Grisella Story [Revisi ]

Grisella Story [Revisi ]
part 2


__ADS_3

"Hei, bukannya dia adalah sampah di keluarga Prayoga?" Orang yang mungkin mengenali Yasmin mulai berbisik.


"Iya, kau benar dan kudengar semalam dia hampir saja menggagalkan acara pertunangan kakak tirinya. Ck, murahan sekali dia,' timpal yang lainnya. Mereka hanya mampu bergosip tanpa tahu perkara yang sebenarnya.


Yasmin yang mendengar hal itu terdiam tak mengatakan apapun terlalu malas rasanya hanya untuk meladeni mereka. Karena sudah tak tahan mendegarnya akhirnya gadis cantik ini meninggalkan area taman.


Putri dari seorang pengusaha sukses akan segera melepas masa lajangnya!


Berita mengenai pertunangan Yelistia masih sangat hangat dan menyebar seantero kota Jakarta. Yasmin yang melihat atau mendengar berita itu hanya terdiam melakukan sesuatu pun rasanya tiada gunanya.


Sesosok gadis mungil memasuki sebuah rumah megah. Belum kakinya menapaki anak tanggah pertama langkahnya sudah tertahan oleh teguran seseorang.


"Dari mana saja kamu?" Suara sinis berkaur di rongga telinga gadis itu yang tak bukan adalah Yasmin ia terpaksa menghentikan langkahnya dan berbalik menatap siapa yang memanggilnya dia hanya menatap wanita kejam itu datar tiada senyum atau raut terluka dan keputusasaan yang ada hanya ekspresi datar tak terbaca.


"Apa urusanmu," jawab Yasmin cuek dan melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda.


"Jalang sialan! Kenapa kamu mulai begitu berani, ha?!" teriak suara itu lagi.


Yasmin kembali menghentikan langkahnya ia menoleh sekilas kemudian membalas kata-kata ibu tirinya tak kalah sinis.


"Sebenarnya Anda punya masalah apa dengan saya? Apa tidak cukup kasih sayang ayah saya Anda renggut bersama putri jalang Anda itu? Ingat! Anda hanyalah ibu tiriku. Jadi, Anda tidak punya hak untuk membentak saya," kecamnya sebelum kembali melangkah Yasmin mendengus sebal. Jujur dia sangat lelah akan semua ini, tapi belum saatnya tunggu sampai kesempatan itu tiba.


Sedangkan pembantu yang mendegar Yasmin membentak sang ibu tiri hanya tersenyum senang.


'Allhamdulillah, Putri Yasmin sudah berubah, pasti Nyonya di sana sangat senang,' batin para pelayan itu penuh rasa syukur.


"Kamu!" pekik ibu tiri Yasmin--Larasati Maheswar. Dia tak mampu berkata-kata mendengar ucapan Yasmin.


"Ck, ingin melapor? Sana melapor kepada pria bodoh itu," imbuhnya menyebut ayahnya pria bodoh.

__ADS_1


Setelah itu Yasmin benar-benar meninggalkan Laras yang masih menahan emosi.


‘Sudah berani dia rupanya, aku tidak akan membiarkannya berani. Nanti dia akan merebut Marcel dari tangan Putriku,’ guman Laras dalam hati penuh rasa benci. Sepertinya ibu dan anak ini takut tersaingi.


Bruk!


Yasmin membuang tubuhnya di kasur king size yang ada di kamarnya.


Tampak setitik cristal meluncur tanpa malu dari balik mata Yasmin yang tertutup. Tanpa diminta isakan pilu lolos dari bibir tipis itu yang bergetar.


Dia hanya akan menanti. Pasti, besok dia akan dipukuli, dicaci, bahkan dihina lagi.


***


Sinar matahari tanpa malu menerobos masuk melalui kuseng - kuseng jendelah kamar seorang dara jelita. Mengusik sosok cantik dari tidurnya. Gadis itu terbangun dengan penampilan yang sangat kacau mata sembab, rambut acak - acakan dan jejak air mata yang sudah mengering di pipi gembilnya. Ketika sang gadis yang tak bukan adalah Yasmin hendak beranjak dari peraduannya. Tiba-tiba pintu kamar bercat putih itu dibuka dengan kasar. Sosok pria dan wanita paru baya menatapnya dengan tatapan yang berbeda. Satu menatap dengan tatapan garang dan satu menatapnya dengan tatapan sinis merendahkan.


"A-ada apa, Yah?" tanya Yasmin terbata. Walaupun, dia sudah tahu bahwa kedatangan sang ayah di kamarnya tak lain atas hasutan dari ibu tirinya untuk memukulnya lagi.


Perih!


Satu kata yang tertulis di benak gadis malang itu yang baru saja mendapatkan sarapan pagi dari sang ayah.


"Kamu sudah bosan hidup, ya? Kenapa kamu memaki Ibumu? Dia sudah susah paya merawatmu, kenapa kamu malah menghinanya? Dasar anak tidak tahu diri kamu!" bentak tuan Aryo dengan napas naik turun.


Sebelum Yasmin menjawab Laras terlebih dahulu menyelannya sehingga Yasmin makin disalahkan.


"A-aku tahu kamu tidak menyukaiku, t-ta-api aku adalah Ibumu. Jadi, hormatilah aku sedikit." Laras berucap dengan isakan yang ia buat-buat.


'Mampus kamu, makanya jangan main-main denganku.' Laras tersenyum penuh kemenangan ke arah Yasmin.

__ADS_1


"Kamu dengar itu? Dia sudah terlalu baik padamu. Kenapa kamu masih menbencinya?!" teriak tuan Aryo pada Yasmin dengan penuh kekesalan. Namun, jika diteliti lebih dalam matanya menunjukkan raut yang sangat berbeda dari perkataannya.


"Lalu, mau Ayah apa? Mau aku sujud di kakinya? Yang benar saja, Yasmin enggak punya Ibu, tapi Yasmin hanya punya Bunda," papar Yasmim dingin dia sudah terlalu muak dengan ini semua. Bukan batinnya saja yang tersiksa, tapi fisiknya ikut tersiksa dia rasanya ingin memaki kedua orang di depannya. Namun, ia masih menyayangi sang ayah--sangat.


Plak!


Satu tamparan kini mendarat lagi di pipi Yasmin. Air mata tak bisa terbendung lagi di pipi gadis cantik itu.


"Kenapa Ayah tega sama Yasmin? Kenapa Ayah tidak pernah menyayangi Yasmin? Yasmin juga mau seperti Kak Elis yang disayangi dan dijaga seperti permata. Apa Yasmin hanya anak pembawa sial yang dilahirkan oleh Bunda? Ingat Yah, Yasmin juga darah danging Ayah, hanya karena orang asing Ayah jadi membenci Yasmin. Yah, Yasmin capek cari perhatian Ayah dan apa yang Yasmin dapat? Hanya hinaan dan bentakan. Yasmin tahu Yasmin enggak secantik Kak Elis atau sepintar dia, Yasmin enggak bisa seperti Kak Elis dan enggak akan pernah. Karena Yasmin bukan jalang," tutur Yasmin dengan penuh penekanan di setiap katanya. Dia sudah tidak tahan dan menumpahkan semua kekesalan yang selama ini membelenggu hidupnya. Walaupun hanya 0,5â„… saja yang ia dapatkan kelegaan, tapi itu sudah cukup untuk mengurangi sesak di dada.


Aryo terdiam akan ucapan Yasmin. Dia seperti ditampar keras akan kenyataan yang sangat menyedihkan. Apa anaknya sekotor itu sehingga dia sangat membencinya dan hanya Elis yang dia perhatikan sedangkan Elis hanya anak tirinya.


"Argh, diam kamu, jangan keluar dari kamar ini. Besok, Ayah mau kamu nikah sama anak rekan bisnis Ayah tidak ada bantahan atau penolakan," putus tuan Aryo seraya menggeram frustasi.


"Kalau Ayah ingin menendang Yasmin keluar dari rumah ini tidak usah menjodohkan Yasmin demi keuntungan Ayah. Cukup mengusir Yasmin, maka Yasmin akan pergi," protes Yasmin miris akan hidupnya.


"Berani kamu melangkah, terimah akibatnya!" ancam tuan Aryo memperingati.


Setelah itu, dia pun keluar dengan perasaan campur aduk. 'Maafin, Ayah sayang!'


"Kasian, saya udah enggak mau ganggu kamu lagi. Karena, sebentar lagi kamu akan pergi dari rumah ini, sampai jumpa Yasmin yang bodoh, hahah," ejek ibu tiri Yasmin diringi tawa jahatnya.


Selepas mereka pergi, Yasmin langsung merosot ke lantai yang dingin itu dan meratapi nasibnya, tapi syukur dia sudah akan keluar dari sini biar saja dia menderita asalkan sudah tidak melihat mereka ayah terutama.


Lama berdiam. Yasmin tersadar jika dia ada kuliah pagi hari ini. Yasmin bergegas pergi mandi dan bersiap.


Masalah pernikahan itu. Nanti dia pikirkan belakangan. Terserah dia mau menikah dengan siapa. Yasmin sudah pasrah.


bersambung....

__ADS_1


Hy, aku revisi ulang nih cerita. Jan lupa baca ya. makashi. 🤗😘


__ADS_2