
Zahra memandang gelapnya langit yang dipenuhi oleh ribuan bintang dan satu bulan sabit yang bersinar paling terang di antara ribuan bintang itu.
zahra sudah kembali ke kediamannya setelah melakukan drama tak elok dengan ayah tubuh ini dan sila si PBB. Zahra duduk di dekat melamun menatap langit. Ia memikirkan keluarga nya di sana. Apakah mereka sehat atau masih sedih dengan kepergian nya? Apakah si PBB itu masih hidup atau bahkan sudah ikut dengannya dan menjadi sila mertanesia abal-abal? Ntah lah ia tidak tahu ia tidak bisa apa apa selain menerima apa yang sudah terjadi.
"hah" Zahra menghela nafas kasar menyadarkan punggungnya di sandaran tembok kayu.
Rober yang mendengar semua pertanyaan nonanya tentang keluarganya tidak bisa berbuat apa-apa sebenarnya bisa saja ia memberitahukam keadaan mereka. Hanya saja ia tidak memiliki banyak kepercayaan diri untuk melakukan itu karena itu sangat berbahaya untuk nya dan juga nonanya.
Rober menghela nafas pasrah 'nona jangan galau terus..mereka sehat dan aman nona tenang saja. Nona hanya perlu fokus dengan kehidupan anda saat ini. Anda akan menjadi ratu dan memiliki keluarga sendiri bahkan anda bisa membentuk keluarga seperti anda dulu yang ramai itu atau bahkan lebih ramai. Kalau anda berniat mempunyai banyak suami dan melahirkan bayi banyak' ujar Rober bermaksud menenangkan nonanya.
Zahra mendatarkan wajahnya mendengar ucapan Rober "emang lu pikir melahirkan itu gampang? Sekali tarikan nafas langsung lahir? Apa kau bodoh menjadi sistem? Atau otakmu sudah di ambil tadi" ucap Zahra kesal..melihat orang melahirkan saja ia sudah merinding. Ia lebih memilih membunuh orang atau menguliti mereka hidup hidup daripada melihat orang melahirkan.
rober yang mendengar ucapan nonanya hanya bisa berdiam diri tidak bisa menjawab. Ia tetap akan kalah melawan nonanya.
'nona ada hal yang perlu anda ketahui' ucap Rober mengalihkan pembicaraan agar nonanya tidak terlalu galau merana.
Zahra mengerinyit penasaran " kalau ada sesuatu langsung saja bicarakan tidak perlu basa basi..saya gak suka" ucap Zahra malas.
Rober memutar bola matanya 'baik..baik saya tidak akan basa basi lagi..' ucap Rober pasrah daripada mendengar Omelan nonanya lebih baik iyakan saja.
"ya sudah katakan ada apa?" ucap Zahra tidak sabaran.
'setelah anda menjadi ratu kelak anda tidak akan terus berada di istana anda harus menyelesaikan misi' ucap Rober serius
"misi? Jadi misinya bukan hanya menjadi ratu?" ucap Zahra penasaran. Ia awalnya berpikir setelah menjadi ratu ia akan kembali kedunia nya dulu.. Tapi ternyata salah ia akan terjebak terus menerus disini.
__ADS_1
Rober mendengar pemikiran nonanya sedikit sedih, nonanya ini ingin kembali ke dunia nya dulu. Sayangnya itu tidak akan terjadi karena tubuh Zahra di Dunia dulu sudah mati dan sudah di makamkan atau mungkin sudah di krongoti oleh hewan-hewan kecil. jadi ia tidak bisa berbuat apa-apa, tidak bisa membantu nonanya.
'misinya adalah anda harus berpetualang di semua kerajaan tanpa menggunakan fasilitas anda sebagai ratu. Anda harus menjadi orang biasa atau lebih tepatnya rakyat biasa' ucap Rober.
"jadi? Gw harus jadi rakyat biasa' gitu?..terus bagaimana dengan kerajaan mertanesia tanpa adanya ratu dan.." Zahra menjeda ucapannya wajahnya terlihat kesal "untuk apa menjadi ratu atau mempunyai kekuasaan kalau ujung-ujungnya akan menjadi rakyat biasa"
Rober terkekeh kecil melihat bagaimana kesalnya nonanya 'tenang saja nona, kerajaan ini akan di jaga oleh pengganti anda alias ratu palsu yang tentunya bukan dari manusia melainkan bayangan anda sendiri'
Zahra mendengar ucapan Rober menjadi bingung lalu menatap bayangannya sendiri " bagaimana bisa bayangan ku ini menjadi pengganti gw?" ucap Zahra penasaran masa iya bayangannya ini bisa berubah menjadi manusia terus memimpin kerajaan. Tapi kalau memang itu terjadi ia setuju, lebih baik duplikat nya yang menggantikan posisi nya daripada manusia yang tidak akan bisa di percaya.
'tentu saja bisa nona..anda akan tahu nanti bagaimana prosesnya, anda hanya perlu fokus dengan misi anda sekarang yaitu menjadi ratu'
"tinggal bilang aja apa susahnya? Kau membuat penyakit penasaran ku kambuh" ucap Zahra kesal, kalau tahu begini ia ingin cepat-cepat membunuh sila PBB itu agar bisa menjadi ratu dan penyakit penasarannya sembuh.
Rober terkekeh canggung lalu menghilang begitu saja.
"bukankah aku harus menyelesaikannya secepat mungkin? Agar aku bisa secepatnya menyelesaikannya? Aku ingin berlibur sementara" gumam Zahra lemas. Ia ingin menyelesaikan semuanya membunuh sila, lalu menjadi ratu, bertualang singkat lalu selesai dan rebahan bersama para haremnya enak kan?. Wah kesenangan duniawi.
Tetapi ia juga tidak rela kalau sila mati begitu saja tanpa adanya permainan yang asik dan menghibur bukan?. Jadi ia harus segera bangkit dan bermain dengan adiknya itu.
Zahra bangun dari duduknya lalu menghampiri tempat tidur. Ia harus mengisi tenaganya sebelum mengikuti drama yang di lakukan adiknya.
"selamat malam semuanya" ucap Zahra lalu menutup matanya menuju alam mimpi. Padahal tidak ada yang nyahut.
sinar matahari menyinari dunia.. Menembus jendela kediaman seorang putri tampan sekaligus cantik membuatnya terbangun.
__ADS_1
Zahra merenggangkan badanya yang terasa kaku. "selamat pagi dunia" ucap Zahra datar ntah kenapa moodnya sedikit jelek hari ini. Mungkin karena mimpinya.
Zahra bermimpi sedang bermain dengan keluarganya namun tiba-tiba sila datang dan merusak segalanya. Ia jadi kesal dan ingin segera membunuhnya.
"ckk..tidak dunia nyata di dunia mimpi pun si PBB itu ada sial memang" gumam Zahra lalu bangun membuka pintu nya dengan kasar membuat prajurit dan pelayan yang hendak membangunkannya kaget.
Prajurit dan pelayan yang merasakan Aura tidak mengenakkan langsung menundukkan kepala tidak berani menatap wajah puteri pertama yang sudah menggunakan topengnya. Entah sejak kapan putri yang di rumorkan bodoh ini mempunyai aura yang semengerikan ini.
Zahra hanya menatap dingin dan datar "kau siapkan air untuk putri ini membersihkan diri" ucap Zahra menunjuk pelayan yang paling di depan sepertinya itu kepala pelayan disini.
"b-aik yang mulia" ucap pelayan tersebut dengan terbata lalu membungkuk badan segera mengundurkan diri dengan pelayan lainnya.
Zahra kembali masuk ke kamarnya dan membuka lemari untuk mencari bajunya yang pas untuk sekarang. Yang sederhana tidak banyak ronde ronde nya ia malas menggunakan itu.
Tok
tok
Tok
Terdengar suara ketukan pintu
"permisi yang mulia..airnya sudah di siapkan, ada yang perlu saya bantu lagi?" suara pelayan dari balik pintu itu.
"hmm tidak perlu lagi ...puteri ini akan mandi sendiri"
__ADS_1
"baik yang mulia"