Grisella Story [Revisi ]

Grisella Story [Revisi ]
part 12


__ADS_3

"Kamu mau ikut kerjasama denganku untuk mendapatkan dia, kamu pasti suka bangget 'kan sama dia?" tanya seorang wanita pada pria tampan di depannya.


"Tapi, dia sahabatku, aku takut ini akan menghancurkan persahabatan kami," jawab pria itu.


"Kita buat ini seperti kecelakaan," balas wanita itu lagi. "Setelah itu, kamu bisa pura-pura jadi pahlawan dengan cara tanggung jawab sama dia dan kamu bisa dapatin dia dan aku dapetin Aditya, gimana," usul wanita itu melanjutkan perkataanya.


Pria tampan dan wanita cantik itu yang tak bukan adalah Frans dan Rena sedang berbincang di sebuah restoran.


"Hm, baiklah aku terimah, tapi kapan rencananya bakal kamu mulai? Bentar lagi aku wisuda jadi aku enggak punya banyak waktu?" tanya pria itu Frans.


"Gampang, sehari setelah mereka menikah kita laksanakan rencananya, lagi pula belum sampai seminggu kalian akan wisuda 'kan?" tanya Rena memastikan.


"Iya, kalau gitu aku cabut dulu," jawab Frans seraya meninggalakan Rena sendirian di Caffe itu yang menatapnya penuh arti.


"Mudah banget sih dibodohin, dasar bocah labil," guman Rena tersenyum sinis.


* * *


Di tempat yang sama, Aditya makan siang dengan Yasmin setelah mereka melakukan fiting baju buat nikahan mereka minggu depan.


"Yas, saya enggak bisa selalu jemput kamu dekat-dekat ini, karena pekerjaan saya padat, saya harus menyelesaikan semuanya sebelum hari H," imbuh Aditya menjelaskan kepada calon istrinya itu.


"Iya Mas, Yasmin ngerti. Eum, bisa enggak Mas kata 'saya' itu dihilangin kita udah mau nikah lho masa masih panggil saya-kamu, aku-kamu dong biar romantis gitu," cetus Yasmin menjelaskan karena jujur dia jengah mendegar kata saya itu.


"Baiklah saya ...." Ucapan Aditya terpotong dengan perkataan Yasmin yang langsung mencelah.


"Tuh 'kan, saya lagi," ujar Yasmin ketus.


"Maaf," jawab Aditya.


'Gini kalau ngomong sama patung es.' Yasmin sebal sendiri dibuatnya.


Setelah percakapan singkat itu tidak ada yang membuka suara hanya dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan dengan piring. Mereka menikmati makan siang mereka dengan khitmat.


"Bersenang-senanglah, liat saja jika waktunya sudah tiba." Seseorang menatap mereka dari kejauhan dengan tatapan benci.


Siapa lagi jika bukan Rena wanita yang begitu berambisi untuk menghancurkan kebahagiaan Yasmin.


Hari ini Ziah pergi ke bandara untuk menjemput kedua orangtuanya. Dari kejauhan dia dapat melihat seorang wanita dan pria paruh bayah yang sedang tersenyum padanya. Ziah dengan semangat langsung bergegas menemui mereka.


"Ma, Pa, Ziah rindu," tutur gadis itu--Ziah-- manja seraya merengkuh tubuh kedua orangtuanya.


"Hehe, kita juga rindu, Sayang," balas pria itu yang tak bukan adalah yah Ziah seraya mengurai pelukan mereka sedangkan wanita cantik di sampingnya hanya tersenyum lembut.


"Ya udah, pasti kalian capek dari perjalanan jauh," ujar Ziah menarik kedua tangan orangtuanya. Setelah itu, mereka meninggal area bandara menuju ke rumah Yasmin.


Di sini mereka sekarang, di kediaman tuan Prayoga. Rumah itu masih sepi yang ada hanya pembantu yang berlalu lalang membersihkan rumah karena tamu akan datang yang tak bukan adalah kedua orangtua Ziah.


"Tumben Zi sepi, sepupu kamu mana?" tanya papa Ziah. Setelah mereka masuk karena tidak ada seorang pun di rumah itu kecuali para pelayan yang menyambut kedatangan mereka.

__ADS_1


"Lagi pergi fitting sama calon suaminya," jawab Ziah.


"Oh, nikahannya minggu depan 'kan?" tanya Indah--mama Ziah.


"Iya Ma, mereka cuman nunggu Mama sama Papa buat bahas konsep dengan mereka juga dengan Om Aryo" jawab Ziah lagi menjelaskan.


"Kalau Om kamu mana?" tanya Mama Ziah lagi.


"Lagi di kantorlah Ma, masa Mama enggak tahu." akali ini papa Ziah yang menjawab.


"Upss, sorry Mama lupa," ucap wanita itu tersenyum.


Perbincangan mereka diinterupsi oleh kedatangan pembantu yang membawa minuman dingin.


"Ini, Tuan, Nyonya minumannya, sebentar lagi tuan pulang, silahkan dinikmati," ujar bi Asih seraya tersenyum ramah.


"Makasih Bi," jawab mereka yang dibalas anggukan oleh bi Asih dan bergegas ke dapur. Tak berselang lama, terdengar deru suara mobil yang berhenti di pekarangan rumah.


"Itu pasti Om Aryi," tebak Ziah.


Dan benar dari arah pintu masuk. Aryo diikuti seorang gadis cantik yang tak bukan adalah Yasmin mendekat dan menghampiri mereka. Aryo dan papa Ziah, pak Gibran langsung berpelukan ala laki-laki dan gadis itu--Yasmin langsung memeluk tante Indah.


"Udah lama kalian nyampenya?" tanya Aryo seraya duduk di sofa.


"Belum lama," balas pak Gibran.


"Bukan masalah, kita ini keluarga, sini ponakan Om yang cantik," sanggah Gibran seraya mengkode Yasmin untuk mendekat.


Yasmin mendekat ke Gibran dan duduk di dekatnya.


"Wah, ponakan Om ternyata udah mau nikah, enggak nyangka, ya," tutur Gibran seraya tersenyum hangat bak seorang ayah.


"Hehe, Iya Om," jawab Yasmin seraya tersenyum juga.


"Jadi, konsep nikahan kamu gimana Yas, Tante mau tahu?" tanya tante Indah.


"Sederhana aja deh Tan, Om, Yah, yang hadiri dari pihak keluarga saja, " jawab Yasmin setelah beberapa saat diam.


"Kenapa Sayang? Calon suami kamu 'kan CEO ternama negara ini, kenapa pas nikahan tidak dilangsungkan dengan megah?" tanya tante Indah yang disetujui oleh semua orang yang sedang menatap Yasmin penuh tanya.


"Entahlah, Yasmin enggak mau mempermalukan Ayah, tante, dan Om, kayaknya bakal ada kejadian deh sebelum aku nikah jadi itu sebagai anti sipasi nikahannya enggak boleh disorot publik dulu. Cukup pihak keluarga jika resepsi boleh ramai, " jawav Yasmin menjelaskan semua orang bungkam dibuatnya.


"Huft, baiklah Nak, dan semoga kekhawatiranmu itu tidak kenyataan," balas Aryo tersenyum lembut ke arah putri kecilnya berusaha meyakinkan bahwa semua akan baik-baik saja.


"Tapi, apa mereka tidak akan tersinggung?" tanya Tante Indah.


"Bissmilah saja, Tan, serahkan semua sama Allah," jawab Yasmin menenangkan dan diangguki oleh mereka.


Setelah mengatakan demikian Yasmin izin ke kamar diikuti oleh Ziah. Dan para orang tua mulai memikirkan tentang rencana pernikahan putri kecil mereka.

__ADS_1


"Yas, aku mau ngomong," tutr Ziah tiba-tiba sebelum mereka masuk.


"Baiklah, kita masuk dulu," jawab Yasmin.


Saat mereka telah masuk ke dalam kamar Yasmin dan mendapatkan posisi yang nyaman untuk mengobrol. Ziah langsung bertanya. "Yas, kekhawatiranmu itu apakah beralasan?" tanya Ziah tiba-tiba dengan tatapan seriusnya.


"Huft, tadi pas kita makan siang, Aditya di telepon sama Rena, walaupun dia enggak kasih tahu aku kalau dia yang nelpon, tapi aku sempet liat nama si penelpon," jawab Yasmin diringi tatapan lemas.


"Jadi?" tanya Ziah mulai kepo.


"aku yakin, kalau Rena enggak akan berhenti begitu saja, Zi, coba kamu pikir masa dia mau lepas Aditya gitu aja?Gak mungkin 'kan?" papar Yasmin menjelaskan.


"Seumpama ni ye, bukan maksudku nyumpahin kamu gagal nikah," cetus Ziah menghentikan ucapannya untuk melihat perubahan air muka Yasmin.


"Kalau seumpama kalian gagal nikah, kmu gimana? Dan itu karena Rena yang lakuin? Apa kamu mau lepas Aditya gitu aja atau mau kamu perjuangin?" tanya Ziah serius.


"Akuperjuanginlah, selama dia percaya sama aku, dia paati enggak bakal terpengaruh," jawab Yasmin yakin.


"Kalau dia enggak percaya? kalau dia terpengaruh gimana? Apalagi Rena cinta pertama Aditya? " tanya Ziah lagi.


"Entahlah, kalau itu yang terjadi aku bakal lari sejauh-jauhnya dari hadapan dia sampai dia gak bisa menemukanku," jawab Yasmin dengan mata berkaca-kaca.


"Duh, maaf Yas, aju enggak maksud ...." ucap Ziah terpotong oleh ucapan Yasmin.


"Enggak pa-pa aku paham kamu khawatir sama aku, tapi perasaanku bilang ada sesuatu yang akan terjadi, tapi semoga itu enggak ada hubungannya dengan nikahanku, dan semoga Allah selalu bersama kami," beber Yasmin seraya tersenyum lembut ke arah Ziah.


* * *


Di lain di tempat di waktu yang berbeda. Terlihat dua orang anak manusia yang sedang duduk di sebuah kursi taman rumah sakit.


"Jadi, kenapa kamu memanggilku ke sini?" tanya pria itu yang tak bukan adalah Aditya.


"Sebelumnya aku minta maaf Dit, karena udah buat kamu susah, a-aku sebenarnya enggak mau kasih tahu kamu ini, t-api aku pengen liat kamu di sisi aku di akhir hayatku," ujar wanita itu--Rena--mulai terisak pilu.


Aditya masih bungkam menunggu kelanjutan kalimat dari Rena wanita yang dulu pernah menyandang sebagai kekasihnya.


"Aku mengidap kanker hati stadium akhir, kalau kamu enggak percaya. Ini ada hasil pemeriksaanku dan kamu bisa tanya Dokterkter yang menanganiku," lanjut Rena memberi tahu kebenaran yang membuat Aditya tidak bisa berkata-kata.


"Aku mohon Dit, di akhir hidupku kamu mau 'kan ada di sisiku," mohon Rena penuh harap dengan mata sembabnya menatap Aditya berharap pria itu akan lulu melihat dirinya yang menyedihkan.


"Aku gak bisa Ren, aku udah mau nikah maaf," jawab Aditya seraya melepaskan gengaman Rena dari tanganya.


Setelah itu, dia pergi meninggalkan Rena dengan perasaan tidak menentu.


"Dit, Adityaa, tega kamu," teriak Rena yang tidak digubris oleh Aditya pria itu tetap berjalan pergi meninggalkan area rumah sakit.


'Awas kamu Aditya, pasti kamu enggak nerima aku karena dia, liat saja dia sendiri yang akan menyerahkanmu, itu janjjiku,' tutur Rena dalam hati dengan pandangan berkilat. Sepertinya jika Rena membintangi sebuah film dia pasti melakukan perannya dengan baik. Perlu diacungkan jempol betapa liciknya dia.


bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2