![Grisella Story [Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/grisella-story--revisi--.webp)
Di sini mereka sekarang di bawah pohon rindang lengkap dengan suasana taman yang damai. Mereka menikmati siang itu dengan suasana taman kota Jakarta yang sejuk. Mereka hanya duduk menatap kolam buatan di depan mereka. Matahari tampak memancarkan sinarnya dengan sayup-sayup sehingga sangat pas untuk berada di sekitaran taman itu. Di antara mereka tidak ada satu pun yang membuka suara seakan sibuk dengan pemikiran mereka masing-masing.
Sayup-sayup terdengar suara cibiran dari pengunjung taman yang tidak sengaja melihat mereka. Siapa yang tidak kenal dengan Yasmin Putri Prayoga si putri sampah yang tidak mempunyai keahlian.
"Hei, bukannya dia putri dari Tuan Prayoga?"
"Iya, enggak tahu malu ya, masih berani berkeliaran setelah mempermalukan orang tuanya pada pesta malam itu."
"Bukannya dia putra dari Tuan Wisnu? Astaga ternyata dia benar-benar cacat, tapi dia tidak jelek? Bukannya rumor mengatakan dia sangat jelek wajahnya buruk rupa? Tapi ini? Bukannya ini dapat disebut jelmaan malaikat!" pekik mereka.
Berbagai bisik-bisik mulai beredar seperti angin dari mulut ke mulut para pengunjung taman.
Yasmin yang mendegar hal tersebut hanya diam. Dia terlalu malas menanggapi perkataan mereka. Yasmin lamat-lamat melihat Aditya. Namun, hanya ekspresi datar yang ada, tidak ada ekspresi yang berarti seakan perkataan mereka hanya angin lalu.
"Kita pulang, dorong kursiku!" pinta Aditya datar.
Yasmin hanya mengangguk dan berdiri dari tempat yang ia duduki. Berbagai pasang mata menatap mereka dengan berbagai tatapan, benci, mencemooh, iri, kagum dan banyak lagi.
Saat ini mereka berada di dalam mobil. Lagi-lagi hanya keheningan yang mengisi kebersamaan mereka.
"Kapan kamu mulai pengobatanku?" tanya Aditya datar tanpa melihat lawan bicaranya yang mampu membuyarkan lamunan Yasmin.
"Ehem! Jika, saya tidak ada jadwal kuliah InsyaAllah lusa akan saya lakukan," jawab Yasmin.
Aditya hanya mengangguk.
Seorang gadis yang disebut sampah dan tidak mempunyai kemampuan? Lalu apa yang disebut kemampuan itu. Ketika ia menguasai teknik akupuntur di zaman modern ini tidak banyak yang menguasai hal sulit tersebut, karena harus mengingat titik akupunktur yang sangat banyak jumlahnya. Mungkin, mereka butah.
***
Sesampainya di rumah Aditya, Yasmin membantu Aditya untuk masuk kedalam rumah. Sekaligus berpamitan dengan Bunda Lalita dan Wisnu.
"Assalamualaikum, Bunda," salam Yasmin.
"Wa'alaikumsalam," jawab Bi Iyam. Bukan Bunda atau Papah Wisnu yang menjawab.
"Bunda Lalita mana Bi?" tanya Yasmin lembut.
"Lagi keluar Non," jawab Bi Iyam seraya tersenyum ramah.
"Oh, tapi saya mau pulang Bi, boleh Bibi sampaikan salam saya sama Bunda Lalita dan Papa Wisnu," ucap Yasmin dia tidak memperhatikan lagi akan keberadaan Aditya
"Maaf Non, tapi tadi Nyonya pesan kalau Non Yasmin harus tunggu beliau pulang," ungkap Bi Iyam penuh sesal.
'Duh, gimana nih, masa berdua aja sama Adit?' rutuknya dalam hati.
"Eum, baiklah," jawab Yasmin singkat. Setelah kepergian Bi Iyam Yasmin kembali mendorong kursi roda Aditya.
"Mas Adit, mau saya bawa langsung ke kamarnya atau Mas Adit mau nyantai dulu?" tanya Yasmin dan dia sangat merutuki bibirnya yang suka ceplas-ceplos berhadiah-- eh?
"Hn, saya ingin ke ruang keluarga," jawab Aditya datar.
'Bah, beneran udah jadi kacung Aditya nih. Huft! Sabar, anak sabar disayang Allah,' gerutunya dalam hati.
Saat Yasmin membantu Aditya untuk duduk di sofa. Yasmin tidak kuasa menahan tubuh Aditya sehingga dia ikut ambruk dan terduduk di pangkuan Aditya.
Mata mereka saling bersiborok sepersekian detik. Sebelum Yasmin menyadari posisi mereka yang ambigu.
'Ya, Allah ada apa dengan jjantungk? Jangan bilang aku kena penyakit jantung? udah dong masa mau maraton terus,' dumel Yasmin dalam hati. Dia tak sanggup menatap Aditya yang sedang tersenyum.
"Eum, anu, eum itu eh, maaf saya tidak sengaja Mas," ucap Yasmin gugup.
"Em." Hanya gumangan itu yang keluar dari bibir tipis Aditya. 'Ternyata dia sangat imut, ketika sedang malu,' batin Aditya tersenyum kecil.
"Mas Adit, saya tinggal sebentar ya, kalau ada yang sakit atau butuh sesuatu tanya sama Bi Iyam," ucap Yasmin gugup. Tanpa membutuhkan jawaban Aditya, Yasmin langsung pergi ke dapur meninggalkan Aditya yang menatapnya penuh arti.
Saat Yasmin sudah tidak terlihat lagi Aditya tampak menghubungi seseorang.
"Halo Za,"
[Ya, Tuan?]
"Kamu hapus berita yang akan tersebar tentang ku, tutup mulut mereka semua. Aku tidak ingin Mamah melihat berita itu."
__ADS_1
[Baik.]
Pip! Aditya memutuskan sambungan telepon sepihak. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi jika seseorang melihatnya. Pasti stasiun televisi akan ramai tentang berita miring tentangnya.
"Ini Mas, saya buatin minuman dingin," ucap Yasmin sambil menduduki sofa di dekat Aditya.
"Hn, terima kasih," imbuh Aditya berterimakasih.
'Ha? Apa aku gak salah denger? Pria tembok ini berterimakasih?' Yasmin sedikit terkejut akan apa yang ia dengar. Kemudian, dia tidak terlalu memperdulikannya lagi.
"Kenapa menatapku seperti itu? Saya tahu saya ini tampan," cetus Aditya narsis tanpa menatap Yasmin karena fokus pada layar televisi.
Yasmin langsung gelagapan. "Pede amat si Om, siapa juga yang natap, Om. Noh, saya liat tembok," jawab Yasmin ketus. Dia sudah melupakan kenormalannya dalam berbicara saking kesalnya.
"Saya belum setua itu, kita hanya beda lima tahun, ingat itu," peringat Aditya dengan nada tidak suka.
"Terserah Om deh," tutur Yasmin tanpa sadar mengucapkan lagi kata Om.
"Kamu mau saya hukum," guman Aditya pelan sambil meminum jus jeruk yang Yasmin habis buat. Namun, Yasmin pura-pura tidak dengar. Mereka hanya menikmati acara televisi dengan suasa hening.
Semetara itu, di tempat lain tampak dua pasang sejoli yang sedang bergelung di atas tempat tidur. Ya, mereka adalah Marcel dengan Elis. Tanpa malu melakukan hubungan suami istri padahal mereka belum sah di mata hukum dan agama.
"Sayang, apa ini tidak salah?" tanya Elis sembari menatap mata indah Marcel.
"Untuk apa kamu ragu, Sayang?" Marcel tampak mengerutkan alisnya. "Bukannya kita sudah melakukannya tadi malam, lagi pula pernikahan kita tinggal lusa jadi apa salahnya," jawab Marcel enteng.
Elis hanya terdiam mendegar penuturan Marcel. Sudahlah, toh semuanya telah terjadi dan mereka menikmati perbuatan bejat mereka.
"Sebaiknya aku bangun, soalnya Papa sama Mama udah balik. Dan lusa adalah acara kita, Sayang," ucap Elis mencoba bangkit.
"Baiklah, badanku juga terasa lengket," tutur Marcel menimpali dan bangkit dari peraduannya.
Di sebuah ruangan yang sedikit minim pencahayaan. Seorang pria paruh baya sedang menelpon seseorang.
"Kapan kam7 akan pulang?" tanya seorang pria pada seorang di seberang sana.
[Sore nanti, karena lusa adalah acara pernikahan putriku dengan seorang CEO,]ucap suara itu bangga.
[Baiklah, bukan masalah.] balasnya tanpa beban.
Pip! Sambungan telepon terputus. Orang yang sedang menelpon tadi adalah Wisnu dengan Ayah Yasmin, tuan Aryo Prayoga.
"Hm, tunggu sampai putraku benar-benar pulih. Aku akan membawa berlian itu pergi darimu." tuturnya penuh keyakinan.
* * *
Suasana ruang tamu masih saja hening bak tak berpenghuni. Hingga bunyi dari telepon Yasmin menghancurkan keheningan yang tercipta sejak sejam yang lalu dan itu sangat membuat Yasmin tidak nyaman.
'Thanks God!' ujarnya berterima kasih dalam hati.
Yasmin menjauh sedikit dari Aditya untuk menjawab telepon yang ternyata dari teman kuliahnya.
"Iya, Ra, ada apa?" tanya Yasmin pada seorang diseberang sana.
[Jalan ke mall, yuk.]
"Males ah, lusa aja, kita ketemu di pesta Kak Elis, gimana?"
[Ok, Kalau gitu kita ketemu di sana, ya.]
"Thanks gilr." balas Yasmin. Yasmin mematikan sambungan telepon tersebut dan kembali ke ruang keluarga di sana Lalita dan Wisnu sudah datang.
"Hy, Bun, Pa, kalian kapan sampai?" tanya Yasmin sambil duduk di dekat Lalita.
"Baru saja, Sayang, eum katanya Kakak kamu mau nikah ya? Soalnya Papa dapet kabar dari rekan bisnisnya yaitu Papa kamu, Sayang? Kamu udah punya gaun?" tanya Lalita.
"Iya Bun, oh jadi Papa sama Ayah rekan bisnis, ya? Belum Bunda enggak sempet mungkin sebentar sore mau ke mall cari gaunya," jawab Yasmin seraya tersenyum. Padahal rencannya Yasmin akan ke butiqnya untuk memilih gaun pesta yang cocok di hari bahagia sang iakak, rasa kecewa itu telah hilang dia telah menghapus Marcel dari ingatannya.
"Gak usah keluar, Sayang, Bunda udah siapin semuanya kamu pergi sama kami ya! Kami udah beritau Ayah kamu," paparnya.
"Eh, nanti malah ngerepotin Bunda, Yasmin enggak enak," jawab Yasmin tersenyum kecil.
"Enggak kok, Sayang, iya 'kan Pah," tutur Lalita sambil mencari dukungan suaminya.
__ADS_1
"Iya, gak masalah kok, Sayang. Ehm, tapi kamu tuh kalau lagi sama Yasmin udah kayak anak dan Bunda liat tuh anak kamu yang satu ini cemberut," jawab Wisnu sambil melirik Aditya yang hanya membuang muka.
"Hahaha, emang nanti Yasmin bakalan jadi anak beneran Bunda," ucap Lalita. Yasmin hanya tersenyum menanggapi ucapan Lalita karena menurutnya Lalita hanya bercanda. Padahal bener lho, Yas?
"Bunda, Yasmin mau ngomong sesuatu," ucap Yasmin dengan wajah seriusnya.
"Ngomong aja sayang," ujar Wisnu mulai serius juga.
"Gini Bunda, Pa, Mas Adit saya bakal lakuin pengobatannya malam ini soalnya kalau besok enggak sempet Yasmin ada kuliah dan acara kampus Bunda, Pa," papar Yasmin menjelaskan maksudnya.
"Terserah kamu, Sayang, eum apa yang bisa kami bantu?" tanya Lalita. Sementara Aditya hanya menatap mereka penuh arti.
"Enggak usah Bun, Yasmin udah siapin semuanya, tapi pada saat Yasmin ngobatin Mas Aditya, Bunda sama Papa enggak boleh masuk di dalam kamar, Bunda sama Papa bisa percaya sama Yasmin, Yasmin enggak akan nyakitin Mas Aditya," tutur Yasmin memberi syarat dengan penuh keyakinan.
"Baiklah, Sayang kami percaya sama kamu," balas Wisnu.
"Eum, kalian udah makan siang?" tanya Lalita.
"Udah Bunda, sekarang udah sore Yasmin mau balik pasti Ayah udah pulang sore nanti Yasmin ke sini lagi," ucap Yasmin seraya melihat jam tangan yang melekat di pergelangan tangannya.
"Baiklah, tapi kamu janji 'kan sayang bakal balik lagi ke sini?" tanya Lalita memastikan.
"Iya Bun, Yasmin janji," jawab Yasmin seraya tersenyum lembut ke arah mereka.
Setelah menyalami Wisnu dan Lalita serta pamit pada Aditya Yasmin pun meninggalkan rumah itu. Rumah yang penuh dengan kehangatan berbeda dengan rumahnya.
* * *
Seorang gadis sedang terduduk di lantai rumah yang dingin. Air mata meluncur deras pada pipinya yang mulus. Tampak jejak merah bekas tamparan pada pipih gadis itu yang tak bukan adalah Yasmin. Saat dia pulang Aryo sudah berdiri di ambang pintu dan langsung menariknya untuk dihakimi. Elis ternyata telah melapor yang bukan-bukan bahwa Yasmin keluar dengan pria yang tidak benar dan tidak pulang sejak kemarin.
“Ayah, kenapa mukul Yasmin? Yasmin enggak jalan sama laki-laki gak bener, Yasmin nginap di rumah sahabat Yasmin Hera karena Yasmin enggak tahan sama suara-suara aneh di rumah ini," ungkap Yasmin setengah benar. Karena dia tidak mungkin mengatakan bahwa dia menginap.di rumah pasiennya.
Gluk! Kata-kata Yasmin benar-benar menohok Elis karena semalam dia melakukan hubungan suami istri dengan Marcel, tapi menurut Elis, Yasmin sengaja membuat Elis dipermalukan.
"Ala, kamu paling cuman ngeles 'kan," ujar Elis menuduh Yasmin berbohong.
"Gak, aku gak ngeles, aku bener - bener risih sama suara itu," papar Yasmin tak mau kalah.
"Kamu?!"
Plak! Satu tamparan mendarat di pipi Yasmin, Yasmin hanya dapat meringis menahan sakit. Ibu tirinya menamparnya dengan sangat keras tak cukup dari sang ayah sekarang dari ibu tirinya lagi.
Tubuh Yasmin sudah penuh memar akibat pukulan mereka. Tidak ada rasa iba ataupun kasihan di mata mereka.
"Jelas-jelas, kamu yang berbuat salah, tapi sepertinya kamu malah menuduh, Kakakmu!" bentak Laras sembari menatap Yasmin penuh kebencian. Smentara itu, Aryo hanya menatpa putrinya datar.
"Udah Sayang, kita masuk aja dari pada ngurusin anak enggak bener kayak dia, yuk Pa, pasti Papa masih capek," ajak Laras dia tersenyum mencemooh pada Yasmin yang hanya menatapnya datar tanpa ekspresi.
Tanpa sepatah kata mereka meninggalkan Yasmin dalam keadaan cukup memperhatikan, tapi Yasmin tetap berusaha bangkit untuk berganti baju karena dia harus kembali ke rumah bunda Lalita.
Saat selesai mandi Yasmin mengobati memar tersebut dengan salep. Mata Yasmin bengkak karena habis menangis. Gadis malang itu hanya berharap Allah akan mengakhiri penderitaannya dan ayah yang sangat ia sayangi dapat menganggapnya ada.
"Esh, semoga aja Bunda Lalita enggak nyadar kalau aku kesakitan, harus tetep semangat malam ini adalah pengobatan Mas Adit," guman Yasmin diiringi rinngisan kesakitan.
Setelah bersiap Yasmin keluar untuk pergi kerumah Lalita. Saat Yasmin sudah beberapa meter dari gagang pintu seseorang menghentikan aksinya. "Kamu mau ke mana?" tanya suara itu.
Deg! Tubuh Yasmin mendadak kaku dia tidak tahu alasan apa yang harus ia berikan pada sang ayah karena tidak mungkin ia mengatakan akan menemui pasiennya.
"Kamu mau ke mana?" tanya suara itu lagi dingin dengan syarat akan ancaman.
"Yasmin, eum mau keluar Yah, Yasmin ada tugas kuliah bareng Hera. Boleh 'kan ya, aku keluar? Aku akan bermalam besok aku pulang," jawab Yasmin kaku.
"Pergilah," usir Aryo seraya berlalu tanpa menatap wajah putri kandungnya itu.
Terbesit rasa kecewa direlung hati Yasmin dia pikir ayahnya akan melarangnya, tapi nyatanya tidak. Bukannya itu yang ia inginkan. Namun, rasa kecewa selalu mengiringi, Yasmin berpikir apa dia punya kesalahan di masa lalu sehingga sang ayah sangat membencinya? Entahlah hanya Allah yang tahu. Salahkan dia karena tak dapat mengingat kenangan 10 tahun lalu dengan sempurna.
Yasmin melanjutkan lagi langkahnya dan tertelan oleh pintu.
Tanpa dia sadari ternyata Aryo menatap kepergiannya dengan sendu dia sangat tidak tega melihat air mata sang putri ingin rasanya ia merengkuh tubuh rapuh itu. Namun, ia tidak bisa, ia harus melakukan ini demi keselamatan Yasmin pasti Yasmin sangat membencinya dia tahu semua perihal tentang putrinya dia tahu putrinya seorang dokter mudah yang berbakat pemilik sebuah restoran terkenal serta memiliki butik yang selalu memiliki rancangan terbaik dan sekarang ia kuliah jurusan bisnis. Ia, sangat sakit saat memukul sang putri di depan umum ataupun di rumah. Akan tetapi, dia tak dapat melakukan apa-apa, karena nasib sang putri ada di tangan istir keduanya. Lagi-lagi dia terpaksa melakukannya karena keadaan yang memaksa.
"Maaf, sayang semoga kamu tidak membenci Ayah dengan sangat dalam," gumannya lirih.
bersambung....
__ADS_1