Grisella Story [Revisi ]

Grisella Story [Revisi ]
part 4


__ADS_3

Yasmin Putri Prayoga adalah seorang gadis yang berusia 20 tahun serta memiliki tubuh yang mungil. Yasmin adalah putri kandung dari pasangan tuan Aryo Prayoga dan nyonya Amelia Claristie. Di usianya yang relatif masih sangat muda Yasmin telah menuntaskan sarjana kedokterannya melalui jalur beasiswa.


Tidak ada yang tahu. Jika, gadis yang dikenal bodoh dan lemah itu telah menyelesaikan studinya dan melanjutkan berkuliah di bidang menajemen bisnis. Gadis ini adalah seorang gadis yang sangat haus akan kasih sayang sang ayah. Namun, perlakuan yang dia terima selalu tidak mengenakan hati malah makin menggoreskan luka di hati gadis ini.


"Dari mana saja kamu?" tegur sebuah suara berat penuh ancaman. Yasmin meneguk ludahnya susah payah. Lalu dia berbalik dan menghadap sang ayah yang memanggilnya.


"M-maaf Yah. Yasmin tadi jalan sama Hera dan Frans, tapi k-karena Ayah telpon, jadi Yasmin buruan pulang," jawab Yasmin sedikit terbata kepada sang ayah yang menatapnya datar.


"Hm, sebentar malam kita akan menemui calon suamimu," tutur tuan Prayoga final dan berlalu begitu saja tanpa menatap sang putri.


"T-tapi, Yasmin enggak mau nikah," ujar Yasmin masih dengan suara terbata-bata. Namun, tidak ada sahutan. Aryo seakan tuli akan pernyataan putrinya.


"Tanpa aku mengotori tanganku, akhirnya kamu keluar juga dari rumah ini. Hahaha, asal kamu tahu, calon suamimu itu adalah pria jelek dan berpenyakitan. Wanita aneh hanya untuk pria jelek hahaha dan oh, jangan lupa datang ke pernikahan Elis satu bulan lagi bersama Marcel," kata ibu tiri Yasmin-- Laras-- dengan senyuman mengejek dan merendahkan tidak pernah lepas dari bibirnya.


Setelah itu Laras berlalu dari hadapan Yasmin dan mengikuti sang suami.


"Huft, apa sabarku hanya ini balasanya, ya Allah?" tanya Yasmin lirih. Ia berlari ke lantai dua dengan berurai air mata.


Aryo tega menumbalkan putrinya sendiri hanya demi kekuasaan. Apakah dia pantas disebut sebagai seorang Ayah?


Bruk!


Yasmin melemparkan tasnya sembarangan. Kemudian naik ke atas kasur king zise-nya.


"Bunda, Yasmin lelah, Yasmin tidak tahan lagi dengan sikap Ayah. Apakah Yasmin harus beneran nikah sama pria yang Yasmin sendiri tidak tahu bagaimana rupanya," guman Yasmin lirih sambil mengusap permukaan bingkai foto yang memperlihatkan potretnya dengan sang ibunda.


"Apa aku kabur saja? Toh, aku punya apartemen sendiri, tapi ... kalau aku kabur pasti Bunda akan sedih," tutur Yasmin bimbang. "Kalau memang dia jelek dan berpenyakitan biarlah, yang penting tidak jahat seperti mereka. Sudah cukup! Yasmin sudah lelah," lanjutnya-- kembali menatap bingkai itu lamat-lamat.


Di potret itu menampilkan sang bunda yang tersenyum hangat seraya memeluk tubuh kecilnya. Akan tetapi, sekarang senyum hangat itu telah hilang. Mentari telah pergi yang meyisahkan awan gelap di relung hati gadis malang ini. Tak berselang lama, terdengar dengkuran halus yang menandakan Yasmin telah pergi ke alam mimpi yang indah. Berharap hari esok akan mendatangkan kebahagiaan untuknya.


* * *


Di sebuah rumah nan megah. Terlihat sebuah keluarga sedang berbincang dengan serius. "Ma, Adit capek, udah banyak dokter yang Adit datangi, tapi apa? Hasilnya sama saja. Adit tetap duduk di kursi yang memuakkan ini," cetus seorang pria tampan yang menyebut namanya Adit.


"Kali ini percaya sama Mama, kamu pasti sembuh," kata seorang wanita paruh baya penuh keyakinan yang dipanggil mama oleh pria tampan itu yang ternyata adalah Lalita-- ibunda Aditya.


"Terserah Mama, Adit mau keluar jalan-jalan bareng supir Adit," ucapnya pasrah. Setelahnya dia pun berlalu.


"Iya Sayang, pertemuannya diundur dulu, ya!" teriak Lalita sedikit kecang karena Adit sudah jauh dari pandangannya. “Kamu pasti sembuh, Sayang. Karena dia yang akan mengobatimu," gumam Lalita pada dirinya sendiri hampir tidak ada yang mendengar ucapannya.


Sinar bulan tanpa malu masuk ke dalam celah-celah jendelah sebuah kamar yang tidak tertutup rapat. Sinar bulan yang temaran menyinari wajah cantik dari seorang gadis yang sedang tertidur.


Drt... drt ... drrt


Sampai suara getaran pada ponsel yang menyala terang membangunkan sosok jelita tersebut. Sosok itu menguap sambil menggosok matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam netra indahnya.


"Kok tumben Siska nelpon?" tanya gadis itu pada dirinya. Gadis itu tak bukan adalah Yasmin.


"Ya, halo assalamualaikum, Sis," ujar Yasmin mengangkat telpon tersebut.


[Dok, tadi siang ada seorang wanita setengah baya yang ingin menemui Anda.]


"Siapa ibu itu? Kenapa dia meminta bertemu denganku?" tanya Yasmin pada asistennya di seberang sana.


[Saya tidak tahu, beliau hanya mengatakan ingin menemui Anda dan besok dia akan datang lagi untuk menemui Anda, karena tadi Anda sedang kuliah. Jadi, saya tidak memberitahu Anda.]


"Baiklah, terima kasih Siska atas infonya. Eum, besok aku akan menemuinya," ujar Yasmin dan mengakhiri sambungan telpon tersebut.


"Oh, astaga berapa lama aku tertidur? Apa mereka tidak jadi ya mengajakku ketemu calonnya?" tanya Yasmin pada dirinya sendiri.


"Ah, masa bodohlah, aku lanjut tiduran lagi," ujarnya dan kembali menutup mata. Menyebunyikan sepasang mutiara hazzel di dalam kantung matanya.


* * *


"Halo Za."


[Ya, Dit?]


"Kamu cari info tentang gadis bernama Yasmin Putri Prayoga, aku tunggu malam ini infonya."


[Baik.]


Tut ... tut ... tut


Sambungan terputus secara sepihak. Di balkon sebuah kamar nampak seorang pria yang duduk di kursi roda-- menatap malam yang bertaburan bintang dengan tatapan yang sulit untuk dijelaskan.


"Aku harus mencari tahunya sendiri, siapa dia sebenarnya," gumam sosok itu.


Angin malam seakan tak mengusik sosok itu untuk tetap berada dalam posisi yang sama. Angin yang seakan menembus tulang tak membuat dia ingin beranjak dari tempatnya. Lama menatap langit yang bertaburan bintang suara pesan masuk mengalihkan atensinya. Wajahnya yang tampan makin menawan diterpa sinar bulan yang temaran seakan dia adalah sosok penguasa malam.


Ting ....


Suara notifikasi mengalihkan pandangannya dari langit menuju benda persegi yang ada di dalam genggamannya.


"Cepat juga Erza menemukanya." Pria itu tersenyum kecil ketika telah mendapatkan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


"Bukanya dia ...?" suaranya tercekat ketika mengetahui siapa gerangan wanita yang akan dijodohkan dengannya.


* * *


Pagi menjelang, bulan sudah menyelesaikan tugasnya digantikan oleh sang surya yang menyinari bumi tanpa lelah. Menandakan aktifitas pagi akan segerah dimulai. Seperti halnya dengan sosok gadis berparas berbie yang sedang mematuk dirinya pada cermin besar yang ada di kamar tersebut.


Gadis itu nampak cantik. Dia memakai atasan kemeja berwarna putih dipadukan dengan rok berwarna coklat. Sekali lagi, dia memastikan tidak ada yang kurang pada penampilannya. Gadis itu--Yasmin kemudian menyambar tas samping di atas meja rias yang tak jauh darinya.



Pagi ini Yasmin sudah sangat cantik. Dia sudah tak takut lagi kepada sang kakak dan ibu tiri yang selalu menyuruhnya berdandan seperti ondel-ondel yang ada hanya make-up natural yang membawa kesan anggun dan tenang secara bersamaan seakan orang tak dapat berpaling dari wajah ayunya.


"Mau ke mana kamu?!" sergah sebuah suara.


"Apa pedulimu!" jawab Yasmin datar.


Laras menatap Yasmin tajam. Karena, gadis itu sudah tidak mematuhi perintahnya untuk memakai make-up tebal.


'Makin berani saja dia!' Laras berucap dalam hati dengan penuh kebencian.


Di ruang keluarga telah ada ibu, kakak dan mantan kekasihnya. Ck, kekasih dari mananya? dari Hongkong?


Setelah itu Yasmin berlalu keluar meninggalkan mereka yang mungkin sedang berbincang masalah pernikahan Elis dan si bejat Marcel.


"Huft, akhirnya bebas juga dari mereka," ucap Yasmin menghela napas legah.


Yasmin kemudian memasuki taksi yang sudah ia pesan, melaju ke jalan raya menuju kampusnya.


* * *


"Hy Yas, tumben pagi udah datang," sapa Hera sahabat Yasmin.



𝙃𝙚𝙧𝙖


"Emang kenapa kalau aku datang pagi?" tanya Yasmin balik.


"Eum, gak pa-pa, sih," balas Hera sedikit kikuk.


"Eh, eh, ada yang beda nih, makin cantik aja kamu Yas, udah dilepas tuh topeng ondel-ondelnya," ujar Hera setengah meledek.


"His, jahat amat sih kamu," tutur Yasmin sebal.


"Iya-iya maaf, tapi suer kamu cantik banget hari ini mirip boneka barbie, iya enggak Frans," tutur Hera memuji sembari meminta persetujuan Frans yang baru gabung dan menatap Yasmin tanpa berkedip.



"Ya, Ra, enggak nyangka Yasmin cantiknya kebangetan," ujar Frans membenarkan, tapi dia ikut tertawa meledek juga. Namun, dalam hati ia memang mengiyakan jika Yasmin sangat cantik hari ini-- jauh dari fantasinya.


"Hadeuh, aku kira kalian mau muji, udah mau traktir juga, tapi enggak jadi deh traktirnya," cetus Yasmin berpura-pura marah.


"Wah serius, nih? Ok kamu cantik. Jadi 'kan traktirnya," ujar Frans menahan tawa.


"His, kebangetan banget sih, awas ya kalau aku pergi nanti kalian jangan nangis," kata Yasmin makin sebal.


Seketika Hera dan Frans terdiam kaku.


Yasmin yang menyadari perubahan sikap mereka pun heran.


"Yaelah, kalian serius amat, aku cuman bercanda kali," ujar Yasmin santai berusaha mengemabalikan senyuman sahabatnya.


"kamu enggak serius 'kan Yas, plis jangan tinggalin kita ya," tutur Hera memohon.


"InsyaAllah, semoga Allah selalu menjaga Yasmin," ucap Yasmin dan diaminkan oleh Hera dan Frans.


Tak berselang lama dosen pun datang dan kelas mulai hening karena fokus dengan pelajaran yang berlangsung.


Jam makan siang telah tiba dan Yasmin langsung merapikan barang-barangnya karena ia sudah tidak mempunyai mata kuliah lagi.


"Guys sory ya, aku enggak bisa traktir kalian, kalian tahu 'kan kalau ...." Yasmin tidak melanjutkan kata-katanya.


"Iya, kami tahu," ucap Hera sembari mengangguk paham.


"Mauku antar," tawar Frans.


"Maaf Frans lain kali aja, soalnya aku buru-buru makasih ya tawaranya," tolak Yasmin secara halus kemudian berlari keluar kelas.


"Huft, bisa gawat kalau Frans ikut," gumam Yasmin pelan, kemudian memesan taksi online. Tak berselang lama taksi pun datang dan mengantar Yasmin ketujuan.


* * *


"Duh, capek banget," tutur Yasmin terengah-engah karena baru berlari dari koridor rumah sakit.


"Siska, siapa yang mau ketemu?" tanya Yasmin to the point sembari masih menetralkan deru napasnya.

__ADS_1


"Enggak tahu juga, tapi sekarang ada di ruangan dr. Putri, saya suruh tunggu di sana," jawab asisten Yasmin yaitu Siska.


"Oh, oke thanks ya," balas Yasmin lalu pergi keruanganya.


Yasmin lebih sering dipanggil Putri jika berada di lingkungan rumah sakit dan jarang yang memanggilnya Yasmin.


Ceklek!


"Maaf membuat Nyonya menunggu," ucap Yasmin menampilkan senyum terbaiknya saat dia bersitatap muka dengan seorang wanita di ruangannya.


"Tidak masalah Dokter, seharunya saya yang minta maaf karena telah mengganggu waktu Dokter," balas wanita paruh baya itu.


"Silahkan duduk," ujar Yasmin mempersilahkan.


"Ada kepentingan apa Ibu mencari saya?" tanya Yasmin ramah setelah mempersilahkan wanita itu untuk duduk.


"Nama Ibu, Lalita Ivangka Priatmaja. Kedatangan Ibu ke sini hanya ingin minta tolong kepada Dokter untuk jadi Dokter pribadi anak saya," jawab Lalita dengan penuh keyakinan.


"Maaf, Ibu Lalita ...."


"Tidak usah terlalu formal, panggil saja Ibu sebagai Bunda, boleh?" sela Lalita menghentikan ucapan Yasmin.


Walaupun Yasmin sedikit canggung, tapi dia tetap melakukannya.


"Ehem, Bu ... Bunda. Maaf, tapi saya tidak bisa," tolak Yasmin penuh sesal.


"Tapi sayang, Bunda mohon, kamu mau ya, soalnya anak Bunda tidak suka keramaian dan lihat oleh banyak orang. Jadi Bunda mencarikannya Dokter yang mampu merawatnya di rumah," ucap Lalita dengan raut wajah sedih. Masih belum ada sepatah kata yang keluar dari bibir tipis Yasmin.


"Kamu adalah harapan terakhir Bunda, karena Bunda sudah lelah mencari dokter untuk mengobati anak Bunda, tapi nihil tidak ada hasil," lanjut Lalita yang sudah berurai air mata.


'Duh, gimana nih, aku enggak tahan kalau ada Ibu bersedih sampai mengeluarkan air mata. Huft, ya Allah bagaimana ini? Pasti mereka tidak mengizinkan Yasmin untuk keluar, tapi ... ah persetan dengan mereka.' Yasmin masih bergelut dengan batinya antara ingin mengatakan iya atau tidak.


"Udah ya Bun, jangan nangis nanti aku jadi ikutan nangis," ujar Yasmin menenangkan sembari memberikan Lalita sapu tangannya.


'Yes, berhasil, akhirnya Yasmin luluh juga.'


"Tapi, kamu mau 'kan sayang jadi Dokter pribadi anak Bunda?" tanya Lalita memastikan.


"Iya insyaAllah Yasmin mau, tapi ...." Yasmin menjeda ucapannya dan menatap Lalita dengan pandangan yang sulit diartikan.


"Jadwalmu sudah Bunda kosonkan dan kamu sudah diberi izin untuk praktek di luar rumah sakit," tambah Lalita karena melihat keraguan Yasmin.


'Ha? Kok Tante ini tau apa yang kupikirkan?' tanya Yasmin pada dirinya sendiri yang tentu tak dapat didengar oleh Lalita.


"Ah, Bunda sudah mempersiapkan semuanya. Karena Bunda enggak mau kamu repot sayang," sambung Lalita yang memahami kebingunan Yasmin.


"Eum, baiklah, tapi kapan saya bisa memeriksa anak Tan ... eh Bunda?" tanya Yasmin sedikit kikuk.


"Besok, tapi kamu harus menginap ya di rumah Bunda," jawab Lalita tersenyum lembut.


"Ha? Apa harus ya Bun?" tanya Yasmin ragu.


"Ya, Sayang, soalnya kalau kami pergi tidak ada yang menjaganya," jawab Lalita mulai bersedih lagi.


"Huft, baiklah Bun, tapi aku tidak tahu alamat Bunda," ujar Yasmin pada akhirnya masih dengan senyum yang sama.


"Mana ponsel kamu," tutur Lalita meminta ponsel Yasmin.


Walaupun masih bingung Yasmin tetap memberikannya.


"Ini, di situ Bunda suda save nomor Bunda dan nomor kamu juga sudah Bunda save. Jadi, kamu tinggal tunggu info dari Bunda," ucap Lalita panjang kali lebar yang diangguki oleh Yasmin.


"Oh, iya Sayang Bunda hampir lupa, nama kamu siapa?" tanya Lalita pura-pura tidak tahu. Padahal Yasmin memakai name tag yang terpasang di jas putihnya.


"Astagfirullah, aku lupa, maaf Bun," tutur Yasmin tersenyum dua jari.


"Jadi?"


"Yasmin Putri Prayoga, tapi kalau di RS dipanggil dr. Putri," jawab Yasmin memperkenalkan diri.


"Bunda panggil Dr. Yasmin ya supaya lebih spesial," ujar Lalita menampilkan senyum hangat. Yasmin hanya tersenyum dan tanpa aba-aba Lalita merengkuh tubuh Yasmin yang sedang menghadap ke arahnya.


Deg! Satu kata yang tergambar di benak Yasmin hangat apa ini dinamakan pelukan dari seorang ibu? Hangat dan menenangkan, terasa seperti ada yang melindungi. Tanpa terasa lelehan kristal jatuh di pipi mulus gadis cantik itu.


"Eh, kamu kenapa, Sayang? Maafin Bunda, ya," ujar Lalita sedikit panik karena melihat Yasmin menangis.


"Enggak pa-pa Bun, Yasmin hanya terharu. Baru kali ini Yasmin merasakan pelukan hangat dari seorang ibu," imbuhnya mengusap sisa air mata.


"Kamu bisa anggap Bunda sebagai Bunda kamu sendiri. Ok, kalau gitu Bunda pulang dulu, ya Sayang. Sampai ketemu besok, assalamualaikum," kata Lalita sebelum berlalu ia mencium pipi calon menantunya.


"Waalaikumsalam," jawab Yasmin.


"Astaga sudah sore," ujar Yasmin terkejut, kemudiam bergegas keluar ruanganya.


Kalau kalian bertanya kenapa Yasmin bisa mempunyai rumah sakit jawabannya itu adalah rumah sakit peninggalan bunda yang diwariskan kakek padanya. Bahkan Aryo tidak mengetahui hal tersebut. Yasmin bekerja sebagai Dokter spesialis saraf. Dan akhir - akhir ini jadwalnya tidak padat dan dia sedang fokus menyelesaikan kuliahnya sekarang ini. Andai saja Yasmin tahu bahwa orang yang akan ia rawat bukan anak kecil atau remaja pasti dia akan menolak dengan sangat keras dengan berbagai alasan.

__ADS_1


bersambung....


__ADS_2