![Grisella Story [Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/grisella-story--revisi--.webp)
Jarum pendek telah menunjukkan angka sembilan malam dan Yasmin tidak sadar akan hal itu. Dia terlalu larut berbincang dengan kedua orang tua Adit yang nantinya akan menjadi mertuanya.
"Eum, Bun, ini udah jam berapa ya?" tanya Yasmin tiba-tiba karena baru menyadari dia sudah sangat lama mengobrol.
"Jam sembilan tepat, Sayang," jawab Wisnu sambil melihat jam.
"Astaghfirullah!" pekik Yasmin kaget dan langsung berdiri tiba-tiba yang membuat kedua orang tua itu ikut berdiri juga.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Lalita khawatir pada calon menantunya.
"Maaf Bun, Pa, Yasmin harus pulang, ini sudah sangat larut," jawab Yasmin dan mengambil tas sampingnya.
"Kamu nginap sini saja ya, Bunda udah suruh Bi Iyam buat siapin kamar buat kamu," ujar Lalita menahan Yasmin dengan sorot mata teduh mengisyaratkan Yasmin untuk tinggal.
"Tapi, nanti Ayah Yasmin marah Bun," jawab Yasmin menolak secara halus.
"Papa udah beritau Ayah kamu, Sayang, lagi pun beliau sedang perjalanan bisnis 'kan?" tanya Wisnu seratus persen benar.
'Bagaimana Papa Wisnu tahu? Ah, benar, mungkin Papah Wisnu rekan bisnis Ayah,' monolog Yasmin pada dirinya sendiri.
Melihat kebungkaman Yasmin Lalita mencoba meyakinkan lagi. "Sayang, mau ya lagi pun besok kamu tidak ada jadwal kuliah 'kan? Jadi kamu bisa langsung periksa anak Bunda," ucap Lalita penuh harap.
'Ya Allah kalau gini mana bisa nolak,' batin Yasmin menjerit frustasi. Salahkan dirinya yang tidak tegaan.
"Lagi pula hari sudah malam, Sayang, tidak baik anak gadis keluar malam. Taksi jam segini sudah tidak ada yang lewat dan tempat ini jauh dari jalan raya 'kan, jadi kamu menginap saja, ya, Sayang." Kali ini Wisnu yang coba menyakinkan dan berhasil Yasmin mau tinggal dan bermalam.
"Eum, baiklah demi Bunda dan Papa," putus Yasmin akhirnya sembari mengulas senyum teduh yang menenangkan.
"Makasih, Sayang. Yuk, Bunda antar ke kamar kamu," ujar Lalita tersenyum bahagia seraya memeluk Yasmin dan mengajaknya untuk ke kamar. Yasmin hanya menurut saja.
Sebelum Lalita benar-benar melewati suaminya-- Wisnu-- dia mengedipkan mata. Tentu saja Yasmin tidak melihatnya kecuali sepasang mata tajam yang mendengus melihat tingkah kedua orangtuanya. Siapa lagi kalau bukan Aditya.
* * *
Azan subuh sudah berkumandang, membangunkan sosok jelita dari peraduannya. Yasmin perlahan mengerjabkan matanya berusaha mengumpulkan nyawanya yang masih tersebar.
Yasmin segerah bangun dan bergegas ke kamar mandi untuk berwudhu.
Setelah menyelesaikan kewajibannya Yasmin keluar untuk mengambil air karena dia haus dan ingin membuat sarapan untuk orang di rumah tempatnya menginap sebagai tanda terima kasih. Seperti itu pemikiran Yasmin karena dia tidak ingin berhutang pada siapa pun.
"Pagi, Non," sapa Bi Iyam menggambar senyum lembut.
"Pagi Bi," jawab Yasmin dan pergi ke lemari pendingin untuk mengambil air.
Setelah menuntaskan dahaganya Yasmin mendekati Bi Iyam. "Bi, Yasmin bantu ya, Yasmin mau buat sarapan buat Bunda Lalita," ujar Yasmin menawarkan diri dengan penuh harapan
"Tapi Non, Non di sini tamu, Bibi bisa sendiri," sanggah Bi Iyam menolak secara halus permohonan Yasmin.
Yasmin langsung cemberut. "Mau ya Bi, untuk hari ini saja, Yasmin yang masak. Soalnya Yasmin mau ucapin sebagai tanda terima kasih buat Bunda Lalita," mohon Yasmin dengan mengeluarkan jurus pupy eyesnya. Dan berhasil Bi Iyam akhirnya luluh juga.
"Baiklah Non, tapi nanti Nyonya Lalita marah, karena melihat menantunya memasak di dapur," ucap Bi Iyam tanpa sadar keceplosan.
"Eh, menantu? Apa maksudnya, Bi?" tanya Yasmin bingung.
"Enggak Non, maksudnya tamu Nyonya Lalita," jawab Bi Iyam ngeles.
"O." Yasmin hanya berohriah saja tidak mengambil pusing ucapan dari Bi Iyam.
satu jam lamanya Yasmin berkutak dengan peralatan dapur. Yasmin akhirnya menyelesaikan pekerjaan memasaknya.
'Udah kayak menantu idaman ini, eh?' ujar Yasmin dalam hati. Dia tersenyum sendiri dengan pemikirannya.
__ADS_1
"Bi tolong bawa ke meja makan!" pinta Yasmin sopan.
"Baik Non," jawab Bi Iyam seraya tersenyum.
Tanpa mereka sadari ternyata Aditya mengamati segalah hal yang Yasmin lakukan setelah mengetahui pekerjaan Yasmin sudah selesai Aditya pun meninggalkan area dapur.
"Aku yakin Pa, Adit tuh suka sama Yasmin," ucap seorang wanita yang melihat putranya meninggalkan area dapur.
"Iya Mah, semoga Yasmin bisa merubah anak kita," timpal seorang pria yang tak bukan adalah Wisnu.
"Aamiin, yuk Pah kita ke sana." Lalita mengaminkan ucapan suaminya.
"Wah, siapa yang masak," celetuk Lalita tiba-tiba.
"Eh, pagi Bunda, Pa," sapa Yasmin seraya tersenyum.
"Pagi juga, Sayang, kamu yang masak?" tanya Wisnu pura-pura tidak tahu.
"Hehe, iya Pa, soalnya Yasmin mau ucapin terima kasih buat Bunda dan Papa, karena udah di izinin nginap di sini," jawab Yasmin masih tersenyum lembut.
"Oh, enggak pa-pa, Sayang, kamu enggak perlu lakuin ini lagi pun kamu mau obatin anak Bunda. Jadi, itu sudah sepadan 'kan? Dan kamu sudah kami anggap anak sendiri," beber Lalita menimpali.
Deg! Anak? Bahkan ayah tidak mau mengakui Yasmin sebagai anaknya sendiri Bunda Lalita dan Papa Wisnu yang notabenenya bukan siapa-siapa mau menganggapnya sebagai anak. Apakah ini tidak terlalu kejam?
Wisnu yang menyadari perubahan air muka Yasmin langsung mengajak mereka untuk sarapan pagi.
"Udah, kita sarapan yuk, keburu dingin. Papa mau coba masakan anak Papa," ajak Wisnu yang telah duduk di kursi kepala keluarga.
"Eh, Papa main nyosor aja, Adit belum ada lho, masa Papa langsung nyosor aja," sahut Lalita berenggut atas sikap suaminya.
"Tinggal dipanggil aja 'kan, semuanya beres," jawab Wisnu menatap istrinya penuh arti.
Sedangkan Yasmin hanya terkekeh melihat tingkah suami istri itu.
'He, ternyata Papa pintar juga,' ujar Lalita dalam hati.
"Enggak ngerepotin 'kan, Sayang?" Yasmin menggeleng. "Kamar Adit yang paling ujung kamu liat 'kan kamar bercat putih paling ujung, dekat kamar kamu," jawab Lalita memaparkan.
'Oh, aku baru tahu semalam aku bersebelahan kamar dengan putra Bunda Lalita,' monolog Yasmin dalam hati.
"Oh, Iya Bun Yasmin liat, kalau gitu Yasmin panggilin dulu," ucap Yasmin dan berlalu dari hadapan mereka.
Saat ini, Yasmin telah berada di depan pintu bercat putih. Dia sebenarnya ragu untuk mengetuk. Akan tetapi, Yasmin sudah janji mau bangunin.
'Ketuk enggak ya? eum, ketuk aja deh,' ucap Yasmin dalam hati setelah beberapa saat berpikir.
Tok! Tok! Tok!
"Assalamualaikum, Mas Adit, Mas Adit udah ditunggu di meja makan," panggil Yasmin sopan.
" ... "
Semenit dua menit tidak ada sahutan. Yasmin agak khawatir karena dia tahu Adit tidak bisa berjalan. Ragu-ragu Yasmin mendorong pintu bercat putih itu.
Ternyata pintu itu tidak terkunci. Yasmin memberanikan untuk masuk. Ketika dia masuk hal yang berbau maskulin berkaur di indra penciuman dan penglihatannya. Kamar itu didominasi warnah golf dan abu-abu khas seorang pria. Yasmin memasuki kamar itu sedikit ragu dia tidak mendapati adanya seseorang di sana. Semuanya tampak rapi dan bersih tanda bahwa sang empunya tidak ada di sana. Karena tidak menemukan seseorang Yasmin pun hendak keluar dari kamar itu dan memeberitahu tentang ketiadaan sang empunya kamar. Saat Yasmin telah berbalik suara baritone menghentikan langkahnya. Suara seksi itu membuat Yasmin tegang, dia takut jika sang empunya kamar akan memarahinya.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya suara itu dingin yang tak bukan adalah Aditya.
Yasmin berbalik dan menjawab, tapi ia tidak menatap lawan bicaranya. "Anu, eum, maaf Bunda Lalita menyuruhku untuk manggil Mas buat sarapan," jawab Yasmin gugup dia memanggil Aditya dengan sebutan Mas karena menurutnya Aditya pasti lebih tua darinya.
'Mas? menarik!' ujar Aditya dalam hati.
__ADS_1
"Kalau bicara tatap lawan bicaramu," pinta Aditya tajam.
Gluk! Yasmin meneguk ludahnya susah payah. Jika tatapan Adit adalah pisau pasti dia sudah jadi daging gepeng saat ini. Yasmin mencoba mengangkat kepalanya dan menatap lawan bicaranya itu.
Deg! terkejut sudah pasti. Yasmin tidak menyangka bahwa orang yang pernah dia tabrak waktu di taman dulu adalah pasiennya.
"Mas?!" pekik Yasmin kaget.
"Why?" tanya Aditya seraya menyeringai.
"Anu, itu bukannya Mas ya, yang dulu saya tabrak waktu di taman kota. Maaf saya tidak sengaja Mas," papar Yasmin gugup seraya menundukkan kepalanya.
Tanpa banyak bicara Aditya melewati Yasmin begitu saja tanpa sepatah katapun.
"Pasti dia masih marah? Argh! Kenapa juga aku harus terima permintaan Bunda Lalita, tapi nasi sudah jadi bubur," ucap Yasmin lirih sampai tidak ada yang dapat mendengar ucapannya selain dirinya sendiri.
Kali ini Yasmin tengah serius memeriksa Aditya dia sudah melupakan kegugupannya saking serius.
'Sepertinya parah, tapi bukan Yasmin namanya jika tidak bisa menyembuhkan hal seperti ini,' guman Yasmin dalam hati.
Lalita dan Wisnu menatap penuh harap pada Yasmin. Sementara itu, Aditya hanya menatap Yasmin tanpa berkedip, semua gerak-gerik Yasmin tidak ada yang luput dari tatapan elang Aditya. Mata indahnya yang menatap serius ke arah kakinya serta hidung yang tidak terlalu mancung. Namun, sangat indah dilihat ditambah wajahnya yang sangat oriental.
"Bun, penyakit yang dialami oleh Mas Adit cukup parah, tapi masih bisa untuk diobati," ucap Yasmin sembari melepas stetoskop dari telinganya kemudian dia tersenyum menatap Lalita dan Wisnu.
"Syukurlah," jawab mereka serempak.
"Aditya akan melakukan terapi 'kan?" tanya Lalita. Yasmin menggeleng sebelum menjawab.
"Tidak," jawab Yasmin tersenyum.
"Lalu?" kali ini Wisnu yang bertanya.
"Yasmin akan gunakan motede tradisional. Yaitu menggunakan teknik akupuntur," jawab Yasmin tanpa melunturkan senyumannya.
"Ha? Ka-kamu menguasai metode akupuntur, Sayang? Bagaiamana bisa? Hanya orang Tionghoa yang tahu metode itu?" tanya Lalita memastikan. Seakan dia tidak percaya akan apa yang ia dengar.
Sepertinya Lalita melupakan fakta bahwa kakek Yasmin adalah orang yang berasal dari Tionghoa dan juga seorang Dokter profesional di masanya.
"Yasmin diajarin Kakek, waktu itu Yasmin gak punya temen main. Jadi, Kakek ajarin teknik ini, Bun," jawab Yasmin mantap tanpa ada jejak kebohongan di mata indahnya.
"Wah, anak Bunda sama Papa ternyata sangat pintar ya," seletuk Wisnu bangga. Dia tidak menyangka ternyata anak dari rekan bisnisnya itu sangatlah istimewa.
'Kamu membuang sebuah berlian, Yo,' guman Wisnu dalam hati.
"Tapi, Bunda jangan beritahu orang-orang ya, termasuk Ayah," mohon Yasmin dengan tatapan berubah serius.
Kenapa Yasmin memilih menyembunyikan keahliannya, karena dia tak ingin jadi sorotan. Apalagi sekarang sangat banyak pesaing. Bisa saja dia yang jadi sasarannya dan ini juga pesan dari kakek Yasmin bahwa dia harus menyembunyikan rahasianya.
"Baiklah, Sayang, tidak masalah. Kalau begitu Bunda sama Papa tinggal dulu ya," ucap Lalita sambil menarik tangan suaminya.
Sepeninggal Lalita dan Wisnu yang ada hanya keheningan yang mengiringi kebersamaan mereka.
"Eum, Mas Aditya masih marah ya, karena waktu itu saya tabrak? Maaf saya tidak sengaja," tutur Yasmin meminta maaf, Karena dia tidak ingin punya salah terhadap siapa pun.
"Lupakan, bisa kamu bantu saya untuk pindah ke kursi roda," ujar Aditya datar.
'Syukur deh dia enggak marah lagi,' batin Yasmin mengucap syukur.
"Baik, Mas," jawab Yasmin mantap.
Setelah membantu Aditya pindah ke kursi rodanya. Aditya menyuruh Yasmin untuk mendorongnya. Sebenarnya Yasmin enggan, karena menurutnya dia bukan babu siter pria itu. Akan tetapi, mengingat pria itu adalah pasiennya apa boleh buat.
__ADS_1
'Tidak hanya dingin dan berwajah tembok, dia juga ternyata Tuan pemaksa, dasar!' dumel Yasmin dalam hati.
bersambung....