![Grisella Story [Revisi ]](https://asset.asean.biz.id/grisella-story--revisi--.webp)
________
"Bunda." Suara yang jelas sangat mereka kenal terdengar. Pemilik suara itu tak bukan adalah Ayara Putri Priatmaja, tapi bukan itu yang membuat mereka semua membeku. Akan tetapi, pria yang menemani Ara dia adalah seseorang yang sangat berarti di dalam hidup Yasmin. Iya, pria itu adalah Aditya Wisnu Priatmaja.
"Bunda, Ala ketemu Ayah tadi, Ayah mau jemput kita kalna keljaannya udah celecai Bunda," tutur Ara antusias yang menyadarkan mereka semua.
"Eh, Nak Aditya sini masuk," tegur tante Fei karena dia adalah orang yang pertama tersadar dari keterkejutan.
"Iya Tante," jawab Aditya seraya tersenyum tipis. Namun, pandangannya tidak pernah putus dari sosok wanita cantik yang berdiri seraya menunduk.
"Ayah, ayok duduk di dekat Bunda." Ara menarik tangan Aditya ke sisi tempat duduk Yasmin. Aditya hanya menurut saja ditarik seperti itu oleh sang putri.
"Tante ke dapur dulu ya, mau buatin Aditya minuman," ujar tante Fei dan langsung berlalu. Sepeninggal tante Fei ruangan tersebut jatuh dalam keheningan. Belum ada di antara mereka yang berani membuka suara.
"Dit, gimana kabarmu?" Hera membuka suara untuk pertama kali setelah sekian lama bungkam.
"Baik," jawab Aditya singkat.
"Oh, syukurlah, Dit kenalin dia Ginan suamiku sekaligus sepupu Yasmin istrimu," tutur Hera memperkenalkan Ginan kenapa Aditya.
"Sory ya, waktu nikahan kalian aku enggak datang, soalnya ada oprasi dadakan," imbuh Ginan sedikit canggung setelah menjabat tangan Aditya.
"Satai aja, aku maklumin," balas Aditya senyuman tipis masih terparti di wajah tampannya.
"Hm, kita masuk dulu ya, omongin yang mau kalian omongin, Ara ayuk ikut sama Tante, Bunda sama Ayah kamu mau bicara," ajak Hera seraya mengedipkan matanya ke arah Yasmin yang menatapnya penuh permohonan seakan mengatakan 'Jangan tinggalin aku!' Namun, Hera seakan tidak melihat tatapan permohonan itu karena dia mengerti situasi yang dihadapi oleh sahabatnya itu.
"Oh, ok. Bunda cama Ayah jangan bandel ya enggak boleh, yuk tante Ayah Ginan," ujar Ara seraya memperingati kedua orang tuanya.
Sebelum Hera dan Ginan berlalu mereka tak lupa untuk menyemangati Yasmin. Saat ini ruangan itu hanya diisi oleh keheningan dengan dua insan yang berbeda gender.
__ADS_1
"Mas," Yasmin berinisiatif membuka percakapan dia telah memantapkan hatinya jika dia harus jujur dan harus menerimah kosikuensi apa pun yang nantinya akan terjadi. Yasmin masih menatap pergelangan tangannya yang saling bersahutan pertanda dia sedang gugup. Namun, detik berikutnya ada rasa hangat yang ia terimah. Yasmin membulatkan matanya karena perlakuan tiba-tiba Aditya, dia pikir Aditya akan sangat marah padanya.
"Aku benar, kamu tidak pergi, kamu tahu aku hampir gila saat mengetahui mobil yang kamu gunakan mengalami kecelaan, aku tidak pernah percaya jika jasad yang terbujur kaku waktu itu adalah dirimu. Dan keyakinanku benar suatu hari nanti kamu akan kembali," tandaa Aditya dengan suara bergetar seraya menghujami pucuk kepala Yasmin dengan ciuman, dia makin memeluk erat Yasmin seakan tidak ingin dia pergi jauh lagi darinya. Sudah cukup ia menderita selama hampir 4 tahun terakhir ini dan sekarang dia telah menemukan jiwanya, cintanya, jadi dia tidak akan lagi mengulangi kesalahannya dengan membiarkannya pergi.
"M-mas," guma Yasmin lemah karena dia hampir pingsan. Karena, kekurangan oksigen akibat Aditya yang memeluknya sangat erat.
"Maaf Sayang, aku terlalu bersemangat setelah bertemu denganmu dan terimah kasih karena telah merawat putri kita," ujar Aditya tulus seraya melonggarkan pelukannya.
"Mas, enggak mau denger penjelasan aku dulu? Kenapa aku ngelakuin ini?" tanya Yasmin dengan pandangan kosong.
"Aku akan mendengar semuanya," jawab Aditya tenang seraya menatap Yasmin serius. Dia ingin mendengar langsung kenapa dia pergi meninggalkannya dan tidak memberitahu jika dia dalam keadaan hamil ataukah dia tidak ingin memberitahu bahwa dia sedang hamil karena saat itu banyak musuh yang mengincarnya. Persepsi itulah yang Aditya yakini dan akan mempercayai apa yang nantinya akan dijelaskan oleh istri tercintanya itu.
Yasmin mulai menarik napasnya perlahan mencoba mencari udara karena tiba-tiba pasokan udara di sekitarnya habis. Di bawah tatapan Aditya yang tanpa emosi membuat Yasmin gugup walaupun Aditya telah mengatakan bahwa ia akan menerima semua yang ia sampaikan.
"Waktu aku ke rumah sakit ...." Yasmin menjeda sejenak seraya mengamati perubahan raut wajah Aditya yang masih sama dari awal.
"Waktu itu aku dari cek ke dokter priabadiku yang tak lain adalah Om Dimas, Papa Ginan, Om Dimas bilang penyakitku makin parah, jika tidak segera dioperasi aku ... aku akan dalam bahaya, kamu ingat waktu aku terus terkena flu dan selalu terbatuk?" Aditya hanya mengangguk ketika mengingat Yasmin selalu batuk.
Aditya ingin sekali merengkuh tubuh lemah itu. Namun, ia masih ingin mendengar cerita selanjutnya. Jadi, dia menahan keinginannya itu dalam-dalam.
"Kamu tahu juga 'kan jika waktu itu Tante Laras ngincar nyawaku, dia halalin segala cara untuk merenggut nyawaku seperti merenggut nyawa Bunda, dan pada waktu itu aku mohon sama Om Dimas buat bawa aku ke Singapura untuk operasi karena sepupu aku sendiri Ginan yang akan mengoprasiku dan waktu itu aku ternyata positif hamil dan Ginan baru kasih tahu saat aku mau di operasi. Kamu tahu sebenarnya mereka juga mengincarmu dan ingin merenggut perusahaan yang kamu kelola. Jadi, menurutku jika aku pergi dan sudah dianggap mati mereka akan senang dan sudah tidak menganggumu lagi. Namun, seandainya aku pulang waktu itu ke rumah. Mungkin saat ini aku sudah tidak ada di hadapanmu," lanjut Yasmin lagi. Jika mengingat kenangan tidak menyenangkan itu Yasmin seakan ingin pergi jauh ke mana pun itu di mana tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Tak , terasa air mata itu sudah tumpah dan langsung menganak sungai di pipi mulus Yasmin.
Aditya sudah tidak tahan lagi dan langsung memeluk istrinya yang sudah terisak. Dia tidak ingin membayangkan betapa menderitanya istrinya itu hanya karena mengkhawatirkan keselamatannya dia rela menanggung segala rasa sakit.
"Maafin aku, jika aku tahu kamu dalam kondisi seperti itu, aku pasti enggak akan biarin kamu jalanin ini sendiri," tutur Aditya lembut seraya mengusap puncek kepala istrinya..
Kehangatan yang telah lama hilang kini Yasmin rasakan lagi, dia ingat waktu trimester pertama dia harus menelan keinginannya untuk memeluk sang suami untuk merasakan dada bidangnya yang hangat dan membuatnya merasa terlindungi jika selalu berada dijangkauannya.
"Cie, Bunda cama Ayah udah baikan." Tiba-tiba suara cadel menyapa pendengaran mereka. Ternyata sedari tadi Ara mendengar percakapan mereka dari awal hingga akhir. Mereka menoleh dan mendapati seorang gadis kecil yang tersenyum manis di hadapan mereka.
__ADS_1
"Sini Sayang, Bunda sama Ayah mau peluk Ara," panggil Yasmin. Ara dengan senang hati menghampiri mereka.
"Mulai cekalang Bunda enggak boleh cedih lagi, kalena Ayah udah datang dan mau jemput kita, iya 'kan Yah?" imbuh Ara sembari menatap netra sang ayah. Aditya mengangguk dan langsung mencium pipi gembil Ara yang membuat si empunya terkekeh geli.
Cekrek!
Bunyi blish camera terdengar. Di depan mereka ada Ginan dan juga Hera yang memegang camera dan memfoto adegan membahagiakan itu.
"Syukur, karena kalian udah baikan," tutur Ginan seraya tersenyum.
"Siapa yang bilang kami berantem?" tanya Aditya.
"Itu ... itu, jadi kalian enggak pernah berantem? Lalu apaan?" tanya Ginan bingung.
"Mereka tuh enggak pernah marahan, Sayang, tapi cuman ada sedikit kesalah pahaman," jelas Hera dan gemas melihat tingkah membingungkan sang suami.
"Sorry ya, Dit, aku enggak kasih tahu kamu, kalau Yasmin masih hidup," ucap Hera dengan rasa bersalah.
"Tidak masalah, sekarang aku telah menemukan mereka," tutur Aditya tersenyum hangat untuk yang pertama kalinya selama Yasmin pergi akan suatu hal. Kecupan ia layangkan terus-menerus di puncak kepala Ara yang asik duduk di pangkuannya.
"Thanks, jadi Yas, kamu masih mau kerja di sini atau balik ke Indonesia dan ambil alih rumah sakit itu, karena Papa udah tua. Jadi, sudah sepatutnya kamu ambil kembali yang udah Tante Clasristie amanahkan sama Papa," jelas Ginan tiba-tiba setela cukup lama diam.
"Aku bakalan resing dan kembali ke Indonesia dan mengambil alih rumah sakit itu. Namun, sebenarnya aku enggak mau Om Dimas pergi, tapi ya aku enggak bisa tahan dia terus," jawab Yasmin seraya tersenyum.
"Persiapannya udah hampir selesai di sana, mungkin lusa kamu bisa pulang ke Indonesia," ucap Ginan lagi yang dibalas anggukan mengerti oleh Yasmin.
Sementara mereka berbincang Aditya hanya asik bermain dengan Ara yang sangat imut.
"Aku masih ada pertemuan besok dan lusa baru bisa balik, kalian mau ikut ke Indonesia ketemu sama Ayah Aryo?" tanya Aditya membuka suara.
__ADS_1
"Nanti aku liat jadwal, kalau lusa enggak ada tugas aku usahaiin datang bareng Mama dan juga istriku," jawab Ginan seraya tersenyum hangat dia langsung akrab dengan Aditya karena pembawaan Ginan yang hangat membuat mereka cepat akrab.
bersambung... aku cuman revisi ya.