![Grisella Story [Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/grisella-story--revisi--.webp)
Pagi ini Yasmin menyiapkan sarapan untuk Aditya. Mereka sekarang tinggal di rumah baru mereka yang telah Aditya siapkan untuk mereka. Yap, pernikahan mereka sudah jalan tiga bulan. Tidak ada gangguan berarti dari para tikus-tikus selokan itu. Namun, Aditya tetap bertindak mulai mengambil semua penginsvektor milik Marcel sehingga sahamnya mulai turun drastis.
Di meja makan itu sudah tertata rapi sarapan pagi. Menu sarapan 4 sehat 5 sempurna, maklum jika istrimu seorang dokter pasti yang tertata di mejamu adalah makanan sehat.
"Semuanya udah siap, sekarang tinggal panggil Mas Aditya," guman wanita itu yang tak lain adalah Yasmin gadis yang telah berubah status menjadi seorang istri dari Aditya.
Wanita itu menaiki lantai rumahnya menuju lantai dua tempat kamar mereka berada. Sejak Yasmin menempati rumah itu tidak ada pembantu yang ia pekerjakan. Menurutnya selagi masih bisa ia kerjakan kenapa harus ambil tenaga pekerja.
Di dalam sana Aditya sudah rapi dengan stelan jas mahalnya. Dia tengah sibuk merapikan dasi di lehernya. Yasmin hanya tersenyum melihat suaminya yang musih susah untuk memang dasi sendiri. Kemudian Yasmin menghampiri Aditya.
"Sini Mas, aku bantu," tawar Yasmin mengambil alih dasi itu dari tangan Aditya. Aditya hanya menatap istrinya seraya tersenyum lembut. Jika, dia tahu enaknya pernikahan. Mungkin, dari dulu juga ia menikah, tapi jika ia menikah buru-buru mungkin dia tidak akan bertemu dengan wanita yang sedang merapikan dasinya.
"Siap," ucap Yasmin seraya memasangkan jepit dasi pada dasi suaminya.
Cup!
"Makasih, Sayang," tutur Aditya seraya melayangkan kecupan manis di pipi istrinya yang gembil. Yasmin hanya tersenyum atas perlakuan Aditya yang manis.
"Sama-sama, sekarang kita turun sarapan, nanti kamu telat lho," ucap Yasmin seraya menarik suaminya turun. Mereka turun beriringan dengan dirigi canda tawa.
"Wah, masakan kamu pasti selalu istimewa, Sayang," ucap Aditya memuji.
"Makasih," jawab Yasmin seraya tersenyum lebar memperlihatkan deretan giginya yang rapi. Yasmin lalu mengambilkan sarapan untuk Aditya layaknya seorang istri pada umumnya senyuman tidak pernah luntur dari bibir tipisnya.
"Gimana Mas, enak?" tanya Yasmin memastikan.
"Ya enak, asal kamu yang masak enggak pernah tidak enak," jawab Aditya, lalu melanjutkan sarapannya begitu pula dengan Yasmin.
Mereka sarapan dengan khidmat tidak ada pembicaraan yang mereka lakukan. Karena, mereka sepakat jika di meja makan tidak boleh ada yang bersuara. Yasmin menyetujuhinya karena dia juga tidak suka jika ada yang ribut-ribut di meja makan.
"Mas pergi dulu ya, Sayang," ujar Aditya seraya mengusap pucuk kepala sang istri.
"Ya Mas, Mas hati-hati ya," balas Yasmin seraya tersenyum. Yasmin meraih punggung tangan Aditya lalu dikecupnya singkat.
"Kamu hati-hati ya di rumah, kalau mau keluar kabarin," peringat Aditya lagi dia seakan enggan untuk meninggalkan istrinya itu.
"Iya Mas, Oh iya, aku mau ke rumah sakit sebentar Mas, boleh?" tanya Yasmin meminta izin.
"Boleh, asalkan di antar sama Pak Imam," jawab Aditya seraya tersenyum.
"Makasih Mas, Yasmin Sayang Mas," tutur Yasmin seraya menghambur kepelukan Aditya.
"Iya Sayang, Mas juga sayang sama kamu, Mas pergi dulu ya," imbuh Aditya seraya mengurai pelukan mereka. Semenjak mereka menikah Aditya berusaha mengubah sikap juteknya menjadi lembut demi istri tercintanya. Namun, kalau bukan dengan istrinya dan keluarga terdekat dia akan bersikap datar, dingin dan bermulut tajam.
"Iya Mas, hati-hati," ucap Yasmin seraya melambaikan tangannya pada Aditya. Yasmin lalu menutup pintu itu saat mobil Aditya telah berlalu.
"Harus segera siap-siap, nih," gumamnya lalu Yasmin beranjak ke kamarnya.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Batuk Yasmin tiba-tiba, dia bergegas pergi ke kamarnya. Setelah beberapa saat dalam kamar mandi Yasmin keluar dengan wajah pucat.
"Huft, untung Mas Aditya udah pergi hampir aja ketahuan," gumam Yasmin menetralkan detak jantungnya yang memburu.
Waktu Yasmin terbatuk seperti itu, Aditya panik bukan main. Untung saja Yasmin cepat menenangkannya dan mengatakan dia hanya flu biasa dan akan segera sembuh. Jika Aditya tahu kalau istrinya mengidap penyakit kanker hati. Apakah Aditya akan diam saja? Tentu tidak bukan!
Yasmin bergegas berganti baju dan mengambil tas sampingnya untuk ke rumah sakit. Mau apa lagi jika tidak control dengan dokter priandinya. Di saat Aditya pergi bekerjalah yang menjadi kesempatan Yasmin untuk keluar menemui dokternya.
* * *
Aditya hari ini sedang rapat dengan para kolega bisnisnya dan di sana juga Marcel berada. Aditya hanya menatap datar ke arahnya.
'Berniat menghancurkan ku, he! Tunggu dan liat saja siapa yang akan menang!' cibir Aditya dalam hati.
Rapat itu berlangsung satu jam lamanya dan tender besar itu lagi-lagi jatuh di tangan Aditya. Marcel hanya menatap benci ke arah Aditya yang dibalas seringaian yang meremehkan. Padahal tender itu diharapkan oleh Marcel agar sahamnya membaik. Namun, Aditya terlalu cerdas jadi dia mudah mendapatkannya.
Saat ini Marcel berada di ruang rapat bersama sekertarisnya. "Argh, Aditya bajingan, dia mengambil semua investorku," ujar Marcel murka.
"Maaf Tuan, sebentar lagi kita ada pertemuan dengan Pak Handoko," sela sekertarisnya takut-takut.
Marcel tampak menghela napas berat dan mengiyakan. Kemudian ia beranjak dari tempatnya duduk dan meninggalkan ruang rapat itu.
Sementara itu, di sebuah ruangan CEO dua orang pria tampan sedang berbincang riah siapa lagi jika bukan Aditya dan juga Erza.
__ADS_1
"Wah, kamu hebat banget Dit, haha sepertinya dia lagi teriak enggak jelas," puji seorang pria--Erza--seraya tertawa.
"Hm, itu baru permualaan, dia pikir dia bisa menghancurkan seorang Aditya, liat saja apa yang bisa aku lakukan," timpal Aditya seraya menatap tajam ke depan. Erza hanya mengangguk membenarkan, semenjak dia mendegar perbincangan mereka waktu di wisudanya Yasmin dia langsung memberitahu Aditya dan skatmat bukan Aditya yang hancur. Akan tetapi, malah sebaliknya. Dan sekarang mereka sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk menangkap Ayah Laras, Laras dan juga Elis mereka akan dijebloskan semua ke penjara. Karena, kali ini Aditya tidak akan tinggal diam.
"Za, coba kamu pantau dari Jps yang aku pasang di mobil Yasmin, apakah dia sudah sampai di rumah sakitnya?" tanya Aditya tiba-tiba.
"Ok." Erza tampak mengutak-atik tab di tangannya dan memperlihatkannya pada Aditya.
"Ya, dia sudah sampai, kamu liat sendiri 'kan," ucap Erza.
"Iya, kamu benar. Namun, aku curiga sesuatu Za," tutur Aditya tiba-tiba seraya menerawang ke depan.
"Curiga masalah apa?" tanya Erza menaikkan sebelah alisnya.
"Yasmin."
"Kenapa dengan istri kamu, kamu belum di kasih jatah ya?" tanya Erza tiba-tiba yang sukses dapat pelotokan tajam oleh Aditya.
"Ngaco, dikasihlah, tapi bukan itu," ucap Aditya datar.
"Jadi masalahnya apa?" tanya Erza lagi.
"Sepertinya Yasmin nyembunyiin sesuatu dariku, entah apa itu? Dan aku belum tahu," jawab Aditya seraya mengingat hal aneh apa yang terlawat olehnya.
"Sesuatu? Ada hal yang dia lakuin yang membuatmu curiga? Apa dia selingkuh? Oh, enggak-enggak Yasmin enggak gitu," bantah Erza menepis pemikirannya.
"Ya, aku tahu, dia enggak mungkin selingkuh pegang ponsel aja jarang, kalau enggak di telepon pasti tuh ponsel menganggur di atas nakas," timpal Aditya menjawab pertanyaan Erza yang ngelantur.
"Dia sering ke rumah sakit," tambah Aditya lagi.
"Oh, jelaslah, dia 'kan dokter," timpal Erza membenarkan. Kenapa sahabatnya ini jadi curiga tanpa alasan.
"Bukan itu masalahnya, masa hanya karena flu biasa harus konsultasi sama dokter," cetus Aditya tiba-tiba yang membungkam mulut Erza.
"Mungkin dia harus tahu kondisinya gimana," kata Erza menenangkan dia tidak ingin pikiran-pikiran aneh melayang di kepala cerdasnya.
"Mungkin, tapi aku ngerasa ada yang janggal," imbuh Aditya lagi, kali ini ia melihat Erza.
"Udah, nanti pasti dia kasih tau, tentang masalahnya, mungkin dia cuman flu biasa dan ada pasien juga yang ia bantu untuk konsultasi ke dokter itu," ujar Erza membenarkan. Ucapan Erza ada benarnya juga. Mungkin Yasmin hanya membantu, pikir Aditya dia berharap istrinya baik-baik saja.
"Kondisi Dokter Putri dalam keadaan tidak baik-baik saja, Dokter harus segera dioprasi," jawab Dokter itu. Wanita yang dipanggil dokter putri itu hanya diam.
"Umh, apakah sudah tidak bisa ditahan oleh obat, Dok?" tanya wanita itu yang dipanggil dokter Putri
Dokter itu menggeleng sebelum menjawab. "Dokter pasti lebih tahu kondisi Anda dari pada saya," jawab dokter itu. Iya, Yasmin atau kerap disapa dokter Putri memang mengetahui kondisinya, tapi ia terlalu munafik untuk mengakuinya.
"Ini demi kesembuhanmu, Nak, demi suamimu," ujar dokter itu berbicara lembut dan memanggil Yasmin sebagai anak.
"Baiklah Paman. Jika, itu yang terbaik, aku mohon jangan beritahu Mas Aditya tentang masalah ini," mohon Yasmin pada pamannya yang merangkak sebagai dokter priandinya.
"Baiklah," jawab dokter itu tersenyum.
"Paman, bolehkah aku minta tolong?" tanya Yasmin dengan tatapan memohon.
"Apa, Sayang?" tanya balik dokter itu.
"Aku mau di oprasi di Singapore, dan pengobatanku secara tertutup. Paman tahu sendiri 'kan Tante Laras masih ngincar nyawa aku, aku bakalan ninggalin Mas Aditya sementara waktu," tutur Yasmin memohon. Air mata sudah meluncur mulus dari matanya dia berusaha untuk menghalau air mata itu dengan punggung tanganya. Namun, tetap, air mata itu tetap saja deras mengalir.
"Apa kamu tidak ingin memberitahu suamimu, Nak? Nanti dia pasti akan sangat terpukul," ujar dokter itu memastikan, jujur hatinya perih menatap keponakan tersayangnya yang sudah ia anggap anak sendiri itu menderita. Dia harus melawan penyakitnya yang sudah sangat lama ia idap.
Yasmin menggeleng, "Aku harus siap Paman, siapa yang tahu ajal Paman. Mungkin, saja ketika aku oprasi Allah mencabut nyawaku, dan itu akan membuat Mas Aditya lebih terpukul. Lebih baik dia tahu aku mati saja sejak dini dari pada dia harus menanggung beban bertahun-tahun," jawab Yasmin menampilkan senyum terbaiknya.
"Baiklah, Paman menyetujuinya asalkan kamu tidak menyesal, kamu tidak perlu pulang sekarang, kita langsung terbang ke Singapura sebentar. Paman akan siapkan semuanya," kata dokter itu seraya tersenyum lembut. Yasmin hanya mengangguk mantap.
'Maaf Mas, Adit, Yasmin enggak bisa nepatin janji selalu bersama Mas Aditya, hidup Mas dalam bahaya jika mereka tahu aku masih hidup.' Yasmin hanya bisa menangis dalam hati, kenapa takdir selalu tidak berpihak padanya.
* * *
"Jalan, Pak." Tanpa melihat siapa yang masuk supir pribadi Yasmin melaju meninggalkan area rumah sakit.
Tanpa sepengetahuan orang lain, ternyata mobil itu telah disabotase.
"Nyonya beres, kali ini mereka tidak akan selamat." Seorang pria berbaju hitam berucap di telepon.
__ADS_1
[Hahaha, bagus-bagus kamu patut dapat imbalan,] balas seorang wanita di seberang telepon yang tak bukan adalah Laras.
Di lain sisi Aditya sedang melakukan rapat penting dengan para direksi. Erza turut hadir di dalamnya. Aditya tidak memikirkan bahwa setelahnya dia akan mendapatkan berita yang mampu meruntuhkan dunianya.
Mobil itu melaju membela jalan raya yang legang. Tiba-tiba di depan sana mobil truk melaju dengan kecepatan tidak terkendali. pak Imam yang mengendarai mobil itu sedikit panik.
'Bagaimana ini, kenapa remnya tidak berfungsi,' pikir Pak Imam heran. Keringat dingin menghiasi wajah keriputnya.
"Ada apa Pak?" tanya seorang wanita yang bersama pak Imam.
"Remnya blong Bu," jawab pak Imam. Tidak menyadari jika orang yang bersamanya bukan istri dari atasannya. Sementara itu, orang-orang yang melihat kejadian itu hanya membelalak. Di pikiran mereka hanya satu, tabrakan tidak dapat dihindari.
Brak!
Suara memekakan telinga bagaikan melodi yang menghantarkan teror bagi mereka yang melihatnya secara langsung. Mobil itu berguling-guling di tengah jalan dan akhirnya meledak dengan suara yang keras. Orang-orang mencoba lari dari tempat kejadian dan ada juga yang langsung menelpon polisi dan ambulans. Seketika jalan yang agak lenggang itu macet karena ada insiden tidak terduga.
"Mereka tidak selamat."
"Sungguh adegan yang sangat meneror."
Berbagai ucapan terlontar yang menyaksikan kejadian naas itu. Mobil mewah itu masih menyala dengan api yang berkobar. Karena mobil yang mereka tabrak adalah mobil tangki minyak sehingga api cepat membakar.
Saat ini, di sebuah rumah mewah terdengar suara riuh seperti sedang mengadakan sebuah pesta. Suara tawa yang mengintimidasi terdengar diringi gumanan-gumanan yang mencelah pada satu nama yaitu Yasmin.
"Hahaha, akhirnya gadis sampah itu mati juga, biar dia baru-baru ini bersinar dan menunjukkan kebolehannya, menurutku dia hanyalah sampah," cela seorang wanita cantik.
"Kamu benar Sayang, akhirnya dia mati dengan begini Aditya akan hilang kendali dan tidak mengurus lagi perusahaannya dengan begini aku bisa dengan mudah menghancurkannya," timpal seorang pria tampan. Siapa yang tidak mengenal para bajingan menjijikkan ini. Dengan tidak tau malu selalu mengambil keuntungan dari seseorang yang tidak ada hubungannya dengan mereka. Iya, mereka Elis, Marcel ada juga Ibu dan Kakek mereka yang sama banjiganya dengan mereka.
"Aku ingin melihat wajah menyedihkan Aryo yang sangat menjijikkan itu," imbuh Laras yang berbicara. Tatapan menghina jelas di matanya.
"Kamu benar Sayang, para keparat itu telah berani menganggu kamu, maka mereka harus membayar konsekuensinya," ucap Rony--ayqh Laras penuh sarkasme.
Mereka dengan tidak tahu malu menyuruh seseorang untuk menyabotase mobil yang di kendarai oleh Yasmin di saat supirnya lengah. Jika, ada bajingan lebih menjijikkan dari mereka. Mereka harus disatukan.
Berita mengenai kecelakaan lalu-lintas itu dengan cepat menyebar apalagi mereka baru mengetahui. Jika, yang ada di dalam mobil itu adalah istri dari CEO berpengaruh di negara mereka. Mereka menarik napas dingin, siapa yang tidak tahu pasangan ideal itu. Mereka saja, hanya mampu mengigit jari jika melihat pasangan yang harmonis itu dan tidak menyangka kecantikan yang tiada tara itu berada dalam mobil yang terbakar di hadapan mereka. Apakah ini hanya sebuah kebetulan? Atau ada campur tangan lain seseorang di dalamnya? Berbagai pertanyaan timbul di benak mereka.
"Aku tidak bisa membayangkan, jika Tuan Aditya mengetahui istri tercintanya mengalami kecelakaan yang jelas merenggut nyawanya," ucap seorang warga.
"Iya, aku rasa dia sangat terpukul jika mendengar berita ini," timpal yang lainnya.
Mereka hanya mampu menarik napas sedih untuk pasangan sempurna itu. Mereka tidak diberi kesempatan untuk merasakan kebahagiaan, apalagi mereka tahu Nona muda dari keluarga Prayoga itu mengalami kehidupan sulit di masa lalu, mengalami banyak penindasan dari ibu dan kakak tirinya. Begitupula dengan suaminya yang mengalami banyak penghinaan selama mengalami cacat total lebih dari setengah dekade. Namun, tidak sebanding dengan yang dirasakan oleh sang istri selama satu dekade mengalami penghinaan dan selalu ditindas, tapi masih mampu untuk bertahan sampai dia mampu mengkuak identitas aslinya.
* * *
Seorang pria berlari tergesa-gesa yang membuat tatapan aneh para karyawan yang melihatnya. Namun, tidak ada yang berani menegur ataupun menghentikannya.
"Astaga!" 0ekik seorang karyawan. Sampai-sampai ia bangun dari kursi yang ia duduki. Dan mengundang tatapan tanya dari yang lain.
"Cepat ... cepat kalian buka Youtube sekarang!" pekiknya lagi.
"Kenapa kita harus?" tanya salah satu dari mereka malas.
"Cepetan buka, istri Pak direktur kecelakaan," pekiknya yang membuat semua orang membeku karena keterkejutan.
Dengan tergesa-gesa mereka membuka situs internet untuk mencari info yang di
maksud. Tatapan mereka membeku melihat video berdurasi 30 detik yang menayangkan kejadian itu. Entah siapa yang masih sempat untuk memvideonya. Walaupun, mereka hanya sekali dua kali bertemu dengan istri bosnya. Namun, meninggalkan kesan yang baik tentangnya jadi mereka ikut bersedih melihat kejadian naas itu.
Tak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di ruangan Aditya. Napas Erza memburu dan langsung memberitau kejadian yang ia lihat.
"Dit, kamu harus liat ini," ucap Erza menyodorkan tabnya pada Aditya.
"Ada apa?" tanya Aditya datar dengan menaikkan sebelah alisnya tanda bertanya.
Namun, Erza tidak menjawab dia hanya bungkam dengan mata berkabut jelas, menyiratkan keputusasaan dan kesedihan.
Mata Aditya membelalak tidak percaya. Tab itu jatuh ke pangkuannya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Aditya meninggalkan ruangannya diikuti oleh Erza. Aura mencekam d rasakan oleh setiap karyawan yang berpapasan dengannya, mareka hanya mampu menunduk takut. Mereka sudah tahu mengenai kecelakaan yang sangat disayangkan itu.
Wajah Aditya datar tanpa ekspresi tatapannya sangat dingin meninggalkan jejak es di pupilnya yang sekelam malam. Walaupun, di luar terlihat sangat tenang bagaikan air yang mengalir, tapi itu tidak setenang yang di dalam.
Mobil mewah Aditya melesat membelah jalan raya dengan kecepatan di atas rata yang membuat Erza meneguk ludahnya susah payah dia yakin Aditya dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Bagaimana part ini?🙃 Rate bintang ⭐ lima dan jangan lupa like and coment makasi.
__ADS_1
bersambung....