bukan gadis yang selalu dikatakan sampah dan jelek ternyata gadis yang sangat cerdas dan juga memiliki paras yang cantik.


Seorang wanita menatapnya benci bagaimana tidak dia kira gadis itu bodoh, sampah masyarakat, dan juga tidak berbakat. Apanya sekarang yang tidak berbakat? Malah dia tidak mendapat penghargaan apa pun.


"Sabar Sayang, kita akan membuat perhitungan padanya," ucap seorang wanita menyeringai seraya menatap gadis


yang berdiri tersenyum di atas podium yang sedang diberi selamat oleh dosen dan juga rektor.


"Iya Ma, Mama harus buat perhitungan sama gadis itu, jika bisa Mama harus kirim dia ke neraka," timpal gadis itu yang tak bukan Yelistia Larasati Prayoga dan juga Laras ibunya.


"Asalkan tidak menggangu perusahaanku, paham kalian," celetuk sebuah suara tiba-tiba.


"Iya Nak, perusahaanmu pasti aman dan kamu juga harus bermain, buat si brengsek Aditya kalah," jawab Laras menyeringai.


"Itu pasti Ma, sudah lama tanganku gatal untuk menghancurkan perusahaan Aditya," balas pria itu Marcel.


Tanpa mereka sadari tenyata Erza ada di belakang mereka. Erza hanya menyeringai tipis dan pergi meninggalkan mereka.


Sementara itu, di tempat Yasmin teman-temannya sibuk untuk memberinya selamat atas prestasinya yang lulus dengan predikat cumlaude.


"Cieh yang jadi sarjana muda, kok kamu pinter banget sih, Yas," tandas Ziah tiba-tiba setelah dirasa semua teman-teman Yasmin pergi.


"Biasa aja kali, tuh temen ku juga sarjana muda." Runjuk Yasmin pada dua sahabatnya yang sedang berbincang riah dengan keluarga masing-masing.


"Tapi, tetep aja kamu lebih muda. Umur mu masih 20 tahun dan baru 2 hari kedepan umur mu 21 tahun dan kamu udah sarja, bukannya itu luar biasa," pekik Ziah senang sampai mereka jadi sorotan.


Semua orang memang membenarkan jika anak dari keluarga Prayogo itu sangat cerdas mereka dulu yang suka mencacinya menjadi tidak enak hati.


"Bener tu Yas," celetuk sahabat Yasmin Hera tiba-tiba datang di tengah-tengah mereka begitu pula dengan Frans.


"Selamat ya, Yas," ucap Frans memberi selamat.


"Ya, kamu juga," balas Yasmin tersenyum manis.


"Selamat ya, Bebz," tutur Hera lalu memeluk Yasmin hangat.


"Kalian juga," imbuh Yasmin dan mengurai peluka mereka.


"Yas, kalau gitu kita cabut dulu ya, mau kumpul sama keluarga masing-masing," pamit Hera dan di angguki oleh Frans.


"Oh, iya, tapi kenalin dulu ini sepupuku dari Jerman," balas Yasmin memperkenalkan Ziah.


"Oh, hy Hera, Frans, aku Ziah," sapa Ziah menyalami mereka dengan senang.


"Hy juga Ziah, kita cabut dulu ya," balas mereka yang diangguki oleh Ziah dan Yasmin.


Tak berapa lama keluarga Yasmin datang juga menemui mereka. "Selamat ya, Sayang," ucap Aryo memeluk putri kecilnya.


"Ya, Ayah makasih," jawab Yasmin tersenyum haru.


"Selamat Sayang, cieh yang lusa udah ubah status," ejek tante Indah terkekeh diikuti oleh yang lainnya.


"Ih, Tante, tapi makasi ya," ujar Yasmin tersenyum simpul.


"Selamat ya Nak," kta om Gibran.


"Iya Om, makasih," jawab Yasmin tersenyum hangat.


"Selamat ya Sayang, anak Bunda yang bentar lagi jadi mantu, udah lulus jadi sarjana muda lagi," puji Lalita yang tiba-tiba datang dan merengkuh tubuh Yasmin.


"Makasih Bunda, Yasmin kangen Bundah," balas Yasmin terharu.


"Iya, Sayang, Bunda juga kangen," timpal Lalita dan melepas pelukannya.


"Selamat juga ya Sayang, ini hadiah kecil dari Papa Wisnu," tutur Wisnu lalu memasangkan sebuah kalung di leher Yasmin. Semua orang lagi-lagi riuh karena itu salah satu kalung termahal di dunia dan hanya orang yang berkantung teballah yang bisa membelinya.


"Makasih Pa, ini cantik sekali, Yasmin suka," balas Yasmin sangat berterima kasih.


Wisnu hanya mengangguk dan tersenyum kemudian bergabung untuk berbincang ringan sembari menunggu sang anak.


Pandangan Yasmin seperti mencari seseorang. Namun, sepertinya orang itu tak ada. Ziah yang menyadari perubahan raut wajah Yasmin lantas berucap, "Cieh, yang nunggu calon suami masa depan, hihi," celetuk Ziah yang menarik perhatian dari mereka.


"Apaan sih Zi," elak Yasmin.


"Enggak usah ngelak deh, berbalik gih siapa tuh di belakang kamu," pinta Ziah masih tersenyum dan keluarga Yasmin hanya tersenyum melihat mereka.


Yasmin berbalik dan di depannya dengan jarak tidak lebih 1 meter sosok tampan tengah berdiri. Pria itu tersenyum ke arah Yasmin dengan sebuket bunga di tangannya.


"Mas Aditya," guman Yasmin dengan mata yang berkaca-kaca.


"Iya, Sayang," jawab Aditya lalu mendekat ke arah Yasmin dan mengucapkan kata selamat dan mencium pipi Yasmin sontak saja mata Yasmin membulat karena mereka berada di keramaian dan Aditya tidak memperdulikannya.


Suarah riuh dari orang-orang yang menyadari ke datangan pengusaha sukses Indonesia itu langsung saja heboh dan mereka melihat live kiss walaupun hanya di pipi sudah ada yang pingsan karena sang pujaan hati ternyata telah memiliki tambatan hati.


"Mas Adit," ujar Yasmin cemberut karena mereka jadi tontonan sedangkan keluarganya hanya terkekeh termasuk Ziah yang mati-matian menahan tawa karena Yasmin sangat mengemaskan.


"Apa Sayang?" tanya Aditya tersenyum kemudian berlutut di hadapan Yasmin yang membuat gadis itu terkesiap karena pergerakan spontan dari Aditya. Begitu pula dengan semua orang sudah ada yang merekam adegan itu jika pemikiran mereka benar, maka CEO tampan itu akan melamar gadis cantik yang ada di hadapannya.


"Mas Aditya, bangun Mas mau apa!" perintah Yasmin. Namun, tidak diindahkan oleh Aditya.


"Yasmin Putri Prayogo maukah kamu menikah denganku, walaupun pernikahan kita tinggal beberapa hari lagi. Namun, aku ingin melamarmu secara resmi di hadapan semua orang yang ada di sini dan memberitahu bahwa kamu adalah calon istriku, maaf karena aku tidak seperti pria lain yang bersikap romantis setiap saat dan selalu mengeluarkan kata-kata yang puitis. Akan tetapi, aku berjanji akan mencintaimu dan membahagiakanmu dengan caraku sendiri, aku tahu, aku hanyalah seorang pria biasa yang masih banyak kekurangan, tapi maukah kamu menutupi kekurangan itu? Kita bersama-sama membangun sebuah keluarga kecil, maukah kamu jadi ratu masa depanku serta Ibu dari anak-anak kita nanti?" ungkap Aditya panjang lebar. Oh! Ini adalah kalimat kedua yang paling panjang yang pernah Aditya keluarkan.


"Mas Adit." Suara gadis itu tercekat air mata telah membasahi wajah cantiknya.


"Kenapa nangis, Sayang, aku salahya?" tanya Aditya masih di posisi yang sama.


"Bangun Mas, Yasmin terima lamaran Mas Adit, Mas Aditya enggak salah Yasmin cuman terharu," jawab Yasmin lalu membantu Aditya bangkit dan memeluknya erat.


'Aku harus sembuh, aku enggak mau ninggalin kamu Mas, aku udah terlalu jauh jatuh pada dirimu,' batin Yasmin saat berada di dalam dekapan Aditya.


Prok! Prok! Prok!


Suara riuh tepuk tangan mengemah di semua penjuru halaman kampus. Bagaimana tidak seorang CEO dingin melamar seorang gadis di hadapan mereka semua. Sebuah tindakan yang sangat gentle.

__ADS_1


"Udah dulu pelukannya sekarang kita ke restoran buat rayain kelulusan Yasmin dan juga rayain atas keberanian Aditya," celetuk Erza semangat yang diangguki oleh semuanya.


"Erza, aku mau juga nanti kamu lamar aku kek gitu, tapi lebih romantis dari Aditya," cetus Ziah yang masih dapat didengar oleh orang tuanya.


"Ya, Sayang pasti, tapi kita tunggu mereka nikah dulu baru kita nikah, ok," jawab Erza.


"Ok," ucap Ziah tersenyum.


Orang tua mereka hanya tersenyum senang akhirnya putri mereka d jaga oleh orang yang bertanggung jawab.


Dua mobil BMW keluaran terbaru berhenti di hadapan mereka dan mereka masuk di mobil masing-masing menuju restoran yang sudah diboking oleh Erza untuk acara keluarga.


* * *


Menjelang hari pernikahan. Aditya dan Yasmin sudah jarang bertemu bahkan sudah tidak bertemu setelah mereka melakukan foto prewedding sehari sebelum pernikahan mereka dan lokasi yang dipilih adalah taman di mana pertama kali mereka ketemu.


Segala sesuatu telah selesai disiapkan oleh orang tua mereka. Gedung berbintang tempat acara tersebut berlangsung, pelaminan di dekor berwarna blue-golf warna kesukaan Yasmin dan Aditya. Di sekitar area gedung banyak sekali pria berpakaian serba hitam yang menjaga lokasi tersebut bahkan ada juga dari pihak safari yang ikut menjaga ke langsungan pernikahan tersebut takut nantinya ada yang salah dalam pernikahan itu.


Pernikahan mereka yang bertepatan dengan hari ulang tahun mempelai wanita yakni 19 maret 2020 yang hanya beda dua hari dengan sang mempelai pria 21 maret. Berbagai persiapan mereka persiapkan dengan baik karena yang akan menikah adalah putri tunggal dari keluarga Prayoga salah satu pengusaha tersukses di Indonesia yang bersanding dengan CEO muda yang merajai dunia bisnis.


Di sebuah kamar serbah putih seorang gadis berpakaian pengantin berwarna putih di rias ala pengantin Korea, baju berwarna putih menjuntai ke lantai dengan aksen butiran permata di bagian depan. Rambut gadis itu yang sudah berubah status menjadi seorang istri di model sedemikian rupah sertah seset perhiasan makin mempercantik gadis itu. Dan sentuhan terakhir tiara kecil dipasangkan di kepalanya.


"Wow, Anda sangat cantik Nyonya, wajah Anda sudah cantik tanpa make-up dan sekarang sudah dimake-up seperti bukan diri Anda sebelumnya, Anda seperti Putri," puji perias itu takjub.


"Terima kasih," balas gadis itu seraya tersenyum lembut.


"Sama-sama," jawab itu balas tersenyum.


Tok! Tok! Tok!


Pintu kamar itu diketuk. Di sana di daun pintu berdiri seorang pria paruh baya berbaju formal menatap sang putri dengan tersenyum lembut.


"Oh, Ayah, masuk Yah, aku udah selesai di rias," pinta Yasmin memanggil sang ayah.


"Kalau begitu saya undur diri Tuan," pamit perias itu memberikan privasi kepada ayah dan anak itu yang di balas anggukan oleh Aryo


Sepeninggal perias itu Aryo langsung duduk di sisi tempat tidur tempat di mana Yasmin terduduk. Di antara mereka belum ada yang membuka suara selama dua menit hanya diisi oleh keheningan yang semu.


"Ayah," panggil suara nan lembut dan menyenangkan untuk didengar berkaur di telinga Aryo.


"Ya Nak?" jawab Aryo.


"Ayah, kalau mau bicara, bicara aja Yasmin dengerin kok," tambah Yasmin masih tersenyum.


"Maaf Sayang, maafin Ayah," tutur Aryo mengeluarkan suaranya yang terdengar parau matanya sudah berkaca-kaca menatap putri kecilnya.


"Ayah kenapa minta maaf, Yasmin udah maafin Ayah kok, jauh sebelum Ayah minta maaf, aku seneng Yah, akhirnya sekarang aku udah bisa rasain kasih Sayang Ayah dan kebahagiaan ini walaupun hanya sebentar," balas Yasmin dengan suara sedikit bergetar. Air mata telah menggenang di pelupuk mata Yasmin yang kapan saja siap tumpah membasahi pipi mulusnya yang telah dibaluk make-up natural.


"Iya Sayang, Ayah akan selalu sayangi kamu, pasti Bunda kamu di sana senang karena putri tercintanya sudah mau berumah tangga, tapi apa maksud kamu Sayang hanya sebentar? Ayah akan selalu Sayang Yasmin kok, walaupun Yasmin udah nikah dan tanggungjawab sepenuhnya Ayah serahkan kepada suami kamu, kamu akan tetap menjadi putri kecil Ayah," tandas Aryo merengkuh tubuh putri kecilnya yang sangat rapuh dia bingung apa maksud dari kata ambigu dari putrinya itu.


"Yasmin percaya kok, Yah, enggak pa-pa, maksud Yasmin sebentar karena Yasmin udah mau berumah tangga dan pasti jarang ketemu Ayah," jawab Yasmin ngeles.


"Seperti yang Ayah bilang tadi, Sayang. Di mana pun kamu! Ayah akan tetep sayang sama kamu," cetus Aryo masih merengkuh tubuh putrinya.


"Udah, ayo kita turun suami kamu udah nunggu di bawah," ajak Aryo membantu putri kecilnya berdiri dan tak lama pintu itu dibuka dan muncullah Ziah yang tersenyum cemerlang membantu Yasmin turun. Di sebelah kanan Yasmin digandeng oleh Aryo dan di sebelah kiri Yasmin digandeng oleh Ziah. Gadis itu juga nampak cantik dengan gaun biru langit senada dengan dekorasi pengantin malam itu. Suara riuh tepuk tangan mengiringi langkah Yasmin tepat di depan pelaminan. Namun, Aditya belum ada di sana Yasmin sibuk mencari menggunakan matanya. Namun, tetap tidak melihatnya.


Semua orang terkagum dengan kecantikan alami putri Aryo Prayogo itu. Dia seperti dewi yang turun dari langit yang dipersiapkan hanya untuk Aditya.


Tiba-tiba lampu padam. Tamu yang tidak tahu menahu apa yang terjadi sempat riuh. Namun, sebuah lampu sorot menyoroti seorang pria yang mengenakan tuxedo berwarna hitam dengan dalam putih lengkap dengan dasi kupu-kupunya di padukan dengan celana bahan membuat setiap gadis di pesta itu memekik tertahan melihat penampilan sang mempelai pria.


Di sana ia menatap lurus pada seorang gadis yang memakai gaun putih yang menjuntai ke lantai juga disorot oleh lampu tidak ada lagi blish kamera yang berkilatan dunia seakan milik mereka berdua. Setelah itu, terdengar alunan piano mengalun merdu di setiap penjuru ruangan. Lalu, sebuah suara yang sangat merdu berkaur di telinga setiap tamu yang datang. Mereka seperti dihipnotis oleh suara piano itu.


Dengarkanlah Wanita pujaanku. Malam ini 'kan kusampaikan, hasrat suci kepadamu dewiku.


Suara merdu milik Aditya mengalun indah di telinga para tamu. Orang tua Aditya tidak menyangka anak mereka akan bersikap seromantis ini di hadapkan semua orang dan itu hanya untuk menantu mereka yang sangat istimewa.


Jangan kau tolak dan buatku hancur. Karena kaulah yang terakhir untukku.


Kini Aditya telah berada di hadapan Yasmin membawa sebuah mikrofon. Jangan tanyakan lagi Yasmin sudah membekab bibirnya agar tidak mengeluarkan isakan.


"Bagaimana sayang kamu suka?" tanya Aditya setelah memberikan mic itu pada seorang pelayan dan lampu telah menyala.


Prok! prok! prok!


Riuh tepuk tangan diberikan untuk penampilan Aditya yang sangat romantis.


"Huwa, harusnya aku yang di sana," pekik salah satu tamu dengan nada nyanyian, karena iri melihat keromantisan mereka. para gadis yang mengikuti pesta itu hanya mengangguk dan hanya mampu gigit jari. Sekelas jenius seperti Yasmin memang layak bersanding dengan seorang CEO ternama di negara mereka. Tanpa mempedulikan omongan para tamu Aditya dan Yasmin berjalan ke arah pelaminan dengan anggun.


Jeprek! Jeprek!


Para pencari berita memfoto semua kejadian yang ada di pesta itu dan yang menjadi sorotan adalah mempelai pengantin kita yang duduk bersama di atas pelaminan. Mereka sesekali berdiri untuk menyalami tamu. Senyum selalu terpatri di wajah mereka.


Saat mereka ingin menyalami tamu yang datang ternyata mereka adalah Elis dan suaminya Marcel. "Selamat ya," ucap Elis ramah. Namun, matanya berkilat tajam. Sedangkan Aditya dia langsung menatap ke dua orang di hadapannya.


'Tunggu dan liat saja siapa yang akan hancur dan di hancurkan,' batin Aditya terseyum licik. Namun, tidak ditunjukkan pada wajah tampangnya yang ada hanya wajah stoic yang ia pasang.


"Makasih Kak, udah mau datang," jawab Yasmin tak kalah ramah. Namun, dia tahu jika kakak tirinya ini tidak tulus. Sepertinya mereka salah mencari lawan, karena Yasmin dan Aditya sangat pandai bermain emosi.


"Selamat Yasmin," tutur Marcel tersenyum dan ingin merengkuh tubuh Yasmin. Namun, Aditya langsung membawa Yasmin ke dalam pelukannya.


"Jangan coba-coba!" peringat Aditya tenang seperti tak terjadi apa-apa. Marcel hanya tersenyum kecut melihat itu. Sejujurnya dia menyesal telah meninggalkan gadis jenius dan cantik seperti Yasmin dia terlalu bodoh dengan memilih kelikir dalam lumpur dan melepaskan berlian yang sangat berharga.


Sepeninggal mereka hanya Yasmin dan Aditya yang bercakap-cakap. Sedangkan tamu sedang menikmati hidangan yang tersaji. Para orang tua mereka hanya tersenyum haru melihat putra-putri mereka yang sudah sah menjadi suami istri. Tiba-tiba lampu kembali padam dan para tamu hanya diam menunggu kejutan apa lagi yang akan di sugukan.


"Mas Aditya, kok lampunya padam?" tanya Yasmin pada Aditya di sampingnya. Namun, Aditya tidak ada di tempatnya duduk. Malah di depan sana sebuah kue ulang tahun berbentuk susun dengan di atasnya ada angka 21. Yasmin lagi-lagi membekab mulutnya tidak percaya dia baru ingat jika hari ini ulang tahunnya dan Aditya mengingat hal itu.


"Happy birthday to you My Wife, happy birthday to you My Wife," nyanyi Aditya dan langsung menjemput Yasmin turun dari pelaminan menuju ke tempat kue ulang tahun tersebut.


Lampu yang telah menyala kembali mempermudahkan Yasmin melihat suasana di pesta itu di mana banyak tamu yang bernyanyi seraya bertepuk tangan.


"Makasih, Sayang," ujar Yasmin lirih seraya mengecup singkat pipi Aditya di depan semua tamu yang membuat semua tamu bersiul menggoda mereka.


"Sama-sama, Sayang," jawab Aditya dan membalas mengecup kening Yasmin membuat tamu lagi-lagi memekik.

__ADS_1


"Ayo dong tiup lilinnya!" teriak Erza. Yasmin hanya tersenyum selesai berharap pada sang Pencipta dia meniup lilin tersebut yang di sambut riuh tepuk tangan dari para tamu. Yasmin memotong kuenya dan potongan pertama diberikan oleh kepada Aryo kemudian Lalita dan juga Wisnu dan terahir dia suapkan pada Aditya.


"Makasih Mas, atas kejutannya," cetus Yasmin seraya menatap sayang Aditya dia seakan ingin memberhentikan waktu saat ini juga dia tidak ingin melupakan moment-moment seperti ini.


"Tidak masalah, Sayang. Asalkan kamu bahagia apapun akan aku lakukan," balas Aditya tersenyum hangat.


"Cieh, dunia berasa milik berdua nih, acaranya belum selesai oih," celetuk Ziah tiba-tiba yang mengundang gelak tawa dari para tamu.


"Apaan si Ze," balas Yasmin dengan pipi bersemu merah.


"Bener tuh, entar aja dilanjutin di kamar, sekarang kita party," timpal Erza dan menyuruh semua orang ke lantai dansa meninggalkan pasangan yang lagi dimabuk cinta.


Mereka berpesta hingga larut malam, bahkan orang tua mereka juga ikut joget santuy hanya Yasmin dan Aditya yang tidak ikut. Mereka hanya jadi penonton setia.


Satu persatu tamu undangan sudah pulang mungkin karena sudah larut atau lelah berjoget? Entahlah!


"Cie, gendong dong, pengantin ceweknya," teriak Erza tiba-tiba saat melihat pasangan baru itu hendak naik ke kamar mereka menggunakan life.


"Ya dong, masa pengantin ceweknya dibiarin jalan sih, ihh enggak gentle," pekik pula Ziah menimpali seraya menggerlingkan matanya.


Sementara itu, pipi Yasmin sudah memerah bak tomat dan menyembunyikan di dibalik punggung tanganya. Tanpa babibu Aditya langsung menggendong Yasmin ala bridal styles.


"Eh!" pekik Yasmin tertahan saat Aditya menggendongnya dan reflek dia langsung mengalunkan kedua tanganya di leher Aditya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang Aditya yang sangat nyaman.


Aditya melangkah menuju kamar mereka yang ada di lantai atas. Rasanya perjalanan mereka seakan seabad lamanya. Sampai Aditya membuka pintu kamarnya menggunakan kaki karena dia menggendong Yasmin. Untung kamar itu tidak di kunci jadi memudahkannya untuk membuka pintu itu.


Aditya menghempas tubuh Yasmin secara perlahan. Namun, tetap menimbulkan sedikit goncangan pada kasur itu sehingga bunga mawar merah yang bertaburan seketika terhambur.


"Kamu mau deluan mandi, apa saya dulu?" tanya Aditya datar.


"Mas duluan saja, aku mau bersihin make-up dulu," jawab Yasmin tanpa menatap Aditya.


Aditya hanya mengangguk sebagai jawaban. Sepeninggal Aditya Yasmin langsung menghela napas karena sedari tadi jantungnya konser di dalam sana.


'Hufft, Yasmin bumi memanggilmu, argh ini pertama kalinya aku satu kamar dengan seorang pria dan parahnya dia suamiku,' ujar Yasmin dalam hati berteriak frustasi. Biasanya, dia tetap tenang jika berhadapan dengan Aditya. Namun, sekarang kenapa pertahanannya mendadak runtuh.


'Oh, My! Ini ‘kan first night kami, huft enggak boleh pikirin Yas, kalau dia minta haknya kasih karena dia 'kan suami kamu,' batin Yasmin bergeluk di dalam sana. Ketika mengingat jika malam ini adalah first night mereka.


"Lebih baik aku bersihkan nih make-up," guman Yasmin dan beranjak ke sebuah meja rias.


Setelah membersihkan make-upnya, Aditya juga telah selesai melakukan ritual mandinya dan mengenakan piama tidur. Buru-buru Yasmin masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Jujur dia sudah sangat lelah bagaimana tidak selama tiga jam berdiri menggunakan highiels setinggi 10 cm meter, membuat betisnya pegal-pegal.


'Hadeuh, kenapa juga nih gaun pake resleting nyusahin banget ya Allah,' ucap Yasmin dalam hati seraya mencoba menggapai res gaun itu.


"Aku nyerah, harus minta tolong sama Mas Aditya, nih," guman Yasmin pasrah terseralah Aditya mau bilang dia manja karena resleting doang enggak bisa dibuka. Sementara itu, Aditya sibuk dengan ponsel pintarnya seraya menunggu istrinya.


"Mas," panggil seseorang.


Sontak Aditya menolehkan kepalanya. Di sana istrinya menyembulkan kepalanya dari balik daun pintu. Aditya menaikkan alisnya tanda bertanya.


'Ada apa dengan istriku? Apa dia membutuhkan sesuatu?' Aditya pun beranjak dari tempat tidur mereka, karena Yasmin memanggilnya menggunakan tangan mungilnya.


"Ada apa?" tanya Aditya datar seperti biasanya. Sepertinya Aditya sangat sulit mengubah nada bicaranya.


Tanpa aba-aba Yasmin menarik Aditya ke dalam kamar mandi. Aditya pun bingung kenapa dia belum mengganti pakaian pengantinnya.


"Mas Aditya, bantuiin Yasmin buka res baju ini, penjahitnya rese kenapa harus pakai res sih, ‘kan Yasmin enggak bisa bukanya," ucapnya dengan suara khas yang sangat Aditya suka.


Entah angin dari mana Aditya menarik sudut bibirnya sedikit membentuk senyuman setipis kertas.


"Sini," ujarnya lembut. Aditya tanpa sadar berbicara lembut yang membuatnya tersenyum sendiri.


"Sudah 'kan, sekarang ganti baju kamu. Ini udah malem," pintanya dan tanpa seizinnya Aditya mengecup bibir Yasmin singkat dan langsung berlari keluar kamar mandi. Rasanya Aditya ingin tertawa meliatnya memasang wajah bodoh.


"Astagah, Mas Adityaa, ihhh itu 'kan first kiss aku," teriaknya dari dalam setelah menyadari yang terjadi. Aditya memang mengakui jika istrinya itu jenius. Namun, jika sudah berhubungan intim istrinya nol besar. Aditya juga bersyukur karena dia yang mendapatkan first kiss istrinya.


"Ish, Mas Aditya keterlaluan main nyosor aja, pasti dia lagi cekikikan tuh di luar, tapi enggak pa-pa deh. Toh, dia 'kan suamiku, jadi enggak dosa, hehe," gerutu Yasmin menyadari suatu hal. Yasmin tadi sempat kaget karena Aditya bersikap sangat lembut dan itu sangat jarang dia perlihatkan ditambah dia main nyosor tanpa permisi, sangat aneh.


Bagaimana Yssmin bisa menghadapinya. Rasanya dia sangat malu hanya untuk sekedar keluar dari kamar mandi.


"Eh, bajunya mana, apa aku lupa bawa ya? Ha, masa nyuruh Mas Aditya malulah. Sebaiknya aku ambil sendiri pasti dia enggak nyadar," monolog Yasmin. Kemudian, dia membuka kamar mandi secara perlahan agar tak terdengar oleh Aditya yang sedang fokus pada ponsel di tangannya entah apa yang ia kerjakan.


Yasmin melangkah dengan cara berjinjit-jinjit agar tidak diketahui oleh Aditya sesekali dia menegok ke arah suaminya agar tidak diketahui. Ahirnya dengan perjuangan yang sangat panjang gadis itu sampai juga pada sebuah koper yang berisi pakaiannya.


"Eh, baju apa ini, kenapa bajuku tidak ada?" pekik gadis itu seraya menatap gaun malam super seksi.


"Ada apa?" tanya Aditya menghampiri istrinya.


"Ini Mas pakaianku mana?" tanya Yasmin mulai panik.


"Enggak tahu, mungkin Mama yang nyediain itu," jawab Aditya santai dan berlalu ke peraduannya. Dia takut akan lepas kendali atas dirinya bagaimana tidak dia pria normal dan disuguhkan pemandangan yang sangat indah. Oh, ayolah kalian pasti kamu juga tidak tahan 'kan?


"Hadeuh ya Allah, masa mau pake baju seperti ini sih, mau taroh di mana mukaku di depan Mas Aditya," gerutu Yasmin secara perlahan agar tidak di dengar oleh empunya. Lama bergelut dengan batinnya akhirnya Yasmin memakai juga baju itu, dia memilih baju yang kadar kesaksiannya tidak terlalu mengekspos tubuhnya.


Sebenarnya Aditya dari tadi melihat semua tingkahnya dari keluar kamar mandi. Namun, Aditya sengaja tidak melihatnya. Aditya baru pertama kali melihat kaki mulus istrinya, karena biasanya dia selalu memakai rok atau jelana jeans.


"Mas." Terdengar suara Yasmin memanggil Aditya. Di depannya sekarang Yasmin memakai baju yang seksi yang mengekspos paha dan juga dadanya karena baju itu sedikit transparan. Aditya melihat wajah Yasmin sudah memerah seperti tomat mungkin dia malu.


"Sini," ucap Aditya memanggilnya untuk mendekat. Walaupun, sedikit ragu, tapi dia menurutinya.


Aditya membawa istri mungilnya ke dalam pelukannya menyandarkannya pada dada bidangnya yang super nyaman.


"Shut, enggak usah malu sama suami sendiri. Kita tidur ya, pasti kamu capek 'kan," tutur Aditya menenangkan. Yasmin hanya mengangguk sebagai jawaban di dalam dekapan Aditya.


Aditya mengusap punggung istrinya dengan gerakan naik turun. Berusaha menyalurkan kehangatan di dalamnya. Hingga terdengar dengkuran halus dari seorang yang ia dekap.


"Ternyata dia sudah tidur," guman Aditya seraya menatap wajah damai istrinya yang sudah lebih dulu menuju alam mimpi.


Aditya menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Posisinya masih sama mendekap istri tercintanya.


Aditya tahu istrinya belum siap. Jadi, dia tidak menagih haknya malam ini. Walaupun, dia ingin. Namun, dia bukan lelaki bejat yang memaksa seseorang untuk memenuhi kebutuhan birahinya. Apalagi gadis itu adalah istrinya sendiri, orang yang sangat ia cintai.


Author be like: Sisain satu aja kek Aditya Ya Allah 😭😂

__ADS_1


bersambung.....


__ADS_2