![Grisella Story [Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/grisella-story--revisi--.webp)
Brakk! Lemparan remote televisi mengalihkan perhatian pembantu yang sedang membersihkan rumah.
"Argh, sialan kamu Yasmin, dasar jalang, gara-gara kamu Ibuku dipenjara!" teriak wanita itu frustasi.
Di televisi itu menayangkan berita penangkapan Laras yang mencoba menghabisi putri tirinya sendiri.
"Ada apa ini?" tanya sebuah suara yang baru datang.
Namun, tidak ada sahutan yang ia dengar. Pria itu menatap tanyangan televisi dan mengambil remote untuk mematikan televisi tersebut.
"Ada apa, Sayang?" tanya Marcel lembut. Yap, pria itu adalah Marcel--suami Elis.
"Liat Mas, Mama ditangkap polisi dan penyebabnya perempuan murahan itu," geram Elis frustasi.
"Sudahlah, Mama memang salah mencari lawan, kamu tidak usah ikut-ikutan, ingat orang-orang yang berada di sekeliling Yasmin bukan orang sembarangan," tutur Marcel menasehati dan Marcel tidak ingin mengambil resiko dengan mencari perkara dengan mereka.
Elis mendengus tidak percaya. "Kamu membelanya?" tanya Elis tak percaya.
"Huft! Tidak, tapi coba pikir Mama saja bisa mereka kalahkan apa lagi kita, apa kamu mau berurusan dengan mereka dan mengancam perusahaanku?" tanya Marcel balik. Dia tahu Elis tidak sebodoh itu untuk tidak memahami apa yang ia katakan.
"Hm, aku mengerti," balas Elis dengan wajah ditekuk.
"Nah, anak baik, sekarang kamu fokus sama ujian skripsi mu," imbuh Marcel tersenyum simpul.
* * *
"Ini surat cerai kita," kata seorang pria pada wanita yang menatapnya sinis.
"Aku tidak mau berpisah," tolak wanita itu yang tak bukan adalah Laras.
"Terserah kamu saja, sebenarnya sudah lama aku ingin membuangmu, tapi kamu selalu beruntung dan hari ini kamu mencari sendiri lubang kematian untukmu," cibir pria paruh baya itu yang tak bukan adalah Aryo dengan senyuman mengejek.
"BRESENGSEK KAMU, AKU TIDAK MAU BERCERAI KAMU DENGAR?! HAHAHA, APA KAMU INGIN KULAPORAN PADA AYAHKU, Ha?!" raung Laras bak orang kesetanan hampir saja dia mencakar Aryo, tapi untungnya polisi yang berjaga mengehentikan aksinya itu.
"Ck, Ayahmu itu sudah lama mati, dia membusuk di penjara jadi simpan saja omong kosongmu itu," sanggah Aryo sinis dan berlalu tanpa menghiraukan Laras yang meneriaki namanya dengan berbagai sumpah serapa. Namun, satu yang Aryo tidak tahu bahwa ayah Laras belumlah mati.
Setelah menangani Laras. Aryo pergi menuju ke kediaman sahabat sekaligus calon besannya itu karena dia tahu sekarang putri kecilnya ada di sana. Aryo harus memguatkan hati dan mentalnya jika saat dia berbicara yang sebenarnya putri kecilnya akan menolak kebenaran itu. Akan tetapi, jika saja Aryo tahu kalau Yasmin telah mengetahui semuanya dari mulut kotor Laras pasti dia sangat bahagia.
Setelah mengobati luka di leher Yasmin dan memberi salep pada memar-memar di sekujur tubuh Yasmin. Mereka duduk berbincang menunggu seseorang yang akan datang. Sebenarnya Yasmin masih dilarang untuk banyak bergerak, tapi dia dasar keras kepala. Jadi, mereka hanya mampu menghela napas.
Aditya terutama dia lebih overprotektif pada Yasmin akibat insiden itu.
Saat mereka asik mengobrol, terdengar pintu diketuk dari luar. Lalita langsung saja keluar untuk membukakan pintu dan mempersilahkan orang itu masuk.
"Eh, Pak Aryo, silahkan masuk," ujar Lalita mempersilahkan masuk yang dibalas anggukan dan senyum tipis dari Aryo.
Aryo yang melihat putri kecilnya sedang tersenyum membuat hati Rama menghangat. Baru kali ini ia melihat senyuman itu, ketika putri kecilnya bersamanya hanya ada luka dan air mata yang terpancar dari wajah itu. Aryi seperti enggan bertemu dengannya. Sampai ia berhenti tepat di belakang mereka.
Puk! Tepukan ringan pada bahunya mengalihkan perhatian Aryo. Lalita tersenyum meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Yasmin, Sayang, Bunda bawa siapa, nih," panggil Lalita lembut. Sontak saja semua orang berbalik dan menatap siapa yang dimaksud oleh Lalita.
Yasmin membekab mulutnya tidak percaya. Ternyata ayahnya ada di depan matanya saat ini sedang menatapnya penuh penyesalan dan kerinduan.
Wisnu tampak memberi kode pada Aditya dan Lalita untuk mengikutinya masuk. Memberikan ayah dan anak itu ruang untuk melepas kerinduan.
"Yas ...." Suara Aryo tercekat tidak mampu melanjutkan ucapannya. Yasmin berdiri dan langsung menghambur di pelukan sang ayah yang telah berada di depannya saat itu.
Aryo mendongak untuk menghalau cairan bening yang siap tumpah kapan saja lewat kedua pelupuk matanya.
"Ayah jahat, Ayah ternyata selama ini sayang sama Yasmin, tapi Ayah selalu memarahi Yasmin, Ayah tega sama Yasmin," adu gadis itu dengan tangisan yang tidak bisa ia tahan. Dia tidak tahu kenapa jadi begitu cengeng di hadapan sang ayah.
Aryo makin mengeratkan rengkuhannya seraya mengucapkan kata maaf berulang kali berharap itu akan jadi mantra penenang bagi putrinya.
"Udah ya, Sayang, jangan nangis, Ayah minta maaf," ujar Aryo berusaha menenangkan. Walaupun, dia juga sama-sama meneteskan air mata, tapi buru-buru dihapus takut terlihat lemah di hadapan putri tercintanya.
Setelah dirasa sudah tenang Aryo mendudukkan Yasmin di sofa. Mata Yasmin masih memerah akibat habis menangis matanya yang sudah sembab makin sembab lagi.
"Kita, makan siang dulu yuk, setelah itu ada yang ingin kami sampaikan," celetuk Lalita tiba-tiba datang dari arah ruang makan.
"Iya Bunda," jawab Yasmin. Mereka pergi keruang makan untuk makan siang.
* * *
Ceklek! Aryo langsung membuka pintu rumahnya tanpa menunggu pembantu membukanya. Sepertinya ada tamu karena di garasi mobil terparkir mobil asing yang mereka tidak ketahui.
"Selamat datang Tuan, eh Non Yasmin," sapa pelayan--bi Asih.
"Assalamualaikum Bi Asih," salam Yasmin tersenyum.
"Wa'alaikumsalam," jawab bi Asih balas tersenyum.
"Bi, siapa yang datang?" tanya Aryo seraya berjalan masuk.
"Itu, Non Ziah, dia baru datang dari Jerman," tutur bi Asih menjawab pertanyaan tuannya.
Yasmin yang mendegar jawaban bi Asih langsung sajaberlari ke ruang tamu. Karena dia tahu siapa yang datang itu. Sesampainya di ruang tamu Yasmin tidak menemukan sosok jelita, di ruang tamu hanya ada gelas kosong yang habis digunakan minum belum dibereskan, itu berarti benar sedang ada tamu.
"Bi, Ziah mana?" tanya Yasmin bingung.
"Non Ziah ada di kamar Non Yasmin katanya dia kangen sama, Non," jawab bi Asih seraya membereskan gelas itu, sedangkan Rama telah berlalu ke kamarnya terlebih dahulu. Sepertinya dia sangat kelelahan dan Yasmin tahu itu, jadi dia tidak ingin menganggu sang ayah untuk sejenak.
Yasmin langsung menaiki tangga menuju lantai dua tempat kamarnya berada. Rumah itu tampak sepi yang biasanya ada Laras yang selalu ada di rumah jika tidak sedang ikut perjalanan bisnis dengan Aryo, tapi kali ini tidak rumah itu sepi sementara Elis dia telah pinda dan ikut tinggal bersama suaminya--Marcel.
Ceklek! Yasmin membuka pintu kamarnya perlahan, kamar yang sejak beberapa hari--mungkin hampir seminggu dia tidak tempaki karena selalu bermalam di rumah bunda Lalita.
"Ziah, Yasmin!" pekik mereka bersamaan saat Yasmin memasuki kamarnya dan melihat Ziah yang sedang mengitari kamarnya seperti menelisik sesuatu.
Mereka berpelukan hangat seperti saudara yang tidak pernah bertemu selama berabad-abad.
"Zi, kamu apa kabar? Makin cantik aja, nih?" tanya Yasmin dengan nada bercanda.
"Baik, ya dong Ziah gitu lho," jawab Ziah narsis.
Yasmin langsung swetdrob karena jawaban Ziah dia sangat menyesal karena telah memuji gadis itu. Apa semua orang terdekatku tidak ada yang tidak narsis? tanya Yasmin pada dirinya sendiri.
"Woii, kamu kenapa? Kagum sama kecantikanku?" tanya Ziah kelewat pede.
"Sory, Mbak, aku enggak kagum, tapi pen muntah! Percuma cantik kalau masih sendiri," ejek Yasmin dengan seringainya. Walaupun sebenarnya itu hanya candaan semata.
"Ye, kamu kali yang jones alias jomloh ngenes dari jaman Majapahit sampai jaman android gak pernah punya pacar," ledek Ziah telak.
"Ampun nih anak, kamu gak pernah nonton TV, ya? Aku malah udah mau nikah. Tadi calon suamiku udah ngelamar. Jadi, sekarang siapa yang jones? Makanya jangan asal nuduh, dasar somplak," sanggah Yasmin gemas dan langsung menjitak kepala Ziah yang dilapisi kain jilbab.
"Aawh, sakit tahu Yas, ini tuh difitrahin, buat apa juga aku harus nonton TV, penting amat!" sungut Ziah tidak terima dijitak.
"Udah ah, masa baru ketemu langsung debat, sih?" tanya Yasmin bingung.
"Ye, kamu sendiri yang mulai," dengus Ziah mengejek.
Gadis pemilik nama Asli Nurul Fauziah Aletta itu, tapi sering dipanggil Ziah adalah sepupu Yasmin dari Jerman dari pihak bundanya. Entah alasan apa yang membuat gadis itu tiba-tiba kembali ke Indonesia setelah sekian lama meninggalkan negara kelahirannya.
"Zi, ngapain kamu ke sini? Kok tiba-tiba muncul, udah kayak jailangkung?" tanya Yasmin heran.
"Gila! Kayak jailangkung? Kamu pikir aku hantu?" tanya Ziah sebal.
"Haha, maaf, Sayang. Jadi, ada perihal apa kamu kemari?" tanya Yasmin serius.
"Kok baru nanya, sih?" tanya Ziah kembali yang dihadiahi tatapan jengah Yasmin.
"Jawab aja kali, dan aku mau tahu siapa sih pacarmu, aku kepo, nih?" tanya Yasmin penasaran.
"Hm, pertama aku kangen sama kamu dan aku tahu dari Mama, kalau kamu mau nikah terus sekalian samperin kekasihku," jawab Ziah antusias gadis itu menceritakan tujuannya dengan sangat bersemangat.
"Oh, tapi kok Tante dan Om gak ikut, 'kan kangen? Siapa si cowok beruntung itu?" tanya Yasmin heran sekaligus penasaran.
"Lagi sibuk, sehari baru kamu mau nikah, mereka bakalan ke sini kok, kepo," jawab Ziah santai.
"Serah kamu deh," jawab Yasmin malas. Ketika Yasmin ingin beranjak ke kamar mandi Ziah menghentikannya.
__ADS_1
"Wait, tuh muka kok lebam semua, sih? Dan leher kamu kenapa di perbam?" tanya Ziah penuh selidik.
Belum Yasmin menjawab Aryo terlebih dahulu menyela.
"Nanti Om beritahu," jawab Aryo mengantikan Yasmin.
"Eh, Om, maaf Ziah enggak ketemu Om dulu, tapi langsung nyosor ke kamar Yasmin," imbuh Ziah kikuk.
"Enggak pa-pa, ayo keluar, sepertinya Yasmin mau membersihkan diri," ajak Aryo tersenyum simpul.
"Oh, iya, Yas aku turun dulu ya, aku tunggu ya, udah itu kita ke mall sekaligus ajak aku jalan-jalan udah lama nih enggak jalan-jalan di negara sendiri," tutur Ziah panjang lebar sudah seperti rel kereta api yang hanya diangguki malas oleh Yasmin karena dia sudah terlalu lelah.
Mereka pun turun ke ruang tamu untuk mengobrol seraya menunggu Yasmin
"Zi, gimana kuliah kamu di Jerman?" tanya Aryo membuka percakapan sembari menyesap kopi yang dibuatkan oleh bI Asih.
"Baik Om, tinggal nunggu ujian skripsi, udah itu wisuda," jawab Ziah semangat karena tahun ini ia akan wisudah dan menyabet gelar kedokterannya.
"Wah, sama dong seperti Yasmin, tapi dia tinggal nunggu wisuda," timpal Aryo sembari menatap ponakannya itu lembut.
"Ye, Yasmin mah terlalu cerdas jadi selalu cepat," balas Ziah cemberut.
"Makanya kamu belajar dong, jangan pacaran terus, " celetuk sebuah suara dan orang itu langsung bergabung dengan mereka. Yasmin sangat cantik dengan make natural serta dres merah muda selutut memeluk erat tubuhnya.
"Ck, iya Ibu," jawab Ziah cemberut.
"Aku masih mudah tahu," balas Yasmin kesal dipanggil ibu.
"Apanya yang salah, bukannya bentar lagi mau kawin ama siapa, tuh?" tanya Ziah karena tidak mengetahui nama calon Yasmin.
"Aditya," jawab Yasmin santai.
"Iya itulah," balas Ziah cepat.
Yasmin hanya mendengus geli menatap tingkah Ziah yang kadang konyol di matanya.
"Udah, enggak usah debat, katanya kalian mau ke mall, ya udah sana ke mall sekalian ajak Ziah jalan-jalan, Ayah mau kerumah Om Wisnu buat bahasa tanggal nikahan kamu," sela Aryo dan berlalu meninggalkan kedua gadis itu.
"Sip, Om," balas Ziah semangat.
"Yuk ah, entar aku enggak bisa cuci mata," aja Ziah seraya menarik paksa tangan Yasmin.
* * *
Di sini mereka sekarang di salah satu pusat perbelanjaan. Ziah tampak semangat melihat barang-barang branded yang ia temui. Sedang Yasmin hanya mengikuti sepupunya itu tanpa membeli sesuatu. Karena Yasmin tidak terlalu suka berbelanja.
"Yas, kok enggak beli barang satu pun, sih?" tanya Ziah di selah-selah langkah mereka untuk menjajah tokoh-tokoh.
"Males ah," jawab Yasmin singkat.
"Jangan-jangan kamu enggak bawa duit lagi?" tanya Ziah tidak percaya seraya menepuk jidatnya.
Yasmin hanya memutar mata jengah akan sikap sepupunya yang terlalu lebay. Yasmin tampak merogoh tas tangannya dan mengeluarkan dua kartu ATM Blac Cart.
Ziah lantas menutup mulutnya tidak percaya. Ternyata sepupunya ini benar-benar anak sultan.
"Astagah, kamu ya punya dua kartu item itu dan kamu enggak gunain?" tanya Ziah tidak habis pikir.
"Males," balas Yasmin seraya memasukkan lagi kartu itu di dalam tas tangannya.
Ziah hanya bungkam dan tidak mengeluarkan suaranya. Sampai mereka tidak sadar ada dua orang yang berjalan ke arah mereka dan tidak menyadari keberadaan mereka.
Bruk!
"Aawhh, pantatku yang mulus, astagfirullah," adu gadis itu yang tak bukan adalah Ziah seraya mengelus pantatnya yang kejedot dengan lantai.
"Zi, kamu enggak pa-pa?" tanya Yasmin mencoba membantu sepupunya berdiri karena mereka sudah jadi pusat perhatian.
"Enggak pa-pa apanya Yas, nih pantat udah tepos makin tepos deh, ini semua gara-gara si penabrak pokoknya harus tanggung jawab," dumel Ziah belum menatap si penabrak. Yasmin hanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal bingung harus merespon bagaimana.
"Woih, kamu yang menaabrakku 'kan?" tanya Ziah kesal pada orang yang menbaraknya yang masih memungut ponselnya yang jatuh.
Saat pria itu berdiri dan menatap siapa yang ia tabrak dan akan memarahinya juga karena ponselnya hancur akibat insiden tabrakan itu.
"Zi ... Ziah?" tanya pria itu tidak yakin.
Yasmin yang mengenali suara itu langsung mendongak dan menatap kedua orang itu dan ternyata ada Aditya di antara mereka.
"Erza, Mas Aditya?" pekik Yasmin tidak percaya.
Sementara itu, Ziah tidak mengatakan sepatah kata pun langsung memeluk Erza semua pasang mata, menatap mereka heran dan penuh tanda tanya.
"Eh?" guman Yasmin bingung.
"Ehem," dehem Aditya membuat mereka melepaskan pelukannya masing-masing untuk menyadarkan mereka bahwa ini masih di keramaian.
"Zi, jadi Erza kekasihmu?" tanya Yasmin tidak percaya dengan memasang muka bodoh.
Dan dengan beraninya Aditya langsung mencium pipi Yasmin untuk menyadarkannya untuk tidak memasang wajah bodoh yang sangat mengemaskan.
"Eh!" pekik Yasmin dan blush pipi Yasmin langsung memerah.
"Kita yang ditegur, mereka yang berbuat lebih," ucap Ziah dengan memutar bola mata jengah.
"Udah, entar aku jelasin kita cari tempat yang pas dulu," sela Erza menengahi.
Di sini mereka sekarang di restoran khas Italia yang ada di pusat perbelanjaan. Tempat itu mejadi pilihan mereka untuk berbincang.
Mereka memilih meja paling pojok yang dekat dengan jendela.
"Jadi kalian udah lama pacaran?" tanya Yasmin tidak percaya sekaligus senang jika nanti yang akan menjadi iparnya adalah Erza.
"Iyap, mungkin udah jalan setahun ya, waktu itu Erza lagi ada perjalanan bisnis di Jerman dan tidak sengaja dia nolong aku dari berandalan," papar Ziah menjelaskan seraya mengigat kenangan saat mereka bertemu.
"Daebak, aku kira Erza selama ini jomloh, tapi ternyata enggak dan aku enggak nyangka ternyata pacarnya sepupuku sendiri," decak Yasmin merasa lucu sendiri.
"Hm, ya begitulah," timpal Erza seraya menaik turunkan alisnya.
"Bye the way, kalian lagi apa di mall ini?" tanya Ziah penasaran.
"Ada client yang kami temui." Kali ini Aditya yang menjawab setelah cukup lama bungkam.
"Kalau kamu, Sayang, ke Indonesia mau apa?" tanya Erza lembut seraya mengusap pucuk kepala Ziah yang tertutupi hijab dengan lembut.
Ziah diperlakukan manis seperti itu jadi tersipuh. Karena, setelah Erza kembali ke Indonesia mereka hanya melakukan hubungan jarak jauh alias LDR.
"Lagi kangen sama Yasmin dan mau hadiri acara nikahan dia sebelum dia wisudah," jawab Ziah dengan senyuman.
"Kita di sini masih ada woii, dunia berasa milik berdua, deh," celetuk Yasmin ketus.
"Bilang aja kamu ngiri 'kan? Sono minta sama Mas Aditya," tutur Ziah mengejek.
Yasmin hanya mendengus bukanya dia iri, tapi hanya saja itu terlalu live. Saat mereka asik mengobrol tiba-tiba seorang wanita berpakaian kekurangan bahan langsung mengebrak meja mereka dan menyiram muka Yasmin dengan juice orange--minuman Yasmin, hingga mereka jadi pusat perhatian untuk kesekian kalinya.
Mereka kaget bukan main Aditya terutama ternyata Rena masih berani menemuinya.
"Apa-apaan ini, kenapa kamu nyiram sepupuku, ha?!" teriak Ziah pada wanita itu.
"Diem kamu!," ucap wanita itu--Rena kepada Ziah. Dan baru saja Ziah akan membuka suaranya lagi Erza terlebih dahulu menenangkannya. Yasmin yang mengetahui siapa wanita kurang sopan santun ini hanya diam.
"Ada apa lagi Ren, bukannya kita tidak ada hubungan lagi," tutur Aditya dingin dengan sorot mata tajam.
"Ha? itu menurutmu, tapi aku tidak mau pisah denganmu," sanggah Rena dengan suara di desah-desahkan agar Aditya tertarik padanya, bukannya tertarik Aditya malah jijik.
"Pergi, sebelum kesabaran saya habis," pinra Aditya rendah.
"Enggak, aku enggak mau pergi! Pasti karena cewek gatel ini yang buat kamu berubah," imbuh Rena berapi-api dan ingin menjambak rambut Yasmin yang masih bergeming.
Aditya langsung menarik Yasmin ke dekapanya.
__ADS_1
"Seharusnya kamu sadar diri Rena, masih banyak pria di luar sana yang jauh labih baik dari saya. Jadi, sebaiknya kamu jangan ganggu saya lagi dengan calon istri saya," tandas Aditya dingin mungkin itu adalah kata yang paling panjang yang pernah Aditya ucapkan. Sampai Erza saja kagum dengan perubahan Aditya yang bisa mengeluarkan deretan kata-kata yang sangat panjang karena Aditya dikenal sangat pelit berbicara dan miskin ekspresi.
"Tapi, aku mau kamu Dit, kita bisa mulai dari awal," kata Rena memohon. Aditya menggeleng.
"Bangunlah Ren, kita sudah tidak sejalan," bantah Aditya berusaha memberi pengertian.
"Enggak, aku enggak mau," tolak Rena seraya memohon.
"INI SEMUA GARA-GARA KAMU DASAR PELAKOR," teriak Rena hingga menyita perhatian pengunjung.
"Itu mulut dijaga ya, sepupu saya bukan PELAKOR situ yang PELAKOR," tekan Ziah pada kata pelakor seraya menatap Rena tajam, karena tidak terimah sepupunya dikatain pelakor.
"Rena!" bentak Aditya dan menekan namanya, sorot matanya makin menggelab tidak terima sang calon istri disebut pelakor.
"Maaf, Mbak Ren, tapi Mas Aditya udah sama saya jadi Mbak Ren tinggal cari laki-laki lain yang siap di sakiti setelah itu ditinggalkan dan datang kembali ketika butuh," pungkas Yasmin tiba-tiba, menohok langsung hati Rena, setelah dia cukup lama diam. Walaupun suaranya lirih, tapi masih bisa di dengar oleh ke empatnya.
"Kamu!" Rena kehabisan kata-katanya akibat deretan kalimat yang Yasmin ucapkan. Setelah itu Rena pergi begitu saja dengan perasaan emosi.
Erza, Ziah dan Aditya kagum sekaligus tidak percaya Yasmin bisa mengeluarkan kata-kata singkat. Namun, penuh makna itu.
"Wah, Yas, aku gak nyangka kamu bisa buat tuh Nenek sihir gak berkata-kata, tapi aku bangga sih sama kamu, pasti kamu belajar sama aku 'kan," tutur Ziah tidak percaya pada sepupunya itu.
"Hm, bener aku belajar sama kamu, pulang yuk aku enggak mood lagi, nih," ajak Yasmin dengan wajah ditekuk. Moodnya tiba-tiba hancur setelah kedatangan Rena apalagi bajunya yang basa akibat joice orange pesanannya dan menurut Yasmin hal yang paling disesalinya adalah dia tidak bisa meminum joice orange kesukaannya itu dan harus tertumpah sia-sia gara-gara kelakuan Rena dan Yasmin percaya gadis itu tidak akan berhenti sampai di sini.
Mereka pun pergi meninggalkan restoran itu, tapi Erza dan Ziah tidak ikut katanya mereka tidak ingin menganggu calon pengantin padahal cuman alibi mereka karena ingin kencan berdua tanpa gangguan emang yang pejuang LDR ketika udah bertemu pasti enggak akan sia-siain waktu buat mereka membuat moment yang sempurnah.
Di mobil Aditya hanya diisi oleh keheningan, Yasmin hanya fokus pada jalanan yang menampilkan deretan bangunan tanpa ada niat membuka suara. Sedangka Aditya sesekali melirik calon istrinya itu menggunakan ekor matanya.
* * *
"Argk, gadis sialan!" teriak seorang wanita seraya mengacak rambut panjangnnya.
"Aku harus membuat rencana agar dia sendiri yang membatalkan pernikahannya dengan Aditya, ya aku harus." Rena tampak tersenyum licik seperti telah menemukan ide yang cemerlang untuk menghancurkan Yasmin.
Ketika mobil Aditya berhenti di depan rumah Yasmin. Masih belum ada yang mencoba untuk membuka suara. Setelah dirasa mobil itu tidak bergerak lagi. Yasmin langsung melepas seatbellnya dan ingin membuka pintu mobil Aditya. Namun, belum Yasmin membukanya Aditya menahan tangan Yasmin. Seketika Yasmin menoleh dan menatap Aditya penuh tanda tanya yang dibalas tatapan penuh arti oleh Aditya.
"Kenapa, Mas?" tanya Yasmin karena Aditya tak kunjung membuka suara.
"Eum, tidak, besok aku akan menjeputmu untuk pergi kuliah," jawab Aditya setelah sekian lama bungkam.
Yasmin hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah itu dia melanjutkan membuka pintu tanpa mengucapkan sepata kata apa pun Yasmin langsung berlalu.
'Itu pasti karena kejadian tadi.' Aditya berucap dalam hati.
Setelah, memastikan Yasmin telah masuk ke dalam rumahnya Aditya melajukan mobilnya membelah jalan yang sedikit padat.
Di lain tempat di waktu yang sama. Semburat senja melukis langit sore membentang bagai cakrawala di langit. Langit yang sudah mulai berwanah keungu-unguan itu tampak memperindah suasana dengan di temani matahari yang hampir terbenam di ufuk barat mengiringi perjalanan cintah dua sejoli yang baru dimabuk asmarah. Siapa lagi kalau bukan Erza dan Ziah yang baru bertemu setelah cukup lama terpisah akibat kesibukan masing-masing.
Cahaya matahari yang makin meredub tak membuat mereka untuk beranjak dari tempatnya. Mereka seakan terhipnotis akan keindahan alam yang di ciptakan oleh Sang Pencipta. Bagai pasangan romantis lainya mereka menikmati kebersamaan mereka dengan di temani senja.
"Mas, aku enggak nyangka ya ternyata kamu kenal sama sepupu aku," beber gadis itu yang duduk di dekat sang kekasih seraya menyandarkan kepalanya di pundak sang pria.
"Iya, aku juga enggak tahu kalau Yasmin sepupu kamu," timpal Erza seraya mengusap kepala gadis itu--Ziah dengan sayang.
"Eum, dan kalau bukan karena dia mau nikah kita enggak bakalan bisa ketemu kek gini," ucap Ziah seraya menatap Erza.
"Haha, iya Sayang, semuanya terjadi begitu saja," jawab Aditya seraya terkekeh renyah.
"Tapi kok aku punya firasat buruk ya, kalau mereka enggak bakal nikah deket ini," ungkap Ziah bingung dengan perasaannya.
"Hust enggak boleh gitu, mereka tuh saling cinta walaupun sangat banyak rintangan yang harus mereka lalui dan akhirnya mereka sampai ke tahap ini," cetus Erza menasehati.
"Iya, tapi kok aku enggak yakin deh, tapi enggak tahu juga hanya Allah yang bisa menebak masa depan," ujar Ziah mencoba menepis pikiran buruk di pikirannya.
"Nah, itu tahu, jadi kita hanya perlu mendoakan mereka yang terbaik," tutur Erza seraya mencubit pipi Ziah yang cubby.
"Awh, sakit tahu, melar deh nanti nih pipi makin gembul," ucap Ziah tidak terimah pipinya dicubit.
"Hehe, maaf, sebaiknya kita pulang yuk, nanti Om kamu nyariin udah mau magrib juga kita singgah salat magrib dulu," ajak Erza bangkit dari duduknya.
"Hm," jawab Ziah dan
mengikutinya.
'Semoga aja feelingku gak bener.' Ziah membantin
* * *
Hari ini Yasmin masuk ke kampus. Tidak ada rona kebahagiaan yang terpancar di wajahnnya. Sampai temanya saja heran melihat Yasmin seperti itu.
"Woi, calon penganti, kamu kenapa, sih?" tanya sahabat Yasmin.
"Enggak kenapa-kenapa," jawab Yasmin acuh.
"Berarti ada apa-apanya nih, kamu enggak bertengkar sama calon suamimu'kan?" tebak sahabat Yasmin yaitu Hera.
"Enggaklah, btw Frans mana?" tanya Yasmin mengalihkan pembicaraan.
"Enggak tahu, waktu habis ke acara Kakakmu dia udah enggak bisa lagi dihubungi, lagi pun kita kan udah enggak ada jadwal mata kuliah Yas," jawab Hera acuh dia pusing melihat perubahan kedua sahabatnya akhir-akhir ini.
"Oh, aku males nih, jalan yuk cari angin," ajak Yasmin beranjak dari tempatnya duduk. Karena saat ini mereka ada di ruang kelas yang sudah kosong melompong.
"Ide bagus tuh," jawab Hera bersemangat. Sebenarnya Yasmin khawatir dengan Frans tidak biasanya sahabatnya itu menghilang seperti ini.
Saat mereka ingin keluar kampus di gerbang kampus banyak berkumpul mahasiswi yang sedang histeris seperi melihat bintang idolanya.
"Ck, gaje banget deh, emang liat apaan, sih," dumel Hera karena tidak suka melihat keramaian seperti itu.
Semakin mereka mendekat, mereka dapat melihat sosok gagah berkaca mata hitam sedang bersandar pada pintu mobil seraya memainkan ponselnya
"Ya Allah Yas, calon suamimu tuh," pekik Hera heboh
"Hm, putar balik yuk," ajak Yasmin seraya menarik tangan Hera.
Jujur dia sangat malu bukan malu karena apa, bisa-bisanya Aditya berpenampilan di depan kampusnya pasti dia ingin tebar pesona. Belum juga mereka jauh, suara dingin kelewat datar memanggil mereka tepatnya memanggil Yasmin.
"Sayang," panggil Aditya.
'Duh, mati akuz pasti bakal jadi bahan gosip, nih,' dumel Yasmin dalam hati. Yasmin berbalik dengan kakuh seraya memaksakan tersenyum entah kenapa dia agak merasa risih dengan pandangan orang-orang padahal sebelum-sebelumnya dia selalu masuk acara televisi karena scandal yang di buat oleh ibu tirinya.
"Iya Mas," jawab Yasmin
tersenyum menampilkan lesung pipinya.
"Kita pulang, Sayang," ucap Aditya lembut.
"Eum, Ra, aku deluan ya soalnya calon suami udah jemput," tutur Yasmin tersenyum kikuk ke arah Hera.
"Yaudah sana, nanti kita belanja di lain waktu, tapi kamu yang traktir ya," balas Hera seraya menaik-turunkan kedua alisnya.
"Iya-iya," jawab Yasmin. Setelah itu ia telah ditarik oleh Aditya ke arah mobilnya tanpa malu Aditya merangkul Yasmin mesrah di depan semua teman kampusnya.
Mereka berdecak kagum jika mereka adalah pasangan yang telah diciptakan Allah ada pula yang menatap iri kebersamaan mereka.
Sementara itu, di dalam mobil Yasmin langsung bertanya perihal kedatangan Aditya di kampusnya yang membuat para wanita ganteng berteriak histeris.
"Kenapa jemput Mas? Emang Mas enggak kerja hari ini?" tanya Yasmin membuka percakapan dia sudah tidak bungkam seperti kemarin.
"Kita disuruh sama Mama buat fiting baju pengantin," jawab Aditya seraya menjalankan mobilnya.
"Emang tanggal pernikahan kita udah di tentuin?" tanya Yasmin.
"Iya, seminggu lagi kita nikah," jawab Aditya lagi tanpa menatap sosok jelita itu disampingnya.
"Oh."
Aditya sedikit legah karena Yasmin sudah tidak mogok bicara dengannya, karena akibat Yasmin mogok bicara pekerjaan Aditya jadi berantakan karena memikirkan bagaimana membuat Yasmin tidak mogok bicara lagi padanya.
Setelah perbincagan singkat itu hanya ada keheningan yang ada. Mereka tidak mengetahui jika nantinya ada badai yang lebih besar yang nantinya akan menguji kesabaran cinta dan rasa saling percaya di antara mereka. Apakah mereka bertahan atau tidak? Entahlah, Hanya waktu yang bisa menjawabnya.
__ADS_1
bersambung.....