![Grisella Story [Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/grisella-story--revisi--.webp)
Aditya mengendarai mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Membela jalanan bak pembalap profesional walaupun banyak mendapatkan cibiran dari pengendara lainnya Aditya tidak peduli tujuannya saat ini hanya satu 'Memastikan, apakah benar dia atau bukan?' pikir Aditya.
Mobil itu memasuki area parkir rumah sakit milik istrinya dan di sinilah tempatnya korban kecelakaan itu dibawa.
"Korban kecelakaan siang ini dirawat di mana?" tanya Aditya to the point kecemasan tercetak jelas di wajah tampangnya.
"Di ruang otopsi," jawab suster yang menjaga. Suster itu sampai kagum dengan ketampanan Aditya. Namun, Aditya tak menghiraukannya.
Hati Aditya kalut mendengar ucapan suster itu. Jadi, istrinya meninggal? Namun, Aditya hanya ingin memastikannya. Aditya bergegas ke ruang otopsi diikuti oleh Erza. Aditya tidak mengeluarkan kata-kata ekspresinya dingin sampai-sampai Erza mengigil karenanya. Erza paham, walaupun Aditya tidak memancarkan ekspresi apapun. Namun, di dalam Aditya sangat rapuh. Dia berharap yang kecelakaan itu bukan Yasmin. Namun, bagaimana pun mereka membantah, tapi itu mobil yang dikendarai oleh pak Imam untuk mengantarkan Yasmin ke tempat tujuannya.
Sesampainya di ruang otopsi, di depan sana sudah ada polisi yang menjaga.
"Di mana istri saya?" tanya Aditya to the point. Walaupun suaranya dingin, tapi jejak kekhawatiran tercetak jelas di suaranya.
"Dengan Pak Aditya?" tanya polisi itu, Aditya mengangguk sebagai jawaban. "Ini barang-barang yang kami temukan Pak dari TKP, korban tidak terselamatkan. Mungkin wanita itu adalah istri Bapak dan supirnya," tutur polisi itu seraya menyerahkan barang-barang yang mereka temukan.
Aditya terpaku, dalam kantung tersebut ada cincin pernikahan mereka juga ponsel milik istrinya yang sudah hangus.
"Tidak Pak, dia pasti bukan istri saya," bantah Aditya bak orang kehilangan arah, matanya memerah menahan emosi yang bergejolak di dadanya.
"Bapak tenang dulu, karena korban tidak bisa di kenali. Jadi, hanya benda ini yang bisa kami buktikan jika itu istri Bapak atau bukan," ujar polisi itu lagi dengan pandangan ibah.
Aditya tanpa mendegar lagi langsung berlari masuk keruang otopsi. Dua mayat tertutupi kain putih yang Aditya yakin pasti yang satunya adalah pak Imam supir mereka.
"Maaf Pak, kami sudah berusaha dan telah mengidentifikasi identitas mayat ini yang tidak bisa dikenali, mayat ini berjenis kelamin perempuan, umur 21 tahun dan kami menemukan cincin pernikahan di genggamannya, mungkin polisi telah menyerahkan benda itu kepada Bapak," ujar seorang dokter yang menangani pasien dengan suara menyesal. Setelah menjelaskan dokter itu keluar dan memberi Aditya kesempatan untuk melihat kerabatnya. Sepeninggal dokter itu, kaki Aditya lemas bagaikan tak bertulang. Pertahanannya runtuh dia melihat benda di tangannya itu benar cincin pernikahan mereka yang sama tersemat di jari manisnya. Tanpa sadar air mata menetes tanpa diminta. Mata Aditya memerah, andaikan ia tahu istrinya akan kecelakaan seperti ini dia tidak akan membiarkannya untuk keluar rumah.
"Dit .... " Ucapan Erza tertahan melihat sahabatnya terduduk di lantai yang dingin. Dia baru melihat sahabatnya begitu rapuh.
Tiba-tiba pintu itu terbuka, muncullah, Aryo, Wisnu dan Lalita mereka cepat bergegas ketika mendapatkan berita dari Erza. Keadaan Lalita sudah sangat lemas, mata sembab air mata belum berhenti mengalir.
"Pa, anak Bunda," jerik Lalita. Walaupun, Yasmin bukan anak kandungnya, tapi ia sangat menyayangi Yasmin seperti putrinya sendiri.
Aryo melangkah untuk melihat jasad putri kecilnya. Hatinya bagaikan dirajam oleh berbagai pisau tajam, hatinya sakit melihat wajah tak berbentuk dari putrinya itu hingga sulit untuk dikenali. Jika, bukan karena cincin yang ditemukan di genggaman korban. Mungkin, mereka tidak dapat mengenalinya.
Aryo beralih ke Aditya yang masih terduduk di lantai dengan air mata yang mengalir. Walaupun, ia tidak terisak itu sudah membuktikan betapa hancurnya ia saat ini.
"Bangun Nak, istrimu akan sedih jika kamu seperti ini," bujuk Aryo sedih.
"Yasmin gak mati, dia bukan istri Aditya!" raung Aditya dengan air mata yang tumpah. Aditya benar-benar rapuh sekarang. Dia bagaikan tersambar petir, tidak bisa menerima kenyataan ini.
"Sabar Dit, kita bakal cari pelakunya, istrimu harus dimakamkan secara layak dulu, begitu juga dengan Pak Imam," ucap Erza menenangkan.
Hati semua orang hancur, mereka seakan tidak ingin menerima fakta ini. Namun, semuanya jelas jika jasad itu adalah putri kecil mereka ditambah dengan supirnya juga ikut menjadi korban.
"Aditya enggak percaya, Yasmin di mana janji kamu, ha! Kamu janji gak akan ninggalin Mas, di mana janjji kamu sayang, kamu tega ninggalin Mas," pekik Aditya seraya mengguncang jasad istrinya dengan air mata yang tak henti-hentinya menetes.
"Aditya sadar, Sayang," ujar Lalita dengan suara parau. Wisnu hanya mampu menenangkan sang istri. Jujur, dia juga terpukul atas kepergian menantu kesayangannya.
Aditya menggeleng, "Ini bukan Yasmin, Aditya yakin dia bukan istriku, Ma, Yasmin pasti lagi pergi ke restorannya," imbuh Aditya linglung. Dengan wajah tersenyum meyakinkan.
Lalita makin terisak melihat penampilan putranya. "Dit, sadar, kamu harus kuat kita harus cari pelakunya, kata polisi di luar mobil istrimu disabotase, jadi remnya blong, dan kecelakaan itu gak terhindar, para polisi itu masih menyelidikinya," tandas Erza berusaha menyadarkan Aditya.
Tiba-tiba kilatan dingin muncul di mata Aditya. "Bajingan itu, pasti mereka yang melakukannya, kali ini aku tidak akan biarkan para bajingan itu lolos," putus Aditya--menghapus air matanya dan hendak beranjak dari sana. Namun, ditahan oleh Erza.
"Enggak sekarang Dit, kita makamin dulu istrimu, aku tahu kamu sedih, frustasi, marah, tapi pliss hormati istrimu, para bajingan itu akan kita urus nantinya," kata Erza menjelaskan.
"Iya Sayang, kasian Yasmin dia pasti sedih liat kamu kek gini, lebih baik kita bawa pulang jasadnya dan jasad Pak Imam biar orang Papa yang urus," tutur Wisnu memberi solusi.
Akhirnya Aditya menurut, jelas kesedihan mendalam tercetak di wajah tampangnya. Dia hanya mampu berdoa yang terbaik untuk sang istri. Namun, hati kecilnya seperti menolak jika wanita yang sekarang telah tenang di alam sana adalah istrinya. Namun, bukti cincin pernikahan mereka seakan menamparnya untuk kembali kepada kenyataan.
Aditya bersumpah tidak akan membebaskan mereka. Dia berjanji akan menyeret mereka semua ke penjara.
* * *
Suasana duka jelas di sebuah rumah mewah. Berbagai ucapan bela sungkawa datang dari berbagai pihak. Baik dari rekan bisnis keluarga dan juga teman-teman Yasmin.
Bahkan Ziah datang jauh-jauh dari Jerman tidak menyangka sepupunya akan pergi begitu cepat. Sampai-sampai dia pingsan berberapa kali saat melihat jasad sepupu terkasihnya. Baru tiga bulan lalu mereka bersama-sama dan merayakan hari gembira atas pernikahan almarhuma, tapi sekarang dia telah berpulang. Untung saja Erza senantiasa ada di dekatnya yang selalu memberinya semangat. Namun, mereka sangat prihatin dengan keadaan Aditya yang sangat terpukul. Bahkan ekpresinya makin dingin dari sebelumnya.
"Sayang, sabar ya. Istri kamu udah tenang di sana," ujar Lalita menghibur putranya. Walaupun dia juga masih sedih. Akan tetapi, mereka tidak boleh egois mungkin Allah lebih sayang terhadap Almarhumah.
Aditya berbalik menatap sang mama. Aditya langsung memeluknya dan menangis biarlah dia dibilang pria cengeng. Namun, kenyataan ini tidak bisa ia terimah.
Hati Lalita sakit melihat putra satu-satunya menagis tanpa suara. Lalita berusaha memberikan kekuatan kepada sang putra agar tetap kuat.
"Iklas ya Sayang, mungkin Allah lebih sayang sama istri kamu," tutur Lalita menghibur.
"Iya Ma, Aditya berjanji akan mencari pelakunya dan akan menjebloskannya ke penjara," imbuh Aditya dingin sorot matanya memancarkan kebencian yang mendalam.
Lalita hanya mengangguk. Melihat sorot mata sang anak yang sangat dingin. Lalita tahu putranya itu tidak main-main.
Tidak jauh beda dengan Aryo sosok yang paling menyesal di antara mereka. Dia menyesal karena pernah memperlakukan sang putri dengan begitu kejam. Dia merutuki kebodohannya karena menyiksa sang anak demi melindunginya.
Namun, putrinya itu tidak pernah membencinya walaupun secuil.
"Yas, maafin Ayah Sayang, pasti kamu udah tenang sama Bunda di sana," lirih Aryo seraya menatap foto istri dan anaknya.
Kilatan tajam terlihat di mata Aryo yang cerah, dia jelas tahu siapa dalang di balik kecelakaan itu. Laras benar-benar sudah melapaui batas. Waktu dia membunuh Claristie dia masih bungkam, karena nasib sang putri ada di tangannya. Namun, dia hanya menyiksanya dia benar-benar bodoh telah diperalat oleh Laras.
"Aku berjanji akan menghancurkanmu beserta ayahmu, bajingan itu akan hancur." Aryo berkata lirih, jejak niat membunuh muncul di mata Aryo dengan kebenciannya yang makin mendalam.
* * *
Hiruk-pikuk kota masih terasa. Walaupun, sudah memasuki tengah malam. seorang gadis cantik baru saja turun dari pesawat di ikuti oleh seorang pria paru bayah. Jika, diperhatikan mereka seperti ayah dan anak. Negeri yang sering disebut negara singa itu tampak masih hidup di tengah malam, lampu-lampu jalan yang menyala indah menimbulkan kesan yang sangat bagus bagi gadis itu. Dia seperti melupakan masalahnya.
"Paman, kita mau tinggal di mana?" tanya gadis itu seraya menunggu jemputan mereka.
"Di rumah Paman, di sana juga ada Bibi dan juga Ginan," jawab pria itu tersenyum.
"Wah Ginan, aku belum pernah melihatnya Paman setelah kelulusanku waktu itu," tutur gadis itu berbinar.
"Hahaha, dia juga praktek di salah satu rumah sakit ternama di sini Sayang, dan dia yang akan membantu oprasimu," balas pria itu tersenyum lembut.
"Oh," mengingat tentang oprasinya pancaran kesedihan tercetak di wajah cantiknya.
"Kenapa? Baru menyesal, eh?" tanya pria itu, karena menyadari perubahan raut wajah keponakannya.
"Enggak, cuman keingat sama Mas Aditya, tapi apa Mas Aditya tidak akan mencariku 'kan paman?" tanya gadis itu sedikit panik.
"Tidak akan, nanti Paman akan ceritakan apa yang paman telah lakukan, dan kamu pasti belum melihat berita 'kan? Karena kita langsung pergi saat itu juga," jawab pria itu.
Gadis itu hanya menggeleng. Karena setelah mengetahui kondisinya mereka langsung terbang ke Singapore. Ya, mereka adalah paman Yasmin dan gadis itu tentunya adalah Yasmin. Lalu siapa yang kecelakaan itu? Sedangkan gadis itu masih sehat terlihat berdiri di samping seorang pria paruh bayah.
Dimas, paman Yasmin yang merupakan seorang dokter ahli beda saraf begitu pula dengan Yasmin. Mereka saat ini menunggu jemputan untuk mengantarkan mereka ke tujuan.
"Pasti Aditya benci aku, tapi setelah ini jika aku selamat aku akan menetap di sini Paman," putus Yasmin yakin.
"Paman enggak yakin deh, kamu pasti kangen banget sama suami kamu, haha," tawa Dimas pecah. Mereka tidak mau membahas tentang kegagalan.
Yasmin langsung cemberut. Dan di saat itu juga mobil jemputan mereka datang.
* * *
Semilir angin membingkai wajah seorang pria tampan. Pria itu memeiliki wajah yang sangat tampan, hidung mancung, rahang kokoh, dada bidang yang sangat nyaman.
Saat ini pria itu berada di sebuah pemakaman. Wajahnya tidak memancarkan ekpresi apapun hanya datar, stoic face. Matanya menatap senduh nisan yang bertuliskan Yasmin Putri Prayoga. Tatapan dinginnya berubah menjadi tatapan senduh.
Sudah tiga tahun sejak insiden kecelakaan itu yang berhasil merenggut kehidupan istrinya dan membawa pergi cintanya dan jiwa raganya sehingga di hati pria itu yang tak bukan adalah Aditya yang ada hanya kekosongan. Banyak wanita yang ingin mendekatinya. Namun, Aditya tidak mengubrisnya hatinya telah mati dibawa oleh sang istri tercinta.
Perna suatu ketika saat Aditya sedang berkutak dengan kertas-kertas putih di mejanya. Sebuah notifikasi suara terndengar di ponsel Aditya yang sukses membuatnya menumpahkan air mata.
'Assalamu'alaikum, Mas Aditya, jangan lupa makan siang ya dan jangan lupa sholat!' Notifikasi yang selalu terndengar jika jam sudah menunjukkan pukul 12 siang. Suara lembut nan menyenangkan kembali terdengar di telinganya dan membuat pertahanan Aditya runtuh untuk kesekian kali. Air mata yang selalu ia tahan selalu tumpah jika pesan itu masuk.
Dan Aditya memenuhi janjinya untuk menemukan pelaku yang telah berencana membunuh sangat istri. Dan jangan tanyakan lagi apa yang ia perbuat pada bajingan keparat itu. Aditya langsung menjebloskannya kepenjara setelah menemukan semua bukti yang dapat menjerat mereka.
Rony, ayah Laras dan Laras difonis penjara seumur hidup karena terlibat dalam prostitusi online, penyelundupan senjata tajam dan peredaraan obat terlarang dan juga pembunuhan berencana kepada istri pengusaha sukses Indonesia. Aditya benar-benar tidak menyisahkan sedikit pun bahkan Elis dan Marcel yang ikut juga berperan dijebloskan juga ke penjara karena terlibat dalam perencanaan pembunuhan. Namun, hukuman mereka sedikit ringan karena hanya 15 tahun penjara dan itu membuat Aditya tidak puas, tapi dia harus mengikuti hukum yang berlaku.
Aditya meletakkan bunga lily di atas nisan sang istri, karena dia tahu istrinya sangat suka bunga lily.
"Sayang, apa kamu enggak rindu sama aku," ucap Aditya lirih seraya mengusap nisan istrinya. Air mata mengenang di pelupuk matanya Aditya menengadah ke langit untuk mengahalau cairan sebening kristal itu tumpah.
Drt ... dert ... dtt!
__ADS_1
Getaran pada saku celananya mengalihkan perhatiannya. Dia langsung membuka ponselnya dan melihat isi pesan yang tertera di layar kaca ponselnya.
"Sayang, Mas pulang dulu ya, Mas ada perjalanan bisnis, kamu tenang ya di sana," ujar Aditya lembut dan bangkit dari duduknya.
Di umur ke 28 tahun, Aditya tidak ingin mencari pengganti sang istri dia ingin setia kepada istrinya tercinta sampai maut memisahkan dan itu telah terjadi 3 tahun lalu, tapi dia tetap ingin setia.
* * *
Seorang gadis kecil sedang bermain di taman, tampak wanita cantik tersenyum melihat tingkah gadis itu. Gadis kecil itu kira-kira berusia 3 tahun, matanya yang bulat dan berair, bulu mata lentik membingkai mata bulatnya dengan wajah yang gembil seperti bakpao.
"Bunda, cini main cama Ala," panggil gadis kecil itu dengan suara cadelnya khas anak-anak.
Wanita itu menghampiri sang putri. "Ara mau main sama Bunda?" tanya wanita itu tersenyum.
"Eum," jawabnya.
"Ara!" teriak seorang pria tampan kira-kira berusia 28 tahun.
"Ayah!" pekik gadis manis itu.
Pria tampan itu menghampiri mereka. Dan langsung merengkuh tubuh mungil gadis kecil yang sedang tersenyum cerah.
* * *
Semilir angin berhembus di pagi hari yang mengatarkan kesan dingin yang menusuk sampai ke tulang. Seorang gadis duduk terpaku di sebuah taman yang tidak jauh dari pusat kota. Matanya memancarkan sorot kepedihan dan ketikdak percayaan.
Gadis itu yang tak bukan adalah Yasmin menutup matanya perlahan seraya memutar kembali memori tentang penjelasan dari pamannya.
"Paman menyuruh seorang suster untuk pulang mengambil barang-barangmu, karena dia terlalu lama Paman memutuskan untuk mengajakmu pergi, karena kondisi mu itu, tapi, Paman tidak menyangka mobil itu telah disabotase oleh seseorang yang tak bukan suruhan Ibu tirimu," jelas paman sedikit menyesal dia tidak menyangka itu akan lewat dari ekpetasinya.
Yasmin masih terdiam menunggu kelanjutan dari cerita pamanya itu. Begitupula dengan seorang pria tampan sekaligus yang nantinya akan menangani oprasinya. Dia juga tampak serius mendegar penjelasan dari sang ayah. Karena, dia sempat heran kenapa sepupu cantiknya itu datang sendirian tidak dengan Aditya dan dia baru mengetahui sebuah fakta bahwa itu adalah keinginan Yasmin yang ingin dianggap MATI oleh semua orang dan dia dapat menarik kesimpulan jika yang meninggal itu adalah sang suster yang pergi mengambil barang-barang Yasmin.
"Jadi, seperti yang telah kamu lihat di berita tentang kecelakaan istri seorang pengusaha sukses di usia yang masih sangat mudah," imbuh Dimas menjelaskan seraya menatap ekpresi keponakannya yang tidak memancarkan ekpresi apa pun.
"Oleh karena itu Paman sangat yakin bahwa Aditya tidak akan mencariku? Baguslah dengan begitu Mas Aditya tidak terlalu tersakiti," kata Yasmin seraya tersenyum menatap keduanya. Walaupun, ekpresinya menunjukkan senyuman. Namun, hatinya seakan tertusuk oleh ribuan jarum yang sangat tajam, bagaimana tidak jika kamu sudah dianggap mati oleh suami mu sendiri dan itu pasti sangat menyakitkan, tapi bukankah itu yang dia mau?.
Namun, yang paling ia sesesali adalah orang tidak berdosa yang menjadi korban akibat dirinya, seandainya dia yang menaiki mobil itu sudah pasti nyawanya tidak tertolong. Dan dia tidak akan duduk seperti sekarang ini.
Sudah seminggu lamanya ia berada di Singapura dan dia belum pergi chek up untuk mengatur jadwal oprasinya. Entah apa yang ia pikirkan.
"Sayang," tegur suara lembut keibuan yang memanggilnya.
Gadis itu berbalik dan mentap sang tante yang menatapnya lembut. Yasmin tersenyum membalas sapaan tante Fei.
"Kamu kenapa, Sayang, kok tampak pucat?" tanya tante Fei sedikit khawatir.
"Enggak pa-pa tante, akhir-akhir ini Yasmin kurang tidur, dan badan Yasmin lemes banget," jawab Yasmin masih tersenyum.
Bukan tanpa alasan dia tidak bisa tidur. Karena waktu masih bersama Aditya, Yasmin selalu dipeluk jika ingin tertidur dan sekarang dia sangat merindukan pelukan suaminya itu. Namun, dia harus menelan pil pahit dan memendam keinginannya itu rapat-rapat.
"Oh, jaga kesehatan ya Sayang, kamu belum pergi ke rumah sakit?" tanya tante Fei lembut seraya menuntun keponakannya untuk duduk di sofa.
Setelah mendengar cerita dari suaminya dia tidak bisa terpaku, tapi dia sangat sedih atas keadaan keponakannya itu. Lagi-lagi dia menggeleng atas semua perbuatan yang di lakukan oleh Laras dan keluarganya.
"Mungkin siang nanti Tante," jawab Yasmin masih tersenyum.
"Tante temenin ya," tawar tante Fei menawarkan bantuannya tanpa ingin dibantah.
Yasmin tersenyum dan hanya mengangguk. Jika, sudah begini pasti dia teringat akan bunda Lalita, bagaimana kabar mereka sekarang?.
Walaupun gadis itu terlihat biasa-biasa saja di luar. Namun, di dalam dia sangatlah rapuh dan butuh perlindungan.
"Ssh." Yasmin meringis saat pusingnya datang, entah kenapa akhir-akhir ini, dia suka pusing dan juga napsu makannya meningkat. Hanya dalam waktu satu minggu berat badannya naik sedikit. Dia tidak ingin berspekulasi terlalu jauh yang nantinya akan membuatnya menyesali tindakan yang dia ambil. Jika, kalian bertanya ke mana om Dimas? Jawabannya hanya satu dia kembali ke Indonesia saat dapat telepon di rumah sakit dan menyerahkan tanggung jawab Yasmin kepada Ginan putranya.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya rante Fei makin khwatir melihat raut wajah keponakannya yang kian pucat.
"Engg .... " Belum selesai ucapan Yasmin tubuhnya sudah rubuh deluan dan untung tante Fei sigap menangkap tubuh lemas keponakannya.
"Astaghfirullah, Sayang ... Sayang, kamu kenapa!" Dengan panik Tante Fei menepuk pipi gembil Yasmin berharap dia akan tersadar, tapi Yasmin tak kunjung sadarkan diri.
Tante Fei mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Ginan. Saat sambungan telepon tersambung Fei langsung mengatakan tentang keadaan Yasmin yang pingsan. Dia sudah tahu ada yang aneh dengan keponakannya akhir-akhir ini. Namun, dia tidak terlalu mempermasalahkannya takut menyinggung perasaan keponakannya itu.
"Halo Gi, cepetan pulang Yasmin pingsan, buruan kamu bawa ke rumah sakit," ucap tante Fei panik.
Tut! Tut! Tut!
Sambungan terputus dan tante Fei masih mencoba untuk membangunkan keponakannya itu. Wajahnya yang putih mulus kini tidak menunjukkan rona kehidupan yang ada hanya kulit pucat seperti kertas.
Lima belas menit lamanyaa tante Fei menunggu akhirnya Ginan datang dengan wajah paniknya.
"Kenapa Yasmin bisa pingsan, Ma?" tanya Ginan panik seraya menghampiri Yasmin yang terbaring lemas di sofa ruang tamu. Rambut panjangnya menutupi sebagian wajahnya.
"Nanti Mama kasih tahu, sekarang selamatin Adek kamu dulu," jawab tante Fei khwatir.
Ginan tidak bersuara lagi dan langsung menggendong tubuh mungil sepupunya itu yang sudah ia anggap adik sendiri. Ginan takut apa yang ai khawatir 'kan terjadi, penyakit Yasmin kambuh. Jika, sudah begini tidak ada cara lain selain melakukan oprasi sesegerah mungkin.
Sesampainya di rumah sakit Ginan langsung memanggil dokter untuk menangani sepupunya itu. Walaupun dia seorang dokter, tapi dia membiarkan dokter lain memeriksa sepupunya.
Tante Fei sangat panik akan keadaan keponakannya yang sudah ia anggap putri sendiri karena dia tidak mempunyai anak perempuan.
"Gi, gimana Adik kamu?" tanya tante Fei jelas raut khwatir di wajahnya.
"Mama tenang ya, Yasmin lagi ditanganin sama dokter," jawab Ginan tersenyum lembut mencoba merendahkan kekhawatiran mama.
Ginan pria berusia 25 tahun, berprofesi sebagai seorang dokter ahli bedah yang nantinya akan mengoperasi sepupu yang sudah dia anggap adiknya sendiri itu.
Tiba-tiba seorang gadis datang menghampiri mereka. "Ginan, Tante Fei?" sapa seorang gadis tersenyum ke arah mereka.
"Tante lagi apa di sini? Siapa yang sakit?" tanya gadis itu setelah memeluk calon mertuanya. Iya, gadis itu adalah tunangan Ginan.
"Sepupu aku Ra yang sakit dia pingsan, sedangkan kamu sendiri?" jawab sekaligus tanya Ginan kepada gadis cantik itu. Karena Mamanya belum membuka suara karena masih khawatir terhadap keponakannya.
"Aku lagi temani temenku, tapi dia udah balik deluan kebetulan aku liat kamu sama Tante. Jadi, aku samperin deh," jawab gadis itu seraya menatap tante Fei dan Ginan seraya bergantian.
"Duduk dulu Sayang," ajak Ttnte Fei lembut setelah berhasil memenangkan emosinya.
Gadis itu hanya mengangguk sebagai jawaban. "Gi, sepupu kamu yang baru datang itu ya dari Indonesia yang mau oprasi?" tanya gadis itu yang dipanggil Ra oleh Ginan.
"Iya, dan dia mungkin lagi ngedrop. Entah kenapa dia belum mau diperiksa secara menyeluruh," jawab Ginan seraya memijit pelipisnya.
"Sabar ya Gi, pasti sepupu kamu punya alasan," ucap gadis itu lembut.
Percakapan mereka harus terhenti karena dokter yang memeriksa Yasmin telah keluar. "Dengan keluarga pasien?" tanya dokter itu.
"Iya Dokter, saya Kakaknya, apa penyakitnya kambuh lagi sehingga dia bisa pingsan?" tanya Ginan serius. Namun, terselip nada khawatir di dalam kalimatnya.
"Oh, dokter Ginan boleh kita bicara di ruangan saya?" tanya dokter itu.
"Bisa." Ginan menjawab dengan serius, jika dokter sudah ingin bicara secara pribadi berarti itu adalah hal yang serius.
"Ra, Ma, kalian bisa jaga Putri dulu," mohon Ginan yang dibalas anggukan oleh Fei dan gadis itu. Jika, tidak dengan keluarga dekat Ginan akan memanggil Yasmin dengan sebutan Putri. Dan itu adalah permintaan dari Yasmin langsung.
Sepeninggal Ginan dan dokter yang merawat Yasmin tante Fei dan calon menantunya masuk dan betapa terkejutnya gadis itu saat mengetahui siapa gadis yang sedang terbaring tak sadarkan diri itu.
Hera tidak bisa terpaku, tetapi terkejut atas fakta yang ia ketahui. Ternyata Yasmin tidak meninggal? Melihat gelagak aneh dari calon menantunya, Fei menepuk pundak gadis itu untuk menyadarkanya dari lamunan.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Fei lembut.
"E-eh, enggak pa-pa tante," jawab Hera seraya tersenyum meyakinkan. Fei hanya mengangguk dan tidak mempertanyakannya lebih lanjut. Ya, Gadis itu adalah teman semasa kuliah Yasmin waktu di Jakarta dan dia sempat terpukul waktu Yasmin dinyatakan meninggal. Dan dia tidak habis fikir ternyata sahabatnya itu adalah sepupu dari tunangannya.
Hera tidak tahu kenapa Yasmin melakukan hal yang membuat ia bingung dan diliat dari raut wajahnya sepertinya dia mengandung beban yang berat dan dia makin terkejut setelah mengingat percakapannya dengan Ginan beberapa waktu lalu. Jika, sepupunya mengidap kanker hati stadium 3 dan dia belum mau dioprasi sebagai satu-satunya jalan untuk menyelamatkan nyawanya. Apa karena ini Yasmin nekat membohongi publik terlebih Aditya? Kenyataan tentang sahabatnya yang mengidap penyakit mematikan seakan menampar Hera dari kenyataan. Apa gunanya ia jadi sahabat, jika saat sahabatnya sakit saja dia tidak tahu.
Tante Fei mengusap punggung tangan Yasmin berharap dia akan sadar. Entah, kapan dia baru sadar karena dokter tidak mengatakan kapan ia sadar. Sementara itu, Hera hanya mampu menatap sedih sahabatnya.
Perlahan mata indah itu mulai terbuka. Mata indah sekelam malam menyapa dunia yang belum merenggut nyawanya.
"Allhamdulilah, akhirnya kamu sadar juga, Sayang. Kamu mau apa Sayang? Ada yang kamu butuhin?" tanya tante Fei memberondong Yasmin dengan pertanyaan..
Yasmin hanya tersenyum menanggapi ucapan sang tante. Dia sudah tak kaget lagi kenapa dia berada di ruangan yang serba putih dengan bau obat yang menjadi ciri khasnya apa lagi jika bukan rumah sakit. Yasmin belum menyadari keberadaan Hera di sudut ruangan rawat inap VVIP itu.
"Enggak pa-pa tante, Putri lagi laper aja," jawab Yasmin seraya tersenyum malu. Jujur dia sangat lapar sekarang karena dari pagi tidak ada makanan yang masuk di dalam perutnya.
__ADS_1
"Oh, kalau gitu Tante beliin makan dulu ya, kamu enggak pa-pa 'kan ditemenin sama tunangan Kakak kamu?" tanya tante Fei seraya menatap Yasmin dengan senyuman lembut. Yasmin hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Hera Sayang, kamu jaga calon adik ipar kamu dulu ya, Tante mau keluar beli makanan buat dia," pinta tante Fei lembut yang sukses membuat Yasmin terpaku di tempat tidurnya.
Deg!
Yasmin tidak berani lagi menoleh hanya untuk sekedar menatap tunangan sepupunya itu.
"Iya Tante, Hera bakalan jagain YASMIN," jawab Hera seraya menekan kata Yasmin di akhir kalimatnya. Tante Fei hanya mengangguk setelah itu dia bergegas keluar. Ia melupakan fakta bahwa tidak ada yang mengetahui nama panggilan dari keponakannya kecuali keluarga terdekat. Dan menatunya mengetahui hal itu. Akan tetapi, ia tidak sempat untuk berpikir ke sana. Ruangan itu jatuh dalam keheningan karena tidak ada di antara mereka yang ingin membuka suara. Sampai Hera menghela napas dan mendekat ke arah perbaringan Yasmin yang empunya tidak berani menatap ke arah tempat Hera berada.
Srek!
Suara kursi ditarik menimbulkan bunyi yang menyita perhatian gadis yang sedang berbaring itu.
"Yas, ini kamu 'kan?" tanya Hera dengan nada rendah. Yasmin berbalik dan menatap sahabatnya itu yang sedang menunduk.
"I-iya, maaf Ra, kamu pasti kecewa banget sama aku," jawab Yasmin sedikit terbata.
Hera menggeleng kuat dia paham sahabatnya ini punya alasan kenapa dia melakukannya. "Enggak Yas, aku yang bersalah karena di saat kamu lagi butuh seseorang aku enggak ada," ucap Hera seraya menatap sahabatnya itu dengan mata berair. Dia sangat bersyukur akhirnya sahabatnya itu masih hidup walaupun sedang dalam keadaan tidak sehat.
Yasmin tersenyum dan meraih punggung tangan Hera. "Enggak masalah kok, aku udah seneng bisa liat kamu lagi dan kabar baiknya kamu udah mau jadi Kakak ipar aku," imbuh Yasmin lembut. Namun, nada menggoda terselip di nada suaranya.
"Apaan sih, tapi do'ain ya, gak nyangka kita bakalan jadi keluarga, awalnya aku gak tau itu kamu, karena Ginan sebut nama kamu Putri, jadi, aku enggak tahu, maaf ya gak bisa kenalin kamu lebih awal," tutur Hera dengan nada menyesal.
"Hehe, emang Kak Ginan cuman manggil aku Yasmin kalau di depan keluarga, tapi dia manggil aku Putri kalau di luar lingkup keluarga," jawab Yasmin sembari terkekeh pelan.
"Eum, Yas, kamu tahu enggak seminggu yang lalu, setelah kepergianmu, eh ... tunggu dulu, lalu siapa yang dimakamkan itu?" tanya Hera menyadari sesuatu.
"Seorang suster rumah sakit, dia disuruh sama Pamanku buat ambil barang-barangku, tapi ternyata mobilku udah disabotase dan kamu tau akhirnya," jawab Yasmin seraya tertunduk mencoba menghapus air mata yang akan segera menetes.
"Astaghfirullah, semoga mereka di tempatkan di tempat yang sesungguhnya, dan kamu tau siapa pelakunya? Mereka Tante Laras, Ayahnya Tante Laras, Elis dan juga suaminya, dan Aditya langsung menjebloskan mereka semua kepenjara atas dasar pembunuhan berencana," jelas Hera menjelaskan dengan semangat empat lima yang membara seakan itu adalah hal yang menyenangkan.
"Hm, aku sudah duka, tapi aku enggak nyangka Mas Aditya bakalan bergerak cepat dan gak nyisahin satu pun para tikus got itu," tutur Yasmin dengan mata yang berkilat tajam yang tidak disadari oleh Hera.
"Bagaimana keadannya?" tanya Yasmin seraya menatap Hera dalam. Hera tahu siapa yang dimaksud oleh sahabatnya itu.
"Waktu tahu kamu kecelakaan dia terpukul banget Yas, sikapnya semakin dingin dan bengis, tidak ada yang berani mendekatinya seakan hatinya telah mati," jawab Hera menjelaskan dengan nada suara yang sangat pelan. Namun, masih bisa didengar oleh Yasmin.
Yasmin tidak menyangka akan hal ini. Kepergiannya makin membuat Aditya tertutup dengan semua orang. Apakah senyumannya masih sama seperti dulu? Siikapnya? Perilakunya? Berbagai pertanyaan muncul di benak Yasmin.
Melihat sahabatnya itu terdiam Hera tahu pasti sahabatnya itu sedang memikirkan sang suami.
"Yas, kok kamu keliatan agak kendutan ya? Hehe, pasti Tante dan Ginan sangat menjaga kamu 'kan?" tebak Hera dengan nada tanya untuk mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ah, masa, sih?" tanya Yasmin seraya menatap seluruh tubuhnya. "Enggak tuh, biasa saja ihh, cuman pipi aku aja yang makin gembil kayak bakpao, karena napduu makanku naik, tapi aku tetep cantik 'kan," ujar Yasmin melanjutkan seraya meraba pipinya dan tersenyum tiga jari.
"Kambuh lagi deh narsisnya, kenarsiran Frans undah pindah ya sama kamu," ejek Hera seraya memutar mata jengahnya.
"Oh iya, Frans sekarang di mana?" tanya Yasmin penasaran akan keberadaan sahabatnya itu.
"Dia lanjut di Canada kuliahnya," jawab Hera enteng.
"Oh." Setelah itu mereka mengobrol seputar kapan Hera bisa ketemu dengan sepupunya itu, sampai kak Ginan dan juga tante Fei datang.
"Wah, akrabnya," celetuk tante Fei. Dan menaruh bungkusan makanan di atas meja dekat dengan tempat perbaringan Yasmin.
Ginan saja heran kenapa tunangan dan adik sepupunya itu sangat akrab. "Kalian udah kenal ya, sebelumnya?" tanya Ginan memastikan.
"Iya, dia sahabat aku Gi, waktu di Indonesia," jawab Hera seraya tersenyum lembut ke arah Yasmin.
"Wow, bagus dong, kalau gitu aku enggak perlu melakukan usaha untuk mengakrapakan kalian," tandas Ginan seraya menatap keduanya.
"Hu, Kak Ginan tak asiklah, kenapa enggak tanya aku kalau kalian itu .... " Yasmin menggantung ucapannya seraya menaik turunkan kedua alisnya dengan tatapan menggoda.
"Mana aku tahu, butelan kapas," jawab Ginan dengan menyebut Yasmin buntelan kapas karena perubahan tubuhnya yang agak gemuk.
"Apa kamu bilang!" ketus Yasmin dengan nada rendah seraya menatap Ginan dengan tatapam membunuh.
"Wow, wow, sabar, sabar, Kakak cuman becanda lho, oh iya Kakak mau ngomong sesuatu," cetus Ginan berubah serius perubahan sikap yang sangat cepat.
"Apa? Enggak usah ngelak deh," balas Yasmin ketus. Sedangkan Hera dan tante Fei hanya terkekeh melihat pertengkaran singkat mereka.
"Kamu bakalan di oprasi 2 hari lagi dan itu enggak bisa ditunda lagi Yas," imbuh Ginan dengan nada serius.
Hening! Tidak ada yang membuka suara, semua mata tertuju ke arah seorang gadis yang menundukkan pandangannya.
"Eum, baiklah dan apa lagi yang dikatakan dokter?" tanya Yasmin penasaran akan ke adaanya dia hanya ingin memastikan sesuatu.
Ginan hanya menggeleng sebagai jawaban pertanda tidak ada lagi yang dikatakan oleh dokter. "Oh iya, kamu bakal di rawat di sini sampai waktu oprasi tiba, karena kondisi kamu sedikit memprihatinkan." 'Dan kamu lagi hamil Yas yang buat kondisi kamu makin menurun dan penyakitmu bisa saja membahayakan janinmu.' Ingin sekali Ginan mengatakan hal itu, tapi dia tidak berani takutnya adik sepupunya drop lagi. Jadi, dia hanya mengucapkannya di dalam hati.
"Oh, baiklah, tapi Yasmin enggak ada temen di sini," tutur Yasmin cemberut dengan bibir di kerucutkan lucu.
"Tenang Yas, aku ada kok," celetuk Hera setelah sekian lama diam.
"Tante juga mau temenin kamu nginap," tambah tante Fei juga.
"Mama enggak usah temenin Yasmin, Mama pulang aja biar Ginan dengan Hera yang temenin Yasmin," tolak Ginan tiba-tiba menolak tawaran sang Mamah.
Tante Fei cemberut. "Terserah kalian deh, Mama capek mau pulang," ujar tante Fei pura-pura merajuk. "Tante pulang dulu ya, Sayang," lanjut fante Fei seraya menampilkan senyum hangat.
"Iya, Tante hati-hati ya," ucap Yasmin lembut.
"Kalau gitu aku anter Mama dulu," ujar Ginan dan mengikuti sang . ama untuk mengatarkannya pulang.
Sepeninggal mereka yang tersisa hanya Hera dan Yasmin. "Ra, aku boleh minta tolong enggak?" tanya Yasmin dengan mengeluarkan pupy eyesnya.
"Enggak usah masang muka memelas deh Yas, jijik aku jadinya, mau apa kamu?" tanya Hera jengah melihat sikap kekanak-kanakan Yasmin yang tidak biasanya ada pada dirinya.
"Hehe, suapin aku ya, aku mau makan kalau kamu yang suapin, mau ya," mohon Yasmin dengan senyuman manis tercetak di bibirnya.
"Ya deh, nanti anak kamu ileran," celetuk Hera tanpa menyadari perubahan raut wajah sahabatnya.
"Ih, aku enggak hamil ya," sanggah Yasmin mengembalikan ekpresinya dengan sangat cepat.
Setelah itu Hera menyuapi Yasmin sampai kenyang. Karena waktu sudah memasuki waktu salat Ashar mereka melakukan sholat Ashar walaupun Yasmin sedikit kesusahan karena jarum infus yang masih melekat pada tangannya. Setelah itu, Hera izin untuk pulang. Karena ingin mengambil baju ganti dan kebetulan Ginan sudah datang serta membawa baju ganti untuknya dan Yasmin.
* * *
Hari ini adalah hari yang dijadwal 'kan untuk oprasi Yasmin. Yasmin sedikit gelisah, tapi dia selalu beristighfar memohon kepada Allah yang terbaik ia serahkan semua urusannya kepada Allah.
"Ra, aku takut," gumam Yasmin sebelum memasuki ruang oprasi.
"Kamu pasti bisa Yas, kamu tuh temenku yang paling tangguh semangat Yasmin," tutur Hera memberi semangat.
Yasmin tersenyum sedikit, ucapan Hera membuatnya sedikit legah walaupun masih ada ketakutan di hatinya. "Mas Aditya aku takut," lirih Yasmin menyebutkan nama sang suami.
Di tempat lain di waktu yang sama seorang pria tampan yang memakai kacamata baca yang semakin menambah kharismanya.
Deg!
Aditya seakan tersentak, dia seperti mendegar suara istrinya yang hampir satu bulan ini dia sangat rindukan. Namun, kenyataan selalu menamparnya dengan telat.
"Apa itu cuman perasaanku, karena aku terlalu rindu kepadamu," gumam Aditya lirih seraya membuka kacamata bacanya. Pandangannya menerawang mengulang kembali semua kenangan mereka mulai dari mereka awal ketemu di taman sampai mereka menikah, senyuman istrinya yang menenangkan jiwa kini tiada lagi menyambutnya ketika dia terbangun dari lelap tidurnya.
Lampu ruang oprasi menyala pertanda oprasi telah dimulai dan Ginan telah masuk untuk melakukan operasi bersama beberapa dokter dan suster yang akan membantunya dalam oprasi itu.
Di luar sudah ada om Dimas yang baru sampai, tante Fei dan Hera menunggu dengan suasana hati diliputi kecemasan yang mendalam tak henti-hentinya mereka memanjatkan do'a kepada Yang Maha Kuasa agar Yasmin diberi keselamatan.
Mereka menunggu dalam kecemasan, karena setelah mendengar penuturan Ginan tadi sebelum masuk ke ruang oprasi Ginan berucap jika oprasi itu sedikit berisiko bagi Yasmin dan janinnya sontak saja mereka terkejut bukan main karena berita itu yang menambah kecemasan mereka.
Sudah satu jam lamanya oprasi itu berlangsung dan belum ada tanda-tandanya jika dokter yang menangani Yasmin akan keluar.
Jam sudah menunjukkan pukul dua siang, tapi oprasinya belum selesai juga mereka masih menunggu dan tak lupa pergi berdo'a untuk keselamatan Yasmin.
Lampu ruang oprasi telah berubah menjadi warna hijau yang artinya oprasinya telah selesai. Terlihat lah Ginan keluar dengan pakaian serba biru mudanya yang menutupi pakaian dalamnya. Ginan terlihat lelah begitu pula dengan tim dokter yang telah membantunya.
Dimas, Fei dan Hera menghampiri Ginan yang sedang berjalan menghampiri mereka dengan senyuman terpatri di wajah tampangnya yang membuat mereka merasakan kelegaan sedikit.
"Gi, gimana lancar? Yasmin selamat 'kan? Bagaimana keadaanya sekarang?" cerocos tante Fei dengan banyak pertanyaan yang membuat Ginan tersenyum simpul mendegar pernyataan dari sang mama.
"Allhamdulilah Ma, oprasinya lancar, tapi Yasmin belum sadarkan diri, kita harus tunggu sampai besok, jika besok Yasmin telah sadar dia akan kami pindahkan keruang rawat. Namun, jika dia tidak sadar sampai besok kita hanya bisa mendoakan yang terbaik agar dia bisa melewati masa krisisnya," jawab Ginan memberikan berita baik sekaligus berita buruk.
__ADS_1
bersambung.....