![Grisella Story [Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/grisella-story--revisi--.webp)
Matahari telah kembali ke tempatnya digantikan oleh sang rembulan yang menyinari bumi dengan cahaya redupnya. Taburan bintang menambah cantik malam itu. Seorang dara jelita tak jemu menatap bintang yang bertaburan di angkasa sana. Walaupun, angin malam menusuk sampai tulang. Namun, ia masih enggan untuk beranjak dari tempatnya. Mata indah itu tampak menyorot dengan tatapan hampa tidak ada kebahagiaan di dalamnya. Gadis itu yang tak bukan adalah--Yasmin--menatap langit yang bertaburan bintang. Walaupun gadis itu tak menunjukkan ekspresi apa-apa. Namun, sorot matanya menandakan ada kesedihan yang tak berujung. Mata indah itu seakan menyiratkan suatu keresahan yang mendalam. Sampai terdengar helaan napas dari gadis itu.
"Huft!"Entah helaan karena kedinginan atau ada maksud lain. Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya yang membuat gadis itu terkejut. "Astaghfirullah," kagetnya seraya berbalik menatap siapa yang menepuk bahunya yang pasti itu bukan hantu mana ada hantu malam-malam yang ada hantunya datang kalau siang buat rusuh. Pikir Yasmin ngelantur.
"Ngapain malam-malam di sini? Udaranya dingin, tahu Yas?" tanya sosok jelita seraya mengucek matanya yang masih setengah sadar. Karena dia heran sewaktu bangun ingin pergi ke dapur untuk minum sepupu cantiknya itu sudah tidak ada di sebelahnya. Ternyata yang dicari sedang berada di balkon kamar. Bukan menjawab gadis itu malah menghela napas dan berbali menatap langit.
"Kenapa kamu?" tanya gadis itu lagi--Ziah.
"Rena telepon, Zi," jawab Yasmin lirih, tapi masih bisa didengar oleh Ziah.
"Hm, apa yang dia omongin?" tanya Ziah seraya mendekat ke sisi Yasmin dan mengikuti menatap langit malam yang bertaburan bintang.
"Dia mohon sama aku, buat lepasin Aditya, karena dia lagi sakit parah, dia ngajakin aku ketemu buat ngebuktiin omongan dia bener," jawab Yasmin menjelaskan dengan raut wajah tak terbaca.
"Kamu percaya dia sakit?" tanya Ziah serius.
"Tidak! Aku tahu dia cuman pura-pura buat aku lulu dan lepasin Mas Aditya gitu ajah," bantah Yasmin menatap Ziah sekilas.
"Aku udah tahu semua dari Kak Edward, kalau Rena cuman sandiwara dan kebetulan dia ambil surat palsu di rumah sakit tempat Kak Edward kerja sekarang, dia nyogok salah satu Dokter di sana," lanjut Yasmin menjelaskan yang membuat Ziah sampai kehilangan kata-kata.
"Jadi sebelumnya kamu udah nyelidikin Rena?" tanya Ziah tidak percaya betapa cerdasnya sepupunya itu.
Yasmin mengangguk sebagai jawaban, "Asal kamutahu, Rena masih menjalin hubungan dengan Kak Edward, waktu Rena pergi ke Amerika mereka ketemu di sana, dan aku juga baru tahu alasan Kak Edward pulang ke Indonesia karena Rena yang mau berbuat nekat lagi, dia sangat terobsesi dengan Aditya bukan cinta, tapi hanya obsesi sesaat," imbuh Yasmin menjelaskan.
"Lagi? Maksudnya Rena enggak berbuat nekat hanya sekali?" tanya Ziah penasaran dengan cerita yang begitu rumit menurutnya.
"Ya, lima tahun lalu sebelum Mas Aditya dan Rena pisah waktu Mas Aditya belum cacat, Rena pernah hampir bunuh diri karena Aditya tidak menjawab panggilannya," terang Yasmin seraya menggeleng mengingat cerita dari kakak angkatnya itu.
"Wah, parah ya, bener-bener tuh si Rena," timpal Ziah tidak suka.
"Tapi, kenapa akhir-akhir ini kamu kayak merenggang gitu sama Aditya?" tanya Ziah penasaran.
"Hm, belum tentu jika kita mundur sedikit berarti kita sudah kalah. Tidak! Aku cuman mau ngetes Mas Aditya dan buat Rena merasa senang sesaat," jelas Yasmin tersenyum lembut. Namun, terselip senyuman licik di dalamnya.
Ziah sampai takut menatap senyuman Yasmin yang terlalu sadis. "Ngetes kalau dia cinta sama kamu? Apa Aditya belum pernah ngatain perasaannya sama kamu?" tanya Ziah dan langsung membekab mulutnya.
"Ya, begitulah, apa dia akan terpengaruh atau tidak, dan aku mau bicara lagi sama Ayah kalau nikahan kita harus mewah, aku udah tahu semua rencana Rena," jawab Yasmin. Dia hanya tersenyum kecut hampir saja dia menyesali semuanya jika tidak bertemu dengan kakak angkatnya itu kemarin.
"Wah, daebak! Kamu yang terbaik, ternyata ajaranku enggak meleset ya," imbuh Ziah tersenyum bangga.
"Ajaran apa? Dan gak usah sok Korea, kamu" tukas Yasmin dan berlalu dari hadapan Ziah.
"Wait, main pergi aja nih anak," dumel Ziah kesal.
Dan yang membuat Yasmin tidak habis fikir adalah Frans. Dia tega menghancurkan sahabatnya sendiri. Dia pikir dengan melakukan hal demikian Yasmin akan bersamanya. Oh, no! Pemikirannya salah besar malah Yasmin akan membencinya sampai mati.
Ternyata Rena terlalu menganggap remeh gadis itu. Gadis yang terlihat lemah dan bodoh ternyata mengetahui semua rencana busuknya yang telah ia susun rapi.
Sementara itu, seorang pria tampan yang tak bukan adalah Edward sedang menasehati seorang gadis cantik. "Ren, udah dong, Aditya udah mau nikah sama Adikku," tutur seorang pria tampan bertubuh tinggi dan berwajah kebarat-baratan.
"Enggak Ed, kamu yang udah, aku tetap ingin nikah sama Aditya, kalau Adikmu adalah penghalang di antara kebahagiaan kami, aku akan singkirin penghalang itu," ujar Rena berapi-api dan meningkalkan pria yang bernama Edward itu.
'Andai saja kamu buka mata sedikit aja, Ren, kalau ada aku yang selalu setia menunggu kamu,' imbuh Edward dalam hati menatap sedih kepergian kekasihnya yang mengejar cinta yang tak dapat ia raih.
"Semoga aja Yasmin bisa selesaiin semuanya," guman Edward dan berlalu pergi meninggalkan apartemennya.
* * *
Pagi pun tiba, suara cicitan burung di pagi hari seakan menjadi melodi penyejuk hati untuk memulai berbagai aktivitas yang mungkin sangat melelahkan.
Pagi ini Yasmin berangkat ke rumah calon mertuanya dia ingin konsep pernikahannya serba Wah karena tadi pagi dia telah berbincang dengan ayah, om, dan tantenya. Dan mereka setujuh. Sedangkan Ziah gadis itu pergi ke kantor Erza untuk menemuinya katanya ingin memberi semangat kepada sang kekasih.
Saat ini Yasmin berada di rumah calon mertuanya. Yasmin telah membicarakan bahwa dia dan Aditya yang akan menentukan konsep pernikahan mereka dan Lalita menyetujuinya malah dia senang karena calon menantunya sudah tidak merasa terbebani lagi.
"Sayang, kamu makan siang di sini 'kan?" tanya Lalita seraya duduk di sofa ruang tamu.
"Eum, maaf Bun, kayaknya Yasmin enggak makan siang di sini lain kali aja ya, soalnya Yasmin ada janji sama temen Yasmin," jawab Yasmin tidak enak.
"Hm, tidak apa Sayang, lain kali 'kan bisa nanti kamu juga bakal tinggal di sini," timpal Lalita seraya mengusap pucuk kepala Yasmin.
"Makasih Bun, kalau gitu Yasmin ijin pamit ya, soalnya temen Yasmin mungkin udah nunggu," balas Yasmin seraya tersenyum dan berdiri untuk menyalami tangan Lalita.
"Iya, Sayang hati-hati ya," jawab Lalita yang diangguki oleh Yasmin dan senyum tipis menyertainya.
* * *
Di sini gadis itu sekarang di sebuah taman rumah sakit, Rena mengajaknya bertemu di taman itu untuk memberitahu Yasmin kebenaran penyakitnya yang hanya rekayasa belaka.
"Yas, sebenarnya aku enggak mau cerita ini sama kamu, tapi .... " Ucapan Rena terhenti karena dia mulai mengeluarkan tangisan buayanya yang membuat Yasmin muak.
Yasmin hanya diam menunggu kelanjutan dari ucapan wanita ular yang ada di hadapannya itu.
"Aku sakit Yas, aku enggak tahu harus ngomong apa, aku mungkin udah enggak lama lagi, maukah kamu melepaskan Aditya untuk bersamaku disisa hidupku," mohon Rena dengan air mata membasahi pipi mulusnya. Ekting Rena wajib diacungi jempol.
Namun, Yasmin masih bungkam tidak ada ekpresi yang terbit di wajah cantiknya yang ada hanya tatapan datar yang membuat Rena was-was apa Yasmin tidak mempercayainya? Apakah ektingnya kurang meyakinkan? Begitulah isi pemikiran Rena yang berkecamuk.
Lama terdiam akhirnya Yasmin menhembuskan napas lelahnya. Rena berpikir Yasmin telah masuk ke perangkapnya. Namun, sayang pemikiran Rena salah besar Yasmin malah mengasihani Rena dalam hatinya bagaimana bisa wanita itu begitu percaya diri dia akan melepaskan Aditya yang notabene akan jadi suaminya beberapa hari lagi.
"Aku tidak tahu Ren, bisa membantu atau tidak." Yasmin menjeda ucapannya dengan menatap Rena tanpa ekpresi.
"Aku serahkan keputusan semua di tangan Mas Aditya, sebentar lagi dia akan datang, jadi tunggu saja apa keputusannya," jawab Yasmin melanjutkan perkataannya yang penuh makna itu. Yasmin berharap Aditya menolaknya.
'Bodoh! Dasar gadis bodoh! Tentu Aditya akan menerimanya jika kamu yang menyuruhnya bodoh! Ck, liat saja Dit, istri idiotmu ini menyerahkanmu sendiri padaku, haha,' pikir Rena senang yang ditutupi oleh wajah sedihnya yang dibuat semeyakinkan. Namun, kenyataannya dialah yang bodoh di sini bukan Yasmin. Haruskah kita mengasihasi Rena?
Sepuluh menit mereka menunggu dari kejauhan terlihat seorang pria tampan bertubuh tegak berjalan ke arah mereka dengan wajah datar. Sebenarnya, Aditya bingung kenapa calon istrinya itu menelponnya untuk bertemu terlebih lagi itu di rumah sakit.
Dari jarak dekat Aditya dapat melihat sosok calon istrinya dan seorang wanita yang dia tidak ingin temui. 'Kenapa wanita itu bersama Yasmin? Apa dia mempengaruhi Yasmin supaya aku mau merawatnya? Bodoh! Kenapa istriku terlalu polos untuk dibodohin,' pikir Aditya tidak habis pikir, tapi dia tidak menyalahkan Yasmin yang terlalu baik. Namun, dia menyalahkan Rena yang mengambil kesempatan dari kebaikan istrinya itu.
Tibalah Aditya di hadapan mereka. Ia melihat Rena menangis sesegukan pasti itu untuk membodohi Yasmin. Seketika pandangan Aditya menggelap ke arah Rena.
"Kenapa kamu ada disini, ha?" tanya Aditya pada Rena.
"Mas Rena 'Kan sakit, Yasmin kamu tahu sendirikan maksudku mengajakmu bertemu," jawab Rena meminta pertolongan pada Yasmin dengan raut wajah tersakiti.
Yasmin mendegus tanpa sepengetahuan mereka dan menghela napas lalu menatap Aditya tanpa ekpresi. Aditya kaget ada apa dengan calon istrinya itu? Sampai suara lembut Yasmin menyadarkan Aditya dari lamunannya.
__ADS_1
"Sebaiknya kita bicara di restoran di sana?" tunjuk Yasmin pada restoran dekat rumah sakit. Mereka mengangguk dan pergi ke restoran itu untuk berbicara. Rena telah menghapus jejak air mata buayanya. Dia berpikir dia telah menang. Namun, siapa yang tahu apa yang akan terjadi kedepannya? Terlebih lagi yang bersangkutan belum menunjukkan ekpresi apapun, marah, sedih, ataupun kecewa hanya ekpresi datar sejak mereka bertemu. Begitupula dengan Aditya yang memang minim ekspresi.
Setelah mereka sampai Yasmin memesankan mereka minuman dan makanan karena ini sudah masuk jam makan siang. "Nikmati dulu, setelah kalian makan baru kita bicara," ucap Yasmin kalem karena melihat tatapan dari dua orang berbeda gender di depannya itu.
Yasmin menikmati makanan dengan santai seperti tidak terjadi apa-apa yang membuat Rena selalu meliriknya.
'Apa dia tidak marah?'
Setelah dirasa cukup mereka menyelesaikan makan siang dengan suasana hening. Aditya sampai dibuat heran melihat sikap Yasmin yang sangat kalem berbeda dengan biasanya yang selalu tersenyum hangat padanya jika bertemu. Kenapa sekarang berbeda? Apa karena ucapan Rena? Berbagai tanda tanya besar bermunculan di kepala Aditya.
"Kamu bisa ngomong sekarang sama Mas Aditya," pinta Yasmin kelewat santai yang membuat Rena gugup.
"A … aku sudah berbicara denganya tinggal tunggu persetujuanmu saja," ucap Rena gugup.
"Maksud kamu apa? Setuju apa?" tanya Aditya bingung apa yang ia setujuhi sedangkan permintaan Rena tidak pernah ia kabulkan yang kemarin-kemarin.
Yasmin mengangkat sebelah alisnya yang membuat dia terlihat makin sexy!
"Jadi, Mas Aditya enggak tahu ya kalau Mbak Rena sakit?" tanya Yasmin lembut.
"Saya tahu, tapi ...." Ucapan Aditya dipotong cepat oleh Rena.
"Benarkan Yasmin, Mas Aditya udah setuju karena dia tahu aku sakit," potong cepat Rena yang membuat Aditya tidak suka.
"Apa yang saya setujuhi, saya tidak akan melepaskan calon istri saya!" tekan Aditya yang membuat Yasmin mengangkat sudut bibirnya sedikit. Ini yang ia tunggu dari tadi.
"Yasmin, aku mohon aku lagi sakit, mungkin kalau kamu yang nyuruh Mas Aditya buat rawat aku di sisa umurku ini, dia pasti mau," ucap Rena memohon dengan menyedihkan berharap gadis di depannya akan luluh.
"Maaf Mbak Ren, sebaiknya Mbak Ren periksa kembali apa benar Mbak Ren sakit kanker hati beneran atau cuman .... " Yasmin menggantung ucapannya dan melihat mimik wajah Rena yang berubah gugup.
"A .. apa maksud kamu, Yasmin? Kamu nuduh saya bohong masalah penyakit saya?" tanya Rena tergagap.
Yasmin menaikkan sebelah alisnya sebagai jawaban. "Duh maaf Mbak Ren, saya terus terang ya. Saya enggak rela calon suami saya dekat-dekat dengan wanita lain, apalagi kita bentar lagi nikah, pasti kalau Mbak Ren di posisi saya pasti Mbak Ren juga gitu 'kan?" tanya Yasmin ringan yang benar-benar memojokkan Rena. Aditya hanya tersenyum tipis menanggapi ucapan sang calon istri.
"Jadi maksud kamu, saya beneran nipu Mas Aditya, hei dasar murahan, kamu pikir kamu siapa ha!" teriak Rena dan mereka sukses jadi sorot perhatian. Tidak sampai disitu karena emosi Rena sudah sampai di ubun-ubun dia hampir saja menampar pipi mulus Yasmin untung saja ada tangan kekar yang menahan kegilaan Rena.
"Stop! Berani kamu sentu calon istri saya, kamu bakal terima akibatnya," peringat Aditya dengan sorot mata menggelap tidak terima Rena akan menampar pipi calon istrinya.
Setelah mengatakan hal demikian Aditya menarik Yasmin keluar dari restoran itu mereka tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang melihat mereka aneh.
Rena benar-benar dibuat malu akan sikap Yasmin yang terlalu arogan ditambah bisik-bisik tetangga eh maksudnya bisik-bisik para pengunjung yang menyebutnya PHO alias perusak hubungan orang.
"Diam kalian semua!" teriak Rena pada seisi restoran yang makin menatapnya aneh.
'Awas saja kamu wanita murahan, aku enggak akan lepasin kamu gitu aja, kalau aku enggak bisa dapetin Aditya kamu juga enggak boleh, hahaha tunggu saja rencananya,' ujar Rena dalam hati seraya tersenyum licik dan keluar juga dari restoran itu.
Belum Rena memesan taksi ponselnya bergetar tanda ada panggilan masuk. Dia menatap layar ponselnya terpampang jelas nama Frans pada layar ponselnya. Rena langsung saja mengangkat telepon itu.
"Halo!" jawab Rena ketus karena moodnya sudah hancur gara-gara gagal mendapatkan Aditya dari tangan Yasmin.
[Sorry, Ren, aku enggak bisa lanjutin rencanamu, aku gak bisa hancurin persahabatanku.] Terdengar suara penelpon di seberang sana yang tak bukan adalah Frans.
"Maksudmu apa, ha? Kita udah susun ini matang-matang, kenapa kamu batalin, ********!" raung Rena tiba-tiba dan Frans telah mematikan sambungan telepon sepihak dengan kasar Rena menghepaskan telepon genggamnya hingga menimbulkan bunyi pecahan yang bertubrukan dengan aspal yang keras.
"Argh! Brengsek kamu, argh." Rena menggeram frustasi ponselnya telah berhamburan di aspal, pejalan kaki yang melewatinya hanya menatap Rena aneh menganggap wanita itu gila Rena benar-benar dibuat frustasi baru tadi dia senang bahwa masih ada rencana cadangan, tapi ternyata itu dihancurkan oleh Frans yang notabenenya sahabat Yasmin. Rena **** atau apa sih? Jelas-jelas dia sahabat Yasmin tentu dia tidak ingin merusak persahabatan mereka. Karena sebelumnya Yasmin telah bertemu dengan Frans dan membuatnya mengerti dan mau memaafkan kesalahan Frans yang begitu mudahnya dibodohi oleh Rena.
Tiba-tiba ada seseorang yang mendekati Rena menepuk punggungnya. Sontak saja Rena berbalik. Di depanya sekarang seorang pria tampan berjas putih khas seorang dokter tersenyum ke arahnya.
"Kamu mau pulang?" tanya pria itu yang tak lain adalah Edward--kakak angkat Yasmin.
"Kamu gak usah sok peduli sama aku, Ed," ketus Rena sarkas--menatap Edward datar.
"Huft!" Helaan napas kasar Edward terdengar yang membuat Rena kembali menatapnya. "Udah ya Ren, kita bicara baik-baik ya, enggak enak di sini," mohon Edward tersenyum hangat tanpa mempedulikan penolakan Rena yang kentara. Karena Rena tidak bisa apa-apa lagi ditambah ponselnya rusak dan dia tidak bisa menghubungi supirnya jadi dia pasrah saja ditarik oleh Edward ke mobilnya.
Di lain sisi Yasmin dan Aditya berada di tempat WO wedding organizer yang bertanggung jawab masalah pernikahan. Yasmin memilih konsep yang sangat mewah dan sesekali ia meminta pendapat Aditya dia berpikir Aditya akan marah jika dia menginginkan konsep yang serbah Wah nyatanya tidak! Aditya malah senyum-senyum saja dan mengiyakan semua permintaan Yasmin yang dengan baik dipahami oleh pihak WO.
'Aditya enggak marah?' pikir Yasmin dalam hati karena sebelumnya ia menolak mengadakan pernikahan megah dia ingin pernikahannya tertutup saja. Namun, setelah mengetahui sebuah kebenaran dia hampir saja menyeselali keputusannya seumur hidup itu.
Aditya tidak marah dengan Yasmin dan melupakan kejadian tadi siang dia malah senang kalau Yasmin menginginkan pernikahan yang serbah Wah karena itu memang sepadan dengan statusnya sebagai seorang CEO muda terkenal yang merajai dunia bisnis.
Setelah urusan mereka selesai dengan pihak WO Aditya mengantarkan Yasmin kembali ke rumah dan dia kembali ke perusahaan yang tadi sempat ia tinggalkan dengan Erza yang sedang bersama Ziah.
Aditya menjalankan mobilnya menembus jalan yang agak lengan itu. Tanpa mereka sedari ada sebuah mobil yang selalu mengawasi pergerakan mereka.
Kali ini musuh Aditya dan Yasmin benar-benar nyata. Tidak, lebih tepatnya incaran mereka adalah Yasmin terbukti dengan foto Yasmin yang di pegang salah satu dari mereka.
"Kali ini dia tidak akan lolos Bos, sudah cukup dia membuat Nyonya Laras dipenjara," ujar salah satu dari mereka menatap sinis foto Yasmin yang baru mereka ambil.
"Ya, aku berjanji akan membalas dendam putriku," timpal pria yang dipanggil bos oleh pria yang memakai masker itu yang sedang memegang camera untuk memfoto semua pergerakan Yasmin dan Aditya.
Sebenarnya salah gadis malang itu apa? Kenapa sangat banyak musuh yang tidak mengizinkannya untuk hidup tenang untuk sejenak saja. Kali ini musuh gadis malang itu adalah ayah dari Karas pemimpin mafia yang menjalankan bisnis ilegal serta yang menyelundupkan senjata dan obat terlarang bahkan dia menjalankan bisnis prostitusi gadis-gadis di bahwa umur yang sebenarnya dijalankan oleh Laras. Dan tanpa sepengetahuan Aditya. Laras telah dibebaskan oleh ayahnya berkat koneksi sang ayah.
"Aku akan membalasnya lebih sadis lagi, hahaha, jika laki-laki tadi melindunginya bunuh juga dia," imbuh pria yang diyakini ayah dari Laras ibu tiri Yasmin. Setelah mengatakan demikian ia menyuruh anak buahnya untuk menjalankan mobil van hitam itu.
* * *
Edward tidak membawa Rena pulang ke rumahnya dia malah membawanya ke taman yang ada di pusat kota Jakarta. Mereka saat ini terduduk di taman, Edward sengaja membawa Rena ke taman ini untuk membuatnya lebih tenang dan berfikir jernih.
"Ren, boleh aku jujur?" tanya seraya menatap lurus ke depan. Tidak ada sahutan dari wanita itu. "Sebenarnya, aku cemburu melihatmu begitu memperjuangkan Aditya yang tidak mengiginkanmu, karena dia telah memiliki tambatan hati." Jeda sejenak,bEdward menatap wajah Rena yang kini menatapnya dengan ekpresi tak terbaca. "Kamu begitu memperjuangkan Aditya, tanpa melihatku yang selalu memperjuangkanmu," ucap Edward melanjutkan. Jujur hatinya sakit melihat Rena seperti ini dia mengingat kenangan mereka waktu di Amerika saat di mana Aditya belum sembuh.
"Kamu tahu, aku rela kesakitan demi membuatmu bahagia, tapi bolehkah aku juga berjuang? Memperjuangkan dirimu yang begitu sangat mencintai Aditya?" tanya Edward dalam. Kini tangannya telah mengusap kedua tangan Rena lembut berusaha menyalurkan kehangatan pada Rena.
"Maaf Ed, selama ini aku enggak pernah melihatmu, selama ini kamu cuma berjuang sendiri menghadapi sikapku yang kekanak-kanakan ini," tanpa terasa isakan lolos begitu saja dari bibir kissable Rena. Dia menarik tangannya dari genggam Edward untuk menutupi wajahnya yang sudah basah akan air mata. Tanpa pamit Edward langsung merengkuh tubuh wanita yang sangat ia cintai itu. Walaupun butuh kesabaran ekstra untuk menghadapinya.
"Hust, jangan nangis entar cantiknya ilang, lho," tutur Edward diringi kekehan kecil yang membuat Rena makin meneggelamkan wajahnya di dada bidang milik Edward.
"Mau ya Sayang, kita mulai dari awal," tutur Edward lembut seraya mengelus puncak kepala wanitanya. 'Wanitanya?' ya begitulah Edward mau menerima Rena dengan penuh keihlasan karena dia sangat menyukai wanita yang ada di dekapannya itu, memang cinta itu buta. Seburuk apapun dirimu jika ada seseorang yang mencintai dan memperjuangkanmu, berarti dirimu sangatlah berharga baginya, maka jangan pernah sia-siakan orang yang ingin berjuang untukmu. Edward merasa Rena mengangguk di dalam dekapannya yang membuat Edward senang bukan main. Akhirnya penantiannya selama lima tahun terbayar juga.
Setelah itu, Edward mengantarkan Rena pulang ke rumahnya. Dan Edward kembali ke rumah sakit karena mendapatkan telepon jika dia dibutuhkan di rumah sakit. Berbeda dengan Yasmin dia tidak perlu selalu masuk ke rumah sakit itu. Karena rumah sakit itu miliknya dan Edward tahu akan hal itu.
Saat ini Aditya disibukkan oleh berbagai document di depannya. Entah kenapa dia tidak bisa konsen entah apa yang ada di kepala Aditya saat ini.
"Za, kamu di mana?" tanya Aditya saat telepon tersambung.
[Aku di ruanganku bareng Ziah, ada apa Dit, apa ada masalah sama Yasmin?] tanya Erza di seberang sana.
__ADS_1
"Nanti aku bakal cerita, sekarang kamu utus anak buah kamu untuk awasi semua kegiatan Yasmin, sepertinya ada yang mengincar calon istriku," jawab Aditya datar.
[Ha? Yasmin berarti dalam bahaya! Kita enggak boleh lengah apalagi nikahan kalian tinggal hitung hari, pasti banyak yang ingin menghancurkannya! Terlebih lagi ....M Erza tidak melanjutkan ucapannya menunggu reaksi Aditya di seberang sana.
"Terlebih apa?" tanya Aditya tidak sabar.
[Terlebih Ibu tiri Yasmin telah di bebaskan oleh Ayahnya dengan mudah, itu berarti Ayah Laras bukan orang sembarangan,] jawab Erza serius.
"Shit! ******** itu, pasti mereka punya rencana besar untuk calon istriku, tolong perketak pengawasannya," tandas Aditya tajam dan langsung menutup teleponya dengan kasar.
"Dasar manusia iblis! Menyesal aku tidak memberinya hukuman setimpal," ujar Aditya mengacak rambutnya frustasi.
Sementara itu, di ruangan Erza dia nampak kesal karena Aditya memutuskan sambungannya tanpa permisi.
"Aish, bocah ini!" Erza memdumel tidak senang.
"Kenapa si Yank?" tanya wanita cantik yang tak bukan adalah Ziah.
"Enggak pa-pa, Aditya cuman suruh ningkatin pengawasan sama calon istrinya sampai hari pernikahan," jawab Erza seraya duduk di dekat Ziah dan langsung merubah posisi jadi berbaring di paha Ziah.
"Emang Yasmin dalam bahaya, ya?" tanya Ziah mengeryit bingung.
"Iya, kamu enggak tahu ya, sebelum kamu sampai di Indonesia Yasmin sempat diculik sama Ibu tirinya," jelas Erza seraya duduk menghadap Ziah yang menatapnya penuh keterkejutan.
"Seriusan? Jadi memar pada pipi Yasmin dan perban yang melekat di lehernya itu bentuk penyiksaan dari mereka?" tanya Ziah tak percaya yang di balas anggukan oleh Erza.
"Astaghfirullah, sepupuku, malang banget nasibnya!" Ziah nampak berkaca-kaca ternyata sepupunya melewati masa sulit.
"Udah enggak usah sedih, aku yakin Aditya pasti melindunginya," imbuh Erza seraya mengelus pipi Ziah lembut.
"Eum ya, tapi ada apa lagi kenapa Yasmin harus dapat pengawasan yang lebih ketak lagi?" tanya Ziah penasaran.
"Ya, karena mereka tidak puas telah menyiksanya dan mungkin mereka kali ini akan lebih parah lagi," jawab Erza serius.
"Brengsek mereka! Emang sepupuku salah apa coba! Dari kecil hingga besar dia enggak pernah dapetin kasih sayang hanya penyiksaan yang ia terima, kenapa wanita ular itu begitu terobsesi menghancurkannya," ucap Ziah emosi menggebu dia sampai mengepalkan tangannya erat.
Erza saja dibuat kagum ternyata dibalik sikap Ziah yang bad girl itu dia sangat menyayangi sepupunya. "Kita pasti bakal lindungi sepupu kamu, bagaimana pun caranya, lagi pula nanti dia bakal jadi Kakak ipar aku 'kan." Blushh! papar Erza sukses membuat pipinya memerah.
"Lucu amat sih kalau lagi gugup," kata Erza menggoda Ziah seraya mencubit pipinya yang gembil.
"A ... awh, makin melar deh nih pipi," beber Ziah mengelus pipinya yang habis terkena cubitan maut dari Erza.
"Hehe, maaf, Sayang,"tukas Erza kali ini ia malah mengecup pipi gembil Ziah yang habis ia cubit.
Blush! Semburat merah pada pipi Ziah makin membuatnya mengemaskan di mata Erza.
'Haduh, pengen cepetan halal kalau kek gini, enggak tahan liat dia malu-malu kek gini,' batin Erza menggeram ingin, tapi sayang pernikahan bosnya sebentar lagi jadi dia membiarkan bosnya dulu yang melepas status bujang lapuk yang selama lima tahun ia sandang. Mengingat hal itu membuat Erza tertawa sendiri yang membuat Ziah heran melihatnya dia pikir Erza pasti sedang kesambet.
"Sayang, kamu ke-kesambet, ya?" tanya Ziah yang sukses membuat Erza menghentikan kekehannya.
"What! Enggaklah Sayang, ngaco kamu," sergah cepat Erza seraya mengibaskan telapak tangannya di udara yang dibalas anggukan mengerti oleh Ziah.
Hening beberapa saat. Mereka sama-sama terdiam di mana Erza tertidur kembali di paha Ziah dan Ziah mengelus rambut Erza lembut menyalurkan kehangatan.
Tiba-tiba pintu ruangan Erza terbuka tanpa diketuk terlebih dahulu yang membuat keduanya terlonjak kaget.
"Ck, ganggu aja kamu Dit, enggak liat aku lagi mesra-mesraan sama Ziah," ujar Erza kesal yang dibalas decakan tidak suka oleh Aditya.
Tanpa banyak bicara Aditya berjalan dan duduk di single sofa di dekat Erza dan Ziah yang belum merubah posisi mereka.
"Ada apa Dit?" tanya Erza mulai serius setelah bangun dari acara berbaringya.
"Sata tadi iseng retas CCTV rumah istirku," jawab Aditya menyebutkan Yasmin sebagai istrinya. Mereka hanya mendengus ketika Aditya mengklaim Yasmin adalah istrinya dan mereka tidak ingin merusak situasi dengan menegurnya.
"Terus kamu liat apa?" Kali ini Ziah yang bertanya.
"Saya liat ada mobil mencurigakan yang selama dua hari ini mengintai rumah Yasmin," jelas Aditya seraya memperlihatkan rekaman CCTV yang memperlihatkan sebuah van hitam yang mengawasi rumah Yasmin.
"Dua hari yang lalu, berarti benar dugaan kita. Sehari sebelumnya Laras dibebasin sama Bokapnya," ucap Erza menguatkan asumsinya.
"Hm, kali ini kita tidak boleh kecolongan lagi," papar Aditya menimpali yang diangguki oleh Erza.
"Tunggu! Ayahnya wanita ular itu, kalian jangan macam-macam sama Ayahnya dia tuh ...." Ziah sedikit ragu untuk mengatakannya.
"Dia apa? Seorang mafia?" tanya Aditya seratus persen benar.
"Iya, kok kamu bisa tahu Dit?" tanya Ziah tidak percaya.
"Kita udah nyelidikin Laras sebelumnya jadi kita tahu semua latar belakang mereka, walaupun begitu kita harus tetap menjaga keselamatan Yasmin," jawab Erza menjelaskan.
Ziah dibuat tidak habis pikir ternyata mereka berurusan dengan orang yang berbahaya. "Dan kalian tahu, yang bunuh Tante Claristi?" tanya Ziah--terpancar raut sedih dan emosi di raut wajahnya.
"Laras bukan," tebak Aditya karena dia sudah tahu hal itu waktu Yasmin diculik dan hampir d bunuh oleh Laras sebelumnya dia tidak ingin membongkar kasus itu karena Laras sudah dipenjara, tapi karena dia bebas dan akan membahayakan nyawa istrinya larat calon istrinya maka Aditya mengusuk kasus yang tidak ada titik terangnya selama 10 tahun ini. Aditya tak akan tinggal diam lagi kali ini.
"Iya, dan Yasmin melihat semua hal itu hanya dia tidak dipercayai karena Laras sangat pandai berkelit dari polisi dan waktu itu Yasmin masih berusia 10 tahun, siapa yang mempercayai gadis kecil sepertinya waktu itu," beber Ziah menatap Aditya.
"Kali ini saya enggak akan tinggal diam lagi, saya akan membawa ini ke jalur hukum dan membuktikan semua kejahatan mereka," cetus Aditya penuh keyakinan di matannya yang diangguki oleh Ziah dan Erza.
* * *
Di sebuah rumah nan mewah mungkin lebih tepat dikatakan mension dibanding dikatakan rumah. Terlihat banyak sekali penjagaan di rumah besar itu. Gelak tawa terdengar di rumah besar itu. Terlihat dua orang berbeda usia dan gender sedang tertawa bahagia.
"Hahaha, bagaimana Yah, rencanaku? Bagus bukan?" tanya seorang wanita setengah baya--Laras.
"Ya, Sayang, Ayah bangga padamu, mereka tidak akan tenang liat saja nanti, kita akan bunuh dia secara perlahan," balas pria paruh bayah yang diketahui ayah Laras-- Rony Maheswari nama pria paru bayah itu. Seorang ketua mafia yang paling ditakuti di dunia bawa tidak ada yang bisa menangkapnya. Polisi berusaha keras untuk menangkapnya, tapi tidak bisa.
Mata wanita itu berkilat tajam. Sepertinya dendamnya belumlah padam, dia seperti belum puas menyakiti gadis itu dan sekarang dia ingin menghancurkanya lagi.
Mereka merencanakan akan menghancurkan hubungan Yasmin dan Aditya yang sebentar lagi akan melangsungkan acara pernikahan.
"Dengan memisahkan mereka, ****** itu tidak akan bisa berbuat apa-apa lagi, Yah," ucap Laras dengan seringai kejam.
"Ku benar, dengan dia tidak bersama laki-laki brengsek itu dia tidak ada apa-apanya," jawab Rony--ayah Laras tersenyum licik.
'Tamat riwayatmu kali ini gadis ******.' Laras berucap sinis.
__ADS_1
bersambung....