
Zahra melihat-melihat baju yang berada di lemari, ia mencari pakaian yang cocok untuk di gunakan malam ini.
"Hmmm pakaian zaman sekarang terlihat sangat beribet" Kesal zahra melihat-lihat hanfu di depan nya "ini kerjaan china? Tapi kenapa nama orang-orang sekitar memakai nama ala inggris? Auh ah aneh" Lanjut zahra tidak ambil pusing.
Ia memutuskan memakai hanfu warna putih yang terlihat tidak terlalu beribet dan sederhana namun tetap anggun dan tegas. " Ini lebih baik karena ini hanya makan malam saja kan? Tidak perlu terlalu ribet" Gumam zahra tak peduli yang penting menutupi tubuh telanjang nya kan?.
Zahra segera memakai hanfu tersebut meskipun agak kesulitan karena terlalu panjang. Kenapa tidak ada dayang yang membantu? Karena dayang yang di siapkan ratu malisa sudah terkena manipulasi.
"Akhirnya selesai juga. Hah...ribet banget nanti gw buat yang lebih simpel aja dah biar gak beribet gini bikin pusing aja" Kesal zahra lalu segera duduk berhadapan dengan meja. Mengikat ala ekor kuda rambutnya dengan aksesoris tusuk konde sederhana supaya senada dengan hanfunya. Memakai topengnya lalu berjalan keluar menuju ke ruang makan.
Zahra berjalan hanya berbekal ingatan, dengan santai ia berjalan tidak peduli dengan bisik-bisik setan para pelayan dan prajurit terlalu memuakkan. Malas menanggapi nya lebih baik tidak peduli dan suatu hari nanti bungkam bukan? Atay di eksekusi mungkin.
Saat sudah berada di depan pintu ruang makan hendak melangkah kan kaki ia mendengar suara yang familiar di telinganya.
"Kakak pertama kenapa kakak memakai hanfu putih saja? Apa kakak tidak tahu akan ada tamu? Kakak mau mempermalukan kerajaan kita" Zahra yang mendengar ucapan ppb di depan nya hanya memutar bola matanya malas. Apa-apaan suara sok polos dan lugu itu, bukan nya gemas ia malah merinding suara ini persis seperti suara para ****** minta belaian.
"Oh..kakak ini tidak tahu kalau ada tamu, kakak hanya ingin makan dan tenang" Zahra menatap penampilan sila di depan nya eeee wajah putih bak tepung, riasan kepala warna warni hanfu merah mawar satu kata di pikiran zahra ondel-ondel berjalan tanpa bantuan . Kek ondel-ondel anjirrr..ni orang mau caper atau buat pertujukan itu lah zahra pikirkan melihat penampilan ppb di depan nya.
__ADS_1
"Sila sayang, kenapa tidak masuk keruangan putriku" Suara lembut dari pria paruh baya yang baru saja datang membuat zahra mengalihkan pandangan nya. Hmm..kalau tidak salah ini adalah ayah nya atau yang mulia raja.
Menatap lamat pria paruh baya tersebut lalu berjalan berlalu masuk tanpa memperdulikan ayah dan anak angkat di sana. Buang-buang waktu saja.
"YANG MULIA PUTRI PERTAMA ZAHRA MARTANESIA MEMASUKI RUANGAN" Semua pasang mata yang berada di meja makan mengalihkan pandangsn mereka menatap zahra yang memasuki ruangan dengan anggun dan tegas padahal zahra sedang mengumpat karena telinganya berdengung.
"Salam yang mulia ibunda ratu, salam para ayahanda selir, salam kakak pangeran pertama, salam kakak pangeran kedua, salam kakak pangeran ketiga, salam pangeran bungsu prayaksa" Zahra membungkuk sedikit memberi salam pada anggota kerajaan (-sila dan raja) dan pangeran bungsu prayaksa atau mantan tunangan nya. ' kalau terus seperti makan nya keburu telat dah..tapi harus tetap jaga atitude bukan?'
Ratu malisa,para selir dan pangeran tersenyum mengangguk kan kepala. Sementara edgar menatap zahra dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Kemari nak duduk lah di samping bunda" Ratu malisa tersenyum memerintahkan zahra duduk di sebelah kirinya tempat kadidat ratu di sebelahnya ada tempat para putri dan pangeran sementara di samping kirinya tempat raja dan di sebelah di ikuti para selir.
"YANG MULIA RAJA SAINT MARTANESIA DAN YANG MULIA PUTRI KEDUA SILA MARTANESIA MEMASUKI RUANGAN"
Mereka yang berada di meja makan tidak peduli. Tanpa menatap mereka sekali pun.
"Salam yang mulia ratu" Raja saint memberi salam kepada ratu malisa. Mengapa tidak memberi salam kepada para selir putri maupun pangeran? Karena sudah menjadi aturan raja maupun ratu tidak boleh menunduk kan kepala kepada yang bawah kecuali kepada yang lebih tua atau diatas derjat.
__ADS_1
"Hmm" Ratu malisa hanya berdehem dan para selir dan pangeran begitu juga dengan zahra memberi salam kepada raja saint. Meskipun zahra ogah-ogahan
"Salam yang mulia ratu, salam ayahanda selir, salam kakak pangeran pertama,salam kakak pangeran kedua, salam kakak pangeran ketiga,salam pangeran bungsu prayaksa" Sila memberi salam dengan tersenyum manis dan tersenyum malu-malu menatap edgar tanpa memberi salam kepada zahra yang merupakan putri sulung.
Zahra yang medengar suara yang di lembut-lembutkan apalagi dengan senyum malu-malu itu ingin rasanya muntah sekarang juga. 'Jijik aku neng'
"Putri sila bukan nya seharusnya kamu memberi salam kepada kakak sulung perempuan mu? Dimana tata krama mu? Apa suamiku ini terlalu memanjakan mu sehingga kau berbuat seenaknya?" Ucap ratu malisa dingin dan menahan emosi. Anak angkat ini sangat tidak tahu malu, ia tidak terima putrinya tidak di hormati.
Putri sila yang mendengar itu menatap menunduk kan kepalanya mengepalkan tangan nya. Menatap tajam zahra yang sedang menatap nya dengan seringai. "Tapi ibunda ratu bukan kah aku kadidat ratu? Mengapa aku harus memberi salam" Ucap sila dengan suara yang di polos-poloskan dan menunduk menahan emosi.
"Kau!..siapa yang bilang kau adalah kadidat ratu? Kau hanya anak angkat dari suamiku kau tidak mempunyai darah kerajaan bahkan bangsawan sedikitpun..dengan seenaknya kau mau merebut posisi putri sah" Murka ratu berdiri menunjuk sila dengan amarahnya. Semua para selir,putri maupun pangeran ikut berdiri melihat ratu marah besar.
Sila semakin menahan amarah..mencubit tangan nya sendiri.
"Hiks..hiks..maafkan sila bunda ratu hiks" Ujar sila menunduk menangis mencari simpati dari mereka. Namun hanya raja saint yang bersimpati dengan nya.
Raja saint terlihat marah dan tidak terima dengan putri angkatnya di permalukan. " Yang mulia ratu bukankah yang di katakan putri sila itu benar bahwa putri sila lah yang pantas menjadi kadidat ratu semntara dia hanya seorang putri bodoh" Ujar raja saint dengan sarkas dan meninggikan intonasi bicara nya.
__ADS_1
Zahra yang mendengar itu entah kenapa dadanya berdenyut nyeri. 'Sialan apa ini yang di rasakan jiwa zahra dulu?' batin nya tidak terima dengan perasaan nya sekarang.
"SAINT-MARTANESIA"