![Grisella Story [Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/grisella-story--revisi--.webp)
Di sebuah apartemen mewah terlihat seorang gadis kecil yang sedang memakan semangkuk es krim dengan lahapnya ia memakan es krim tersebut tanpa memikirkan orang-orang yang sedang mencarinya.
Di samping anak kecil itu seorang pria tampan duduk memperhatikannya dengan pandangan lembut.
Tiga jam sebelumnya Aditya baru sampai ke Singapura untuk menghadiri rapat penting saat perjalanan bisnisnya. Erza tidak ikut karena masih berada di Jerman dan besok baru ia menyusul ke Singapura. Karena masih ada yang ingin mereka urus. Setelah memimpin rapat yang begitu melelahkan akhirnya rapat penting itu pun selesai dan kerjasama antar perusahaanya dengan pemilik perusahaan terkenal Singapura akhirnya terjalin. Karena, baru tiba di negeri Singa itu Aditya belum sempat berkeliling dan ia ingin menenangkan pikirannya. Opsi yang tepat untuk menghilangkan penak jatuh pada sebuah taman kota yang ia lewati. Mobilnya ia parkirkan di sebuah parkiran yang telah disediakan di area taman itu. Saat ia berjalan-jalan tak sengaja suara cadel berkaur di telinganya. Awalnya ia menghiraukan suara itu, tapi perbincagan mereka menarik perhatiannya terlebih pada suara yang begitu ia kenal dan yang ia sangat rindukan selama hampir 4 tahun terakhir ini.
Aditya pun mencari suara itu dan betapa kagetnya ia saat melihat wanita cantik yang sedang berbincang dengan seorang gadis kecil yang sangat imut yang asik berceloteh riah dengan wanita yang sangat ia kenal dan anak kecil itu sangat mirip dengannya. Namun, dalam versi perempuan.
Saat Aditya hendak menghampiri mereka untuk memastikan penglihatanya. Namun, ia harus urungkan niatnya saat melihat seorang pria tampan yang memanggil nama gadis itu Ara dan gadis kecil itu memanggilnya Ayah.
Deg! Hancurlah sudah harapannya semua kebahagiaan yang baru ia temukan hilanglah sudah. Aditya mundur selangkah demi selangkah dan menghilang dari garis pandang mereka. Bersembunyi di balik pohon besar yang rimbun menyaksikan keluarga harmonis itu. Namun, dia heran kenapa di sana ada sahabat wanitanya? Ah, tidak dia sudah tidak pantas menyebutnya sebagai wanitanya.
Ia mengurungkan niatnya untuk pergi sercerca harapan kini hinggap di mata indahnya yang berbinar bagai bintang di malam hari yang menghantarkan perasaan tenang. Walaupun, ia hanya menatapnya dari kejauhan, tapi ia sangat senang karena ternyata putrinya sangat imut. Putri? Kenapa dia begitu yakin! Entahlah dilihat dari fisik serta gerak geriknya itu sangat mirip dengannya jadi dia sangat yakin jika gadis yang bernama Ara dia adalah putrinya.
Walaupun dia tidak yakin siapa pria itu. Namun, ia melihat Hera sahabat istrinya yang masih hidup, sempat terbesit rasa kecewa kenapa wanitanya meninggalkannya dengan cara yang begitu tragis. Walaupun, begitu dia harus mendegar penjelasan dari wanitannya dia tidak ingin melepaskannya untuk yang kedua kalinya.
Deg! Apa gadis kecil itu melihatnya? Kenapa gadis kecil itu menatapku dengan pandangan berbinar dan tidak percaya seksaligus? Aditya berpikir kenapa seperti itu! Sepertinya putri kecilnya mengenalinya terbukti gadis kecil itu menghampirinya. Sempat Aditya dengar suara khwatir istrinya karena mencemaskan sang putri yang hendak bermain jauh. Namun, pria yang bermain dengan putranya menyakinkan istrinya jika ia akan mengawasinya. Ck, mengawasi dari mana jika begini orang lain akan mudah menculiknya.
"Ketemu! Ye, Ala ketemu cama Ayah, yeih, pacti Ayah kangen 'kan cama Ala jadi Ayah datang ke cini telnyata Bunda enggak bohong Ayah benal-benal datang." Suara cadel Ayara menyentak Aditya dari lamunannya. Dan dia langsung menatap anak kecil yang sangat senang di hadapannya itu.
"Eum ... tapi Ayah benal Ayah Ala 'kan?" tanya Ara takut-takut karena tidak mendapat respon, tapi menurut ingatanya pria tampan di depannya ini sangat mirip dengan Ayahnya yang selalu ia liat di TV.
__ADS_1
Aditya tiba-tiba berjongkok untuk menyesuaikan tinggi badan mereka--senyum lembut terparti di wajah tampannya yang membuat Ara ikut tersenyum juga. "Jadi, benel 'kan paman ini Ayah Ala?" tanya Ara sekali lagi senyuman tulus tak henti-hentinya muncul di wajah imutnya. Aditya hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Ayah, Ala kangen, kenapa Ayah balu datang cekalang, Ala cedih Yah diejek sama temen-temen Ala kalau enggak punya Ayah," ucap Ara sembari memeluk leher Aditya dan air matanya pun tak kunjung berheti bercucuran.
"Siapa bilang Ara enggak punya Ayah, ini Ayah Ara udah datang, maaf ya Sayang Ayah sibuk jadi belum sempat jemput kalian, Ara sama Bunda enggak marah 'kan sama Ayah?" jelas Aditya dengan penuh sesal dia bersyukur karena istrinya tidak menyembunyikannya dari putri mereka.
Ara di dalam pelukan Aditya menggeleng kuat. "Kami enggak malah kok cama Ayah, malah Bunda kalau malam celalu liat foto Ayah dan kadang Bunda nangis Yah, Ala cedih liat Bunda nangis. Jadi, Ayah enggak boleh ninggalin kita lagi. Janji," jawab Ayara setelah itu menyodorkan jari kelingkingnya sebagai tanda perjanjian di antara mereka akan terjalin.
"Ayah janji," balas Aditya mantap serayah meraih jari kecil Ara.
"Makacih Ayah, Ala makin cayang cama Ayah," ungkap Ara senang dan kembali memeluk Aditya.
"Iya Sayang, kamu mau enggak Ayah beliin es krim, tapi Ara harus ikut Ayah, ya, mau?" tanya Aditya.
"Hahaha, Ayah tahu, nanti Ayah beri tahu Bunda ya, ayuk ikut sama Ayah, Ayah masih kangen sama Ara," tutur Aditya lembut diiringi sedikit kekehan ternyata putrinya ini cerdas. Cerdas gibahin emaknya ya, haha.
Ara hanya menggangguk dan Aditya langsung menggendong tubuh mungilnya. Dia juga kangen pada istrinya itu, apalagi penampilan Yasmin saat ini sudah berbeda dari 3 tahun yang lalu dia makin cantik dan dewasa.
"Ara sekarang sudah sekolah?" tanya Aditya lembut sembari menyelipkan anak rambut yang jatuh di depan wajah Ara.
Ara menggeleng. "Ala belum sekolah, nanti kalau Ala pelgi sekolah Bunda siapa yang jagain, Yah," jelas Kyara dan melanjutkan kembali acara makan es krimnya.
__ADS_1
"Actagfilullah, Ala udah lama di cini, pacti Bunda udah kangen, Yah," ucap Ara tiba-tiba seraya menepuk jidatnya.
"Ayok, Yah, kita ketemu cama Bunda pacti Bunda ceneng," lanjut Ayara seraya menatap Aditya penuh harap.
"Baiklah, ayok," balas Aditya dan langsung menggendong putri kecilnya. Aditya tak henti-hentinya melayangkan kecepuan pada pipi Ara karena gemas dan mereka baru bertemu siang ini dia ingin tahu seperti apa respon Yasmin saat melihatnya.
* * *
"Gi, gimana nih, Ara belum ketemu juga. Sudah lima jam lamanya dia menghilang," tutur Yasmin khwatir walaupun dia sudah berhenti menangis. Namun, masih ada jejak air mata di pelupuk matanya. Di sampingnya Hera senantiasa ada untuk menenangkan sahabatnya itu dia telah menidurkan Henry yang menangis karena hilangnya Ara. Walaupun mereka suka bertengkar, tapi mereka saling menyayangi sebagai saudara.
"Ara kenapa bisa ngilang gitu, kalian terlalu lalai mengawasi anak-anak," marah tante Fei kepada Ginan. Mereka belum melaporkan berita kehilangsn dipolisi karena belum genap 24 jam Ara menghilang.
"Maafin, Ginan Ma, Ginan silap, Ginan enggak perhatiin Ara, padahal Ginan udah janji sama Yasmin bakalan jaga Ara," ucap Ginan merasa bersalah.
"Udah, enggak perlu yang ada disalahin, kamu udah nyuruh orang-orang kita untuk mencari Ara?" tanya tante Fei sembari menghela napas frustasi karena cucu perempuanya menghilang.
"Sudah Ma, tapi Ginan belum dapat info dari mereka," jawab Ginan mantap.
Di saat semua orang tengah panik dari arah pintu suara cempreng menyapa rongga telinga mereka yang membuat semua orang membeku di tempat kerena siapa yang bersmaa gadis kecil tersebut.
"Bunda ...."
__ADS_1
bersambung ....
aku cuman revisi ulang ya.