Grisella Story [Revisi ]

Grisella Story [Revisi ]
part 14


__ADS_3

Awan gelap tampak menghiasi langit malam. Bulan tampak malu memunculkan sinarnya, bintang pun seakan bersembunyi dari gelapnya malam. Di sebuah rumah mewah tepatnya di kamar seorang gadis.


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam yang artinya semua penghuni rumah telah terlelap. Gadis itu yang tak bukan adalah Yasmin sedang berdiri menatap langit malam yang gelap. Hembusan angin yang menusuk tulang tidak mengusiknya untuk beranjak. Dia seperti betah berlama-lama di tempat favoritnya itu. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis cantik itu.


Tampak ia menatap ke bawah, di sana banyak pria berbaju hitam yang mengawasi rumahnya. Sebelumnya penjagaan di rumahnya tidak terlalu ketak, tapi entah kenapa hari ini begitu ketak. Dia berpikir pasti ini ada kaitannya dengan bebasnya tante Laras dari penjara dua hari yang lalu. Walaupun, Yasmin terkesan seperti gadis lemah dan tidak tahu apa-apa, tapi ia tahu semua kejadian yang terjadi di sekelilingnya, entah kenapa kali ini ia tak mau berdiam diri lagi. Namun, bukan itu yang ia pikirkan.


Besok adalah hari bersejarah buatnya. Iyap, besok adalah hari wisuda gadis itu. Dan setelahnya ia akan melaksanakan hari pernikahannya yang akan berlangsung 3 hari lagi. Di mana, tepat hari pernikahannya adalah hari ulangtahunnya juga yang ke-21 tahun, bukankah itu sangat membahagiakan dalam satu hari ada dua perkara besar terjadi.


Aditya Pria itu, pria yang dulu tidak sengaja ia tabrak waktu ia berjalan-jalan di taman kota dan ia tak sangka ternyata takdir membawanya bersama pria itu sejauh ini. Namun, apakah ia sanggup menghadapi semua ini? Ia tahu Aditya sangat mencintainya. Walaupun, belum keluar secara langsung dari bibir pria itu. Gadis itu Yasmin sangat tahu dengan karakter calon suaminya yang kaku pasti dia tidak mengucapkan kata-kata cinta itu, tapi ia akan membuktikannya dengan segala tindakannya. Terbukti dengan penolakannya saat Rena memohon untuk bersamanya dan ada rasa tidak enak hati saat Rena bertemu dengannya. Yasmin tidak ingin meminta lebih atau apa? Dia tidak ingin membuat calon suaminya itu yang nantinya akan jadi suami sahnya kecewa.


Dia takut saat nanti hari itu tiba. Dia tidak sanggup meninggalkannya. Biarlah ia jadi egois, sepertinya yang Mahakuasa baru mengabulkan do'a-do'anya untuk bersama sang ibunda.


Tiba-tiba isakan lirih lolos dari bibir tipisnya. Ia langsung membekab bibinya agar tidak membangunkan teman sekamarnya yang tak bukan adalah sepupunya sendiri.


Entah kenapa dirinya tak rela untuk pergi! Apakah ia harus menghentikan saja pernikahan ini? Dan membuat Aditya membencinya agar Aditya tidak kecewa teramat sangat?


Air mata membanjiri pipi gadis itu. Tubuhnya bergetar hebat mencoba untuk menahan isakan. Ia harus terima semua kenyataan ini. Ketika dia memeriksa kondisinya dan ternyata itu semakin parah. Rahasia yang tidak ada satup pun yang tahu kecuali dokter pribadinya.


Kenapa ia begitu bodoh seharusnya ia sadar bahwa kesempatan itu tidak akan datang. Dan sekarang penyakit itu semakin parah.


Apakah bisa ia nantinya menyembunyikan hal ini terutama pada Aditya apakah ia sanggup? Lagi-lagi gadis itu hanya mampu menangis tertahan dan tertuduk di lantai balkon yang begitu dingin, ia menelunsupkan kepalanya di antara dua kakinya. Mencoba menghilangkan sesak di dadanya. Seperti ada sebuah bongkahan batu yang menghantam hatinya. Dia berpikir ternyata Allah sangat sayang padanya dengan memberi cobaan seperti ini. Dan gadis itu sangat bersyukur walaupun berat dia harus ikhlas.


"Uhuk! Uhuk!" Batuk gadis itu dalam isakannya dan benar saja cairan merah itu mulai keluar pertanda penyakit itu mulai mengerogoti dirinya.


'Jika Yasmin tidak diberi kesempatan bahagia di dunia ini, biarkanlah Yasmin bahagia di akhirat, Bunda tunggu Yasmin,' batin gadis itu memohon. Namun, terbesit di hatinya yang paling dalam jujur dia tidak ingin meninggalkan prianya. Pria yang selalu menjaganya selama ini. Akan tetapi, jika Tuhan berkendak lain, apa boleh buat dia hanya bisa pasrah dan selalu mendekatkan diri pada Yang Maha Kuasa.


Karena tidak ingin dilihat oleh seorang pun Yasmin bergegas ke kamar mandi membersihkan bibirnya yang ada noda dara dan kembali ke peraduannya menjaga jika sepupu tersayangnya akan terbangun seperti yang lalu-lalu.


Yasmin kembali tertidur di sebelah sepupunya yang masih nyaman terlelap. Karena kantuk sudah mulai menderai Yasmin akhirnya terjun ke alam mimpi mengikuti Ziah yang telah dari tadi menyelami alam mimpi yang indah.


* * *


"Wah cantiknya, Bunda suka ya sama bunga ini?" tanya seorang gadis kecil seraya tersenyum ke arah wanita cantik di depannya.


Wanita itu tersenyum hingga matanya tertutup dan menjawab pertanyaan sang putri tunggal. "Ya, Sayang, Bunda suka banget sama bunga ini, ini namanya bunga melati yang menggambarkan kesucian seperti Yasmin," jawab wanita cantik itu menjawab pertanyaan sang putri kecil yang tak lain adalah Yasmin.


"Kesucian? Apa itu Bunda? Apa seperti permen?" tanya gadis cilik itu polos.


Dengan tersenyum wanita itu menjawab, "Kesucian itu artinya jiwa Yasmin yang murni dan tidak pernah berbohong, jadi Yasmin enggak boleh suka bohong dan jaga selalu kehormatan Yasmin," terang wanita itu--Calristie.


"Siap Bunda," jawab gadis itu tersenyum polos seraya membantu sang bunda merawat taman bunga melati atau Jasmine Flower.


Claristie menatap sang putri semata wayang dengan sangat dalam. Putrinya ini belum mengerti apa yang terjadi pada dirinya. Dia sejujurnya sangat kasian pada putrinya itu. Bagaimana tidak kondisi fisik gadis itu yang lemah, tapi putri kecilnya masih bisa bersikap seperti anak seusianya dan selalu tersenyum. Sudah beberapa kali ia membawa putrinya untuk control di rumah sakitnya bahkan sang suami tak mengetahui kebenaran tentang kondisi sang putri entah kenapa dia enggan untuk memberitaunya.


"Bunda, kenapa natap Yasmin?"tanya gadis itu polos yang langsung menyadarkan Claristie dari lamunannya.


"Ah, enggak Sayang, yuk kita lanjut lagi rawat bunganya," ajak Claristie tersenyum dan langsung menular ke gadis kecil itu.


Malam ini Aryi tidak pulang ke rumah karena melakukan perjalanan bisnis keluar kota. Jadi, yang tinggal di rumah hanya bi Asih, Bunda, dan Yasmin.


Setelah makan malam bunda dan anak itu tampak sedang bermain-main di ruang televisi. Claristie sangat menyayangi putri kecilnya itu sampai ia rela berhenti dari profesinya jadi Dokter beda dan beralih merawat sang putri yang kondisi tubuhnya tidak sama seperti anak seusianya. Mungkin Allah sangat menyayangi gadis itu karena dia bisa bertahan sampai sekarang, Aryo tidak mengetahui hal itu karena dia hanya sibuk bekerja dan lupa akan kondisi sang putri. Namun, itu tidak diambil pusing oleh Claristie asalkan ia bisa bersama sang putri. Dan dia juga sangat berterima kasih kepada sang ayah karena memberikan pengobatan kepada putrinya sehingga dia bisa bertahan sampai saat ini.


Tiba-tiba pintu rumah dibuka dengan kasar. Mereka sampai terlonjak dan langsung ketakutan siapa yang datang.

__ADS_1


"Bunda siapa itu?" tanya gadis itu ketakutan.


"Tidak tahu Sayang, cepat sembunyi!" jawab sekaligus perintah Claristie pada putrinya sedangkan gadis itu tanpa butuh diperintah dua kali langsung bersembunyi dibawa kolong meja tidak jauh dari ruang televisi.


Tepat setelah gadis itu bersembunyi bi Asih juga datang bersembunyi di dekatnya guna menjaganya di saat itu juga datanglah beberapa orang berpakaian serbah hitam di antaranya ada yang Yasmin kenali. Dia ingin keluar, tapi ditahan oleh bi Asih.


"Jangan Nona," tahan bi Asih dan Yasmin pun berhenti bergerak dan mengamati perdebatan orang dewasa di sana.


"Mau apa kamu ke sini?" terdengar suara Claristie bertanya dingin tidak ada rasa takut pada dirinya.


"Hahaha, mau mencabut nyawamu TEMAN!" wanita yang diajak bicara oleh Bunda Yasmin menjawab dengan menekan kata TEMAN pada kalimatnya.


"Ck, yang benar saja, La," balas bunda Yasmin tersenyum sinis tidak ada rasa takut di matanya.


"Ck, berani kamu," ujar Laras dingin karena rumah itu sepi mereka bisa mendengar apa yang mereka ucapkan.


"Tahan dia," pinta Laras sinis memerintahkan anak buahnya.


"Mau apa kalian," panik bunda Yasmin dia tidak takut hanya takut persembunyian sang putri diketahui. Dua di antara anak buah Laras menangkap Claristie dan menyeretnya keluar dari rumah besar itu.


"Lepas, lepaskan saya, tega kamu La!" teriak bunda Yasmin meronta karena mereka sangat kuat jadi bunda Yasmin tidak bisa meloloskan diri. Bunda Yasmin diseret oleh anak buah Laras entah mau dibawa ke mana.


"Bi, Bunda mau di bawa ke mana sama Tante Laras?" tanya Yasmin pada bi Asih yang hanya mengusap punggung putri majikannya yang ketakutan.


"Sabar ya Non, kita enggak boleh bertindak gegabah takutnya Bunda kamu akan disakiti," jawab bi Asih mulai menitikkan air mata dia tidak menyangka ternyata teman majikannya sangat jahat.


Di waktu yang sama di tempat yang berbeda.


Ternyata Laras membawa bunda Yasmin ke taman belakang rumahnya. Dengan tidak manusiawi Laras mulai menyiksa temannya itu. Dengan menggunting rambut panjang bunda Yasmin asal sehingga tidak berbentuk lagi.


"Kenapa kamu tidak menangis?" bentak Laras seraya mencengkram rahang bunda Yasmin. Wanita itu bak orang kesehatan menganiaya bunda Yasmin dengan tidak berperasaan.


Sementara itu, di tempat Yasmin dia merengek dengan suara pelan karena salah satu dari anak buah Laras seperti mencari sesuatu di rumah itu.


"Tenang Non, nanti kita ketahuan," ujar bi Asih dengan suara sepelan mungkin.


"Tapi, Bunda Bi," rengek Yasmin lagi dengan suara sama pelannya.


"Tenang ya, kita akan lapor polisi jika orang itu sudah pergi," tutur bi Asih menenangkan dan kembali mengawasi pergerakan orang bertubuh besar itu yang ternyata sudah tidak ada di tempatnya.


"Tapi, Bi kita harus tolong Bunda dulu," tukas Yasmin kecil seraya menggelen kuat. Bi Asih hanya menatap putri majikannya iba. Baru mereka ingin bereaksi ternyata tempat persembunyiaanya di temukan.


"Di sini kalian rupannya," kata seseorang dan langsung menyeret mereka keluar dari bawa kolom meja.


"Lepasin," berontak Yasmin kecil karena tangannya di cekal terlalu kuat.


"Saya mohon Tuan, lepasin Non Yasmin, dia tidak tau apa-apa," mohon bi Asih.


"Lepasin, kamu bilang, hahah jangan mimpi Nenek tua, dia akan mendapatkan hukuman dari Nyonya," balas pria besar itu semakin memperkuat jambakannya pada rambut Bi Asih.


Yasmin yang melihat perdebatan itu mengambil kesempatan untuk mengigit tangan pria besar itu hingga berdarah.


Arghk! Pekik pria besar itu, ketika cekalanya mengendur Yasmin kecil langsung berlari.

__ADS_1


"Anak sialan, jangan lari kamu!" amjk pria itu, saat akan mengejar Yasmin dia langsung di cekal oleh bi Asih yang juga telah terlepas.


Brukh! Pria itu terjatuh dan langsung mencium lantai dingin. Pria itu menggeram dan langsung berdiri menampar bi Asih sangat kecang saking kencangnya sampai bi Asih pingsan.


"Mampus lu, Nenek tua, cui," ucap pria itu dan meludai bi Asih yang tak sadarkan diri.


"Awas saja kamu anak sialan." Setelah berucap pria itu berlari menuju rumah bagian belakang di mana tempat Laras menyiksa Claristie.


Tanpa pria itu sadari ternyata Bi Asih masih mempunyai kesadaran 10% dia berjalan tertatih-tatih dan mencoba meraih gagang telepon rumah. Bi Asih dengan susah paya menekan nomor untuk menelpon tuan besar.


"T .. Tuan, Anda di mana sekarang?" tanya bi Asih saat sambungan telepon tersambung.


[Ada apa Bi? Saya udah deket dari rumah, apa terjadi sesuatu?] tanya suara di seberang sana dengan nada khawatir.


"I .. iya Tuan, Nyonya besar dalam bahaya juga Non Yasmin." setelah mengatakan demikian bi Asih jatuh pinsan.


[Halo Bi, Bi ....] Tidak ada sahutan yang ia dengar buru-buru pria itu yang tak lain adalah Aryo memasuki area rumahnya.


Betapa mengejutkan ternyata Laras berdiri di depan pintu rumahnya seraya memegang sebuah pisau berdarah dengan senyuman iblis terparti di wajah cantiknya.


"La ... Laras, apa yang kamu lakukan?" teriak Aryo tidak terimah karena panik dia lupa untuk menelpon polisi satpam yang menjaga ke amanan rumahnya telah terkapar tak berdaya.


"Apa lagi jika tidak menghilangkan penghalang untuk kita bersatu, Sayang," jawab Laras sok manis.


"Jangan bilang kamu .... " Suara Rama terkecak ditenggorokan saat tiba-tiba benda aneh tertempel di belakang kepalahnya.


"Jangan bergerak, atau kmau tahu sendiri apa yang akan terjadi," peringat sebuah suara berat dari arah belakang.


"Hahaha, thanks Dad," ucap Laras dan menghampiri keduanya.


"Sayang, jika kamu mau anak kesayanganmu itu selamat, sebaiknya kamu menurut apa yang kukatakan," imbuh Laras seraya membelai lembut rahang koko Aryo.


Aryo hanya menatapnya tajam. "Di mana putriku," desis Rama tidak suka.


"Hust, dia baik-baik saja hanya sedikit tertidur, dan mungkin juga dia akan jadi IDIOT," balas Laras tersenyum sinis seraya menekan kata idiot.


"Ck, jangan berani-berani kamu menyentuhnya," peringat Aryo seraya menyingkirkan tangan Laras di dadanya.


"Jangan macam-macam, Jika kamu ingin hidup, untung saja putriku sangat menyukaimu. Jadi, kamu kuampuni," cetus pria yang di panggil Dad oleh Laras seraya semakin menekan benda yang disebut pistol itu di kepala Aryo.


"Menurutlah Sayang, oh aku lupa ada sesuatu yang menyenangkan yang ingin aku perlihatkan," tandas Laras tersenyum penuh arti dan memaksa Aryo untuk mengikutinya.


Di sini mereka sekarang, taman belakang milik keluarga Prayogo. Taman yang indah itu tercemar oleh sesuatu yang jika dilihat akan membuatmu menjerit ketakutan.


Hati Aryo berdenyut ngilu melihat pemandangan yang sangat menyakitkan. Walaupun dia tidak terlalu mencintai istrinya, tapi tetap saja wanita cantik itu menemani hidupnya selama 10 tahun terakhir. Bagaimana tidak di hadapannya sekarang wanita itu terbujur kaku dengan rambut yang sudah dipotong secara paksa dan berceceran disekitar tubuhnya. Rumput yang awalnya hijau telah tercemar oleh warnah merah dari darah istrinya. Wajahnya babak belur, bekas tamparan jelas di wajah cantiknya, banyak luka tusukan di perut wanita itu. Rahang Aryo mengetak tidak suka, dia tidak bisa apa-apa sekarang. Putrinya jadi sanrah dan dia? Kalian pasti tahu sendiri apa yang terjadi pada dirinya. Detik berikutnya kakinya terasa lemas dan tak mampu membawa beban tubuhnya sendiri.


"Tega kalian, bajingan!" teriak Aryo. Namun, dia malah dipukul hingga membuatnya tak sadarkan diri.


"Sekarang kamu mau apakan dia?" tanya dady Laras.


"Ayah suruh anak buah Ayah untuk membereskan kekacauan ini dan kuburkan jasad wanita itu dengan layak, walau bagaimana pun aku harus berterima kasih padanya, karena sudah suka rela menyerahkan suaminya," jawab Laras tersenyum aneh. Ayahnya hanya mengangguk mengiyakan perintah tersebut. Sementara itu, Laras menyuruh anak buahnya untuk membawa tubuh Aryo masuk ke dalam.


Setelah inseden itu, tiba-tiba hujan turun dengan lebatnya. Membuat darah Claristie terseret air hujan hingga menciptakan aliran sungai kecil berwarna merah. Langit sepertinya turut menangis menyaksikan pembunuhan sadis itu. Petir saling menyambar yang membangunkan seorang gadis kecil dari tidurnya. Peluh membasahi dahi gadis malang itu. Dia meringkuk di pojokan kamar. Air mata merembes tanpa diminta dari mata indahnya. Bayangkan bundanya dibunuh dengan sadis terputar bagai kaset rusak di kepalanya. Kenangan itu sangat membekas yang selalu mrnghantui gadis malang itu.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2