Grisella Story [Revisi ]

Grisella Story [Revisi ]
part 5


__ADS_3

Jam sudah menunjukkan angka lima lebih seperempat. Yasmin masuk ke dalam rumah mewah itu dengan mengucap salam. Rumah yang dulu penuh kehangatan kini telah menghilang. Sudah 10 tahun lamanya rumah itu kehilangan kehangatannya. Begitupula dengan dibencinya putri tunggal dari pemilik rumah mewah tersebut.


Yasmin masuk perlahan-lahan. Kali ini rumah itu sepi seperti tidak biasanya. Setiap dia pulang pasti disambut dengan hinaan dari Elis dan ibu tirinya.


"Kenapa sepi? Apa Elis belum pulang?" tanya Yasmin pada dirinya sendiri.


Sedangkan sang ayah sedang melakukan perjalanan bisnis bersama dengan ibu tirinya.


"Sudah jam enam, apa mungkin dia di kamarnya. Hm, sudahlah lebih baik aku pergi membersihkan diri dan salat," monolog Yasmin pada dirinya.


Di kamar yang bernuangsa biru langit Yasmin baru selesai salat dan merapikan alat salatnya.


"Huft, apa mereka sudah lupa ya dengan perjodohan itu. Semoga saja," harap Yasmin.


Shhhh ... ahhhhh ... eummhhh ....


Deg! Suara apa itu? Suara itu berasal dari kamar Elis. Karena kamar tersebut tidak kedap suara beda dengan kamar Yasmin yang kedap suara. Yasmin merapatkan telinganya di tembok, karena kamarnya dan Elis bersebelahan.


Ahhhhh, emmm, ahk ... akhh aku tidak tahan, Honey.


Guman insan yang ada di kamar tersebut. Wajah Yasmin memerah dan langsung berlari ke atas peraduannya.


"Astaga, suara apa itu? Kenapa mereka melakukannya di sini, dasar tidak tahu tempat," gerutu Yasmin sebal karena dia tidak nyaman mendegar desahan Elis yang seperti ayam kejepit.


"Bisa-bisanya mereka melakukan hal seperti itu sebelum menikah, walaupun pernikahan mereka tinggal hitung hari sih, tapi ya itukan dilarang keras oleh agama. Ck, ck!" Yasmin berdecak kagum karena keberanian mereka. Tidak ada lagi penyesalan akan penghianatan Marcel dia sudah melupakan pria itu.


"Ck, bagaimana aku bisa belajar kalau suara itu membuatku ingin munta, ck!" gerutu Yasmin sebal.


Dert ... dert ... dert ....


"Siapa yang telpon malam-malam begini," monolognya. Kemudian dia mengambil bendah pipi tersebut.


Tanpa melihat nama Yasmin mengangkat telpon tersebut.


"Assalamualaikum," salam Yasmin.


[Waalaikumsalam, Sayang, ini Bunda Lalita,] balas suara lembut di seberang sana.


"Oh, eh Bunda maaf Bun ada apa, ya?" tanya Yasmin agak canggung.


[Bisa kamu ke sini, Sayang, Bunda minta tolong,] jawab suara di seberang sana sedikit panik.


"Ada apa Bun? Apa calon pasien Yasmin terjadi sesuatu padanya?" tanya Yasmin juga ikut khawatir.


[Kamu ke sini saja, Sayang, Bunda udah kirim alamat rumah Bunda,] tutur suara itu tanpa menjawab pertanyaan Yasmin.


"Baik Bun, Yasmin akan segerah ke sana, assalamualaikum," ujar Yasmin mengakhirinya sambungan telpon. Walaupun, sekarang masih setengah tujuh, tapi Yasmin tetap saja takut keluar. Karena dia takut akan bertemu dengan yang namanya hantu seperti di film horor. Akn tetapi, dia tetap keluar. Dari pada mendengar desahan yang menjijikkan itu lebih baik dia pergi. Toh, ada Allah yang selalu melindungi.


* * *


"Pa, Mama mau nelpon calon mantu Mama, supaya dia ke sini," ungkap Lalita pada suaminya. Karena ini masih sangat pagi atau belum terlalu larut Lalita menelpon Yasmin.

__ADS_1


"Terserah kamu Ma, emang Yasminnya mau?" tanya Wisnu menggeleng melihat tingkah istrinya.


"Liat saja," jawab Lalita seraya tersenyum misterius.


Telpon tersambung dan terdengar suara lembut di seberang sana mengucap salam.


"Waalaikumsalam, Yas ini Bunda," ucap Lalita.


Terdengar suara itu sedikit terkejut. Setelah percakapan singkat itu Lalita menyimpan ponsel tersebut.


"Gimana Pa, Mama hebat 'kan," ujar Lalita seraya tersenyum bangga.


"Hahah, iya, kasian dia karena saat ini Aryo sedang melakukan perjalan bisnis ke Ausi. Jadi pasti dia sendiri di rumah. Walaupun ada Elis, tapi mereka tidak akur, jadi tidak ada salahnya Mama mengundangnya ke sini," cetus Wisnu tersenyum hangat ke arah istrinya.


"Hm, iya. Papa liat Adit?" tanya Lalita tiba-tiba.


"Di kamarnya, Mah," jawab Wisnu seraya masih fokus pada tayangan film di TV.


"O," balasnya singkat.


* * *


Jl. Mawar No. 4


Akhirnya Yasmin sampai di sebuah perumahan elit. Yasmin turun dari taksi dan memencet bel. Pagar tinggi itu terbuka dan menampilkan pak Satpam yang menatapnya seraya tersenyum.


"Eum, Pak, apa bener ini rumah dari Bunda Lalita?" tanya Yasmin sopan.


"Ya Non, bener, mari saya antar. Ibu sudah menunggu," jawab pak Satpam ramah.


Setelah sampai di dalam tepatnya ruang tegah, di sana sudah ada Lalita yang menunggu Yasmin.


"Eum, assalamualaikum Bunda." Suara lembutnya berkaur di rongga telinga Lalita.


"Eh, anak Bunda sini, Bunda udah nunggu kamu dari tadi. Yuk, kita makan malam pasti kamu belum makan malam 'kan?" tebak Lalita seratus persen benar.


"Eh, iya Bunda soalnya ini 'kan belum masuk Isya jadi Yasmin belum makan, hehe, " ucap Yasmin cangung seraya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Yuk, kita ke meja makan," ajak Lalita seraya menarik Yasmin. Yasmin pun melupakan kenapa dia bisa kemari.


Di meja yang sudah terisi dua orang pria yang membelakangi Yasmin dan Lalita.


"Hei, ini Dokter Yasmin dia yang akan jadi Dokter pribadi Adit," papar Lalita semangat dan Yasmin hanya tersenyum kaku.


"Eh, Nak, Yasmin! Yuk, makan malam, kamu pasti lapar 'kan sayang." Kali ini Wisnu yang membuka suara. Dia menampilkan senyuman hangat khas seorang ayah.


"Iya, Om. Makasih," jawab Yasmin seraya membalas senyuman Wisnu yang sangat jarang ia temui pada ayahnya sendiri.


Yasmin hanya tersenyum kecut merasakan kehangatan keluarga ini. Kapan dia bisa merasakan kehangatan seperti ini. Apakah secerah kebahagiaan tak akan pernah menghampirinya.


"Ayo, Sayang duduk," pinta Lalita menarik Yasmin duduk di dekatnya yang berhadapan langsung dengan Aditnya.

__ADS_1


"Eum, Bun ...." Ucapan Yasmin langsung disela oleh Lalita.


"Sebentar ya sayang setelah kita makan malam," sela Lalita yang mengerti arah pembicaraan Yasmin.


Suasana meja makan sangat hening. Ditambah lagi Yasmin sangat canggung. Walaupun Lalita dan Wisnu begitu baik, tapi dia masih tidak enak hati. Dia merasa ada yang sedang memperhatikannya, tapi dia takut untuk sekedar mengangkat kepalanya. Matanya hanya fokus pada makanan yang ada di piringnya saja.


Setelah semua selesai makan malam Yasmin memaksa untuk membantu Bibi di rumah itu untuk membersihkan meja makan bahkan Yasmin mencuci piring yang kotor katanya dia sudah biasa.


"Asatag Non, gak perlu sampai cuci, saya bisa sendiri Non," ucap Bi Iyam tidak enak hati.


"Enggak pa-pa, Bi. Yasmin udah biasa sekaligus bentuk terima kasih karena udah mau dikasih makan malam yang enak," ungkap Yasmin seraya tersenyum manis memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan putih bersih.


"Baiklah, Non," jawab Bi Iyam mengalah.


Setelah selesai mencuci piring Yasmin izin untuk melakaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim.


* * *


"Eum, Bunda," panggil Yasmin pelan.


"Eh, sini Sayang, kamu udah selesai salat?" tanya Lalita yang dibalas anggukan oleh Yasmin yang telah duduk di sebelah Lalita.


Yasmin nampak mencari - cari seseorang, Lalita yang menyadari itu langsung berucap, "Papa lagi keluar salat berjamaah," celetuk Lalita seraya mengelus rambut halus Yasmin.


"Oh, ya Bunda, kok Yasmin enggak liat anak kecil ya?" tanya Yasmin penasaran masih mencari-cari keberadaan seorang anak kecil.


"Anak kecil? Bunda enggak punya anak kecil?" Lalita balik bertanya dengan nada heran.


"Jadi yang mau Yasmin rawat siapa. Bukan anak kecil ya Bun?" tanya Yasmin polos.


"Haha, bukan, Sayang, anak Bunda tuh udah gede, kamu liat tadi ada cowok yang duduk di dekat Papa Wisnu?" Yasmin mengangguk sebagai jawaban.


"Dia itu anak Bunda, dia yang akan kamu rawat." Yasmin langsung saja terdiam.


"Dia sudah lama tidak bisa berjalan semenjak kecelakaan 5 tahun silam. Saat seumuran kamu, Sayang, sudah banyak Dokter spesialis terbaik yang Bunda cari, tapi tidak ada yang bisa menyembuhkan kelumpuhan Adit," jawab Lalita berurai air mata. Yasmin tidak tahu harus jawab apa jadi dia hanya merengkuh tubuh rapu itu sambil mengucapkan kata - kata penenang. Padahal rencananya, Yasmin akan membatalkannya. Bukan karena apa, hati kecilnya mengatakan jangan pernah dekat-dekat dengan pria itu.


"Sabar ya Bunda, ini ujian dari Allah, Bunda berdoa aja sama Allah. Semoga Yasmin bisa sembuhin anak Bunda," tutur Yasmin seraya mengurai pelukannya.


"Ya, Sayang, Bunda percaya kamu bisa," beber Lalita menghapus lelehan bening di pipinya.


"Eum, Bun Yasmin boleh nanya?" tanya Yasmin yang diangguki oleh Lalita.


"Bunda dari mana tahu kalau Yasmin itu .. eum ... Dokter?" tanya Yasmin ragu. Karena sangat jarang yang mengetahui bahwa dirinya seorang Dokter, sebab jika dirinya seorang Dokter begitu dirahasiakan. Itulah kenap dia lebih familiar disapa Putri dibandingkan Yasmin. Karena nama Yasmin hanya dimiliki oleh si sampah.


"Hahaha, kamu enggak perlu tahu, Sayang, yang penting Bunda percaya sama kamu," ujar Lalita seraya tersenyum lembut.


Senyuman itu langsung menular pada Yasmin. Sampai perbincangan mereka diselah oleh seseorang yang baru datang.


"Ada apa ini, kok mesrah banget ya udah kayak Bunda dan anak," celetuk orang itu yang tak bukan adalah Wisnu.


"Eh, udah pulang Pa? Enggak kok kita cuman bicara hal biasa," jawab Lalita masih dengan senyuman yang sama.

__ADS_1


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata kelam yang menatap mereka penuh arti lebih tepatnya pada sosok gadis yang duduk di dekat Lalita.


bersambung...


__ADS_2