
Wan yang mendengar hal itu entah kenapa jadi tersenyum riang dan mengangguk kan kepala setuju lalu pergi menggunakan ilmu peringan tubuh.
Ratu malisa yang melihat itu hanya menatap datar. Anak yang ia selamatkan dari rumah lelang sudah besar dan menjadi pengikutnya. Kenapa tidak di angkat menjadi anaknya? Karena anak itu tidak mau memilih selalu mengikutinya.
"Hah...anak itu ingin sekali bersama putriku" Ratu malisa menghela nafas..ia sudah tahu gelagat wan yang sedari awal melihat putrinya baru lahir selalu menatapnya dengan tatapan hangat jadi tidak ada salahnya kan menjadikan salah satu menantu nya.
🐥
Zahra saat ini berada di kamar nya duduk di samping jendela sendirian tanpa dayang ataupun prajurit. Mengapa? Karena ia tidak percaya sama sekali dengan dayang di sini yang lebih tebal dari topengnya ini.
'Nona..anda mendapatkan misi' tiba-tiba rober muncul memecahkan masa tenang zahra.
Zahra mengerinyitkan dahinya bingung "misi? Aku tidak tahu kalau ada sistem ada misi?" Ucap zahra pelan, didunia nya dulu ia jarang membaca novel..pernah sekali ia membaca novel yang ber transmigrasi dan di dampingi sistem. Tapi sistem nya hanya mendampingi dan mengubah penampilan nya untuk mengubah alur novel.
'Benar nona..jika anda ingin menambah poin dan mendapatkan hadiah-hadiah menarik anda harus menjalankan misi jika anda gagal anda akan mendapatkan hukuman' jelas rober
Zahra mengangguk kan kepalanya lalu berdiri menatap diluar kamarnya terdapat taman dan para bawahan yang berlalu lalang. "Jadi apa misinya?"
'Misi di aktifkan'
Misi : mengunjungi para selir ratu malisa.
Hadiah jika berhasil : cambuk emas
Hukuman jika gagal : mimisan 1 hari tanpa henti.
Ya or ya.
__ADS_1
Zahra menatap datar layar didepannya apaguna nya memberikan pilihan kalau tidak dapat memilih.
"Harus sekarang?" Tanya zahra dengan malas. Baru saja sebentar tenang di kamar sudah di berikan misi.
'Sekarang nona ku sayang' ucap roger santai lalu menghilang begitu saja.
"Sialan" Umpat zahra kesal lalu segera bersiap-siap ke tempat para selir berada entah dimana ia tidak tahu..salahkan saja roger yang tidak memberikan informasi dengan jelas lalu menghilang begitu saja.
🐣
Zahra menatap keselililing dengan raut kebingungan. 'Sial aku dimana? Dimana para selir itu? Roger sialan' batin zahra kesal ia tidak tahu harus bertanya dengan siapa.
Zahra berjalan tanpa tentu arah dan celingak celinguk membuat para pelayan dan prajurit yang melihat itu ada yang bingung,jijik,dll.
Sampai ia menengok kesebelah kiri ia melihat seorang laki-laki cantik dan menawan berjalan ke arahnya.
'Wah cantik sekali..jadi salah satu harem gw mungkin gapapa' batin zahra tersenyum-senyum di balik topeng nya menatap lelaki itu dengan pandangan yang sulit di artikan.
'Apa ini mantan tunangan ku?..hmm tidak terlihat bodoh hanya saja tatapan nya yanh membuat ku merinding.'batin nya bergidik ngeri melihat tatapan zahra.
Ya laki-laki itu adalah elgar prayaksa mantan tunangan zahra martanesia. Elgar ke kerajaan martanesia karena di paksa oleh bunda ratu untuk menemui tunangan nya. Elgar sebenarnya jijik dengan tingkah tunangan nya itu. Ratu apaan selalu menempel padanya kalau di jauhi akan menangis ia tidak yakin wanita itu bisa melindungi kerajaan apalagi suaminya.
'Bunda engkau membuat nyawa putramu ini tidak lama lagi' elgar menangis di dalam hati. Sebenarnya laki-laki di dunia ini juga kuat hanya saja laki-laki tidak sekuat perempuan di dunia ini. Jadi konsepnya laki-laki lebih lemah dan anggun dari pada wanita.
"Hei kau cantik" Menatap kedepan dengan sedikit terkejut memiringkan kepalanya.
"Apa?" Jawab elgar dingin menatap datar mata didepannya.
__ADS_1
"Apakah kau salah satu bawahan ratu disini? Aku tidak pernah melihat lelaki cantik di ruangan bunda ratu" Ucap zahra gamblang menatap dari atas hingga bawah laki-laki di depan nya.
Elgar menatap tajam perempuan di depan nya. Apa bawahan? Enak saja ia meruapakn pangeran di kerjaan prayaksa dan sekarang malah di bilang bawahan. Apa ia tidak se terkenal itu? Apa rumor sudah berubah bahwa pangeran bungsu merupakan pengikut setia ratu malisa martanesia?. Oh ya kan ia belum pernah bertemu dengan perempuan di depan nya jadi pantas saja tapi kenapa harus di kira bawahan? Itu membuatnya kesal.
"Apa kau tidak mengenal saya putri zahra? Atau mantan tunangan" Ucap elgar dengan menekan kan kata mantan tunangan.
Zahra yang mendengar itu menganga. Apa tadi? Jadi di depan nya adalah mantan tunangan nya? Astaga beruntung sekali ia ahh lumayan ternyata ia akan merebutnya kembali.
" Oh maafkan saya pangeran" Ucap zahra tenang dengan suara tanpa rasa bersalah lalu berlalu pergi begitu saja meninggal kan elgar yang mematung.
Zahra berjalan menuju ruangan tempat selir berada setelah tadi tiba-tiba ingatan seluruh peta istana memenuhi ingatan nya.
Kenapa zahra tidak mengajak elgar dengan nya? Karena cara merebutnya bukan dengan cara menggodanya dengan genit dan cabul yang ada elgar risih begitupun dengan dirinya sendiri akan sangat risih dan jijik. Biarkan lah elgar datang ke pelukan nya sendiri entah sekadang atau pun setelah di menjadi ratu terserah yang pentibg elgar kembali ke pelukannya.
Zahra menatap bangunan yang terlihat sederhana namun indah di sekelilingnya terdapat taman yang indah.
Zahra menghela nafas lalu berjalan memasuki ruangan.
"YANG MULIA PERTAMA PUTRI ZAHRA MARTANESIA MEMASUKI RUANGAN"
Tiga pria didalam ruangan tersebut mengalihkan pandangan nya menatap zahra dengan binar kerinduan.
"Zahraa putriku" Salah satu pria tersebut berlari menghampiri zahra lalu memeluk nya dengan erat.
Zahra yang mendapatkan pelukan tiba-tiba memeluk pinggang pria yang merupakan selir ratu malisa bernama xel martanesia selir termuda di antara selir lainnya. Tubuhnya hampir saja jatuh kalau tidak tubuhnya kuat menahan tubuh pendek dan ramping. Zahra dapat merasakan seberapa rampingnya pinggang pria tersebut. ' astaga aku merasa kalah' batin zahra kagum.
"Putriku kenapa tidak pernah kemari? Kami sangat merindukan mu" Ucap pria satunya mengusap zahra dengan lembut. Zahra menoleh kesamping menatap pria tersebut, menurut ingatan nya namanya renav martanesia selir tertua.
__ADS_1
"Sudah-sudah xel dan kak renav biarkan lah zahra duduk dulu" Pria yang masih duduk tidak jauh dari mereka menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. Zaint martanesia pria itu sangat tenang namun menurut zahra, zaint inu tidak bisa di remehkan karena bisa dilihat zaint sangat bisa mengendalikan emosinya.
Xel yang mendengar itu melepaskan pelukan nya lalu menarik tangan zahra menuju kursi tempat mereka duduk tadi.