![Grisella Story [Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/grisella-story--revisi--.webp)
Aditya Wisnu Priatmaja, putra dari pengusaha tersukses yang ada di kota Jakarta. Putra sulung dari pasangan Lalita Ivangka Priatmaja dan Wisnu Priatmaja. Aditya tidak pernah menampakkan dirinya di publik dan jarang yang mengetahui bagaimana sosok putra tunggal dari keluarga Priatmaja itu. Tidak ada yang mengetahuinya. Kecuali, kondisi bahwa putra dari Priatmaja itu cacat dan juga jelek. Dia cacat saat mengalami kecelakaan diwaktu remaja. Namun, tidak ada bantahan dari pihak keluarga mengenai berita itu, mereka seakan menutup telinga dan menebalkan muka. Publik semakin yakin bahwa rumor yang beredar itu benar adanya.
"Dit, Mama sama Papa akan menikahkanmu dengan anak rekan bisnis Papa," tutur wanita setengah baya kepada seorang pria yang terduduk di kursi roda
"Adit tidak mau, pasti dia hanya mengincar harta kita saja. Dan paling parah dia akan mengejek Adit karena kondisi Adit saat ini," tolak pria tampan yang duduk di kursi roda. Namun, jika dilihat - lihat ia tidak seperti orang lumpuh kebanyakan. Duduknya tegap tidak seperti pria cacak malah seperti orang normal kebanyakan.
"Mama sudah menyelidiki semua tentang gadis itu, dia adalah anak gadis dari teman Mama dulu waktu SMA, tapi temen Mama itu sudah meninggal. Pokoknya kamu tidak akan menyesal, dan Mama sangat prihatin pada gadis itu," beber Lalita menjelaskan. Namun, dia juga sedih ketika mengetahui fakta dari calon menantunya.
"Hn, priahatin karena apa, Ma?" tanya Aditya datar. Namun, nada penasaran kentara di perkataannya.
"Dia dibenci oleh Ayahnya sendiri dan Ayahnya tega menukarkanya demi kekuasaan," jawab Lalita sedikit geram di akhir katanya.
Aditya tidak menimpali ucapan sang mama dia hanya mencerna ucapan tersebut.
'Hm, menarik, boleh dicoba!' batinnya
"Sebentar malam kita akan bertemu denganya," ujar Lalita menambahkan sambil mengusap tangan sang putra.
"Terserah Mama, tapi Adit tidak mau bertemu dengan keluarganya. Cukup dengan gadis itu saja. Mamah saja yang bertemu denganya," ucap Aditya datar setelah itu meninggalkan sang Mamah diruang baca.
"Baiklah, Mama yang urus," jawab Lalita senang.
"Gimana Ma, Adit setuju?" tanya papah Adit-- Wisnu
"Iya Pa, Adit setuju, tapi dia tidak mau bertemu dengan keluarga gadis itu. Katanya cukup gadis itu yang menemuinya," jawab Lalita sambil menyandarkan tubuhnya di bahu sang suami.
"Itu tidak masalah, Papa bisa atur," balas tuan Wisnu sembari mengusap kepala sang istri.
"Kasian Yasmin, ya Pa," gumamnya.
"Iya, Sayang, tapi sebentar lagi dia tidak akan seperti itu. Yasmin adalah gadis yang kuat," ucap tuan Wisnu. "Papa sudah mencari tahu semua tentang Yasmin. Dia adalah anak yang sangat cerdas," ujarnya tuan Wisnu melanjutkan.
"Bagaimana bisa? Bukanya Yasmin dicap sebagai gadis bodoh dan sampah yang tak memiliki bakat?" tanya Lalita tidak percaya.
"Tidak, Yasmin telah menyelesaikan jenjang pendidikan kedokterannya. Sekarang dia melanjutkan kuliahnya di bidang menajemen bisnis," sanggah tuan Wisnu tersenyum atas apa yang ia temukan.
"Bukanya Yasmin itu di cab sebagai anak bodoh tidak mempunyai bakat seperti Kakak tirinya itu," ujar Lalita lagi.
"Entahlah, mungkin Yasmin hanya tidak ingin jadi sorotan publik. Dan kamu tahu, Yasmin punya rumah sakit sendiri, butik, serta restoran yang saat ini berkembang pesat atas kerja kerasnya sendiri," beber tuan Wisnu menerangkan.
Lalita dibuat termanggu. Dia tidak salah memilih menatu. Ternyata Yasmin adalah gadis yang sangat cantik dan juga cerdas.
"Hahaha, kita beruntung, Ya Pa, pasti orang di luar sana menyebut Yasmin sebagai sampah masyarakat. Tapi, nyatanya dia adalah berlian dibalik jerami. Berbeda dengan si berlian dibalik lumpur," ucap Lalita tertawa dan menekan tiap kata di akhir.
"Sabar Mah, mereka pasti akan mendapatkan akibatnya jika masih mengganggu Yasmin," ucap Wisnu.
Lalita hanya mengangguk di dekapan suaminya.
* * *
Saat ini Yasmin berada di kelasnya. Semua teman kelasnya telah pergi kekantin dan perpustakaan. Yasmin hanya melamun memikirkan masalah pernikahan itu. Dia tidak ingin memikirkanya, tapi huft sudahlah.
Dor!
"Astagfirullah." Yasmin berucap kaget.
__ADS_1
"Kenapa, si Yas?" tanya seseorang di depanya yang tadi sempat membuatnya kaget.
"Kamu tuh yang kenapa? untung aku enggak punya riwayat penyakit jantung." Yasmin berkelik seakan tidak paham arah pembicaraan sahabatnya itu.
"Kamu kenapa Yas?" tanya seorang lagi di depannya.
"Aku kenapa? Aku baik-baik aja kok, kalian tuh yang kenapa?" tanyanya kembali.
"Ya udah deh, kalau enggak mau cerita," ujar orang itu memilih 'tuk mengalah.
"Maaf, Ra," cicitnya.
"Enggak papa kok Yas, santuy aja, ya enggak Frans," tukas gadis yang dipanggil Hera itu sembari menyikut teman di sebelahnya.
"Kamu kenapa malah nyikutku, sih," kesal pria yang dipanggil Frans.
"Serah kamu deh," pasrah Hera dan beranjak duduk di dekat Yasmin.
"Eh, pulang kampus kita nonton yuk, udah lama nih kita enggak nonton," usul Frans tiba-tiba.
"Di traktir 'kan?" tanya Hera memastikan.
"Iyalah, emang aku orang kere, duit aku gak bakal habis kalau cuman traktir kalian berdua," seloroh Frans sombong.
"Sombong amat," cibir Yasmin sembari memutar bola mata jengah.
Kemudian mereka tertawa bersama.
Yasmin di kampus mempunyai dua orang sahabat yaitu Heranjani Pitaloka dan Frans Maxiwilliam. Kehidupan Hera jauh lebih baik dari Yasmin walaupun bukan dari orang kaya raya, tapi Hera sangat disayang oleh keluarganya. Sedangkan Frans katanya dia adalah putra dari salah satu pengusaha sukses di Indonesia, tetapi mereka tidak tahu benar atau tidak karena mereka malas menanyakannya langsung kepada Frans. Namun, jika dilihat dari cara berpakaian Frans jelas kalau dia dari keluarga berada.
Saat ini mereka telah berada di salah satu mall. Mereka hari ini akan nobar atau nonton bareng di bioskop yang selalu mereka datangi.
"Eh, kita nonton film apa?" tanya Frans tiba-tiba saat mereka telah sampai di depan pengambilan tiket untuk menonton film.
"Terserah kamu aja deh," tutur Yasmin.
"Tapi, jangan nyesel ya, kalau gitu aku mau beli tiket dulu," terang Frans menyeringai. Yasmin tidak manruh curiga pda perkataan Frans dia terlalu malas untuk menafsirkannya. Sedangkan Hera hanya menggeleng melihat kedua sahabatnya.
"Kita mau beli minuman sama cemilan dulu, yuk Ra," ajak Yasmin sambil menarik tangan Hera.
Ternyata Frans memilih film horor untuk mereka tonton dan Yasmin sangat takut dengan film horror dan Frans sengaja memilihnya untuk menakuti Yasmin. Mereka keluar dari tempat mereka menonton dengan tertawa, kecuali Yasmin yang keluar dengan wajah pucat pasih.
"Sialan kamu Frans," sambar Yasmin kesal.
"Sapa suruh meyuruhku," ucap Frans sambil tertawa.
"Tapi aju enggak nyangka kamu pilih film horor," sosor Yasmin terlihat sangat kesal.
"Hahaha, pasti entar malam Yasmin enggak bisa tidur, duh kasian," tambahHera memimpali sambil tertawa.
Ya, memang benar, jika Yasmin itu takut dengan film horor. Dia tidak akan bisa tidur malam jika sudah menonton film yang satu itu.
"Hu, entar malam awas loh, di belakang kamu ada mayat," ujar Frans menakut - nakuti.
"Sialan kalian berdua, malas ah," ketus Yasmin berlalu dari hadapan mereka yang masih asik tertawa.
__ADS_1
"Ok, kita minta maaf. Sebagai maaf, kamu bisa pesan apa aja yang kamu mau, tapi kita cari resto dulu," ajak Frans.
"Seriusan?" tanya Yasmin berbinar seraya menghentikan langkahnya.
"Iyalah, masa enggak, sih," tandas Frans bangga.
"Nanti uangmu habis," tutur Hera tiba-tiba.
"Enggak bakal, kalau cuman kalian," tutur Frans santai.
"Tapi, aku yang pilih restonya. Dijamin makansnnya enak - enak loh," usul Yasmin seraya tersenyum manis.
"Ok, itu terserah kamu," ucap Frans.
Plihan mereka jatuh pada restoran khas Jepang. Tidak jauh dari area Mall tadi. Sebenarnya restoran itu milik Yasmin, tapi tidak ada yang tahu kecuali dirinya.
"Pesen aja, aku yang bayar," pinta Frans.
"Iya-iya, bawel," ucap Hera dan Yasmin bersamaan.
Frans memanggil salah satu walters untuk mencatat pesanan mereka. Dan tak berapa lama pesanan mereka pun sampai.
"Wah, kayaknya enak banget nih, mengugah iman," beber Hera berbinar.
"Aku gak bohong 'kan," tutur Yasmin bangga.
"Ya, kamu bener, Yas," balas Frans menimpali.
Saat mereka sedang makan tiba-tiba telepon Yasmin bergetar tanda panggilan masuk.
Dert ... dert ... dert ...
'Tumben Ayah nelpon?' tanya Yasmin dalam hati meskipun sedikit heran, tetapi dia tetap mengangkatnya.
"Assalamualaikum, Yah," ucap Yasmin menjawab.
[... ]
"Ya, Ayah, Yasmin akan segera pulang," tutur Yasmi.
Setelah itu, dia menaruh kembali ponselnya pada tas yang ia bawah.
"Ada apa, Yas?" tanya Hera.
"Ayah nelfon Ra, tapi gak tahu mau apa lagi," jawab Yasmin lesuh.
"Kamu yang sabar ya," ujar Hera menyemangati karena dia tahu bagaimana sikap ayah Yasmin terhadap putri kandungnya itu.
"Aku antar," tawar Frans.
"Enggak usah Frans, aku naik taksi aja, kamu antar Hera aja pulang. Aku deluan Ya, Assalamualaikum," pamit Yasmin tanpa dicegah.
"Wa'alaikumsalam." Mereka menatap dengan pandangan berbeda arah kepergian Yasmin seraya berharap semoga Yasmin tidak disakiti oleh ayahnya.
bersambung....
__ADS_1
Jan lupa tinggalin jejak.🤗🙏