![Grisella Story [Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/grisella-story--revisi--.webp)
Matahari telah kembali keperaduaanya digantikan oleh sang penguasa malam yang bersinar terang di langit sana ditambah dengan taburan bintang yang makin mempercantik malam itu.
Seorang pria tampan sedang berkutak dengan labtop di hadapannya, labtop itu menyala dengan terang banyak sekali angka-angka kecil bermunculan di monitor labtop tersebut. Pria itu menatap laptop tersebut dengan pandangan serius. Meski jam sudah menunjukkan pukul dua belas dini hari, tapi seakan pria itu lupa waktu saking sibuknya dengan pekerjaannya.
Drt! Drt! Drt!
Getaran pada ponselnya membuat pria itu mengalihkan perhatiannya dari monitor laptop pada ponselnya.
Nama bunda Lalita tertera di layar ponsel yang memiliki harga selangit itu. Dengan enggan pria tampan itu mengangkatnya. "Assalamu'alaikum Bun, ada apa?" tanyanya to the point.
[Wa'alaikumsalam, Aayang. Kenapa kamu belum pulang ini sudah jam dua belas?] Nada khawatir jelas terdengar dari seberang sana. Pria itu yang tak bukan adalah Aditya mengalihkan pandangannya pada pergelangan tangannya yang memakai jam tangan mewah. Dia sedikit bersalah kepada bundanya yang sangat mengkhawatirkan dirinya dan itu dimulai saat sang istri tiada dia sudah mulai jarang pulang selalu sibuk di kantor mungkin untuk mengalihkan pikirannya dari sang istri.
Seandainya Aditya tahu Yasmin belum tiada pasti dia tidak akan seperti itu.
"Maaf Ma, Aditya akan pulang sekarang," jawab Aditya datar seraya mematikan sambungan sepihak dan langsung menyambar jasnya dan mematikan laptop yang masih menyala terang.
* * *
Selama 3 tahun menjalani kehidupan tanpa sang suami tidak membuatnya lemah. Di saat, dia sangat membutuhkan keberadaan sang suami, dia harus menelan pil pahit berkali-kali dan hanya bisa menatap sang suami dari balik layar kaca ponsel atau TV. Aditya kerap kali muncul di TV karena pencapaiannya yang hanya dalam waktu 3 tahun mampu melebarkan sayapnya sampai ke Eropa. Sangat-sangat jenius.
Dia adalah seorang wanita yang memiliki satu buah hati yang sangat cantik. Semenjak memiliki Ara hidup wanita itu berubah semua pikirannya lebih teralihkan dari sang suami. Dia kerap kali gelagapan jika ditanya oleh sang putri tentang keberadaan sang ayah. Seperti saat ini, mereka sedang berada di sebuah taman dan Ara menanyakan perihal keberadaan ayah biologisnya.
"Bundah, Ayah macih cibuk ya? Jadi, Ayah belum bica jemput Ala dan main cama Ala, iya Bun?" tanya gadis mungil di samping seorang wanita cantik yang tak bukan adalah Yasmin dengan suara khas anak kecil.
Wanita cantik itu tertegun sejenak, seraya tersenyum ia mengusap surai hitam sang putri. "Iya Sayang, Ayah lagi sibuk. Jadi, Ayah belum bisa jemput Ara, nanti ya Sayang kalau Ayah udah enggak sibuk pasti Ayah temuin kita," jawab Yasmin lembut.
"Eum, cemoga keljaan Ayah cepat celecai ya Bun, cupaya Ala bica main sama Ayah, Ala udah bocan main ama Ayah Ginan, telus Henly suka ngalagin Ala main cama Ayah Ginan, Bun," jelas Ara dengan suara cadel dengan mimik wajah berubah kesal saat menyebutkan nama Henry sepupunya.
"Sabar ya Sayang," ucap Yasmin menenangkan sang putri. Yasmin tidak pernah menyembunyikan tentang keberadaan sang suami kepada putri kecilnya dia hanya beralasan jika Ayahnya tengah sibuk, jadi belum bisa untuk menjemput mereka.
"Ok, Ala main dulu ya," uja4 Ara dan bangkit dari tempatnya duduk untuk bermain sembari menunggu seseorang yang tak kunjung datang.
"Bunda, cini main cama Ala," panggil gadis mungil itu dengan suara cadel khas anak-anak. Senyuman manis tak luntur dari wajah cantiknya yang seputih salju. Matanya yang bulat mirip dengan mata sang bundah, tapi wajahnya menyerupai Aditya dalam versi perempuan tak lupa lesum pipi membingkai wajah cantiknya fiks Ara adalah perpaduan dari Aditya dan Yasmin. Hanya sekali orang melihat, mereka sudah tahu jika gadis itu mirip dengan Aditya.
__ADS_1
Wanita itu tersenyum dan menghampiri sang putri. "Ara mau main sama Bunda?" tanya wanita itu--Yasmin--seraya tersenyum.
"Eum."
"Ara!" teriak seorang pria tampan kira - kira berusia 28 tahun.
"Ayah!" pekik gadis manis itu.
Pria tampan itu menghampiri mereka. Dan langsung merengkuh tubuh mungil gadis kecil yang sedang tersenyum cerah.
Di belakang pria tampan itu, seorang wanita cantik juga tersenyum manis menghampiri mereka dengan seorang anak laki-laki kira-kira seusia dengan Ara, tapi lebih tua Ara beberapa bulan.
"Itu Ayah aku, bukan Ayah kamu," sela anak laki-laki itu seraya menatap datar ke arah Ara.
"Ayah Ginan, Ayah Ala juga, tunggu ya, kalau Ayah Ala datang, Henly enggak boleh peluk Ayah Ala," ketus Ara dengan tampang marah seraya menatap tajam ke arah anak lelaki itu.
Sedangkan para orang tua hanya bisa tersenyum maklum. Mereka tidak habis pikir kenapa mereka selalu bertengkar hanya karena masalah sepele. Lebih parahnya, Henry masih 3 tahun sudah memiliki sikap bak Kutup Utara padahal Ginan tidak seperti itu.
"Hei, lepacin Bunda Ala!" pekik Ara tertahan seraya menatap Henry bermusuhan.
"Hehe, sabar Sayang, kalian berdua tuh anak Bunda," kata Yasmin menenangkan.
"Mereka kayak Tom and Jery aja, yah Pa," ucap wanita cantik yang baru datang beberapa menit lalu itu--Hera
"Haha, iya, bener," timpal Ginan seraya menggeleng tak percaya melihat tingkah anak serta keponakannya itu.
"Bunda enggak acik," sembur Ara malas dan berbalik untuk bermain.
Lagi-lagi mereka hanya mampu geleng kepala. Sembari mengawasi Anak-anak mereka bermain, Hera dan Yasmin asik bercakap membahas aktivitas mereka.
"Bunda, Ala pelgi bental ya," ucap Ara dan mulai berjalan.
"Ke mana Sayang?" tanya Yasmin.
__ADS_1
"Deket citu," jawab Ara tidak berbalik karena fokus menatap ke arah bawah pohon tempat pria yang Ara yakini adalah ayahnya.
"Jangan pergi, nanti Ara tersesat," larang Yasmin panik dan mulai berdiri.
"Tenang Yas, aku bakal pantau," ujar Ginan sembari menatap arah kepergian Ara.
"Udah, enggak usah khawatir Yas, toh Ara anaknya cerdas di usia segitu dia udah paham banyak hal," imbuh Hera menenangkan sahabatnya.
"Ya Ra, kamu bener, tapi aku tetep khawatir," balas Yasmin masih menatap putri kesayangannya yang berjalan ke arah bawa pohon.
"Eum, udah, gini aku mau tanya? Kamu enggak ada niatan balik ke Indonesia dan jelasin semuanya ke Aditya?" tanya Hera hati-hati.
Helaan napas terdengar dari bibir Yasmin. "Hm, aku belum bisa Ra, kamu tahu sendiri aku tuh udah mati bagi Mas Aditya, dan itu yang aku mau 'kan! Itu salah aku Ra, kamu tahu sendiri 'kan, pasti Mas Aditya benci banget sama aku kalau Mas Aditya tahu aku masih hidup," jelas Yasmin dengan mata berkabut. Air mata telah berkumpul di pelupuk mata Yasmin dan Hera buru-buru memeluk sahabatnya itu.
"Kamu enggak salah Yas, selagi kamu jelasin sama Aditya pasti dia ngerti apalagi kamu pergi untuk berobat, kami bisa bantu kok Yas buat jelasin, dan kamu enggak kasihan sama Ara dia pasti rindu banget sama Ayahnya yang hanya bisa ia liat lewat layar TV," terang Hera sembari mengusap punggung Yasmin.
"Akan aku coba, Ra," jawab Yasmin dan melepas pelukan mereka. Obrolan mereka dilanjutkan dengan aktivitas yang mereka lalui sedikit melupakan keberadaan Ara yang sudah tak terlihat.
Setelah lama berbincang Yasmin baru tersadar. Ara sudah tidak ada digaris pandagannya. Yasmin lantas berdiri dengan raut wajah panik.
"Gi, Ara mana? Kok, aku enggak liat dia di sekitar sini?" tanya Ara mulai panik seraya celingak-celinguk menyapu area taman.
"Dia ada di sa ...." Ginan tidak melanjutkan ucapannya karena Ara sudah tidak ada di tempatnya berdiri tadi. Dia baru menoleh sebentar dan Ara sudah menghilang.
"Di mana Gi?" tanya Yasmin mulai panik.
"Aku cari dulu," jawab Ginan dan beranjak dari tempatnya duduk.
"Gimana nih Ra? Kita cari Ara juga aku takut Ara kenapa-napa." Yasmin panik dan mulai menyusuri area taman. Hera juga panik akan hilangnya Ara dia tidak lupa membawa Henry untuk mencari Ara.
Hari sudah beranjak sore. Namun, Ara belum ditemukan keberadaanya Yasmin sudah menangis tersedu-sedu dari tadi karena belum menemukan putri kecilnya yang sangat ia sayang itu.
bersambung.... Rate bintang lima ya ⭐
__ADS_1