Handsome Ruler Queen

Handsome Ruler Queen
chapter 16


__ADS_3

Sila melepaskan pelukannya lalu menggembung pipinya "kamu mah gitu" ucap sila dengan suara yang di imut-imukan.


Zahra ingin muntah melihatnya, tapi ini sangat menyenangkan karena ia dapat melihat bagaimana ekspresi jijik dan bagaimana tertekannya dia.


"Karena semuanya sudah selesai, silahkan kembali ke kediaman masing-masing dan ingat kalian berdua harus mempersiapkan nya dari sekarang" ucap ratu malisa berdiri lalu pergi keluar dari ruang keluarga di ikuti oleh Kasim.


Semua yang berada di sana berdiri dan menundukkan kepala "baik Yang mulia"


Zahra keluar paling belakang karena ia ingin melihat lebih lanjut apa yang akan terjadi antara Edgar dengan sila ini.


Edgar berusaha melepaskan rangkulan tangan sila dari lengannya. Ia tidak suka di sentuh oleh orang lain. Sangat tidak nyaman.


"Putri sila..saya akan kembali ke kerajaan tolong lepaskan saya biarkan saya pulang secepatnya karena bunda ratu prayaksa sudah menunggu saya" ucap Edgar berusaha untuk tersenyum lembut, ia bukannya kasihan melakukan hal kasar kepada putri Abal Abal ini, hanya saja ia tidak ingin membuat keributan karena ini bukan wilayahnya ini kerajaan orang lain.


Sila memanyunkan bibirnya"katanya kamu merindukan aku jadi ijinkan tunangan anda ini ikut ke kerajaan prayaksa untuk memperkuat ikatan kita sebagai tunangan"ucap sila dengan antusias, melirik sekilas Zahra 'lihat saja, kau tidak akan bisa merebut Edgar dariku' batinnya sinis


Zahra melihat arti tatapan sila hanya menanggapi nya dengan malas 'jadi anak pungut PD amat dah' batin Zahra


'bener sekali nona, dah anak pungut pake kepedean lagi' ucap Rober tiba-tiba


"Hmm...apakah ada hal baru yang membuatmu tiba-tiba muncul begitu saja tanpa peringatan" tanya Zahra malas mendengar suara Rober.


'jangan marah nona..saya hanya ingin membuat sedikit kejahilan dengan anda bagaimana?' Ucap Rober dengan semangat, jadi ia hanya gabut ingin mengerjai sila sedikit saja.


Zahra sedikit tertarik dengan ajakan Rober "ini pasti membuat kejahilan untuk sila kan? Kalau aku sih ayo aja..bagaimana mungkin aku tidak tergoda untuk membuat sila itu tertekan atau bahkan tersiksa" ucap Zahra menatap sila yang berada di depannya sepertinya sedang kesal karena di tinggal Edgar begitu saja.


'jadi kita mulai kapan nona?"

__ADS_1


"Bagaimana kalau malam ini Rober? Pasti akan menyenangkan "


'saya setuju nona' ucap Rober atusias..ia tidak sabar untuk melakukan sedikit permainan nanti.


"Kakak"


Zahra mengalihkan pandangan nya menatap ke sila yang entah sejak kapan berada di depannya.


"Ada apa adik? " ucap Zahra dengan lembut, padahal mah ia malas menanggapi panggilan tak elok sila.


"Adik mohon jauhi Edgar..karena Edgar tunangan sila, jadi kakak harus menjauh darinya" ucap sila dengan suara sendu seolah dia yang tersakiti.


Zahra menatap melirik sekitarnya, namun berhenti ketika melihat wan yang sedang mengawasi mereka dari balik pohon. ' oh begitu..pantesan ni anak tidak mau menunjukkan wajah aslinya jadi karena ada anak cantik ' batin Zahra sinis hey ia tidak akan tertipu meskipun ini tempat sepi tetapi ia juga harus melihat sekitar.


Sementara di sisi lain, di balik pohon. Wan tersenyum canggung menyadari putri Zahra melihatnya. 'hehe.. kau tidak nampak aku tak nampak' batin wan menangis. Ia tertegun melihat putri yang di bilang bodoh ternyata memiliki pengamatan yang tinggi.


"Sudah hampir siang, kakak harus kembali ke kediaman untuk melakukan urusan lain..jadi adik tenang saja kakak pasti ingat apa yang adik katakan hari ini " ucap Zahra lalu berlalu pergi meninggalkan sila yang emosi.


Sila mengepalkan tangannya geram "kenapa dia berubah..kemana sikap penakut dan bodoh itu.. sial sial jangan sampai ia menang dan merampas yang semua yang aku miliki ini semua adalah milikku bukan milik putri bodoh itu " gumamnya lalu pergi ke kediaman nya, ia harus membuat rencana agar secepatnya menyikirkannya.


Disisi lain Edgar


Edgar berjalan dengan mood yang kurang baik karena mengingat wajah yang penuh tepung itu membuatnya ingin pergi begitu saja tanpa pamit. Tapi ia masih ingat sopan santun untuk pamit kepada ratu malisa yang merupakan ratu kerajaan mertanesia.


"Hah" Edgar menghela nafas kasar.


Pluk

__ADS_1


Edgar menatap keatas seraya mengusap kepalanya yang terkena buah jambu , ia dapat melihat seorang gadis yang menggunakan topeng dengan santai duduk dengan kaki yang di naikkan ke atas. Hey tidak ada sopan santunnya sama sekali.


"Kau.."


Zahra mendengar suara yang seperti kesal langsung menoleh ke bawah "oh..hai pangeran Edgar mau bergabung? " ucap Zahra santai memakan jambunya tanpa peduli kekesalan Edgar.


"Kau beraninya.. turun kau aku akan memberimu hukuman" ucap Edgar tak terima ia di perlakukan dengan santai.


"Oh hukuman apa? Hukuman di ranjang? Ayo saya mau saja pangeran sekalian saya akan menghilangkan perjaka anda sekalian" Zahra menggoda Edgar dengan mengedipkan matanya.


Edgar sedikit memerah mendengar ucapan putri Zahra yang tidak bisa di saring "kau tak bisakah bersikap layaknya putri pada umumnya " Edgar tidak menyangka ternyata sikap putri ini tidak seanggun sedingin yang dia kira ternyata bar bar dan tidak tahu malu.


"Bagaimana sikap seorang putri? Coba contohkan kepadaku pangeran. Apakah aku harus bersikap seperti tunangan anda yang seperti teratai putih itu "


"Jangan sebut dia lagi..aku malas mendengarnya, mendengar namanya membuatku ingin muntah" ucap Edgar tidak suka mendengar ucapan Zahra.


Zahra terkekeh kecil "saya kira anda sangat menyukainya tuan..bagaimana pun adik saya itu sangat mencintaimu bukankah seharusnya anda begitu pangeran? " ucap Zahra menggoda Edgar, ia suka melihat bagaimana wajah itu kesal.


"Siapa yang mengucapkan hal itu? Aku akan menghukumnya" ucap Edgar mengerinyit tak suka


"Saya tadi.. bagaimana mau menghukum saya? Kalau begitu tangkap saya dulu pangeran cantik" ucap Zahra mengejek lalu melompat dari pohon segera berlari.


Edgar yang sudah keliwat kesal langsung mengejar Zahra walaupun rasanya gak mungkin dapat menangkapnya.


Zahra terus berlari sambil menoleh ke belakang dimana Edgar yang seperti banteng yang ganas.


Mereka terus bermain kejar kejaran tanpa tahu seseorang yang sedang menatap mereka dengan tidak suka.

__ADS_1


__ADS_2