Grisella Story [Revisi ]

Grisella Story [Revisi ]
part 9


__ADS_3

Setelah memberikan ucapan selamat kepada pengantin baru tersebut mereka berpamitan pada tuan rumah yakni Aryo dan Laras.


"Bun, Yasmin udah gak ikut sama Bunda 'kan, soalnya Mas Adit udah sembuh total. Jadi, Yasmin mau balik tinggal sama Ayah," celetuk Yasmin lirih yang hanya didengar oleh Lalita.


"Tapi sayang, di sini kamu enggak aman," ujar Lalita berharap Yasmin akan berubah pikiran.


"Enggak kok, Bun, Yasmin bakalan baik-baik aja. Kalau Bunda mau minta bantuan Yasmin, Yasmin siap kok untuk datang. Lagi pula Yasmin libur dua hari kedepan Bun," sanggah Yasmin tersenyum lembut.


"Nah, justru itu kamu nginap di rumah Bunda ya," mohon Lalita.


Sebenarnya Yasmin mau saja menginap. Namun, rumah itu tidak sama lagi. Aditya sudah sembuh pasti mereka akan sering bertemu kalau satu rumah dan Yasmin tidak terlalu suka ketemu dengan Aditya.


"Maaf, ya Bun, tapi Yasmin harus nginap di rumah ini, soalnya Yasmin kangen dengan kenangan Bunda Yasmin," tolak Yasmin lembut, tapi nada suaranya terdengar sedikit bergetar. Lalita langsung bungkam dan tidak melanjutkan lagi bujukannya.


"Hy, Jeng Laras, kami sudah mau pulang terima kasih atas pestanya begitu sempurna," ucap Lalita ramah saat sampai di hadapan Laras dan Aryo


"Iya dong Jeng, karena ini tuh pesta pernikahan putri kesayangan kita, Iya 'kan Pa," balas Laras tersenyum lembut, tapi nada bicaranya sarat akan ejekan terhadap Yasmin. Dia terang-terangan menatap Yasmin jijik.


"Iya, Ma," jawab Aryo tersenyum dipaksakan. Dia menatap putrinya penuh arti dia tidak bisa lagi menahan rasa rindunya. Kekecewaan putrinya selalu terngiang-ngiang di kepalanya.


"Oh, iya Jeng, kalau gitu kita balik ya," piy Lalita tersenyum ramah.


Wisnu dan Aditya mengikuti Lalita setelah berpamitan dengan Aryo dan rekan bisnis mereka.


Tinggallah Yasmin di pesta itu. Aditya hendak menariknya pergi. Namun, ditahan oleh Wisnu dengan menggelengkan kepala. Aditya yang paham hanya mengangguk dan melanjutkan langkah mereka untuk segera pulang.


Di pesta itu Yasmin sangat tidak nyaman karena banyak pria yang menatapnya penuh nafsu. Jadi Yasmin memutuskan untuk pergi. Namun, karena dia tidak memperhatikan ada orang yang berjalan ke arahnya, sehingga dia menabrak orang itu dan minuman yang ia pegang membasahi gaun Yasmin, wanita yang menabrak Yasmin tak bukan adalah Laras.


"Ups, sengaja, emang sampah enggak cocok pakai-pakaian mewah," tandas Laras dengan nada mengejek yang tidak disembunyikan.


Yasmin hanya menatapnya datar dan berlalu. Laras yang tidak terima diabaikan langsung mencekal pergelangan tangan Yasmin.


"Lepas," pinta Yasmin dengan suara yang rendah. Namun, sarat akan ancaman.


Setelah mengucapkan itu Yasmin menarik tangannya dan berlalu keluar.


Gluk! Laras sampai meneguk salivanya untuk membasahi kerongkongannya yang kering akibat tatapan Yasmin yang dingin dan datar.


"Kenapa jalang kecil ini makin berani, liat saja nanti aku akan membalasmu," gumam Laras kesal. Setelah itu, dia kembali berhambur dengan teman sosialitanya.


Sementara itu, di luar gedung Yasmin lupa jika dia ke sini bersama Aditya dan mereka pasti sudah pulang. Bagaimana caranya ia pulang.


"Aduh, kenapa juga aku lupa bawa uang, dasar ceroboh," kata Yasmin pada dirinya sendiri.


Pada saat Yasmin berjalan meninggalkan area gedung itu, banyak pasang mata yang menatapnya penuh arti antara takjub, iri, benci, dan memuja.


Saat Yasmin menunggu taksi berharap ada yang lewat. Karena dia sudah jauh dari keramaian. Tujuannya saat ini hanya satu yaitu pulang dan langsung terjun ke alam mimpi bersama guling kesayanganya yang sudah lama ia tinggalkan.


"Duh, taksi mana sih, aku bayar kok, tapi entar ya kalau sampai rumah," dumel Yasmin pada dirinya sendiri.


Saat Yasmin menunggu, dari jarak lima puluh meter terilihat gerombolan pemuda yang sedang memperhatikannya.


Yasmin mulai panik dan berjalan menjauh tak lupa ia merapalkan doa - doa agar selalu diberikan perlindungan oleh Allah. Karena gaun Yasmin yang tebal dia harus mengangkatnya agar memudahkannya untuk berjalan. Para berandalan itu semakin mendekat.


'Ya Allah tolong Yasmin, Ya Allah tolong Yasmin,' ucap Yasmin dalam hati.


Saat Yasmin terus berjalan meninggalkan berandalan itu, sayup-sayup ia mendengar kata-kata preman itu.


"Jangan lari, Nona manis, kami akan memuaskanmu. Jadi berhentilah berlari, hehe." Salah satu dari berandalan itu berucap dengan kata-kata tidak pantas. Secara tidak langsung dia telah melecehkan Yasmin secara non verbal.


"Dalam mimpimu," desis Yasmin tajam, tapi tidak terdengar oleh berandalan itu karena jarak mereka masih agak jauh.


Mungkin karena berandal itu sudah malas bermain-main mereka langsung berlari dan mengepung Yasmin.


"Mau ke mana, Nona manis? Jangan lari, temani kami malam ini, hm," imbuh salah satu dari mereka diikuti tawa mereka yang menjijikkan.


Saat Yasmin ingin menembus lingkaran yang mereka buat. Mereka malah memegang dagu Yasmin.


"Jangan menyentuhnya dengan tangan kotor kalian," desis sebuah suara yang sangat Yasmin kenali.


'Terimahkasiih Ya Allah, karena telah mengabulkan doa Yasmin,' guman Yasmin dalam hati merasa bersyukur.


"Jangan sok jadi pahlawan, emang dia siapamu?" tanya brandal yang bertubuh tambun itu.


"Saya suaminya," jawab pria itu--Aditya--datar.


Aditya langsung maju dan menarik Yasmin ke dalam pelukannya.


"Brengsek, hajar dia, aku mau cewek montok itu," pinta bos mereka yang tadi memegang dagu Yasmin.


Aditya membawa Yasmin ke belakangnya dan menghadapi mereka.


Dalam waktu kurang dari sepuluh menit mereka telah tumbang dan lari terbirit-birit. Aditya tidak lecet sama sekali hanya dasinya yang logar dan dua kancing kemejanya yang terbuka. Penampilan Aditya mirip seperti mafia-mafia di film romantis.


"Mas Aditya gak pa-pa?" tanya Yasmin khawatir.


"Kenapa kamu jalan sendirian? Kenapa tidak menunggu mereka mengantarkanmu?" Bukan menjawab Aditya malah balik bertanya pada Yasmin.


"Siapa? Mereka? Mereka sibuk dengan diri mereka masing-masing. Aku gak suka di sana. Semua orang menatapku penuh rasa benci dan iri apalagi para pria menatapku penuh nafsu dan aku sangat tidak nyaman jadi aku pulang sendiri, tapi saat menunggu taksi mereka datang," jelas Yasmin seraya menunduk.


Aditya langsung memeluk tubuh Yasmin yang lebih pendek darinya.


"Maaf," ucap Aditya meminta maaf karena merasa gagal melindungi calon istrinya.


"Kenapa harus minta maaf? Mas Aditya enggak salah," sanggah Yasmin heran.


"Aku akan mengantarmu," sambung Aditya tanpa menjawab pertanyaan Yasmin.


Yasmin hanya mengedikkan bahu bingung dan mengikuti Aditya memasuki mobilnya yang terparkir tidak jauh dari insiden tadi.


Saat mereka masuk ke dalam mobil Aditya. Yasmin meminta tissue, Aditya sempat heran, tapi tetap memberikannya.


Setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, tanpa rasa canggung Yasmin menghampus peluh pada pelipis Aditya. Menurut Yasmin itu sebagai bentuk terima kasih bukannya dia mau cari kesempatan.


Aditya sempat tertegun. Akan teapi setelahnya dia menarik sudut bibirnya membentuk senyuman setipis kertas.


Deru napas Yasmin yang hangat menerpa wajah Aditya. Karena jarak mereka hanya beberapa centimeter lagi dan itu tidak disadari oleh Yasmin, dia masih telaten mengusap peluh di dahi Aditya. Sampai akhirnya Yasmin menjauhkan tubuhnya dari Aditya.


"Selesai, Mas Aditya makasih udah nolongin Yasmin, kalau enggak ada Mas Aditya Yasmin enggak tahu apa yang akan terjadi," ujar Yasmin berterima kasih dengan wajah menunduk mencoba menghapus kejadian tadi dari ingatannya.


Saat Yasmin menundukkan kepalanya mencoba menghalau cairan bening yang sebentar lagi akan meluncur deras dari kedua mata indahnya. Yasmin merasakan usapan lembut pada kepalanya.


Seketika Yasmin mengangkat kepalanya dan tersenyum lembut memamerkan deretan giginya yang rapi serta lesung pipi yang dalam di sebelah kanan pipinya makin mempercantik parasnya.


"Sekali lagi, makasih Mas Aditya, bisa Mas antar Yasmin pulang," tutur Yasmin dengan raut wajah memohon.


Aditya hanya mendengus menatap Yasmin. Dia tidak menyangka gadis itu mempunyai kepribadian ganda baru saja dia sedih, moodnya sangat cepat berubah. Tanpa berkata apa-apa Aditya menjalankan mobilnya menembus jalan raya yang agak lengang karena hari sudah malam.


Aditya membawa Yasmin kerumahnya. Karena Yasmin tertidur jadi dia tidak membangunkannya.

__ADS_1


Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam.


Aditya mencoba membangunkan Yasmin yang masih pulas tertidur.


"Hy, Yas, bangung," pinta Aditya seraya menepuk-nepuk pipi Yasmin. Namun, sedikit pun Yasmin tidak terusik.


Aditya mencoba sekali lagi, tapi dengan cara berbeda.


Cup! Aditya mencium pipi Yasmin dan memanggilnya dengan panggilan sayang. Langsung saja Yasmin terbangun dengan wajah bodoh.


'Kalau aku tahu, sudah dari tadi aku menggunakan cara itu,' ujar Aditya dalam hati.


"Mas, ini di mana? Kenapa Mas enggak bangunin aku?" tanya Yasmin mencoba mengumpulkan kesadarannya.


Tanpa Yasmin sadari dia tidak menggunakan saya-kamu lagi dalam berbicara dengan Aditya. Dia malah memakai kata aku-kamu.


"Ini di rumah, Sayang," jawav Aditya mengucapkan kata sayang untuk keduakalinya, senyum tipis tak luntur dari wajah tampan Aditya. Setelah itu dia keluar dari mobil.


Yasmin lagi-lagi hanya melongo dengan wajah bodoh.


"Apa tadi? Kenapa dia begitu aneh? Aish, dia sudah kayak Frans saja," ujar Yasmin menggeleng dan keluar juga dari mobil mengikuti Aditya. Ternyata Yasmin benar-benar sangat tidak peka akan keadaan yang sedang terjadi.


"Tunggu dulu, Mas Adit ini 'kan rumah Bunda Lalita. Saya tadi suruh Mas, antar saya pulang ke rumah saya," tutur Yasmin bingung.


"Saya tidak tagu alamat kamu," jawab Aditya setelah itu berlalu dari hadapan Yasmin yang masih bingung.


"Iya juga, sih, 'kan aku tertidur? Hu, bodoh! Bisa-bisanya aku tertidur tadi, tapi enggak pa-pa deh, yang penting bisa ketemu sama Bunda Lalita." Yasmin bermonolog pada dirinya sendiri.


Setelah itu, Yasmin menyusul Aditya masuk kedalam rumah mewah itu. Karena sesungguhnya dia sudah sangat lelah dia hanya ingin berbaring di atas tempat tidurnya yang empuk.


Saat Yasmin memasuki rumah itu, Aditya sudah tidak ada. Mungkin dia telah masuk ke kamarnya dan suasana rumah itu sangat sepi. Yasmin sempat memikirkan yang aneh-aneh, tapi dia menepis pemikirannya itu, dia bergegas memasuki kamarnya.


Setelah Yasmin membersihkan diri dia langsung naik ketempat tidurnya untuk menyelami alam mimpi.


"Uh, kenapa panas banget ya, padahal ACnya udah dinyalain?" tanya Yasmin heran karena malam ini sangat terasa sangat panas tidak seperti biasanya.


Setelah mengambil posisi yang nyaman Yasmin bergegas untuk tidur karena jam sudah menunjukkan pukul dua belas malam berapa lama ia mandi? Ia juga tidak tahu karena jam sudah menunjukkan angka demikian.


Di saat gadis itu tertidur dengan pulas tiba-tiba suara petir menyambar dan langsung membangunkannya. Suara Petir yang dibarengi oleh Guntur seakan berlomba siapa yang mempunyai suara paling keras dan itu membuat tubuh Yasmin bergetar. Gadis malang itu--Yasmin--mencoba menutup telinganya dan bersembunyi di balik selimut, kenangan itu kembali terbayang. Tanpa diminta cairan bening meluncur lolos dari kedua mata indahnya. Yasmin menangis dalam diam dia takut, gadis itu mencoba bersembunyi di bawa kolom meja rias. Di luar sana langit telah menumpahkan kesedihannya membasahi bumi tanpa diminta.


Gadis itu masih mencoba menutup matanya menghalau cairan bening yang tanpa diminta merembes keluar dari kedua mata indahnya.


Tiba-tiba saja lampu menjadi padam yang membuat Yasmin menjerit memanggil sang bunda.


"B-bunda Yasmin takut, Bunda jangan pergi, Yasmin takut," isak gadis itu pilu seraya menutup telinganya berusaha untuk tidak mendengar suara-suara petir yang menggelegar itu. Jika biasanya hal ini terjadi Heralah yang selalu memeluknya dan menenangkanya, tapi ia tidak sedang berada di rumah Hera. Ini bukan rumahnya.


Petir dan Guntur di luar sana masih belomba siapa yang memiliki suara yang paling keras. Mengatar perasaan yang sangat mencekam bagi gadis malang itu. Tubuhnya masih bergetar dari waktu ke waktu.


Tiba-tiba pintu kamar Yasmin terbuka dia tidak bisa melihat siapa orang itu karena dia sangat takut hanya sekedar membuka matanya. Peluh sudah membanjiri kening Yasmin matanya sembab karena dari tadi menangis tertahan. Karena suasana kamar yang gelap gulita orang itu tidak dapat melihat keberadaan Yasmin. Samar - samar Yasmin dapat mendengar suara yang begitu familiar memanggil namanya.


"A-aku di sini," jawab Yasmin lirih.


Orang itu yang tak bukan adalah Aditya langsung meyenter menggunakan senter ponselnya. Ya, di sana gadis kecil itu tengah meringkuk seraya menutup kedua telinganya di bawa meja rias.


Aditya menarik Yasmin keluar dan bertanya tentang keadaannya. Ternyata Aditya sempat mendengar jeritan Yasmin karena mereka bersebelahan kamar.


"Hei, kamu kenapa?" tanya Aditya mencoba memperhatikan wajah Yasmin di gelapnya malam. Tanpa menjawab Yasmin langsung memeluk tubuh Aditya dia tidak dapat berpikir jernih dia takut dan juga kalut kenangan itu seakan menghantuinya.


Aditya sempat kaget, tapi dia membiarkannya karena dia tahu Yasmin ketakutan dia baru tahu ternyata gadis tangguh ini mempunyai trauma kepada Petir.


"Tenang ok, kamu aman sekarang," ujar Aditya seraya mengelus rambut Yasmin yang sehalus sutra.


"Yasmin takut, Yasmin takut." Isakan Yasmin makin pilu. Hati Aditya seakan diremas mendegar isakan pilu dari orang yang sangat ia cintai. Yasmin mencengkeram baju Aditya berusaha tidak mengeluarkan isakannya ia tak peduli jika baju Aditya basah dan kusut akibat ulahnya.


di pelukan Aditya dan isakannya juga telah berhenti tampak jejak air mata di pipinya yang putih mulus. Aditya mengusap bekas air mata itu dan mengangkat tubuh Yasmin kembali ke tempat tidurnya.


Setelah membaringkan Yasmin dan tak lupa menyelimutinya. Aditya bergegas keluar dari kamar Yasmin dia tidak mau hal yang iya-iya terjadi.


* * *


Seorang gadis terbangun di tengah malam. Dia langsung bergegas ke kamar mandi untuk melaksanakan salat malam. Setelah melaksanakan tugasnya Yasmin tak lupa berdoa kepada Allah untuk bundanya yang telah tenang di sisi-Nya.


Tak terasa air mata kembali mengalir deras dari kedua pipinya yang mulus. Setelah berdoa dan mengeluarkan semua keluh kesahnya kepada Allah.


Setelahnya, ia merapikan alat salatnya, Yasmin kembali ke peraduannya mencoba mengingat kejadian semalam. Yasmin seketika menutup wajahnya setelah mengigat insiden yang sangat memalukan itu. Di mana ia memeluk Aditya tanpa malu. Yasmin berpikir Aditya pasti mengira dia gadis yang tidak benar.


Daripada memikirkan hal yang akan membuatnya pusing Yasmin memilih memejamkan matanya. Tepat pada saat azan subuh berkumandang Yasmin terbangun dia mendengar ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.


"Siapa ya subuh-subuh begini bangunin?" tanya Yasmin pada dirinya sendiri, tapi ia tetap membukakan pintu si pengetuk.


Di balik pintu itu ternyata bunda Lalita tengah memasang senyum hangatnya.


"Udah bangun, Sayang? Yuk, kita salat berjamaah," ajak bunda Lalita lembut. Yasmin hanya tersenyum dan mengangguk.


Di sini mereka sekarang, Lalita dan Yasmin memutuskan memasak sarapan pagi. Kebetulan Yasmin cuti dua hari jadi dia tidak masalah berlama-lama di rumah bunda Lalita.


Satu jam mereka berkutak dengan peralatan dapur. Akhirnya sarapan yang mereka buat selesai.


"Wah, ternyata anak Bunda pinter masak, ya," puji Lalita.


"Iya, Bun, soalnya sedari kecil Bunda Yasmin ngajarin, walaupun cumam sebentar, tapi itu sangat berarti," balas Yasmin. Meskipun dengan suara sedikit bergetar bibirnya masih menyunggingkan senyum lembut.


'Anak ini.' Lalita tidak habis pikir Yasmin masih bisa tersenyum walaupun sorot matanya mengandung kesedihan.


"Eum, Bi Iyam bantu kita bawa sebagian sarapannya. Yuk, Sayang pasti Papa udah nunggu," ajak bunda Lalita mengalihkan pembicaraan.


Yasmin hanya mengangguk. Sebenarnya Yasmin agak gugup ingin bertemu dengan Aditya. Namun, dia juga harus tahu diri untuk berterima kasih pada Aditya jika Aditya tidak ada semalam pasti dia sudah terluka dan ditambah Aditya membantunya menghilangkan ketakutan itu.


"Wah, enak nih, pasti anak Papa sama Bundanya yang masak," tebak Wisnu seratus persen benar.


"Iya dong, Pa," jawab Lalita bangga seraya duduk di dekat suaminya diikuti oleh Yasmin.


"Pa, Aditya mana? Kok enggak keluar untuk sarapan?" tanya Lalita heran.


"Dia pergi pagi-pagi, katanya ada rapat penting," jawab Wisnu seraya menikmati sarapannya.


"Oh." Lalita hanya berohriah sebagai jawaban.


Yasmin sangat bersorak dalam hati karena dia tidak jadi bertemu dengan Aditya. Bukannya dia membenci Aditya, tapi ya? Dia belum siap untuk bertemu dengannya dia masih sangat malu.


Saat mereka menikmati sarapan pagi itu. Wisnu tiba-tiba membuka suara. "Sayang, ada yang Papa mau bicarain, tapi enggak sekarang selesai kita sarapan kita bicarakan, kebetulan Papa lagi enggak masuk kantor. Jadi, Papa pikir ini waktu yang tepat," celetuk Wisnu serius.


"Iya, Pa," jawab Yasmin dan melanjutkan sarapan mereka.


Jika dilihat mereka seperti keluarga bahagia dengan seorang putri kecil. Namun, sayang gadis itu bukan bagian dari keluarga bahagia itu.


* * *


Seorang pria tampan duduk di kursi kebesarannya. Pria itu Aditya tampak serius memeriksa dokumen-dokumen penting.

__ADS_1


Perusahaannya tidak ada yang berubah dari lima tahun terakhir, tapi perusahaannya jauh lebih berkembang dari sebelumnya. Hebat bukan pria 20 tahun telah sukses membangun perusahaannya sendiri. Namun, karena insiden kecelakaan yang membuatnya harus break selama 5 tahun dan di usia 25 tahun pria itu kembali memimpin perusahaannya. Suasana yang begitu hening tiba-tiba hancur karena gebrakan pada pintu kerjanya.


'Ck, orang bodoh dari mana yang mengebrak pintu ruanganku,' desis Aditya tajam.


Saat Aditya hendak memarahi siapa orang tidak punya sopan santun itu, dia langsung mematung. Orang yang mengebrak pintunya adalah seorang wanita. Wanita yang pernah mengisi hantinya dan wanita itu adalah cinta pertama Aditya.


Wanita itu ketika melihat Aditya yang sedang menatapnya datar tanpa ekspresi langsung tersenyum sumringan. Ia mendorong sekertaris Aditya karena Aditya memiliki dua sekertaris Erza dan sekertaris pribadinya yang selalu mengantur jadwalnya sedangkan Erza lebih seperti tangan kanannya.


"Maaf Pak, Nyonya ini ngotot buat masuk," ucap sekertaris Aditya dengan wajah khawatir takut dia akan dimarahi karena telah mengijinkan wanita aneh ini masuk keruanganya.


"Kamu bisa pergi," pinta Aditya dingin dan wanita itu tentu saja bersorak karena menurutnya Aditya sedang membelanya.


Di lain sisi di waktu yang sama. Terlihat Wisnu, Lalita dan Yasmin sedang berbincang dengan serius. "Sayang, apa kamu sudah tahu perihal perjodohan ini dari Ayahmu?" tanya Wisnu lembut. Yasmin hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Kalau kamu tabu, apa kamu menerimanya, Sayang?" tanya Lalita harap-harap cemas.


Yasmin tampak mengehela napas lelah sebelum berucap, "Kalau Yasmin gak terima nanti Bunda Yasmin kecewa, jadi Yasmin terima walaupun Mas Aditya gak cinta sama Yasmin," jawab Yasmin tersenyum tulus. Jujur di dalam lubuk hati Yasmin paling dalam dia telah menaruh hati untuk Aditya.


"Makasih, Sayang, kamu udah mau terima anak Bunda yang banyak kekurangan itu," tutur Lalita seraya memeluk Yasmin sayang tanpa disadari oleh Yasmin Lalita mengkode suaminya untuk mengatakan sesuatu. Wisnu tampak mengehela napas lelah.


"Sayang, kalau Papa menceritakan sesuatu yang belum kamu ketahui tentang Aditya kamu ingin berjanji untuk tidak akan meninggalkannya?" tanya Wisnu dengan sorot mata sendu.


'Apa yang disembunyikan oleh Papa tentang Mas Aditya? Sepertinya ini adalah hal yang serius. Huft, belum sah, tapi udah diuji,' gumam Yasmin lelah dalam hati. Yasmin hanya mengangguk sebagai jawaban.


Wisnu menarik napas dalam-dalam. Sebenarnya dia enggan menceritakan hal ini tapi, jika suatu hari Yasmin mengetahuinya dari orang lain itu bisa gawat.


"Aditya sebelumnya memiliki kekasih," ujar Wisnu seraya melihat perubahan raut wajah Yasmin yang tampak biasa-biasa saja.


"Mungkin setelah mendengar Aditya sembuh dia pasti akan kembali lagi dan mempermainkan Aditya, dia hanya menginginkan harta Aditya. Namun, Aditya tidak mau tahu, dia sangat mempercayai gadis itu. Dan kamu tahu Nak, siapa yang membuat Aditya celaka adalah keluarga gadis itu dia ingin Aditya hancur, sehancur-hancurnya. Pada saat Aditya sakit dia tidak pernah mengunjungi Aditya atau mau menanyakan kabarnya. Mungkin dia sudah malu mempunyai kekasih cacat seperti Aditya. Dan kami mohon sama kamu Sayang, jaga Aditya dari wanita itu, buat dia suka sama kamu, walaupun masih ada rasa cinta sedikit untuk wanita itu, tapi kami yakin kamu yang terbaik buat Aditya," terang Wisnu panjang lebar. Tatapannya tidak pernah lepas dari perubahan raut wajah Yasmin yang kadang mengkerut untuk memahami apa yang terjadi.


'Oh, ternyata Mas Aditya dulunya punya cewek, dan ceweknya itu cuman ngejar harta Mas Aditya dan Mas Aditya hanya diam saja. Dia bodoh atau apa sih percuma punya wajah datar kalau gampang dibodohi, tapi kayaknya aku lebih beruntung dari cewek itu. Karena aku langsung dapat lampu hijau dari Bunda dan Papa Mas Aditya, Thanks God!' batin Yasmin sedikit senang.


"Ok, Bun, Pah, Yasmin janji bakalan jagah Mas Aditya," balas Yasmin serius. Terdengar Wisnu dan Lalita menghembuskan napas legah. Setelah itu, mereka berbincang-bincang masalah kuliah dan pekerjaan Yasmin sebagai dokter.


Ternyata, wanita yang datang ke kantor Aditya adalah wanita yang pernah jadi kekasih Aditya. Wanita yang memiliki paras bak model itu dan memakai pakaian kekurangan bahan tampak duduk di depan Aditya.



Rena


"Mau apa kamu ke sini?" tanya Aditya dingin. Alasan kenapa Aditya mengijinkannya masuk, dia ingin mendengar pengakuan gadis itu kenapa ia meninggalkannya, tapi jujur Aditya sudah tidak memiliki rasa sedikit pun pada mantan kekasihnya itu.


"Ouh, kok makin dingin sih, sayang? Apa karena efek aku tinggalin ya? Kalau gitu mulai sekarang aku gak akan ninggalin kamu lagi," ucap wanita itu kelewat pede karena menurutnya Aditya masih sangat mencintainya terbukti dengan tidak mengusirnya dari kantor.


Aditya masih bungkam tidak mengeluarkan sepatah kata pun.


Wanita itu tiba-tiba beranjak dari tempatnya duduk dan ingin duduk di pangkuan Aditya. Akan tetapi, Aditya langsung berdiri.


"Sudah cukup, kamu bisa keluar! Jika tidak ada hal penting, pintunya terbuka lebar," perintah Aditya tanpa melihat lawan bicaranya.


"Aku enggak mau pergi," desis wanita itu.


"Jangan bodoh, kamu pikir setelah meninggalkanku, saya masih mau bersamamu. Ck, yang benar saja? Dan asal kamu tahu, saya tahu siapa yang menyabotase mobil saya sehingga remnya blong? Tapi sayang, saya tidak menemukan bukti, jadi stop bersikap tidak terjadi sesuatu, dan kamu juga yang telah meracuni saya hingga saya tidak bisa berjalan selama 5 tahun terahir, benar bukan?" tanya Aditya tajam pada wanita itu, ia mengungkapkan segala perbuatan mantan kekasihnya itu.


"A-apa? Itu semua tidak benar, mereka yang melakukannya. Dan itu tidak ada sangkut pautnya denganku, ayolah Sayang. Aku siap menghangatkan tempat tidurmu lagi," kata wanita itu mengelak dan mulai meraba-raba dada bidang Aditya dengan gerakan yang sensual.


"Ck, dasar murahan, lepaskan tangan kotormu dariku, dasar jalang. Pasti kamu di luar sana seperti ini pada pria-pria kaya. Jadi, berhentilah bermimpi Ren," sindir Aditya tersenyum sinis dan meghempaskan tangan wanita itu yang bernama Rena.


Aditya langsung mebersihkan jasnya seakan baru saja tersentuh oleh kotoran. Rena yang melihat hal itu merasa terhina.


"Pak, tolong bawa wanita aneh ini keluar dari ruangan saya, dan jangan pernah membiarkannya masuk," pinta Aditya menelpon satpamnya.


"Brengsek kamu Aditya, liat saja aku akan membuatmu bertekuk lutut seperti dulu!" teriak Rena dan berlalu keluar tak lupa menyenggol pak Satpam yang ingin mengusirnya keluar.


Setelah kepergian Rena, Aditya tampak mengehela napas lelah. Dia sudah menduga kalau nenek sihir itu akan kembali mengganggunya. Sebenarnya sudah dari dulu ia ingin lepas dari wanita itu. Namun, wanita itu selalu mengancamnya ingin bunuh diri jika mereka putus.


Aditya membuka lemari pendingin yang ada di ruangannya--mengambil minuman dingin untuk menenangkan pikirannya akibat kedatangan Rena yang medadak dia pikir wanita itu masih diluar negeri.


Ketika Aditya meminum minumannya seraya menikmati pemandangan kota Jakarta yang padat dia mengingat sosok cantik bermata bulat itu. Seketika sebuah senyuman setipis kertas terbit di wajah tampanya.


Aditya membuka layar ponselnya dan di layar itu terpampang wajah cantik Yasmin pada saat pesta semalam Aditya diam-diam memfotonya saat Yasmin sedang asik memakan hidangan tanpa disadari oleh empunya.


Sejenak Aditya melupakan masalah yang ia hadapi hanya dengan menatap sosok cantik yang ada dilayar kaca ponselnya.


* * *


Hot news!


'Seorang gadis cantik tertangkap camera sedang berada di kantor seorang pengusaha muda yang tak lain adalah Aditya Wisnu Priatmaja. Diketahui wanita itu adalah seorang model papan atas dan mantan kekasih Aditya yang terpisah selama 5 tahun'.


Tulisan itu tercetak besar di layar televisi yang disaksikan oleh Yasmin dan Lalita. Mereka juga melihat potret wanita itu keluar dari perusahaan Aditya.


Yasmin menatap Lalita ingin tahu. Jika pemikirannya benar wanita itulah yang papa Wisnu bicarakan. Terlihat Lalita mengangguk sebagai jawaban.


"Ya, Sayang dia adalah Rena, mantan kekasih Aditya, kamu sabar ya pasti Aditya bisa menghadapi wanita itu yang terbilang nekat," tutur vunda Lalita seraya menggengam tangan Yasmin lembut. Yasmin hanya tersenyum lembut menanggapi ucapan Lalita.


'Wih, ternyata mantan Mas Aditya cakep banget. Kalah deh sama aku yang biasa-biasa aja, tapi harus tetap semangat. Yasmin enggak boleh kehilangan orang yang Yasmin sayang buat kedua kalinya,' pikir Yasmin sembari menasehati diri sendiri dan kembali menatap layar kaca TV.


Di sebuah rumah mewah seorang wanita paruh baya sedang menelpon seseorang.


"Kamu awasi dia, sampai dia keluar dari rumah itu, aku tidak mau tahu dia harus kamu culik bagaimana pun caranya," pinta seorang wanita yang tak bukan adalah Laras.


Pip!


Laras mematikan sambungan telepon dan tersenyum sinis. "Kena kamu jalang kecil," ujar Laras sinis. Setelah mengatakan hal demikian wanita itu--Laras--pergi ke ruangan suaminya.


Di lain sisi Yasmin memohon ijin untuk pulang ke rumahnya.


"Bun, Yasmin ijin pulang ya, soalnya udah lama Yasmin enggak tidur di kamar Yasmin, Yasmin kangen sama kenangan Bunda," tutur Yasmin tersenyum memohon.


"Sayang, di sana berbahaya, Ayah, Ibu, dan Kakak tirimu sangat membencimu Sayang, kenapa kamu masih ngotot mau pulang," imbuh Lalita tidak habis pikir dengan jalan pikiran calon menantunya.


"Enggak kok Bun, Ayah sayang kok sama Yasmin," sanggah Yasmin yakin.


Huft! Lalita menghela napas sebelum berkata, "Sayangnya di mana coba? Bukannya dia selalu menyakitimu?" tanya Lalita lelah.


Yamsin mengingat - ingat kejadian waktu dia habis dipukul oleh Laras dan Elis. "Pernah! Waktu itu Tante Laras dan Kak Elis pukul Yasmin, Yasmin dua hari gak bangun terus Ayah pada malam harinya datang saat orang semua tidur dan memberi Yasmin obat dan makanan," jawab Yasmin menjelaskan, hal itu pula yang membuat Yasmin tidak bisa membenci sang ayah menurutnya ayah adalah sosok yang baik walaupun dia suka dibentak dan Yasmin yakin yah hanya terpaksa melakukannya.


Ha! Lalita tidak habis pikir orang tua itu setelah menyakiti Yasmin masih mau mengobatinya.


"Jadi, karena hal itu kamu yakin, Sayang?" tanya Lalita memastikan dia agak tidak relah melepaskan Yasmin pergi seakan ada yang menjanggal di hatinya.


"Iya Bun, lagi pun Yasmin enggak langsung ke rumah kok, Yasmin mau ke makam dulu untuk jenguk Bunda," jawab Yasmin seraya tersenyum lembut seakan meyakinkan Lalita bahwa dia akan baik-baik saja.


"Baiklah, tapi maaf Bunda enggak bisa antar, soalnya Bunda ada acara, maaf ya Sayang," ucap Bunda Lalita penuh sesal.


"Enggak pa-pa kok Bun, kalau gitu Yasmin pulang dulu ya, sampaikan salam Yasmin buat Papah Wisnu dan Mas Aditya," balas Yasmin yang diantar keluar oleh Lalita.


"Ok, Sayang, pasti Bunda sampaikan, jangan lupa hubungi Bunda kalau udah sampai," jawab Bunda Lalita seraya tersenyum menatap kepergian Yasmin.

__ADS_1


Terbesit ketidak relaan di hati Lalita untuk melepas Yasmin, tapi Yasmin sangat keras kepala dia hanya berharap Yasmin selalu dilindungi.


bersambung.....


__ADS_2