
"SAINT-MARTANESIA" suara murka ratu malisa membuat para pelayan dan prajurit bersujud meminta pada ratu untuk tenang.
Raja saint yang mendengar suara murka dari ratu malisa berusaha untuk tegar meskipun kaki nya sudah gemetaran.
Zahra yang mendengar bentakan itu hanya menatap dingin pria paruh baya di depan nya. 'Ia memang cantik tapi sayangnya bodoh' batin zahra.
"Sudahlah bunda ratu..apa gunanya mengikuti drama murahan itu bukankah begitu ayahanda raja?" Ucap zahra memegang tangan ratu malisa dengan lembut dan menatap raja saint dengan datar tanpa minat. Sementara para selir dan pangeran berusaha menahan emosi karena putri tersayang mereka di rendahkan. Sementara pangeran edgar hanya menatap datar drama murahan di depannya. 'Wanita ini sangat menjijikan dan licik. Huh lebih baik aku bersama mantan dari pada bersama ular yang kapan saja akan mematuk ku' batin edgar menatap jijik sila yang masih menunduk dan meneteskan air mata. Namun edgar sadar tangannya mengepal seperti menahan emosi.
"Huhh...ratu ini memaklumi kelancangan mu karena permintaan putri ku. Jika kau bersikap merendah kepada putri ku lagi kau akan di turunkan menjadi selir tidak peduli dengan kau yang merupakan suami sah..kalau kau macam-macam pada putriku bukan kah harus di hukum?" Ucap ratu malisa tenang. Namun tidak untuk raja saint yang terkejut mendengar nya. 'Apa ratu sudah tidak mencintaiku lagi? Mengapa? Apa ucapan nya salah?' batin raja saint kecewa dan sedih karena ratu malisa memberikan hukuman yang akan membuatnya jatuh begitu saja lebih rendah dari pelayan..karena raja yang di geser tahta nya hanya di anggap rendah dan tidak berguna.
Ratu malisa yang melihat raja saint hanya menunduk namun ia masih bisa melihat mimik wajahnya yang sedih dan kecewa suami sah nya. Ia sebenarnya tidak tega namun ia harus tegas agar suaminya ini sadar.
"Hahh..sudah lah kalian duduk cepat, dan kau putri angkat duduk di samping pangeran ketiga dilarang menduduki samping kadidat ratu karena itu akan berdampak buruk" Ucap ratu malisa dengan tenang tidak peduli dengan ekspresi terkejut suaminya dan putri angkat itu. Menoleh menatap pangeran bungsu prayaksa yang merupakan mantan tunangan putri sah nya.
Ratu malisa memberi aba-aba makan. Serentak semua makan dengan hening hanya suara detingan sumpit dan piring yang terdengar.
__ADS_1
Ratu malisa mengusap bibirnya dengan kain dengan gaya anggun. Lalu menatap pangeran cantik di samping putra pertamanya.
"Maafkan tentang drama ini yang membuat ketenangan anda terganggu pangeran" Ratu malisa meminta maaf karena ketidak sopanan drama di depan nya tadi.
"Santai saja yang mulia..Ngomong-ngomong lebih baik mantan tunangan saya dari pada tunangan ku yang sekarang" Edgar terus terang mengucapkan isi hatinya tidak peduli dengan raut terkejut anggota kerajaan martanesia. Ia jujur salah kah?
"Tunangan ku ini terlihat lemah dan tidak bisa melindungi saya suatu hari nanti..berbeda sekali dengan rumor" Edgar menatap sila yang berada di sebelah pangeran ketiga yang masih menunduk dan isak tangis itu membuatnya jijik apalagi melihat riasan wajah putih itu memudar terlihat seperti monster. Beralih menatap wanita bertopeng yang merupakan mantan tunangan nya yang masih menyimak dan duduk dengan anggun " Sementara mantan tunangan saya sangat menarik dan aura yang mengagumkan membuat saya yakin ia bisa melindungi suaminya kelak..bukankah ini kebalikan yang mulia?" Edgar tersenyum smrik menatap ratu malisa yang masih tenang tanpa suara.
"Hmm..ternyata pangeran edgar prayaksa sungguh bisa menilai ya" Bukan ratu malisa yang menjawab melainkan zahra dengan santai meminun teh dan menatap datar edgar.
"Anda sangat menarik pangeran edgar..meskipun kita tidak pernah bertemu sebelumnya saat kita masih bertunangan. Sayang nya kita bertemu saat sudah menjadi mantan" Zahra berucap tenang sedikit menekan kata mantan.
Edgar yang mendengar ucapan zahra sedikit tidak terima dengan kenyataan dan mengutuk sila yang masih menunduk dalam. Tapi kemudian ide muncul di kepalanya yang pasti akan menguntungkan nya.
"Yang mulia ratu pangeran ini mau melakukan kesepakatan dengan anda" Ucap edgar menatap ratu malisa dengan serius.
__ADS_1
Ratu malisa yang mendengar ucapan pangeran dari Kerajaan prayaksa mengerinyit bingung.
"Kesepakatan?"
"Ya yang mulia..saya ingin anda membuat pertarungan pedang antara putri zahra dengan si p- putri sila, siapapun yang menang akan menjadi ratu dan siapapun yang menjadi ratu saya akan menikah dengan nya" Edgar bisa melihat ekspresi kaget seluruh anggota kerajaan kecuali zahra. Mantan tunangan nya ini sangat tenang dan penuh kejutan.
Ratu malisa menatap datar namun jika di perhatikan lebih teliti bisa dilihat ratu malisa tidak terima dan marah
"Mengapa harus adanya pertarungan? Jika putri pertama saya merupakan merupakan putri sah sementara putri kedua merupakan putri angkat yabg entah dari mana" Ucap ratu malisa menatap tajam laki-laki cantik yang berani mengajukan kesepakatan seperti itu. Semua orang yang mendengar ucapan ratu malisa membenarkan..bagaimana pun putri kedua tidak ada darah ratu maupun raja bahkan selir jadi dia merupakan orang asing. Sementara sila yang mendengar ucapan ratu malisa hanya menunduk mengendalikan emosinya dengan meremas tangan nya sendiri.
Edgar mengangguk mendengar ucapan ratu malisa "benar yang mulia.. Putri pertama anda memang putri sah dan bisa menjadi kadidat ratu" Jeda edgar menatap zahra dengan senyum menawan " tetapi apa anda tidak memikirkan rakyat anda yang mungkin akan tidak terima dan terjadi pemberontakan karena mereka sudah mendengar rumor bahwa putri pertama lemah dan bodoh? Bukan kah bagi mereka kerajaan dan negara ini tidak aman?" Ratu malisa yang mendengar ucapan edgar terdiam.
"Lalu apa hubungan nya dengan kesepakatan ini?"
"Yang mulia anda sudah mengumumkan kalau putri sila merupakan kadidat ratu karena permintaan yang mulia raja saint bukan kah keputusan kerajaan tidak bisa di tarik tanpa adanya alasan bukan? Maka dengan pertarungan ini akan menentukan siapa yang cocok menjadi kadidat ratu dan untuk yang kalah akan menjadi putri agung saja" Terang edgar dengan tenang.
__ADS_1
Ratu malisa terdiam sejenak, 'benar yang di ucapkan pangeran edgar..bukan kah akan sulit membuat anakku menjadi ratu jika titah dulj sudah di umumkan dan akan ada pemberontakan jika aku melakukan penggatian kadidat ratu masa depan'